Tjermin, No. 23, TAHUN KE-11, 15 OKTOBER 1950, p.22-CROP

Di bawah foto ini terdapat keterangan sebagai berikut:

“Henk Rondonuwu, bekas menteri penerangan N.I.T. [Negara Indonesia Timur] dengan Nona Gadis Rasjid, dengan siapa ia telah menikah pada 27 September j.l. [1950] di Djakarta. Nona Gadis Rasjadi adalah wartawan wanita Indonesia jang terkenal. (Klise: “Pewarta Surabaja”).

Sumber foto: Majalah Tionghoa Tjermin (Surabaya), No. 23, TAHUN KE-11, 15 OKTOBER 1950, hlm.28

Advertisements

Majalah Tjermin (Surabaya),No.46, 1951,p.4

Salinan teks pada iklan ini:

“ANGGUR OBAT KOLESOM

(TJAP POTRET DAN 5 KOLESOM)

Ini Anggur terbikin dari sarinja bua Anggur jang terpil, ditjampur sama Kolesom (satu obat jang suda sedari dulu terkenal mustadjabnja) dan laen-laen obat Tionghwa jang berfaedah dan mahal, dikerdjaken dengan pengerahuan baroe. Ini Anggur mengandung dzat-dzat besi, fosfor dan matjem-matjem vitamin. Sanget mandjur bagi Laki-laki berbadan lema, sumanget kurang, muka putjet, kurang darah, tidak nafsu makan, gegindjel kosong, kaki tangan dingin, mata berkonang-konang, pinggang dan tulang sakit, keluar air manih, sering keluar manih, hati pegel dan sesek. Baik untuk tua dan muda, laki dan prampuan.

TERDAPAT DI MANA-MANA”

Sumber: Majalah Tjermin (Surabaya), No. 46, 1951, hlm. 4

Posted by: niadilova | 09/07/2019

Stellingen disertasi #63 [studi media]: Dr. Wijayanto

20190708_175028-cropStellingen

“The case Kompas, the biggest and oldest daily newspaper in Indonesia, shows that a change of political regime from authoritarianism to democracy is not necessarily follow by changes in the way the news media writes” (Stelling No. 5)

“Past experience of banning under an authoritatian regime has made Kompas daily newspaper fearful and cautious in its coverage.” (Stelling No. 6)

“This fearfulness on the part has been exacerbated by the experience of having been attacked by Islamic fundamentalists for its coverage on Islamic issues, which the attackers suspect is coloured by its Chatolic-minority roots.”  (Stelling No. 7)

“The success of Kompas in transforming itself into a giant media group has not emboldened its news coverage, but in the contrary has reinforced its caution by rasing the economic stakes attached to its survival.” (Stelling No. 8)

Penulis: Dr. Wijayanto

Judul disertasi: ”Between Fear and Power: Kompas, Indonesia’s Most Influential Daily Newspaper, 1965-2015”

Tarikh promosi: Rabu, 17 Januari 2019

Promotor: Prof. Dr. D.E.F. Henley

Dr. W. Berenschot (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Leiden)

Jumlah stellingen: 14 (tautan: https://openaccess.leidenuniv.nl/bitstream/handle/1887/68274/Propositions_%28Between_Fear_and_Power_Kompas_Indonesia_s_Most_Influential_Daily_Newspaper_1965_2015%29.pdf?sequence=17

Tautan disertasi: https://openaccess.leidenuniv.nl/handle/1887/68274

20190708_175207-crop

==============

Catatan: Stellingen adalah proposisi (propositions) dari sebuah disertasi, yaitu sejumlah pendirian yang ingin dipertahankan oleh seorang calon doktor (promovendus) berdasarkan temuan-temuan di dalam disertasinya. Pendirian itu boleh saja melawan pendirian sarjana lain. Stellingen adalah unsur yang harus ada dalam sebuah disertasi yang dipertahankan di Universiteit Leiden. Ia dicetak dalam selembar kertas dan diselipkan di dalam disertasi. Jumlah stellingen berkisar antara 8-12, tapi dalam sedikit kasus ada juga yang jumlahnya sampai 15. Di samping pendirian-pendirian yang menyangkut temuan-temuan di dalam disertasi, stellingen juga boleh diisi dengan beberapa pendirian yang terkait dengan bidang-bidang ilmu yang relevan dan masih ada hubungannya dengan disertasi si promovendus. Biasanya nomor yang terakhir dari stellingen mengandung unsur kelucuan tapi bernas. Pada saat ujian terbuka (defence) yang berlangsung selama satu jam, anggota tim penguji berhak mengajukan pertanyaan kepada promovendus melalui salah satu stelling dari disertasinya.

Selamat djalan

   Pembantoe kita S. di Palembang telah kabarkan kepada kita begini:

   Selang beberapa hari partij kominis disini meadadan (sic) pertemoean di Ilir 28 jaitoe berhoeboeng dengan berangkatnja toean Oesman gel. Soetan Keadilan bekas verantwoordelijk redacteur Njala keloear negeri.

   Toean Oesman itoe akan pergi ke Moskou atau lain-lain negeri jang oleh dia dipandang sebaiknja didatangi perloe mempeladjari prakktijknja kominisme.

   Teman-teman tak ketinggala dalam menjokongnja dia itoe, biarpoen dengan oeang.”

***

Laporan surat kabar Hindia Baroe (Batavia), Tahoen X, No. 69, Kemis 25 Maart 1926 tentang rencana keberangkatan Oesman Soetan Keadilan, mantan direktur Njala, media (orgaan) para penyokong gerakan komunis yang terbit di Batavia, ke Moskow (Uni Soviet) dan “lain-lain negeri” (di Eropa Timur?) Sokongan (tampaknya juga berupa uang) datang dari kawan-kawan seperjuangannya yang berada di Sumatera Selatan.

Sebagaimana telah pernah diinformasikan dalam rubrik ini (Padang Ekspres, 14-3-2019), Oesman Soetan Keadilan adalah salah seorang propagandis komunis asal Minangkabau (Payakumbuh). Akan tetapi ia juga aktif di Batavia. Di Ibukota Hindia Belanda itu ia menjadi rekdatur Njala, dibantu oleh Tjempono asal Kedu (Banyu Urip), sambil terus mengadakan propaganda komunisme kepada masyarakat luas.

Belum ditemukan informasi lebih lanjut mengenai kunjungan Oesman ke Moskow dan “lain-lain negeri” itu. Besar kemungkinan rencana itu tidak jadi (tapi perlu penelitian lebih lanjut), karena pada bulan Desember 1926, Oesman ditangkap dan kemudian Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengeluarkan keputusan untuk mengasingkannya ke Digul. Bataviaasch Nieuwsblad edisi 21 Desember 1926 menulis (di bawah judul “De Groote Opruiming”,‘Pembersihan Besar-besaran’) bahwa beberapa orang sudah diputuskan oleh Pemerintah untuk dibuang ke Digul, termasuk: “[…] Oesman gelar Soetan Keadilan alias Roer oud ongeveer 25 jaar, gewezen redacteur van het dagblad Njala, propagandist der P.K.I., geboren te Pajakoemboeh, Sumatra’s Westkust en laatstelijk woonachtig te Batavia.” Keratan laporan ini menjelaskan: Oesman berasal dari Payakumbuh, usia 27 tahun ketika keluar keputusan pendigulan terhadap dirinya (Desember 1926; ia sudah ditangkap sejak akhir Desember tahun sebelumnya/1925). Dengan demikian, dapat diperkirakan: Oesman lahir pada tahun 1900.

Di Digul Oesman mendapat nama panggilan ‘Oeska’. Ia pernah melarikan diri dari “Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea” itu, sebagaiamana dicatat oleh mantan Asisten Resident Daniel van der Meulen dalam bukunya Ik Stond Er Bij (Baarn: Bosch en Keuning, 1965) yang dirujuk oleh I.F.M. Chalid Salim (adik tiri Haji Agus Salim) dalam bukunya (versi terjemahan) Limabelas Tahun Digul: Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea (Jakarta: Bulan Bintang, 1977:378-382).

Merujuk Van der Meulen (1965), Salim mengatakan bahwa pelarian Oesman dan beberapa orang kawannya terjadi pada tahun 1929. Mereka berhasil mencapai hulu Sungai Fly yang sudah berada dalam wilayah Papua yang dikuasai Australia. Setelah tinggal beberapa saat di sebuah perkampungan ‘beradab’ yang sudah disentuh oleh misi penginjilan, Oesman dkk. ditangkap oleh otoritas Australia, dibawa ke penjara yang ‘nyaman’, sebelum dijemput kembali oleh polisi Hindia Belanda dan dikembalikan ke Digul (Australia dan Hindia Belanda memiliki perjanjian ekstradisi).

“Setelah ia diangkut kembali ke Digul dan menyelesaikan masa hukumannya di penjara, Oeska [Oesman gelar Soetan Keadilan] diperkenankan untuk pulang ke kampung halaman[nya di Payakumbuh]. Di sana ia berada di bawah pengawasan bekas Asisten Residen Daniel van der Meulen, yang telah menerbitkan buku yang berjudul “Ik stond er bij”, yang di dalamnya juga termuat kisah petualangan Oeska” (Salim, 1977:378).

Oesman tidak jera walau sudah dibuang ke Digul; tampaknya anak Minang ini pekat ideologi komunisnya. Di kampung halamannya, bersama dengan temannya A[bbas] Rachman, ia menerbitkan lagi sebuah bulanan bernama Kebenaran yang tetap kritis kepada Pemerintah. Baru pada edisi No. 4 (31 Desember 1935), bulanan yang diterbitkan di Fort de Kock (Bukittinggi) itu terinjak ranjau pers kolonial pula karena sebuah artikel yang dimuat di nomor itu yang menyerang imperialisme Eropa dan meramalkan kejatuhannya. Kebenaran lalu dibeslag oleh Pemerintah (Sumatra Post [Medan], 22-01-1935) dan Oesman bersama A. Rachman yang merupakan salah seorang bestuur P.N.I. cabang Fort de Kock kemudian ditangkap dan untuk kedua kalinya Oesman terancam akan dibuang ke Digul (De Tribune: Het Dagblad voor de Arbeiders [Amsterdam], 08-08-1935; Het Nieuw van den Dag voor Nederlandsch-Indië [Batavia], 21-05-1935).

Belum diperoleh maklumat lebih lanjut apakah Oesman jadi untuk kedua kalinya dibuang ke Digul. Semoga beberapa bagian dari kisah komunis asal Payakumbuh yang sudah berhasil diungkapkan dapat dilengkapi oleh peneliti lain.

Dapat dikesan bahwa para aktivis PKI pada tahun 1920an kebanyakan orang muda (berusia antara 20-40 tahun). Mereka dibuang ke Digul atau dipenjarakan karena menentang penjajahan Barat/Belanda atas negeri mereka. Kini para politisi muda seusia mereka masuk penjara karena korupsi dan suka menilep uang rakyat.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 7 Juli 2019

Itoe permintaan v. Zijp dan belasting roemah adat.

        Berhoeboeng dengan poetoesan rapat jang diadakan di Soelit Air (S.W.K.) tentang permintaan itoe v. Zijp hendak mentjari barang tambang pada tanah bahagian Soelit Air dan tentang pertanjaan pemerintah peri hal taksiran sewa roemah roemah adat, itoe keempat orang wakil, jang telah ditentoekan, pada hari Sabtoe ddo. 27 Maart j.l. [1926] telah datang kemoeka Hoofd van Plaatselijk Bestuur di Solok.

        Dari hasil koendjoengan itoe, pembantoe kita chabarkan sebagai berikoet:

        Setelah wakil wakil itoe mengemoekakan keberatan keberatan, jang telah dipoetoeskan pada rapat jang terseboet diatas, (lihat Hindia Baroe tanggal 3 April, No 77) Hoofd van Paaltselijk Bestuur berdjandji akan menjoeroeh periksa kepada Controleur 1/b.

       Lebih djaoeh Hoofd van Pl. Bestuur menerangkan, kalau sekiranja keberatan keberatan itoe ada benar dan mempoenjai alasan jang tjoekoep, ia dengan segala senang hati soeka meneroeskannya keatas, oleh karena mana pada pikirannja permintaan v. Zijp itoe akan ditolak.

[…]

***

Laporan surat kabar Hindia Baroe, Tahoen X, No. 79, Rebo 7 April 1926 tentang usaha mencari bahan tambang di Sulit Air dan juga rencana Pemerintah Koloniah Hindia Belanda untuk mengenakan pajak terhadap rumah-rumah gadang di daerah Solok dan sekitarnya. Permohonan untuk mencari barang tambang di Sulit Air itu diajukan oleh seorang Belanda yang bernama Van Zijp. Akan tetapi tampaknya kaum penghulu dan warga Sulit Air cukup berhati-hati dengan permintaan itu, karena jika ditemukan bahan tambang yang berharga di nagari mereka, tentu tanah ulayat mereka akan diambil alih oleh Pemerintah.

Pokok kedua dalam laporan ini adalah rencana Pemerintah untuk memajak rumah gadang (rumah adat). Tampaknya pihak ninik mamak dan cerdik pandai di Solok juga berkeberatan dengan rencana Pemerintah yang dianggap aneh yang merupakan usulan dari Controleur setempat.

Namun, lebih jauh diterangkan Hoofd van Plaatselijk Bestuur (Hpb.) di Solok bahwa rumah adat yang akan dikenakan bajak (belasting) hanyalah yang disewakan kepada orang lain. Disebutkan dalam lanjutan laporan di atas:

Kemoedian wakil wakil itoe meneroeskan pertanjaan pada Hpb. tentang itoe pertanjaan pemerintah perihal taksiran sewa roemah adat, apa maksoednja pertanjaan itoe dilakoekan.

Hpb. menerangkan, bahwa pemerintah bermaksoed akan mengenakan belasting atas roemah roemah adat di Minangkabau.

Tetapi ra’jat, kata Hpb. Lebih djaoeh, ta’ oesah chawatir, karena roemah roemah adat, jang hanja dikenakan belasing, jaitoe:

I. Kalau roemah roemah itoe didiami oleh mamak roemah, hal mana menoeroet Adat Minangkabau djarang sekali, malah tiada pernah kedjadian.

II. Kalau taksiran sewanja koerang dari f 180. – setahoen.

Sewa sewa roemah adat di Minangkabau poen ada sedikit sekali taksirannja, karena dikampoeng kampoeng sewa roemah adat biasanja tiada tinggi, djadi tiadalah akan melebihi dari f 180 setahoen.

Sampai pada kedjadian roemah roemah itoe dioepahkan mendiaminja, karena ketiadaan orang.”

Rupanya Pemerintah Kolonial Hindia Belanda berusaha mencari pemasukan belasting dari apa saja yang mungkin bisa dipajak. Laporan di atas menunjukkan bahwa sudah sejak tahun 1920an banyak rumah gadang di Solok, khususnya di Sulit Air, sudah kosong ditinggal merantau oleh pemiliknya sehingga harus “dioepahkan mendiaminja”. Hal seperti itu masih terus berlangsung sampai sekarang. Inilah efek dari tradisi merantau Minang yang sudah menyumsum tulang itu.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 30 Juni 2019

ZAIMAR SALEH GADIS PERTAMA AHLI PENGAWETAN TANAH

   Seorang puteri petani dari Minang kabau baru2 ini telah menjelesaikan latihannja pada Lembaga Perentjana Tatabumi di Bogor dan dengan demikian ia mendjadi gadis Indonesia pertama jang bekerdja sebagai ahli teknik pengawetan tanah.

   Zaimar Saleh jang kini berusia 22 tahun, berasal dari desa Empat Angkat tidak djauh dari Bukittinggi di Sumatera Tengah. Dia dan teman2 sekelasnja jang lain akan mulai bekerdja bulan ini sebagai ahli teknik pengawetan tanah. Dalam bulan Oktober lalu mereka telah selesai mendjalani latihan djabatan jang lamanja empat bulan.

   Sedjak tahun 1955, kursus latihan pengawetan tanah dari departemen pertanian telah melatih teknisi2 muda jang bekerdja dalam program penggunaan tanah (land-use) diseluruh Indonesia.

   Empatpuluh orang teknisi pengawetan tanah jang kini bekerdja diseluruh Indonesia telah mengikuti latihan di Bogor, dan tigapuluh orang lainnja telah memperoleh latihan landjutan diluar negeri. ICA telah turut membantu pemerintah Indonesia dalam program latihan ini.

[…]

***

Berita yang disalin dari Trisula, Madjalah Bulanan Untuk Wanita Pedjuang, Th. XI, No – 11, NOPEMBER 1961, hlm. 30) tentang wanita Indonesia pertaama “ahli teknik pengawetan tanah” (ahli pertanahan) yang bernama Zaimar Saleh. Di atas disebutkan bahwa Zaimar belajar di “Lembaga Perentjana Tatabumi” milik Departemen Pertanian di Bogor.

Disebutkan pula bahwa Zaimar Saleh yang masih berusia 22 tahun berasal dari “desa [kenagarian] Empat Angkat/Ampek Angkek”, Agam (“tidak djauh dari Bukittinggi”). Dengan demikian dapat kita ketahui sekarang bahwa seorang lagi perempuan Minang tercatat sebagai pionir (orang pertam)a yang menjadi ahli pertanahan di negara ini.

Lanjutan dari laporan di atas adalah sebagai berikut:

ZAIMAR MEMILIH LAPANGAN KERDJA

Kenapa Zaimar memilih lapangan kerdja jang ras[a]nja hanja tjotjok untuk kaum pria, pekerdjaan jang meminta ketjintaan pada tanah dan kerdja berat ditengah lapangan ini?

 ‘Saja tjinta pada bau tanah’, kata Zaimar. ‘Ajah saja seorang petani, dan buat ajah tak ada gandjilnja untuk mengirim saja beladjar ke Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA). Setelah tamat sekolah itu, saja ingin mendjadi seorang ahli pengawetan tanah, dan demikianlah’.

Alasan jang dikemukakan ini begitu mudah, tetapi kerdja jang bakal dihadapi gadis ini tidaklah semudah itu.

 Ketika ia sedang mendjalani latihan lapangan sekitar Bandung, gadis ini bekerdja 10 djam sehari, membuat penjelidikan tanah dan perentjanaan kebun, dibawah terik matahari musim kering jang menggersang. Didaerah batu kapur Gunungkidul jang kering di Jawa Tengah, ia harus masuk kedalam gua jang dalam untuk mempeladjari sumber2 air dibawah tanah.

Orang akan bertanja didalam hati bagaimana nanti reaksi petani2 di Minang kabau melihat seorang gadis bertjelana djengki mengembara didaerah pertanian dan berusaha mejakinkan para petani akan kebaikan pengawetan tanah, dan mengandjurkan tanaman apa jang paling tjotjok bagi tanah itu. Zaimar hanja tersenjum.”

Demikianlah kisah hidup dan karir seorang gadis Minangkabau yang mengambil bidang pekerjaan yang pada tahun 1960an dipandang aneh di Indonesia karena dianggap lebih cocok dikerjakan oleh kaum lelaki.

Di zaman sekarang pun barangkali tidak banyak kaum wanita Indonesia yang memilih pekerjaan seperti yang dipilih Zaimar. Masyarakat kita yang patriarkis memang masih tebal bias gendernya.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 23 Juni 2019

 

 

Posted by: niadilova | 17/06/2019

PPM #212: Rangkayo Rasuna Said Wafat (1965)

“Innalillahi Wainailaihi Rodjiun

     Pada tanggal 2 Nopember 1965 telah wafat RANGKAJO HADJI RASUNA SAID, anggota Dewan Pertimbangan Agung, golongan wanita. Pemakaman pada tanggal 3 Nopember telah dilakukan dengan upatjara kebesaran di TAMAN PAHLAWAN KALIBATA.

     Almarhumah adalah seorang wanita Indonesia jang sejak zaman kolonial berdjuang dengan gigihnja untuk kemerdekaan tanah air.

     RANGKAJO RASUNA SAID sebagai pedjuang wanita Islam pula bergerak dilapangan pendidikan dan pernah mengemudikan madjalah “MENARA PUTERI” di Medan.

     Pada tahun 1948- 1953, almarhumah duduk sebagai anggota Pusat Pimpinan Perwari.

     Didalam kongres Perwari di semarang tahun 1960, ketika diputuskan terbentuknja pinjaman Gotong-Rojong dengan 5 Ketua Pusat Pimpinan Perwari, RANGKAJO RASUNA SAID terpilih pula sebagai salah satu dari 5 ketua tersebut.

     Kedudukan ini beliau pegang sampai tahun 1963.

      Kendatipun kesehatannja pada waktu itu sudah sering terganggu, tetapi beliau dengan tekun dan penuh perhatian mentjurahkan tenaga dan pikirannja untuk Perwari.

      Bahkan selama berbaring di Rumah Sakit, dengan semangat jang tak urung padam, Beliau senantiasa menanjakan kegiatan2 Perwari.

     Pemakamannya di [Taman] Makam Pahlawan kalibata telah disaksikan oleh banyak pemuka2 Wanita dan Warga Perwari.

    Semoga arwah Amarhumah mendapat tempat se-baik2nya dan disisi TUHAN JANG MAHA ESA. 

***

Laporan Trisula, Madjalah Bulanan Untuk Wanita Pedjuang, Th. XV, No. 1, Desember 1965:18 tentang meninggalnya salah seorang intelektual wanita terkemuka dari Minangkabau, Rangkayo Hajjah Rasuna Said. (Dalam berita di atas ditulis ‘hadji’). Sebagaimana dapat disimak dalam laporan majalah tersebut, Rangkayo Hajjah Rasuna Said wafat pada hari Selasa, 2 November 1965 di Jakarta, sekitar dua bulan setelah terjadinya peristiwa 30 September yang akhirnya menghempaskan kekuasaan Presiden Soekarno dan mengubah jalannya sejarah Indonesia.

Rasuna Said adalah intelektual perempuan Minangkabau yang sulit dicari tandigannya sampai kini. Lahir di Maninjau pada 14 September 1910, Rasuna adalah intelektual tiga zaman: Zaman Kolonial ketika Indonesia di bawah kuasa Belanda, Zaman pendudukan Jepang (1942-1945) dan Zaman Kemerdekaan.

Nama Rasuna lebih sering diasosiasikan orang dengan dunia pers: ia menjadi terkenal karena tulisan-tulisannya di media. Akan tetapi aktivitasnya lebih luas, tidak hanya di dunia pers, tetapi juga di dunia pendidikan dan politik.

Di Zaman Belanda, ia menjadi anggota Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), kemudian Persatuan Muslimin Indonesia (PMI) yang belakangan berubah menjadi Persatuan Muslim Indonesia (PERMI). Aktivitas politik dan tulisan-tulisannya di media vernakular telah membuatnya sering berurusan dengan Politiek Inlichtingen Dienst (PID) (polisi kolonial) dan menyebabkan dirinya beberapa kali masuk bui.

Di Zaman Jepang, Rasuna, bersama Chatib Sulaiman, berjasa dalam memperjuangkan terbentuknya Gyu Gun (PETA-nya Sumatera).

Di Zaman Belanda, Rasuna merantau ke Medan dimana ia menerbitkan berkala untuk perempuan yang bernama Menara Poetri, sebgaimana dicatat dalam laporan di atas.

Di Zaman Kemerdekaan, Rasuna menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung dan beberapa jabatan lainnya.

Riwayat hidup Rasuna Said dapat dibaca dengan lebih lengkap dalam buku 121 Wartawan Hebat dari Ranah Minang & Sejumlah Jubir Rumah Bagonjong karangan Hasril Chaniago dkk. (Padang: Panitia Pelaksana Daerah Hari Pers Nasional 2018 & Biro Humas Setda Provinsi Sumatera Barat, 2018), hlm.333-336. Dalam buku tersebut, Hasril mencatat riwayat pendidikan dan karir kewartawanan dan politik Rasuna. Dapatlah ditambahkan, berdasarkan laporan majalah Trisula di atas bahwa rupanya Rasuna juga aktif dalam organisasi PERWARI (Persatuan Wanita Republik Indonesia) sejak 1948 sampai 1963.

Rasuna said meninggal setelah menderita sakit kanker darah (Chaniago dkk., ibid.:336). Sebagaimana dicatat dalam laporan di atas, jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Pada tahun 1974, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Rasuna Said sebagai pahlawan nasional (Keputusan Presiden Nomor 084/TK/Tahun 1974). “Namanya diabadikan menjadi nama salah satu jalan utama di Jakarta dan juga di kota-kota besar lainnya di Indonesia, termasuk di Kota Padang”, demikian Hasril Chaniago dkk. (ibid.) menutup uraiannya tentang riwayat hidup putri Minangkabau yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia ini.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 16 Juni 2019

PAKAN BAROE – PAJACOMBO

(oleh correspondent kita)

            Telah tiga setengah boelan lamanja kita tinggal di Pakan Baroe.

Dalam waktoe jang sekian lamanja banjaklah kita mendapat pemandangan. Barangkali ada jang perloe boeat kepentingan oemoem.

Pembatja dipersilahkan memperhatikannja!

Negeri Pakan Baroe, jang terletak ditepi soengai Tapoeng, banjak pendoedoeknja ada kira2 3000 djiwa, bangsa Tionghoa sadja hamoir seperdoea dari djoemlah itoe. Negeri itoe masoek djadjahan Soeltan Siak Sri Indrapoera jang diwakili dinegeri itoe oleh seorang Datoek Districhoofd.

Pegawai ini diberi djoega hak memoetoeskan perkara2 ketjil menoeroet haknja Magistraat hakim Goevernement. Tetapi tentang bangsa kita sadja.

Ambtenaar gouvernement jang ada disana boeat perkara bestuur sama sekali terpegang dalam tangan seorang mantri politie.

Bestuur kata kita, tetapi tiada ia berhak tjampoer dalam perkara bestuur bangsa kita. Hanja jang masoek bagiannja ialah bangsa Timoer Asing sadja.

Meskipoen begitoe berat djoega tanggoengannja. Meingat segala kewadjiban jang mendjadi pikoelannja seperti: kepolisian, rolzaken, belasting, vreemde Oosterlingen, vendu, d.l.l., kita rasa diadalah sepadan dengan gadjinja jang ketjil itoe. Kalau dibandingkan dengan pekerdjaan seorang Demang dilain gewest, tiadalah djaoeh dari benar rasanja sjika kita katakan pekerdjaan Menteri politiedi Pakan Baroe ada djaoeh lebih berat.

Sebagaimana dahoeloe kita telah pernah toelis, walaupoen Pakan Baroe [hanja] seboeh negeri ketjil [saja], tetapi diharap bekal [bakal] besar dan ramai. Disana boleh dikatakan poesat perniagaan djadjahan Siak.

Hasil boemi jang teroetama ialah para [getah]. Disana ada seboeah onderneming getah jang amat besar.

Dalam satoe minggoe empat kali kapal masoek kenegeri itoe, membawa beroepa-roepa dagangan dari Singapore boeat S.W.K. [Sumatra’s Westkust/Sumatra Barat]. Sekembalinja penoeh bermoeat getah para. Sajang amat perdagangan getah itoe kebanjakan ada di tangan Tiong hoa (sic).

Bangsa kita? Ja……..Bangsa kita.

Hari Djoemaat [26 Maret 1926] kaita bertolak dari negeri ini menoedjoe S.W.K. [Payakumbuh] tanah tempat toempah darah kita.

Dengan menoempang seboeah auto, 38 K.M. djaoehnja kita menempoeh rimba besar sadja. Kemoedian kita sampai didanau Bingkoeang dimana djalan memotong batang Kampar. Djembatan tiada ada, segala auto jang laloe lintas diseberangi [diseberangkan] oleh seboeah veer pont. Menoeroet timbangan kita soedah lebih dari patoet, kalau goevernement ditempat ini meadakan  seboeah djembatan. Meingat banjaknja auto jang melaloei tempat itoe, sampai kadang-kadang ada jang menoenggoe 3 à 4 djam lamanja, baroe sampai gilirannja akan diseberangi [diseberangkan].

Kalai kita tidak salah, hal ini telah pernah dikemoekakan oleh Toean Loetan [wakil Minangkabau] di Volksraad.

Tetapi apa djawab pemerintah?

Soesah mendapat koeli! Kita rasa djawab[an] ini tiada beralasan kebenaran. Sebaliknja diantara Pakan Baroe dan Bangkinang banjak sekali anak negeriberkeliaran dan tiada mempoenjai pekerdjaan.

Djadi apakah djawab pemerintah itoe sebagaimana biasa sekedar akan mentjoekoepi sjarat pertanjaan sadja?

Hari telah poekoel sepoeloeh. Kita teroes berangkat menjoedjoe Bangkinang. Melihat kampoeng-kampoeng jang kita laloei seperti Roembio dan Air Tiris, adalah perasaan kita seolah-olah soedah dekat ketanah toempah darah kita sendiri.

Dikiri kanan djalan moelai kelihatan sawah-sawah, diatasnja kian kemari beberapa ekor kerbau, lemboe dan koeda dengan senang sedang makan roempoet. Beriboe-riboe ekor bangau poetih kelihatan seperti moesafir moesafir sedang melepaskan lelahnja dari perdjalanan jang djaoeh, boeloenja jang poetih bersih itoe berkilat-kilat kena tjahaja matahari. Ada djoega diantaranja pergi berdiri diatas poenggoeng kerbau, dibawa oleh binatang ini kesana sini sepandjang sawah sawah itoe, dari djaoeh ta’ obahnja kelihatan seperti orang orang Hindoestan sedang menghalau gadjah gadjahnja. Setelah kira kira seperempat djam lamanja  auto berdjalan lepas dari Bangkinang sampailah kita di Koeok. Kampoeng diantara Bangkinang dan Koeok ialah Salo. Inilah semoeanja jang dinamakan orang Lima Kota; jaitoe Roembio, Air Tiris, Bangkinang, Salo dan Koekok.

Menoeroet tambo orang toea-toea, tanah Siak Sri Indrapoera ada djoega pertaliannja dengan Lima Kota ini, malah dibawah djadjahannja. Beradaja ketanah Siak, bertoean  ke Lima Kota, berbapak ke Pagar Roejoeng.

Diantara negeri jang lima ini, Koeoklah jang paling ramai pasarnja, sehingga dari Pakan Baroe, jang djaoehnja kira kira 75 K.M., banjak djoega orang datang mengoendjoenginja akan membeli roepa roepa barang dagangan.

Disini kita laloe toeroen dari auto karena dari tempat ini kita moesti teroes berdjalan perahoe, memoediki Batang Kampar.

Pada waktoe jang belakang[an] ini sewa perahoe dan sebagainja mendjadi naik 4 á 5 kali ganda dari jang biasa. Karena hari akan poeasa orang orang berdagang banjak jang poelang kekampoengnja masing masing.

Kitapoen dengan tiga orang teman jang lain laloe menjewa seboeah perahoe sampai ke Tandjoeng Paoeh. Kalau dipikir benar benar perdjalanan ini tiada membangoenkan pikiran sedikit djoega, mengesalkan hati dan oleh karena itoe amat melelahkan. Doea hari doea malam lamanja kita didalam perahoe sadja, makan disana tidoerpoen disana. Adalah perasaan jang mendekatkan kita kepada Toehan, kalau kita bermalam didalam seboeah perahoe [di]tengah rimba besar, sedangkan air soengai itoe bertjahaja tjahaja kena sinarnja boelan, jang sebenar sebentar datang memperlihatkan dirinja dari sebelah awan jang hitam itoe. Djaoeh dari pergaoelan hidoep ditengah tengah rimba jang besar, disanalah kita terkenang akan nasibnja tanah Indonesia, jang tjantik molek kata orang jang memilikinja.

Indonesia bagoes

tetapi malang……

Hati siapa jang ta’kan terharoe meingat tjantiknja Indonesia: als seen gordel van smaragd, kata Multatuli.

Naik spoor dipegoenoengan Alpen adalah memberi pemandangan jang bagoe katanja orang, tetapi boeat kita tjoekoeplah kalau kita telah naik spoor melaloei Anaikloof di Sumatra Barat. Danau danau ditanah Zwitserland amat bagoesnja chabarnja orang, tetapi boeat kita memadailah kalau mata kita telah memandang danau Singkarak.

Waterval Niagara, ja boleh djadi molek, tetapi air mantjoer Kandang Ampat di Anaikloof tjoekoeplah boeat kita.

Karena bagoesnja sesoeatoe barang itoe adalah bergantoeng kepada perasaan orang jang melihatnja. Dan memang rasa kita ada djaoeh lebih dekat kepada tanah air kita, tempat toempah darang bangsa kita, dari pada kepada tanah asing jang beloem pernah kita lihat.

Sebab ta’ kenal maka ta’ sajang?

Boleh djadi.

Kita sampai tjoekoep mengenal tanah air kita, jang bagoes tetapi dimiliki orang lain, sehingga menerbitkan perasaan kasihan dalam kita melihat oentoengnja jang tjelaka itoe.

Pagi pagi hari Ahad sampailah kita di Tandjoeng Paoeh. Djalan jang akan mempertalikan Sumatra Barat dengan Sumatra Timoer, jang soedah dikerdjakan kira kira enam belas tahoen lamanja, sekarang baroe sampai ditempat ini. Dari kini laloe kita menjewa seboeah auto sampai di Pajakoemboeh.

Toemboeh pertanjaan dalam hati kita: Soedahkah pernah tempat tempat, dimana djalan itoe digali diantara Tandjoeng Tandjoeng Balit dan Tandjoeng Paoeh, diperiksa oleh jang berkewadjiban, bahwa tanah disitoe tiada mengandoeng batoe bara?

Menoeroet pemandangan kita sebagai seorang jang tiada ahli adalah [di]tempat tempat itoe banjak mengandoeng intan hitam itoe.

Tetapi…….wallahoe ‘alam.

Hanja Indonesia memang kaja.

Kira kira poekoel 1 kita sampai dinegeri Pangkalan Kota Baroe tempat kedoedoekan seorang Gezaghebber. Dari sini baroe kita dapat berangkat teroes kira kira poekoel 4 petang. Kita lihat djembatan djembatan antara Manggilang dan Oeloe Air masih dengan kajoe sadja. Sebenarnja bolem boleh dinamakan djembatan, karena hanja diboeat dari balok balok kasar, diatasnja dilintangi dengan papan dan tiada mempoenjai leuning (andaran).

Kabarnja belandja boeat peadakan djembatan-djembatan itoe telah ada dalam begrooting.

Mengapa beloem dikerdjakan?

Entahlah.

Seboeah autobus dari A.D.S.S. waktoe laloe diatas seboeah djembatan itoe, kedoea rodanja jang dimoeka terperosok kebawah, karena roepanja papan djembatan itoe telah lama benar melakoekan dientsnja, sehingga tidak tahan lagi memikoel kewadjibannja.

Perdjalanan kitapoen terhalang djoega olehnja. Bersama-sama kita meangkat roda auto jang bertjelaka itoe, kira-kira poekoel 11 malam baroe selesai. Dengan hal jang demikian poekoel 12 baroe kita sampai dinegeri jang ditoedjoe jaitoe kota Pajakoemboeh.

***

Sumber: Surat kabar Hindia Baru,No.28, Tahoen X, Rebo 24 Maart 1926. Teks disalin menurut ejaan aslinya. Kata-kata dalam kurung siku merupakan tambahan dari penyalin yang dimaksudkan untuk memperjelas arti teks ini untuk pembaca masa kini. Nama kota Payakumbuh ditulis dua versi: ‘Pajacombo’ dan ‘Pajakoemboeh’.

Penyalin: Dr. Suryadi, Leiden University, Belanda.

PEMANDANGAN ISLAM DAN DJAGO! DJAGO!

            Kedoeanya nama soerat chabar jang terbit di Padang Pandjang tetapi diharap soepaja toean-toean dan engkoe engkoe akan menerima lagi kedatangannya “PEMANDANGAN ISLAM” didalam ini minggoe djoega.

            Dikeloearkan oleh PENOENTOET AGAMA ISLAM DI PADANG PANDJANG.

            Isinja menerangkan dan memperbintjangkan asas dan pemandangan ISLAM SEDJATI dalam golongan PERGERAKAN DOENIA jang bakal mentjapai KESELAMTAN ACHIRAT menoeroet setjara kehendaknja masa jang kaloe ini.

            Beroesaha menjokong dan membantoe gerakan BERSAMA jang bergoena oentoek RAJAT dan TANAH AIR kita.

            V[e]antwoordelijk Redacteur;

  1. Dt. Batoeah

            Hoofdredacteur

            Djamaloedin Tamim

            Berlangganan sekoerang-koerangnja 12 lembar harga f 1,25.

            Batjalah sokonglah [dan] toendjanglah gerakkan dan kehendaknja ISLAMISME dan ISLAM SEDJATI dan mintalah berlangganan kepada administratie PEMANDANGAN ISLAM.

  1. Rasjid M. S.

            Kantoor Sumatra Thawalib

                        PADANG PANDJANG

***

Iklan promosi tentang dua media cetak yang berhaluan progresif dan levolusioner yang terbit di Padang Panjang pada tahun 1920an. Kutipan di atas disalin dari berkala DJAGO! DJAGO!, No. 1, tahoen 1, Senin 8 October 1923. Dari kutipan di atas dapat dikesan bahwa Pemandangan Islam diterbitkan dengan tujuan memperjuangkan hak-hak umat Islam (dalam hal ini kaum muslim di Minangkabau) di dunia ini demi “keselamatan achirat’.

Orang sering mengasosiasikan H. Dt. Batoeah dan Djamaloedin Tamim (sering juga ditulis ‘Tamin’) dengan gerakan komunis di Padang Panjang. Akan tetapi dalam kedua surat kabar ini, istilah ‘komunis’ tak jarang sekali tersua. Dalam Djago! Djago! nomor di atas, A[rif] Fadlilah Hr (sering juga ditulis: ‘Arif Fadillah’), salah seorang aktivis ‘komunis’ di Padang Panjang menulis tentang misi dari surat kabar yang ditanggungjawabi Natar Zaionedin itu:

Dengan kekerasan hati jang soetji, oleh toean2 saudara anggota I.D.C. [Internationaal Debating Club] Padang Panjang, maka diterbitkanlah satoe soerat kabar bernama “Djago Djago”.  

Djago Djago”, ialah soerat kabar kaoem melarat jang selaloe dapat tindisan, dari kaoem modal.

“Djago Djago” akan bekerdja sedapat2nja membela kaoem melarat.

“Djago Djago”, akan mentjari kemedekaannja kaoem melarat jang selaloe hari dapat tindisan dari jang lain2.

 Maka “Djago Dago”, dikemoedikan oleh toean N.[atar] Zainoedin, siapa toean N. Zainoedin, betapa toean itoe, serta bagaimana tjinta toean itoe pada kaoem melarat, tentoe toean2 saudara telah mengetahoeinja djoega; lebih2 toean2 saudara di Padang, Semarang, Medan dan Atjeh.”

Arief Fadillah yang menjadi Redacteur Djago! Dajgo! berseru agar golongan kaum melaran bersatu menentang para penindas yang, walau tidak disebutkan secara eksplisit, jelas diarahkan kepada penguasa kolonial Hindia Belanda dengan para kolaborator dan komprador pribuminya. “Hai kaoem melarat dan tertindis, bersiaplah [dan] berkokohlah serta bekerdjalah engkau dengan sebisabisanja, menghindarken diri engkau dari bahaja jang menindis dan memeras engkau itoe”, serunya (ibid.)

Istilah “kaum melarat” jelas beraroma proletar yang tentu saja menjadi ikon perlawanan terhadap kaum borjuis, kaum pemodal, atau kaum kapitalis. Dengan demikian, ‘kaum melarat’ cenderung diasosiasikan dengan kaum komunis. Pelabelan ‘komunis’ ini begitu kuat pada masa itu, dan hal itu terus dihembuskan oleh penguasa kolonial Hindia Belanda yang merasa terancam oleh gerakan politik mereka.

Di halaman judulnya sudah dapat dikesan bahwa “Djago!Djago! [adalah] soerat chabar SOERA MERDEKA kaoem melarat.

Dengan lantang penulis berinisial ‘Z’ memprovokasi para pembaca untuk memerdekakan diri dari pada penindas (penjajah Belanda): “Recht dan hak jang kita harapkan / Jang maha koeasa mesti mengaboelkan / Hambanja mendapat kemedekaan / Sijang dan malam saja harapkan. […] // Anak Hindia marilah bergerak / Pemimpin kita biar bertegak / Akan melawan toekang pengroesak / Reactie jang amat banjak”, demikian tulisnya (ibid.)

Sejarah telah mencatat bahwa peneraju kedua surat kabar tersebut berulang kali berurusan dengan polisi. Djago! Djago! sendiri sudah kena periksa  polisi saat baru mencapai terbitan nomor 5 karena beberapa tulisan yang dimuat dalam nomor sebelumnya (No. 4) dianggap membahayakan rust en orde dan mengarahkan anak panah ke Pemerintah, yaitu tulisan Hr yang berjudul “Vlootwet”, tulisan Baharuddin Saleh yang bertajuk “Kapitalisten dan kaoem Proletar”, dan artikel M.S. Djaafar yang berjudul “Oetang wadjib dibajar”, menyebabkan penulisnya dan juga sang Hoofdredacteur Natar Zainoedin diperiksa polisi (Djago! Djago!, No. 6, Tahoen ke I, Djoemahat 30 November 1923).

Karena kekuatan hati mereka untuk membela kaum lemah (‘kaoem melarat’) yang terus ditindas, maka empat sekawan tersebut – H. Dt. Batoeah, Natar Zainoedin, Djamaloedin Tamim dan Arif Fadlilah – akhirnya ‘dikebiri’ oleh penjajah Belanda. Setelah beberapa kali diperiksa dan ditahan, akhirnya empat sekawan itu dibuang ke luar Minangkabau. Berita tentang pembuangan mereka telah dimuat dalam beberapa nomor sebelumnya rubrik ini.

Sepanjang sejarah bumi ini, termasuk kini, ketika kolonialisme sudah lama tertimbun dalam lembaran sejarah, mereka yang bersuara kritis membela kaum lemah selalu mendapat ancaman dari penguasa.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 26 Mei 2019

 

Hindia Baroe, No.95, Tahoen X, Rebo 29 April 1926-crop

Sumber:  Surat kabar Hindia Baroe, No.95, Tahoen X, Rebo 29 April 1926.

Madjalah PERUSAHAAN NEGARA,No. 6-7, Th. I, Djuni-Djuli '61, hlm.16-crop

Sumber: Madjalah PERUSAHAAN NEGARA, No. 6-7, Th. I, Djuni-Djuli ’61, hlm.16

Older Posts »

Categories