Posted by: niadilova | 04/01/2021

GIDIK DAN GELISAH DI PERGANTIAN TAHUN

Beberapa jam lagi dari titik Leiden tahun 2020 akan humban ke belakang dan tahun 2021 akan segera dijelang. Sementara di selatan dan ‘Terra Incognita’ sana tahun telah berganti sejak beberapa jam tadi. Kembang api di Wellington dan Sydney terasa hambar tanpa suara petasan, denting gelas anggur beradu, dan musik hura-hura. Perayaan tahun baru kali ini memang beda. Dan semua itu adalah karena ulah Corona.

Biasanya jam segini (sekitar 3-4 jam sebelum pergantian tahun) di luar apartemen saya salak mercon sudah terdengar bersahutan dan sesekali cahaya kembang api telah menyibak udara senja yang selalu datang lebih cepat di musim dingin. Namun, kali ini suasana terasa agak senyap, jauh dari kesan ramai dan bunyi dentam-dentum seperti tahun-tahun sebelumnya. Walau masih tinggal beberapa jam lagi menjelang pukul 00:00 indikasi bahwa jumlah petasan dan kembang api yang akan dibakar malam ini jauh berkurang dari tahun-tahun sebelumnya sudah tampak: mulut tong-tong sampah di lingkungan perumahan tidak ditutup oleh petugas keamanan/polisi. Di Belanda seringkali di tahun baru petasan berkekuatan besar diledakkan dalam tong-tong sampah sehingga menimbulkan bunyi yang keras seperti ledakan granat yang seringkali juga menimbulkan korban dan tentu saja juga merusak fasilitas publik.

Pemerintah Belanda sudah me-lockdown lagi Belanda untuk kesekian kalinya, kali ini hingga 19 Januari 2021. Keputusan ini diambil oleh Pemerintahan Perdana Menteri Mark Rutte tanggal 15 Desember lalu. Ini jelas dimaksudkan untuk menahan warga Belanda supaya tetap tinggal di rumah untuk mengantisipasi penyebaran yang lebih luas virus Covid-19 di Belanda. Dengan demikian, pandemi virus ini telah menyelamatkan lebih kurang 70 juta euro dari kebakaran sia-sia untuk membeli petasan dan kembang api.

Untuk pertama kalinya “people around the world welcome new year from home” demikian berita CNN sebentar tadi. Semua orang dinasehati oleh otoritas negara masing-masing untuk merayakan tahun baru di/dari rumah secara online. Lebih kurang setahun sudah virus aneh ini menyebar ke seluruh dunia dari kota Wuhan di Cina. Tidak ada yang menyangka bahwa akibatnya menjadi seburuk ini secara global. Pandemi Covid-19 telah berdampak secara signifikan terhadap manusia, makhluk terpintar di bumi, yang dengan kecerdasan dan rasionalitas modernnya yang pongah itu merasa mampu menggenggam tampuk bumi ini dan menaklukkannya. Kini mereka diuji dan dibuat resah oleh suatu kekuatan tak tampak yang gentayangan bersama angin. Mereka yang masih percaya adanya Tuhan “menggigil dari ujung kaki ke kepala dan berduyun-duyun memanggil nama[Nya]”, demikian Wannofry Samry merefleksikan kebuncahan hati umat bergama dalam puisinya “Virus Tua” (dalam antologi Corona Pergi oleh Puisi, Cianjur: Mulya Bookstore, 2020: 224). Sejarawan yang penyair ini menangkap kegelisahan umat manusia kini menghadapi pandemi Covid-19 ini. Dalam penggalan ketiga puisi di atas ia menulis:

Ribuan orang terkulai

ribuan orang terperangah, tiba-tiba memikir ulang langkah

mereka menghitung kembali perjalanan yang jauh, mengukur

kembali jarak yang ditempuh

virus tua seakan di depan semua pintu menunggu

seakan maut bergantung di setiap benda

dan aku, di sudut kesunyian, ketakutan, dan hanya mendekap

padaMu.

Corona memang telah mengubah segalanya. ‘Hantu’ yang bergerak bersama udara itu telah mengubah cara pandang kita terhadap anggota keluarga, sanak famili yang lebih luas, tetangga, bahkan sesama bangsa. Kebiasaan-kebiasaan yang standar, seperti bersalaman, berciuman pipi (bagi orang Barat), berangkulan saat bertemu, berbicara berdekatan dan lain sebagainya kini dihindari. Orang-orang hanya melambaikan tangan, beradu siku, dan menyampaikan salam dari balik kaca jendela dan juga layar-layar gadget. Tetiba semua hal yang lumrah dan biasa itu terasa asing dan jarak yang paling dekat pun kini terasa jauh. Setiap individu memandang individu lainnya sebagai orang asing, liyan aneh yang membawa ancaman. Mereka saling menjaga jarak, memandang satu sama lain dengan rasa waswas dan kuduk bergidik. 

Orang-orang saling mengawasi, saling mengintip dan saling curiga. Mereka yang terbiasa dengan kerumunan merasa kehilangan sesuatu dalam makna hidup. Disadari atau tidak trust antara sesama manusia makin meluncur ke titik nadir. Bahkan terhadap virus itu sendiri yang oleh sebagian orang hanya ‘hantu’ ciptaan konspirasi dari para maniak kapital yang ingin selalu menggengam tampuk dunia dengan memproduksi dan menjual vaksin. Kehidupan berkeluarga, bertetangga, berkampung bernegeri, dan bernegara menjadi kacau. Tiba-tiba manusia modern seakan diuji lagi dengan jarak yang mereka rasa telah berhasil mereka taklukkan dengan penemuan aneka teknologi transportasi yang super cepat. Mobilitas manusia dibatasi dan orang-orang berjaga-jaga di berbagai perbatasan dengan rasa takut yang tak ditampakkan. 

Angin, bau mulut dan parfum pasangan hidup, keluarga dan kenalan kini terasa sebagai ancaman. Orang-orang saling berpapasan di jalan dengan gerak menghindar. Kecantikan dan ketampanan wajah terasa tiada berguna lagi karena terpaksa harus disembunyikan di balik masker, membuat mereka yang karena takdir dikaruniaiNya wajah buruk merasa beruntung. Mereka biasa dengan hedonisme dan digila olehnya dunia tiba-tiba merasa aneh. Mereka tidak tahu kemana gaun-gaun dan tas mahal yang dibeli dengan harga selangit, dari puluhan hingga ratusan juta, akan dipamerkan, karena ruang-ruang publik ditutup untuk orang ramai. Maka bertanding-tandinglah mereka memperlihatkan foto dan video-video diri di laman-laman facebook dan instagram. Orang-orang dari layar HP masing-masing di seberang sana mengirimkan cap jempol dengan bermacam ragam perasaan.

Apakah sebenarnya Corona ini? Cara alamkah me-recovery dirinya? Kiriman Tuhan untuk memperingatkan manusiakah?  Ataukah ia human made yang tak mampu lagi dikendalikan oleh ‘tuan’nya? Entahah! Yang jelas kehadirannya sudah memorakmorandakan hubungan kemanusiaan, bahkan juga hubungan manusia dengan Tuhan.

Pergantian tahun 2020 ke 2021 dalam suasana yang relatif sepi di seluruh dunia karena pademi Covid-19 mungkin membuat banyak orang, meminjam kata-kata Wannofry di atas, “terperangah”, “memikir ulang langkah mereka” dan “menghitung kembali perjalanan yang jauh.” Sememangnyalah pandemi ini telah mendorong sebagian manusia merenungkan kembali hakikat dirinya. Akan tetapi tidak kurang banyaknya yang tetap atau malah makin mempelihatkan karakter cerdik buruk, sombong, khianat, dan loba-tamaknya. Bayangan kematian yang bisa saja tiba-tiba oleh virus yang sangat berbahaya itu tidak mampu menghilangkan sifat buruk manusia. Kini aneka vaksin sudah mulai disuntikkan ke tubuh manusia yang bersifat aniaya itu dengan keyakinan bahwa cairan itu masih bisa menahan mereka dari kematian. Mereka berusaha menyelamatkan nyawa mereka yang hanya sepanjang tungkai belalang itu. 

Masih mengganasnya pandemi Covid-19 ini di banyak negara di dunia sampai jam-jam terakhir tahun 2020 memberi indikasi bahwa tahun 2021 penduduk bumi masih akan mengalami ‘teror’ yang menakutkan. Mungkin bumi masih memerlukan bantuan virus ini untuk memperlambat laju perusakan manusia terhadapnya. Jika laku manusia merusak bumi ini sudah keterlaluan, maka ia memiliki caranya sendiri untuk memperlambat laju perusakan itu. Jika manusia tidak ramah lagi kepada bumi, maka bumi akan membuang mereka dengan caranya sendiri. Di balik semua ini ada hikmah yang tersembunyi: ini adalah ujian untuk kesabaran dan nafsu dalam diri manusia.

Pandemi Corona mungkin sebuah pesan keras kepada manusia untuk lebih bijak menjaga bumi, ‘rumah’ satu-satunya tempat mereka tinggal. 

Leiden, jam-jam terakhir 2020

Posted by: niadilova | 28/12/2020

SETELAH PENGAKUAN UNESCO, MAU APA KITA DENGAN PANTUN?

Dalam sidangnya yang ke-15 di Paris pada hari Kamis, 17 Desember 2020, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) telah menetapkan pantun sebagai warisan dunia tak benda (intangible world heritage). Pengakuan ini disambut hangat oleh pemerintah dan lembaga-lembaga terkait di Indonesian dan Malaysia yang sudah beberapa tahun berjuang di lembaga UNESCO untuk mempromosikan pantun sebagai salah satu warisan dunia.

Dikatakan bahwa pengakuan (pengiktirafan) pantun oleh UNESCO itu akan dapat mengangkat wajah negara Malaysia dan tentunya juga Indonesia di forum antarbangsa. Jika kita melayari internet, dapat dikesan bahwa institusi-institusi pemerintah di kedua negara menyambut dengan antusias pengakuan UNESCO terhadap pantun itu. Begitu juga dengan Lembaga-lembaga yang aktivitasnya terkait dengan pelestarian kebudayaan seperti Lembaga Adat Melayu Riau dan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL). Besok (Minggu, 27 Desember 2020) akan diadakan acara “Kenduri Virtual: PantunMenjadi Warisan Dunia” mulai pukul 20:00 WIB sampai selesai (Zoom ID:812 9857 1455; Password: PANTUN).

Sementara itu, di kalangan akademik secara umum tampaknya tidak (atau mungkin belum) terlihat adanya antusiasme terhadap pengakuan pantun oleh UNESCO ini. Memang ada satu dua postingan di media sosial yang terkait dengan hal ini. Tapi esai-esai yang ditulis di surat kabar sempena pengiktirafan ini belum lagi tampak. Padahal di Indonesia hampir semua universitas negeri (juga beberapa universitas swasta) memilik Fakultas Ilmu Budaya dan Jurusan Sastra Daerah. Selain itu, juga ada Balai Bahasa di setiap provinsi. Oleh karena itu terasa agak anomali, untuk tidak mengatakan ganjil, apabila kesuksesan perjuangan Indonesia dan Malaysia dalam mendapatkan pengakuan pantun sebagai warisan dunia tak benda (Malaysia: tak tampak) ini hanya disambut dingin saja oleh ratusan staf pengajar/peneliti budaya di berbagai Fakultas Ilmu Budaya di universitas-universitas kita.

Keadaan yang kurang lebih sama tampaknya terjadi juga di Malaysia. Dalam perbincangan virtual dengan Prof. Dato’ Dr. Ahmad Murad Merican dari ISTAC-IIUM Kuala Lumpur, akademikus terkemuka Malaysia itu mengatakan bahwa sambutan dunia akademik di Malaysia juga dingin saja. Sementara itu, Prof. Dato’ Dr. Haji Awang Sariyan, Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), juga dalam perbincangan virtual dengan saya, mengatakan bahwa DBP berencana akan menggelar acara khusus (‘mengadakan acara khas’) tentang pantun dalam rangka menyambut dan merayakan pengakuan UNESCO ini. Dalam pada itu, dalam perbincangan virtual pula dengan Tan Sri Dato’ Seri Utama Rais Yatim, Yang Di-Pertua Dewan Negara Malaysia terkandung maksud dari Pengerusi dan Pengasas Yayasan Budi itu untuk merayakan pula kesuksesan ini. Mantan Penasihat Sosial dan Budaya Kerajaan Malaysia itu sangat menyambut gembira pengiktirafan pantun oleh UNESCO itu (lihat: https://www.utusan.com.my/berita/2020/12/rais-gembira-pantun-diiktiraf-unesco/; diakses 27-12-2020). 

Sebagai warisan dunia takbenda/tak tampak, pengakuan pantun oleh UNESCO ini tentu selayaknya dapat mendorong rakyat Indonesia dan Malaysia, bahkan seyogianya juga negara-negara lain yang masih berada dalam rumpun Melayu Raya, untuk menyemarakkan kembali pemakaian genre puisi tradisional Melayu-Nusantara ini di masa sekarang. Jika warisan benda (seperti bangunan kuno dan situs-situs sejarah lainnya yang berwujud fisik) kita jaga dengan memugarnya, maka warisan berupa takbenda seperti pantun, walau sudah diiktiraf oleh UNESCO, tentu tidak akan terasa signifikansinya apabila tidak direvitalisasi oleh masyarakatnya di masa sekarang.

Jika kita melihat secara umum, pemakaian pantun oleh generasi masa kini masih ada sedikit banyaknya. Di Indonesia, misalnya, pramugari sebuah perusahaan penerbangan (Batik Air) selalu memakai pantun bila mengawali pengumuman di dalam pesawat. Contoh lain: Gubernur Sumatera Barat Prof. Dr. Irwan Prayitno dikenal sangat suka berpantun ketika memberikan sambutan dalam berbagai acara resmi. Di Malaysia pula, dalam berbagai acara resmi, pembawa acara (MC), juga para pembicara, selalu pula mengawali dan mengakhiri ucapannyanya dengan beberapa bait pantun.

Dalam ekspresi budaya dalam berbagai etnis, pantun juga masih dipakai, ambil contoh lirik lagu-lagu pop Minang di Sumatra Barat. Lirik-lirik lagu Melayu di Malaysia juga masih dihiasi oleh pantun. Kalau kita merujuk ke belakang, sebenarnya tidak begitu banyak juga buku pantun yang sudah diterbitkan, termasuk di zaman kolonial. Banyak pantunhidup melalui mulut orang-orang desa, yang dikeluarkan saat acara-acara khusus (meminang mempelai, menabalkan penghulu, alek nagari, dll.). Artinya, pantun lebih banyak eksis dalam bentuk lisan, dan dalam perjalanan masa orang lupa membukukannya sebanyak mungkin. 

Saya adalah seorang pencinta budaya Melayu/Minangkabau yang menyukai pantun. Akan tetapi menurut saya, sering pantun yang diciptakan oleh orang sekarang kurang mengena secara estetika dan stilistika. Maksud saya, ada kesan orang muda sekarang tidak mengetahui hukum estetika pantun. Kunci penting untuk menciptakan pantun dan menjaga estetika dan stilistikanya yang asli adalah: larik jangan dibuat lebih dari 9 suku kata (satu tarikan nafas). Dan larik isi yang ‘berisi’ adalah jika mengandung metafora, bukan bahasa cair saja.

Saya melihat sekarang orang rada sembarangan dalam menciptakan pantun. Seringkali panjang larik lebih dari 12 suku kata. Bagian pembayang tak begitu berkiblat ke alam. Penciptaan pantun yang melanggar kaedah-kaedah stilistika aslinya tentu akan merusak citra pantun itu sendiri. Jarang pula orang sekarang yang menciptakan pantun lebih dari 4 baris. Mereka sepertinya tidak tahu ada pantun 6, 8,10 baris, bahkan lebih, seperti bait pantun Minang berikut ini:

Tabiang nan tinggi lah baruntuah,

Mambangun jalan Salibutan,

Tagantuang tantang Lubuak Kalak,

Kini jambatan ka subarang;

Di siko hati mako rusuah,

Jinak lah lapeh pado tangan,

Kini bak raso tampak-tampak,

Bakukuak dalam tangan urang.

Pantun, walau bersifat meretas alam Melayu-Nusantara yang luas dan berbilang etnis ini, memiliki ciri lokal/tempatan sendiri. Bagi saya sebagai orang Minang, misalnya, pantun yang yang baris isinya hanya menyuguhkan makna denotatif terasa hambar, bagaikan sayur kurang garam, bagai getah cair saja. Jikapun tak pekat, metafora selayang harus selalu ada dalam pantun Minangkabau. Itulah yang membedakannya dengan pantun dari daerah-daerah lainnya.

Nan ka pulau nasi batungkuih,

Di baliak Pulau Lipek Kain,

Jalo tarantang kaia lah putuih,

Kasiah dirangguik urang lain.

Pantun Minangkabau yang baik adalah yang baris isinya (penggalan kedua) menyuguhkan metafora yang pekat dan penuh dengan makna kiasan, sepagaimana dapat dikesan dari kutipan pantun 8 larik di atas (Empat baris isinya mengiaskan seorang lelaki/wanita yang merasa sedih dan selalu terbayang pada mantan kekasihnya [disimbolkan dengan ayam atau burung) yang kini sudah direbut oleh orang lain [bakukuak dalam tangan urang]).

Apa yang ingin saya katakan adalah bahwa generasi sekarang harus diajarkan (melalui sekolah atau lembaga-lembaga terkait) bagaimana menciptakan pantun yang baik dan bermutu, bukan yang berkualitas rendah, karena pantun adalah seni tinggi. Jika tidak, warisan dunia takbenda dari alam Melayu-Nusantara yang sudah diiktiraf UNESCO itu akan rusak citranya. Sebagai cara menyampaikan pesan yang khas dan bersifat indirectness dan merepresentasikan budi orang Melayu, pantun juga harus coba dipopulerkan kembali kepada generasi muda kita, di tengah kecenderungan cara berbahasa orang sekarang yang makin kehilangan kesantunan.   

Leiden, 27 Desember 2020

Posted by: niadilova | 09/10/2020

Kaum pribumi mendirikan sekolah

  • “Baroe-baroe ini di Manindjau Soematera-Barat, telah berdiri poela satoe sekolah Taman Siswa.” (Sumber: Fikiran Rakjat, No. 19, 4 November 1932, hlm.14 [KRONIK INDONESIA])
  • “Di Tanggerang telah dikabarkan akan didirikan pergoeroean kebangsaän Taman Siswa.” (Sumber: Fikiran Rakjat, No. 49-50, 16 Juni 1933, hlm.16 [KRONIK INDONESIA])
Posted by: niadilova | 09/10/2020

Mereka yang di-Digoel-kan

  • Sdr. A. J. Patty anggauta P.I. [Partai Indonesia] jang sekarang diboeang di Roeteng, akan diboeang lagi ke Boven-Digoel.” (Sumber: Fikiran Rakjat, NO. 15, 7 October 1932, hlm.14 [KRONIK INDONESIA])

PERKUMPULAN-PERKUMPULAN YANG BARU BERDIRI

  • “Atas oesaha pemoeda-pemoeda jang soedah insjaf, di Bandoeng telah bisa didirikan satoe tjabang dari (S)oeloeh (P)emoeda (I)indonesia.” (Sumber: Fikiran Rakjat, No. 20, 11 November 1932, hlm.12 [KRONIK INDONESIA])
  • Di Palembang oleh kaoem djoroetoelis telah didirikan satoe perkoempoelan dengan nama ‘Schrivers Bond'” (Sumber: Fikiran Rakjat, NO. 20, 11 November 1932, hlm.12 [KRONIK INDONESIA])
  • “Di Bandoeng telah berdiri satoe centraal perstoean perkoempelan-perkoempoelan pegawai Negeri.” (Sumber: Fikiran Rakjat, No. 14, 30 September 1932, hlm.16 [KRONIK INDONESIA])
  • “Di Borneo telah berdiri satoe perkoempoelan baroe jang bernama ‘Pergerakan Alam Islam Borneo’ dibawah pimpinan toean Moehamad Dahlan.” (Sumber: Fikiran Rakjat, No. 14, 30 September 1932, hlm.16 [KRONIK INDONESIA])

Read More…

  • Sdr. H. Mochtar Lufti sesampainja dipelaboe[h]an Emmahaven Padang, 37 boekoenja telah datahan didouane, tetapi tidak lama lagi dikembalikan poela.” (Fikiran Ra’jat, No.20, 11 November 1932 , hlm. 12 [KRONIK INDONESIA])
  • “Diantara batjaän-batjaän jang dilarang disini, ada 2 soerat-kabar, jaitoe: ‘Revolution Proletariene’ jang terbit di Parijs, dan ‘Revolutionares Asien’ jang terbit di Berlijn.” (Sumber: Fikiran Rakjat, NO. 18, 28 October 1932, hlm.15 [KRONIK INDONESIA])
  • “Diantara batjaän jang terlarang disini, adalah ‘Hadjaätoesj-Sjark’ jang terbit di Cairo.” (Sumber: Fikiran Rakjat, No. 23, 2 December 1932, hlm.14 [KRONIK INDONESIA])
  • “Dalam congres P.P.B.B. jang ketiga di Djakatra, dimadjoekan porstel antara lain-lain, agar perkataän ‘inlander’ dalam oemoem diganti dengan ‘Indonesier’ dan mengandjoerkan kepada anggota-anggotanja memakai pakaian boeatan sendiri.” (Sumber: Fikiran Ra’jat, No. 17, 21 October 1932, hlm.16 [KRONIK INDONESIA])
  • “Tangal 20 November [1932] jang akan datang oleh Boekhandel A. B. Siti Sjamsijah di Solo akan diterbitkan Quran Indonesia dengan heroef Latin.” (Sumber: Fikiran Ra’jat, No. 20, 11 November 1932, hlm.12 [KRONIK INDONESIA])
  • “Dari tanggal 7 Agoestoes sampai 3 September 1932, orang jang mendjadi korban pest di Indonesia ada 293 orang.” (Sumber: Fikiran Ra’jat, No. 20, 11 November 1932, hlm.12 [KRONIK INDONESIA])

Read More…

SURAT KABAR/BERKALA/MAJALAH BARU

  • Perkoempoelan Siap sekarang telah telah menerbitkan seboeah madjallah oentoek perkoempoelannja.” (Sumber: Fikiran Ra’jat, No.13, 23 September 1932, hlm. 13 [KRONIK INDONESIA])
  • Di Kaban Djahe Soematera telah terbit seboeah soerat kabar Minggoean bernama “Setia Bangsa”, dibawah pimpinan toean Iskandar Nababan dan Nona S. Pandjaitan.” (Sumber: Fikiran Ra’jat, No.14, 30 September 1932, hlm. 15 [KRONIK INDONESIA])
  • “P.G.H.B. tjabang Banjoewangi telah mengeloearkan satoe soerat kabar boelanan dari toe perhimpoenan dengan nama ‘Koemandang Persatoean Goeroe’ di bawah pimpinan toean Joesoef c.s.” (Sumber: Fikiran Ra’jat, No.14, 30 September 1932, hlm. 15 [KRONIK INDONESIA])

Read More…

Read More…

Posted by: niadilova | 03/10/2020

Puisi Nusantara #20: Asrul Sani, ‘Wadjah’ (1948)

Sumber: Gema Suasana. Madjallah Bulanan untuk Indonesia, No.1, Januari 1948, hlm. 5

Older Posts »

Categories