Tjermin, No. 23, TAHUN KE-11, 15 OKTOBER 1950, p.22-CROP

Di bawah foto ini terdapat keterangan sebagai berikut:

“Henk Rondonuwu, bekas menteri penerangan N.I.T. [Negara Indonesia Timur] dengan Nona Gadis Rasjid, dengan siapa ia telah menikah pada 27 September j.l. [1950] di Djakarta. Nona Gadis Rasjadi adalah wartawan wanita Indonesia jang terkenal. (Klise: “Pewarta Surabaja”).

Sumber foto: Majalah Tionghoa Tjermin (Surabaya), No. 23, TAHUN KE-11, 15 OKTOBER 1950, hlm.28

Advertisements

De Groote Opruiming.

[…]

Iste Besluit.

Overwegende, dat de groote onrust, bepaaldelijk in den laatsen tijd in verschillende gewesten en in het bijzonder de zeer onglangs vooral in West-Java plaats gehad hebbende enrnstige troebelen ontwijfelbaar veroorzaak zijn door het drijven der P.K.I. en hare onderorganisaties.

Is goedgevonden en verstaan:

In overeenstemming met den Raad van Nederlandsch-Indië, krachtens artikel 37 der Indische Staatsregeling aan:

[…]

[…] Oesman gelar Soetan Keadilan alias Roer oud ongeveer 25 jaar, gewezen redacteur van het dagblad Njala, propagandist der P.K.I., geboren te Pajakoemboeh, Sumatra’s Westkust en laatstelijk woonachtig te Batavia.”

***

Laporan surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad edisi 21 Desember 1926 yang memberitakan keputusan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membuang Oesman gelar Soetan Keadilan ke Digul. Bersama Oesman diasingkan juga ke Digul 8 orang pantolan dan propagandis P.K.I. lainnya dari Jawa. Merujuk ke Pasal 37 Undang-Undang Negara Hindia Belanda, orang-orang itu dianggap berbahaya dan dapat mengganggu rust en orde.

Mereka yang di-Digul-kan bersama Oesman yaitu: 1) Moehammad Noer (23 thn) asal Fort de Kock, tinggal di Batavia, anggota resortcommissie untuk PKI Batavia dan pernah bekerja sebagai mantri kehutanan; 2) Soekarna Atmadja (35) asal Tasikmalaya, tinggal di Batavia, pengurus PKI wilayah Weltevreden Barat dan pernah bekerja di Dinas Perkeretaapian; 3) Tjempono (22) asal Banyu Urip, Kedu, tinggal di Batavia, redaktur buletin Njala dan pengurus S.P.P.L. dan propagandis dan sekretaris PKI ondersectie Batavia; 4) Radjenal alias Sastrosoewirjo (37) asal Yogyakarta, tinggal di Cirebon, pengurus PKI Cirebon dan bekas guru sekolah pemerintah; 5) Gendon Soeleman asal Brebes, tinggal di Cirebon, propagandis PKI di Cirebon dan pernah bekerja di Dinas Perkeretaapian di Sumatera Selatan; 6) Moehammad Saboer (20) asal Kuningan, propagandis PKI di Kuningan, pernah bekerja sebagai mantri kesehatan di C.B.Z. dan redaktur buletin Api yang terbit di Semarang; 7) Achmad bin Hoesin (25) asal Benawa, Komering Hilir, Residensi Palembang, tanpa pekerjaan, tanpa tempat tinggal pasti; 8) Achmad Chatib alias Boejoeng (Buyung) (21 th) asal Padang Panjang, Sumatera Barat, propagandis PKI, tanpa tempat tinggal pasti (De Sumatra Post, 27-12-1926).

Sebagaimana dicatat dalam laporan di atas, Oesman gelar Soetan Keadilan (25 thn) berasal dari Payumbuh, Sumatera Barat. Seperti halnya Tjempono, Oesman yang tinggal di Batavia adalah redacteur buletin Njala, media (orgaan) PKI yang terbit di ibukota Hindia Belanda itu, sekaligus propagandis untuk partainya.

Oesman ditangkap oleh dua orang polisi Eropa di kantornya pada akhir Desember 1925 dengan tuduhan menyebarkan Njala yang sebelumnya dikelola oleh Darsono yang sudah lebih dulu ditangkap dan diasingkan. Kedua polisi Eropa tersebut juga menyita dokumen-dokumen lainnya yang mereka temukan di kantor Njala (De Indische Courant, 30-12-1925).

Ketika berada di Digul yang terpencil itu, Oesman (di Digul ia sering dipanggil dengan nama ‘Oeska’) pernah  melarikan diri. Kisah pelariannya dicatat oleh mantan Asisten Resident Daniel van der Meulen dalam bukunya Ik Stond Er Bij (Baarn: Bosch en Keuning, 1965) yang dirujuk oleh I.F.M. Chalid Salim (adik Haji Agus Salim) dalam bukunya (versi terjemahan) Limabelas Tahun Digul: Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea (Jakarta: Bulan Bintang, 1977:378-382).

Menurut Salim, merujuk Daniel (1965), pelarian Oesman dan beberapa orang kawannya terjadi pada tahun 1929.  Mereka berhasil mencapai hulu Sungaii Fly yang sudah masuk wilayah Papua yang dikontrol Australia. Setelah tinggal beberapa saat di sebuah perkampungan ‘beradab’ yang sudah disentuh oleh misi penginjilan, Oesman dkk. ditangkap oleh otoritas Australia, dibawa ke penjara yang ‘nyaman’, sebelum dijemput kembali oleh polisi Hindia Belanda dan dikembalikan ke Digul (Australia dan Hindia Belanda memiliki perjanjian ekstradisi).

“Setelah ia diangkut kembali ke Digul dan menyelesaikan masa hukumannya di penjara, Oeska [Oesman gelar Soetan Keadilan] diperkenankan untuk pulang ke kampung halaman[nya di Payakumbuh]. Di sana ia berada di bawah pengawasan bekas Asisten Residen Daniel van der Meulen, yang telah menerbitkan buku yang berjudul “Ik stond er bij”, yang di dalamnya juga termuat kisah petualangan Oeska” (Salim, 1977:378).

Dapat dikesan pula bahwa para aktivis PKI yang dibuang ke Digul itu kebanyakannya berusia masih muda (antara 20-40 tahun). Di tahun 1920-an, penguasa kolonial Hindia Belanda mulai panik melihat gerakan rakyat yang makin keras menentang Pemerintah, khususnya dari kalangan pengikut komunis. Karena panik, mereka main tangkap dan main buang. Gubernur Jendral menggunakan “exorbitante rechten”-nya yang seolah tanpa batas itu. Kebanyakan mereka yang ditangkap itu dibuang ke Digul. Hendaknya budaya panikan seperti itu jangan ditiru oleh rezim yang berkuasa di Indonesia sekarang.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 14 April 2019

Posted by: niadilova | 14/04/2019

Renung #77: Pemilu 2019 dan perang Simbol Warna Putih

Badan pemenangan nasional prabowo-sandiSecara mengejutkan kampanye akbar terakhir pasangan kandidat presiden nomor urut 01 (Jokowi-Ma’ruf) di Jakarta pada hari Sabtu 13 April 2019 menampilkan massa pendukungnya yang tidak memakai pakaian berwana merah, sebagaimana biasanya mereka tampilkan di berbagai forum penggalangan dan show of force kelompok petahana.

Mirip dengan situasi kampanye pasangan oponen (Prabowo-Sandi) yang diadakan di tempat yang sama sekitar seminggu sebelumnya (7 April), Stadion Gelora Bung Karno pada hari itu dipenuhi oleh pendukung Jokowi-Ma’ruf yang berpakaian putih yang sedikit diselingi oleh warna lain, khususnya merah, simbol warna yang selama ini dipakai oleh pihak Jokowi sebagai representasi dari simbol warna partai PDI Perjuangan yang merupakan partai utama pengusung pasangan kandidat nomor urut 01.

Jadi, secara nyata terjadi ‘perang simbol’ di putaran terakhir kampanye akbar pemilu 2019. Dengan cerdik pasangan 01 secara tersirat (atau mungkin juga secara sadar) melakukan mimicry (meminjam istilah Homi K. Bhabha), parody, bahkan sampai batas tertentu juga demystification terhadap simbol warna putih yang selama ini dipakai dan diidentikkan dengan pendukung paslon 02. Hal ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya Jokowi mengajak para pendukungnya untuk memakai pakaian putih-putih saat pergi ke TPS pada tanggal 17 April nanti, puncak ‘pesta demokrasi’ Indonesia dalam pemilu presiden 2019.

Perang simbol warna putih antara kedua kubu itu tentu saja tidak mampu menghilangkan kesan orientasi politik dari mayoritas pendukung kedua paslon presiden itu. Kebanyakan pendukung Jokowi-Ma’ruf memakai kemeja warna putih, berbeda dengan baju tipe gamis berwarna putih yang dipakai oleh kebanyakan pendukung Prabowo-Sandi. Dengan kata lain, peniruan, parodi, dan demistifikasi simbol warna putih dalam putaran terakhir kampanye akbar kedua paslon tetap tidak mampu menyembunyikan percanggahan orientasi politik Indonesia yang sudah menyejarah sejak negara-bangsa ini berdiri: nasionalisme sekuler di satu pihak dan nasionalisme religius di pihak lain.

Perang simbol warna baju seperti ini bukan baru kali ini saja terjadi. Kita masih ingat dua tahun lalu, dalam pilkada Jakarta terjadi perang simbol melalui baju bermotif kotak-kotak. Di saat-saat terakhir, simbol baju bermotif kota-kotak yang diusung oleh pasangan petahanan Ahok-Jarot diparodikan dengan cerdik oleh tim kampanye oponennya (pasangan Anis-Sandi).  Dalam  https://niadilova.wordpress.com/2017/04/22/renung-69-kotak-kotak/ saya menulis:  “Minggu-minggu setelah putaran pertama pilkada Jakarta, simbol baju kotak-kotak itu segera diparodikan oleh pihak oponen, dan parodi itu begitu telak. ‘Bersatu kita teguh, terkotak-kotak kita runtuh’, begitu bunyi sebuah slogan yang dengan cerdas diciptakan oleh kubu Anis-Sandiaga. […] Slogan itu segera menyebar di medsos dan juga dalam bentuk baju kaos [berwarna putih] yang dibagi-bagikan dan dipakai dalam kampanye-kampanye Anis-Sandi, juga dalam bentuk spanduk dan banner. Tampaknya kubu petahana terlambat mengantisipasinya, dan jauh sebelumnya sepertinya mereka tidak menyadari kemungkinan pihak oponen dengan cerdas akan memparodikan simbol baju [bermotif] kotak-kotak kebanggaan mereka itu.”  Kubu Anis-Sandiaga akhirnya menang, menjungkalkan pasangan petahana. Kemenangan itu sedikit banyak ditentukan oleh kecerdikan dalam menggunakan simbol-simbol, sesuatu yang sudah menjadi kenicayaan dalam komunikasi dan kompetisi politik di Indonesia yang masyarakatnya masih hidup dalam kultur setengah rasional itu.

Dan kali ini, dalam kontestasi pilpres 2019, perang simbol itu makin menguat. Kali ini giliran pihak petahana yang melakukan mimicry terhadap simbol warna putih  yang sudah sejak semula asosiatif dengan kalangan Islam pendukung pasangan oposisi.

Tampaknya pihak paslon 02 tidak tinggal diam dengan trick  peniruan yang dilakukan oleh oponen mereka. Himbauan tim kampanye pasangan petahana kepada para pendukungnya untuk memakai pakaian putih-putih ke TPS tanggal 17 April nanti segera dinetralisir oleh tim pemenangan pasangan oponennya (Prabowo-Sandi) dengan imbauan yang sama: meminta para pendukung paslon 02 untuk juga memakai pakaian putih-putih ke TPS di hari pencoblosan. Dengan demikian, mereka mengharapkan di TPS-TPS nanti akan terjadi pengaburan batas antara pendukung petahana dan pendukung oponennya yang ingin dihadirkan oleh petahana, yang diperkirakan akan berefek secara psikologis kepada pihak (pengikut) petahana.

Tampaknya perang simbol ini akan makin mengkristal dalam tiga hari ke depan. Apakah himbauan Tim Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi (lihat foto di atas) kepada pengikutnya untuk memakai pakaian putih-putih ke TPS-TPS akan diikuti oleh para pendukung paslon 02?  Bagaimana pula dengan pakaian orang gila natinya di TPS, jika mereka jadi ikut memilih. (Bukankah jika ada orang gila yang tidak berpakaian berada di antara antrian calon pencoblos yang berpakaian putih-putih secara langsung atau tidak juga melecehkan kemanusiaan?

Kalaupun pendukung paslon 02 memakai pakaian putih-putih, tentu yang harus mereka tampilkan adalah pakaian putih-putih biasa (kemeja atau baju kurung/celana panjang putih), sebab jika mereka memakai pakaian putih-putih yang bergaya gamis, sebagaimana selama ini cenderung ditampilkan dalam berbagai show of force para pendukung paslon 02, maka tujuan pengelabuan batas pendukung kedua paslon tentu tidak akan efektif dan berhasil.

Marilah sama-sama kita nantikan warna apa yang dominan akan tampil dan bagaimana situasi di TPS-TPS pada hari pencoblosan, Rabu 17 April 2019 nanti. Semoga juga orang gila yang akan ikut mencoblos juga akan diberi pakaian putih, atau paling tidak pakaian apa saja, asal tidak telanjang dada, apalagi telanjang bulat, demi menghormati ‘perhelatan nasional’ yang ‘sakral’ itu.

Kepada pembaca dimohon jangan lupa untuk mengabadikan’perang simbol’ dan situasi di TPS-TPS itu dengan kamera HP seri terbaru buatan Korea milik Anda.

Leiden, 14 April 2019

 

 

 

 

Majalah Tjermin, No.23, TAHUN KE-11, 15 OKTOBER 1950,p.18-crop

Catatan: Sebagaimana saya tulis di lamaf Facebook saya, terus terang saya jarang menemukan PUISI penuh semangat nasionalisme yang ditulis oleh saudara Tionghoa kita di tahun 1940an-60an. Sudah banyak sekali terbitan2 vernakular Indonesia yang tersimpan di Leiden University Library yang terbit sepanjang paroh pertama abad ke-20, bahkan sampai tahun 1970an, yang saya baca, tapi temuan puisi yang ditulis OEY HOCK TJAY (1950) dari Tasikmalaya ini terasa sangat spesial, sampai2 saya terlonjak dan tersenyum sendiri dalam ruang perpustakaan yang sepi dari suara itu. Siapakah kiranya OEY HOCK TJAY? Saya mencoba menelusurinya, tapi belum membuahkan hasil. Kalau ada teman2 FB yang mengetahuinya lebih jauh, kiranya berkenan berbagi info dengan saya. Begitu langkanya puisi seperti ini, saya usulkan agar nama OEY HOCK TJAY di diabadikan untuk salah satu fasilitas publik di Tasikmalaya atau malah di tingkat nasional. (Postingan tgl. 24 Maret 2019, pukul 3:10).

Sumber: Majalah Tjermin, No.23, TAHUN KE-11, 15 OKTOBER 1950, hlm.18.

Mestika, No. Har Raja, 1 Sjawal 1367, 6 Agoestoes 1948, p.16-crop

Nieuwsblad van het Noorden, 30-11-1974

Catatan: MALAYAN AIRWAYS LTD. adalah ‘nenek moyang’ Singapore Airlines dan Malaysian Airlines, eksis sejak 1947 (lihat keratan surat kabar 2 (sumber: Nieuwsblad van het Noorden, 30-11-1974). Di tahun-tahun awal, bekerjasama dengan K.L.M., Malayan Airways Ltd. melayani beberapa rute dari Singapura ke kota-kota utama di Semenanjung Malaya. Ke luar, penerbangan ini melayani rute Singapura – Batavia, Singapura – Medan, dan Singapura – Palembang (lihat: Het Dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, edisi 21 November 1947). Pada 1948, tercatat agen penjualan tiket Malayan Airlines Ltd. di Jakarta beralamat di Hotel Des Indes, Kali Besar West 1, ‘Wlt. [Weltevreden]  [telp.] 3745, Bat. [Batavia] 994, Bat. [Batavia] 2060″ (lihat: Het Dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, edisi 23 Desember 1948).

Sumber: Mestika, Harian Rakjat Oemoen (Medan), No. Hari Raja, 1 Sjawal 1367, 6 Agoestoes 1948, hlm.16

Posted by: niadilova | 08/04/2019

Karikatur Nusantara @24: Memajukan Batik (1953)

2Pedoman, Sabtu 5 Sept 1951-crop

Keterangan: Karikatur ini tampaknya merupakan reaksi atas adanya klaim bahwa bangsa Belanda ikut memajukan Batik.

Sumber: Pedoman: Suara Rakjat Merdeka, Sabtu 5 September 1953 / 26 Zuhijjah 1372

DE EERSTE MINANGKABAUER.

    De “Sum.[atra] Bode” verneemt uit betraubare bron, dat de heer Kanido Masjhoer, zoon van den heer Kahar Masjhoer, Hoofdonerwijzer te Fort de Kock, aan het einde dezer maand met het s.s. Dempo naar Hollad zan vertrekken.

   De heer Kanido Masjohoer is namelijk als eerste Minangkabauer toegelaten tot de Koninklijke Militaire Academie te Breda.

     Voor hem is Holland niet meer vreemd, omdat hij dit land reeds eerder leerde kennen, toen hij als afgevaardigde van de N.I.P.V. de Wereld Jambore, welke in 1937 in Nederland werd gehouden bijwoonde.”

***

Laporan surat kabar De Sumatra Post (Medan), edisi 24 Juli 1939 yang memberitakan seorang putra Koto Gadang yang masuk pendidikan militer di Belanda. Sebagaimana dapat disimak dalam laporan di atas, Kanido tercatat sebagai orang Minangkabau pertama yang diterima (diizinkan belajar) di Koninklijke Militaire Academie (Akademi Militer Kerajaan Belanda) di Breda (de eerste Minangkabauer toegelaten tot de Koninklijke Militaire Academie te Breda).

Kanido Rachman Masjhoer adalah anak lelaki Kahar Masjhoer, Guru Kepala (Hoofdonderwijzer) di Fort de Kock. Sebagaimana sudah diberitakan dalam rubrik ini minggu lalu (31 Maret 2019), Rachman Masjhoer, sang ayah, juga sudah pernah ke Belanda (1910) bersama teman sekampungnya, Roestam, untuk melanjutkan pelajarannya atas biaya dari Studiefonds Kota Gedang (lihat juga: Algemeen Handelsblad, 31-07-1910).

Laporan di atas juga menyebutkan bahwa, sebagaimana halnya sang ayah, bagi Kanido negeri Belanda sudah tidak asing lagi. Rupanya anak muda ini adalah mantan anggota Pramuka Hindia Belanda (Nederlands-Indische Padvinders, disingkat N.I.P.V.) yang pernah mengikuti Jambore Pramuka Internasional di Belanda pada tahun 1937.

Kanido Rachman Masjhoer, yang baru lulus Openbare AMSB (lihat: Bataviaasch Nieuwsblad, 02-06-1939) berhasil lulus di bagian infanteri di Koninklijke Militaire Academie di Breda pada bulan Juli 1939. Bulan Januari 1940, ia mendapat promosi dari cadet ke cadetkorporaal titulair (lihat: Adrianus Kojongian dalam blognya: http://adrianuskojongian.blogspot.com/2014/09/tentang-lulusan-kma-breda.html; dikunjungi 04-04-2019).

Dalam catatan sejarah, sebenarnya ada seorang anak Sumatera lainnya yang lebih dulu diterima di Akademi Militer Belanda di Breda bagian kavaleri. Namanya Achmad Salim (lihat: Bredasche Courant, 03-08-1921, rubrik ‘Stadsnieuws: Kininklijke Militaire Academie’; Maasbode, 04-08-1921, rubrik ‘LAND- EN ZEEMACHT: KOL.MIL. ACADEMIE’). Tapi tak ada informasi lebih lanjut daerah asal dan latar belakang etnis anak muda ini. Juga tidak ditemukan indikasi bahwa ia adalah bagian dari keluarga Sutan Salim (ayah Haji Agus Salim).

Achmad Salim sudah tercatat sebagai cadet di Akademi Militer Breda sejak 1919. Ia tinggal di Alkmaar dan bersama Soetan Goenoeng Moelia, Zainuddin Rasad (asal Pariaman), Mohammad Iljas, dan Ibrahim Datoek Tan Malaka juga aktif dalam kepengurusan organisasi ‘Soematra Sepakat’ yang dibentuk oleh para pelajar Indonesia asal Sumatera yang bersekolah di Belanda pada tahun 1919 karena timbulnya pertentangan dalam Perhimpunan Hindia/De Indische Vereeniging (lihat: De Sumatra Post, 31-07-1919; lihat juga Harry A. Poeze, Di Negeri Penjajah, 2008: 132).

Menurut Adrianus Kojongian dalam blognya yang sudah disebutkan di atas, dengan merujuk koran Het Vaderland, 03-08-1921, Achmad Salim tidak dapat berpartisipasi dalam ujian kenaikan dari tahun pertama ke tahun kedua karena sakit dan oleh sebab itu diberikan status ‘bersyarat’ (Voorwaardelijk). Demikian juga halnya dengan Raden Mas Soedjono, tapi bukan karena sakit (lihat: De Preangerbode, 25-08-1921, rubrik ‘Nederland: OVERGANGEXAMENS KON. MILITAIRE ACADEMIE’). Meskipun demikian, keduanya berhasil mendapatkan promosi sebagai cadetsergeanttitulair terhitung sejak 1 Juli 1921 (lihat: De Telegraaf, 05-07-1921).

Tentang riwayat hidup Kanido Rachman Masjhoer Dt. Maharadjo, demikian nama lengkapnya, ditemukan catatan: lahir tgl. 13 Oktober 1919 (berkemungkinan di Koto Gadang) dari pasangan Kahar Masjhoer (ayah; lihat: https://niadilova.wordpress.com/2019/04/08/ppm-204-studiefonds-koto-gadang-mengirim-2-pelajar-ke-belanda-1910/; dikunjungi 15-04-2019) dan Lamina (ibu). Tahun 1936 sampai 1939 Kanido bersekolah di AMS Batavia, 1939 masuk Koninklijke Militaire Academie, Breda. Prof. Zulhasril Nasir, seorang intelektual Minangkabau di Jakarta, menginformasikan kepada saya bahwa Kanido bergabung dengan pasukan Cakrabirawa di Zaman Sukarno. Kanido menikah dengan Zoeleka dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Kharry. Kanido meninggal di Jakarta pada 23 Agustus 1985 dalam usia 65 tahun (lihat: https://www.geni.com/people/Kanido-Rachman-Masjhoer-Dt-Maharajo/6000000005022851738; dikunjungi 15-04-2019).

Mudah-mudahan para pembaca yang mengetahui dapat menukuk-tambah catatan pendek ini. Akan tetapi dapat diduga bahwa pada masa itu, orang seperti Kanido, setelah selesai dengan pelajarannya di Belanda, akan kembali ke Indonesia sebagai tentara KNIL (Koninklijk Nederland-Indisch Leger). Apakah ia masih hidup sampai zaman Indonesia merdeka atau terbunuh dalam perang? Wallahualam!

Namun, yang penting dicatat di sini adalah: bahwa ternyata ada juga orang Minangkabau yang masuk KNIL, satu profesi yang, walaupun bergengsi, amat sangat jarang diminati oleh orang Minangkabau di Zaman Kolonial.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 7 April 2019

Sumatranen naar Nederland.

    Naar Nederland vertrokken, naar de “Sumatra Bode” vernaam, twee Maleische candidaat-onderwijzers, Roestam en Kahar Masjhoer, die kort geleden de opledingschool te Fort de Kock verlaten hebben. Zij stellen zich voor, in Nederlands de hoofdakte te halen, om daarna op te treden als onderwijzers aan een Europesche school te Kota Gedang, Hun studie wordt bekostigd door de Maleische Vereeniging  “Studiefonds”, te Kota Gadang.

    Zij maken de reis onder leiding van den wd. Adsistent-resident Westenenk, die zes maanden verlof naar uropa heeft bekomen.”

***

Laporan surat kabar Algemeen Handelsblad (Amsterdam) edisi 31 Juli 1910 tentang pengiriman dua pelajar, kandidat guru, yang baru tamat opleidingschool Fort de Kock (Bukittinggi) ke Belanda. Kedua pelajar itu bernama Roestam dan Kahar Masjhoer. Keduanya adalah putra Koto Gadang.

Laporan di atas menjelaskan bahwa keberangkatan mereka ke Belanda dan biaya hidup mereka selama berada di sana didanai oleh Studiefonds (Yayasan Beasiswa) Koto Gadang. Menarik sekali bahwa Studiefonds Koto Gadang ini, walau baru berdiri pada tahun 1909, ternyata setahun sesudahnya (1910) sudah dapat mengirimkan kedua pelajar ini ke Belanda. Kelak studiefonds ini bertahan lebih dari 20 tahun dan memiliki cabang di beberapa kota tempat perantauan orang Koto Gadang, seperti Betawi (Batavia), Bandung, dan Medan. Studiefonds Koto Gadang telah memberikan banyak bantuan keuangan  kepada para pemuda Koto Gadang yang belajar di beberapa sekolah sekuler di Jawa dan  di Sumatera sendiri, bahkan  sampai ke Belanda, seperti pengiriman Roestam dan Kahar Masjhoer ini.

Tujuan utama Sudiefonds Koto Gadang adalah untuk meningkatkan pengetahuan anak-anak Koto Gadang sehingga dapat memperoleh “pegetahoean [dengan] menempoeh djalan jang halal dan menghindarkan [diri] dari pada segala kedjahatan jang biasanja terbit pada mereka jang tiada berilmoe, karena sebenarnjalah kekoerangan ilmoe itoe djoea jang kerap kali membawa manoesia ini kepada berbagai bagai  kebentjanaan seperti tiap2 ilmoe [juga] membawa manoesia kepada bermatjam matjam poela kebaikan dan kesentosaan” (dikutip dari artikel “STUDIEFONDS KOTA GEDANG”, dalam SOEARAKOTA GEDANG, No. 12, Taoen ke-X, December 1925).

Laporan di atas juga menyebutkan bahwa Roestam dan Kahar Masjhoer berangkat ke Belanda ditemani oleh L.C. Westenenk (Tuan Siteneng), Asistent Residents Agam Tua, yang kebetulan akan bercuti (verlof)  ke Eropa (Belanda).

Di Belanda, Kahar Masjhoer ditempatkan di Deventer dan pada 21 Mei 1912 berhasil lulus dalam Acte-examens L.O. (Lager Onderwijs) di kota itu (Algemeen Handelsblad, 22-05-1912). Sementara Roestam (tidak disebutkan kota tempat tinggalnya di Belanda, tapi kemungkinan di Leiden) lulus dalam  ujian “kleinambtenaarexamen” dengan  nilai ruim voldoende (De Preangerbode, 21-05-1912). ). Kahar kembali ke Hindia Belanda (Indonesia) selepas menerima ijazahnya (lihat: “Inlandsche Onderwijzers met Ned. Aktes”, Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 09-10-1912). Demikian juga tampaknya dengan Roestam.

Tak banyak berita lanjutan tentang Roestam yang diperoleh. Sementara Kahar Masjhoer tampaknya meniti karirnya sebagai guru setelah kembali ke tanah airnya. Kahar lahir di Koto Gadang pada 14 November 1886 dari pasangan Kani St. Pangeran (ayah) dan Radjoe (ibu), menikah dengan Lamina dan beroleh 3 orang anak: Radjani Marjam (perempuan), Kanido Rachman (laki-laki; https://niadilova.wordpress.com/2019/04/08/ppm-205-kanido-rachman-masjhoer-putra-minang-pertama-yang-masuk-koninklijke-militaire-academie-breda-1939/; dikunjungi 14-04-2019), dan Risjad Mizalfi (lihat:https://www.geni.com/people/Kahar-Masjhoer/6000000005789120159; dikunjungi 13-04-2019). Kahar pernah ditugaskan antara lain di Lamongan, Magelang (Bataviaasch Nieuwsblad, 22-06-1921), Muara Enim, Pariaman (Nieuwe Rotterdamsche Courant, 06-09-1926), Fort de Kock (Bukittinggi) dan Padang (Soerabaijasch Handelsblad, 02-07-1935). Dalam karirnya, Kahar mencapai pangkat tertinggi sebagai Hoofdonderwijzer (kepala sekolah) untuk H.I.S. (Holland-Inlandse School). Kelak, pada 1939, salah seorang anak lelaki Kahar, Kanido Rachman Masjhoer, disebut-sebut sebagai anak Minangkabau pertama yang berhasil masuk ke Koninklijk Militaire Academie di Breda, Belanda (De Sumatra Post, 24-07-1939). Kahar Masjhoer meninggal tanggal 10 November 1965 dalam usia 78 tahun (tidak disebutkan tempat meninggalnya, berkemungkinan di kampungnya di Koto Gadang atau mungkin di Jakarta, tempat perantauan anaknya, Kahar Masjhoer) (lihat:https://www.geni.com/people/Kahar-Masjhoer/6000000005789120159; dikunjungi 13-04-2019).

Demikian cuplikan kisah dua orang putra Koto Gadang yang disekolahkan oleh Yayasan Beasiswa (Studiefonds) Koto Gadang ke Belanda pada tahun 1910.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu, 31 Maret 2019

 

“Minta dikirim ka Digoel?

    Bagi kaoem pergerakan communist Digoel itoe boekan asing lagi, jalah tempat marika itoe berdiam boeat selamanja, dengan tidak mempoenjai harepan lagi boeat koembali ke tanah airnja. Setengah dari communisten jang dapet bagian boeat di Digoelken telah djadi soesah pikirannja, tapi setengahnja jang belon di Digoelken dengen segala kesenangan ia minta soepaja ia dapet dikirim kesana.

     Toean Chalid Salim jang boekan asing lagi dalem doenia pergerakan communist, kendatipoen ia ada bertoekar haloean dengen soedaranja toean August Salim, masih teroes hatinja merah dengan tida loentoer loentoernja seperti kebanjakan communisten jang telah berbalik djadi spion boeat masoeken kawan kawannja jang doeloe masoek dalem pendjara. Menoeroet kabar jang didapet oleh “P[elita] Andalas” bahoea toean terseboet soeda madjoeken permintaan sendiri soepaja ia bisa dikirim ka Digoel dimana ia bisa hidoep bersama sama dengan kawannja temen separtij.

     Djika benar begitoe njatalah toean Chalid Salim tida maoe moendoer moendoernja dalem pergerakan jang doeloe itoe. Apakah itoe permintaan aken terkaboel atawa tida, itoelah kita toenggoe sadja.”

***

Laporan surat kabar Sinar Sumatra, No. 16, Taon ka 24, HARI KEMIS 19 JANUARI 1928 – 27 TJAP-DJI-GWEE 2478 – 26 RADJAB 1346 tentang tantangan propagandis komunis Abdul Chalid Salim kepada otoritas kolonial Hindia Belanda yang minta untuk segera dikirim ke Digul di Papua New Guinea.

Sebagaimana sudah sama diketahui, Chalid Salim akhirnya memang dibuang ke Digul dan mendekam selama 15 tahun di “Kamp Konsentrasi di Nieuw-Guinea” yang penuh malaria dan menjadi momok bagi kaum pergerakan itu. Semuanya itu diceritakannya dalam memoarnya Vijftien jaar Boven Digoel: concentratiekamp in Nieuw-Guinea (Amsterdam: Contact, 1973) yang amat menarik itu, yang telah diindonesiakan oleh Hazil Tanzil dan J. Taufik Salim menjadi Lima Belas Tahun Digul: Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea (Jakarta: Bulan Bintang, 1977).

Abdul Chalid Salim bercerita (dirujuk dari versi terjemahan yang disebutkan di atas): pada bulan Juli 1928 (jadi sekitar 6 bulan setelah laporan Sinar Sumatra ini), akhirnya ia diberangkatkan dari Pelabuhan Belawan, Medan, menuju Digul (h.135). Kebesaran nama ayahnya, Jaksa Soetan Mohamad Salim, dan kakaknya, H. Agoes Salim, republiken yang terkenal itu, tidak dapat mengubah keputusan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang memberikan “hak Exorbitant” yang seolah tanpa batas kepada sang Gubernur Jenderal untuk mengirimnya ke Digul, walau sempat membuatnya tertunda beberapa lama (ibid.)

Setelah kapal K.P.M. yang membawa Chalid Salim yang nomor tahanan 925 sampai di Tanjung Priok, Batavia, ia dan teman-temannya yang senasib diinapkan sehari di penjara Glodok. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke arah timur dengan kapal K.P.M. yang lain yang sampai di Surabaya pada pagi harinya.

Di Surabaya Chalid Salim dan kawan-kawannya berganti kapal. Mereka ganti dibawa dengan kapal Albatros yang akan melayarkan mereka lebih jauh lagi ke timur. Albatros singgah di Makassar dan Chalid Salim dkk. “diinapkan” di penjara kota terbesar di Indonesia Timur itu selama tiga hari. Kemudian, kapal yang bercat putih itu (oleh sebab itu Albatros sering juga disebut “Kapal Putih”) melanjutkan pelayarannya dan sampai di Digul tiga hari kemudian, setelah singgah di beberapa pelabuhan lagi, seperti Ambon, Banda, Kisar, Tual, dan Dobo (tapi para tahanan tidak diturunkan dari kapal), lalu melintasi Laut Arafura, kemudian barulah memasuki mulut Sungai Digul, masih berlayar memudiki sungai yang besar, panjang dan penuh buaya itu lagi, barulah sampai di kamp isolasi Tanah Merah.

Buku Lima Belas Tahun Digul mengisahkan hari-hari yang dilalui Chalid Salim di Tanah Merah, sampai akhirnya ia dan teman-temannya diungsikan ke Australia menyusul pendudukan tentara fasis Jepang atas Indonesia pada Maret 1942 yang membuat orang Belanda yang sudah lama hidup begitu enak di tanah jajahannya itu lari lintang pukang.

Sejarah telah mencatat bahwa akhirnya Chalid Salim memilih menjadi orang Nasrani dan tinggal di Belanda, negeri penjajah yang penguasaan oleh sebagian penduduknya terhadap tanah airnya dulu amat dibenci dan ditentangnya. Chalid  secara resmi masuk Kristen sejak masih berada di Digul lewat perkenalan dengan penginjil pater C. Meuwese yang bekerja menasranikan suku-suku Papua di sekitar Digul (lihat bukunya, versi terjemahan, 1977, hlm. 155, 309) dan mendapat nama baptis Ignatius Franciscus Michael Salim (sering disingkat I.F.M. Salim). Ia dibaprtis oleh pater C. Meuwese di Digul pada 25 Desember 1942 (hlm.155). Mungkin karena alasan agama inilah Chalid akhirnya memilih pergi ke Belanda daripada kembali ke kampung halamannya atau tinggal di Indonesia.

I.F.M. Salim tinggal di Belanda sampai akhir hayatnya. Ia antara lain pernah bekerja di Kedutaan Republik Indonesia di Den Haag. Pada 10 Maret 1985, anak Koto Gadang kelahiran Tanjung Pinang 24 November1902 itu berpulang dan dimakamkan di Pemakaman Rijswijk Eikelenburg, Zuid-Holland.

Koto Gadang memang nagari Minangkabau yang paling fenomenal. Sejarah telah mencatat bahwa dari sana lahir manusia yang tak gamang “menyedot” berbagai macam paham dan ideologi dunia, sejak yang paling kiri sampai yang ultra kanan.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 24 Maret 2019

Nasib Rakjatkoe

Koeswal

 

Tjelaka

dihina

hidoep miskin

loempoeh batin

nista

sengsara

oleh sepatoe Belanda

 

diperkosa

diperdaja

selaloe ditipoe

tangan dibelenggoe

dirampas

diperas

oleh si Djepang ganas

 

serentak

berontak

waktoe menjingsing

mosoeh terp’lantng

gemoeroeh

penoeh

harapan bahagia raja

 

tetapi hingga kini

dimanakah bahagia?

Berapa djaoehkan letaknja?

ta’ terkira

ta’ terhingga

di alam gelap goelita

 

belok kanan

belok kiri

komando pelan pelan

seriboe aliran

terombang ambing

setjara kambing

Inilah nasib rakjat djelata

***

Sumber: Revolusioner, Madjallah Resmi Pesindo, Pemoeda Socialis Indonesia, Tahoen II, No. 1, Tanggal 27 Djanoeari 1947, hlm. 5

Posted by: niadilova | 22/03/2019

Karikatur Nusantara @23: No Liberalism (1961)

Majalah Perusahaan Negara,No. 6-7, Th. 1, Djuni-Djuli 1961, p.39-crop

Sumber: Madjalah Perusahaan Negara, No.6-7, Tahun I, Djuni-Djuli 1961, hlm.39

Keterangan: Madjalah Perusahaan Negara adalah bulanan resmi yang diterbitkan oleh BANAS (Badang Pembantu Menteri Pertama Urusan Perusahaan Negara) yang beralamat di Djalan Patjenoengan 40, tilpon G. 2044/48, Djakarta.

Older Posts »

Categories