Hatta akan resmikan Universitas Andalas di Bukittinggi

            Menurut kawat yang direrima di Bukittinggi kunjungan Wakil Presiden Hatta dan rombongan akan sampai di Padang dan terus ke Bukittinggi pada tanggal 12 September [1956] yang akan datang. Rombongan Wakil Presiden terdiri 32 orang, antara lain Wakil Presiden sendiri, Menteri PPK Sarino, Menteri Perhubungan Sabilal Rasjad, Menteri Pertanian Eni Karim, Menteri Muda Pertanian Sjech Marhaban, Menteri Negara Urusan Umum H. Roesli A. Wahab, Menteri Urusan Veteran Dachlan Ibrahim, Menteri Kesehatan Dr. Sinaga, Ketua DPR, para presiden universitas2 di Indonesia, para ketua Dewan Kurator, kerua Madjelis Pengetahuan Umum serta pedjabat2 lainnya.

            Menurut atjaranya, sesampainya Wakil Presiden dilapangan Tabing Padang tgl. 12/9, pada djam 09.50 berangkat ke Gubernuran di Padang. Sesudah makan siang, Wkl. Presiden dan rombongan berangkat ke Bukittinggi dan istirahat sampai pagi. Kamis tgl. 13 September Wakil Presiden bersama rombongan akan meresmikan Universitas Andalas dan malamnya akan menghadiri satu pertunjukan kesenian digedung Nasional.”

***

Laporan harian Waspada (Medan), edisi No. 2744, TAHUN KE – X, DJUM’AT 31 AGUSTUS 1956 tentang jadwal dan program acara kunjungan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Drs. Mohammad Hatta, ke Sumatera Barat pada pertengahan September 1956.

Rupanya rombongan Wakil Presiden cukup besar: 32 orang, meliputi beberapa orang menteri, para rektor (presiden) universitas-universitas yang sudah ada di Indonesia, khususnya di Jawa, pada waktu itu

Peresemian ini dilakukan di kampus Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam UNAND di Bukittinggi pada tanggal yang telah disebutkan di atas (13 September 1956).

Fakultas Kedokteran yang berkampus di Bukittinggi adalah satu dari lima fakultas pertama UNAND. Kampus kelima fakultas itu tersebar di beberapa kota di Sumatera Barat.

Selain Fakultas Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam yang juga berkampus di Bukittinggi, tiga fakulatas pertama lainnya adalah: Fakultas Hukum yang berkampus di Padang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang berkampus di Batusangkar, dan Fakultas Pertanian yang berkampus di Payakumbuh. Kelima fakultas tersebut sebenarnya merupakan gabungan dari beberapa perguruan tinggi yang ada si Sumatera Barat.

Cikal bakal UNAND adalah sbb: Pada tahun 1949, Pemerintah Indonesia berencana membangun tiga fakultas di Sumatera, yaitu Fakultas Hukum di Padang, Fakultas Ekonomi di Medan, dan Fakultas Pertanian di Palembang. Namun rencana itu tak kunjung terwujud.

Akibat penundaan itu, Yayasan Sriwijaya yang dibentuk oleh beberapa orang intelektual asal Sumatera mengambil inisiatif dengan mendirikan Balai Perguruan Tinggi Hukum Pancasila (BPTHP) di Padang pada tanggal 17 Agustus 1951.

Mengikuti langkah Yayasan Sriwijaya itu, kemudian pemerintah mendirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) di Batu Sangkar pada tanggal 23 Oktober 1954, Perguruan Tinggi Negeri Pertanian di Payakumbuh pada tanggal 30 November 1954, dan Fakultas Kedokteran serta Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Pengetahuan Alam di Bukittinggi pada tanggal 7 September 1955.

Keempat perguruan tinggi itu diresmikan oleh Wakil Presiden Hatta. Seiring dengan itu, Yayasan Sriwijaya juga menyerahkan BPTHP kepada Pemerintah Propinsi Sumatera Tengah. Semenjak itu BPTHP berganti nama dengan Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat,” yang belakangan berganti nama lagi menjadi Fakultas Hukum pada tahun 1983.

Itulah serba sedikit tentang sejarah awal UNAND, universitas tertua di Pulau Sumatera.

 

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands/ Padang Ekspres, Minggu 14 Juli 2019

Tjermin, No. 23, TAHUN KE-11, 15 OKTOBER 1950, p.22-CROP

Di bawah foto ini terdapat keterangan sebagai berikut:

“Henk Rondonuwu, bekas menteri penerangan N.I.T. [Negara Indonesia Timur] dengan Nona Gadis Rasjid, dengan siapa ia telah menikah pada 27 September j.l. [1950] di Djakarta. Nona Gadis Rasjadi adalah wartawan wanita Indonesia jang terkenal. (Klise: “Pewarta Surabaja”).

Sumber foto: Majalah Tionghoa Tjermin (Surabaya), No. 23, TAHUN KE-11, 15 OKTOBER 1950, hlm.28

Foto Brunei 1Dalam rangka memperingati Hari Keputeraan alias Perayaan Ulang Tahun Pemimpin Negara Brunei Darussalam Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah Ibni Al-Marhum Sultan Haji Omar ‘Ali Saifuddien Sa’adul Khairi Waddien, Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam, rakyat dan Pemerintah Negara Brunei Darussalam mengadakan berbagai kegiatan, baik pesta rakyat maupun kegiatan akademik.

Salah satu tradisi akademik yang sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir dalam rangka merayakan hari kelahiran Daulat Tertinggi Negara Brunei Darussalam itu adalah apa yang disebut sebagai “Majlis Ilmu”. Kegiatan ini adalah berupa seminar dengan mengambil tema yang berbeda-beda setiap tahunnya. Melalui kegiatan akademik “Majlis Ilmu” ini, Sultan dengan jajaran pemerintahannya mengambil kesempatan menyerap pemikiran-pemikiran para akademisi dan intelektual dalam berbagai lapangan guna dijadikan pedoman dan dasar kebijakan bagi Sultan untuk menyusun program-program Kerajaan demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Negara Brunei Darussalam.

Foto Brunei 10

Tahun ini tema “Majlis Ilmu” Negara Brunei Darussalam adalah tentang dunia pernaskahan, sebagaimana terefleksi dari topik seminar, yaitu: “Manuskrip Islam Mercu Tanda Ketamadunan Umat” with the subtheme, ‘Pengurusan dan penyelenggaraan Manuskrip Melayu Islam’.”

Foto Brunei 4

Foto Brunei 2

Bertindak sebagai penyelenggara seminar: Sultan Sharif Ali Islamic University, Bandar Seri Begawan. Kegiatan ini sepenuhnya disokong oleh Sultan Haji Hassanal Bolkiah. Seminar diadakan selama dua hari (13-14 Oktober 2019), bertempat di Sultan Haji Hassanal Bolkiah New Islamic Exhibition Hall (BPISHHBJ). Acara ini sekaligus dirangkaikan dengan peresmian gedung BPISHHBJ yang terletak di Bandar Seri Begawan. Dalam sambutan sempena pembukaan Seminar, Sultan Haji Hassanal Bolkiah berharap BPISHHBJ akan dapat menjadi objek wisata keislaman yang penting di Asia Tenggara pada umumnya dan di Brunei pada khususnya, baik untuk wisatawan lokal maupun mancanegara.

Dalam seminar tersebut, saya membawakan makalah yang berjudul: “Penyelenggaraan Manuskrip Melayu-Nusantara Islam di Leiden University Library, Belanda.”

Foto Brunei 5

Dalam lawatan ilmiah ke Brunei tersebut saya berkesempatan berjumpa dan bersalaman dengan Sultan Haji Hassanal Bolkiah dan memberikan cenderamata yang saya bawa dari Leiden untuk Baginda, yaitu foto ayahanda Baginda: Sultan Omar Ali Saifuddien (1914-1986). Alhamdulillah, Baginda sangat senang menerima foto itu (lihat ilustrasi).

Foto Brunei 8

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Sultan Haji Hassanal Bolkiah dan jajaran Panitian Seminar “Majlis Ilmu” 2019, khususnya kepada Rektor Sultan Sharif Ali Islamic University, Dr. Norrarfan bin Haji Zainal dan Wakil Dekan Faculty of the Management of lslamic Development, Sultan Sharif Ali Islamic University, Ustaz Muhd. Sahrin bin Haji Masri yang telah berkenan mengundang saya sebagai salah seorang pemakalah dalam seminar tersebut. Semoga kita berjumpa lagi di lain kesempatan. Amin!

Foto Brunei 6

Rute perjalanan

  1. Amsterdam – Singapura, Kamis 10 Oktober (Singapore Airlines SQ 0323), berangkat: 11:15.
  2. Singapura – Bandar Seri Begawan, Jumat 11 Oktober (Royal Brunei Airlines BI 0422), berangkat: 12:10.
  3. Bandar Seri Begawan – London, Senin 14 Oktober (Royal Brunei Airlines BI 0003), berangkat: 22:55.
  4. London – Amsterdam, Selasa 15 Oktober (British Airways BA 438), berangkat: 12:55.
Posted by: niadilova | 09/11/2019

Musim Panas 2019: Liburan Keluarga dengan 5 Seminar

IMG_20190804_221124cDalam liburan musim panas 2019 kami juga ke Asia Tenggara, melancong sambil membezuk keluarga. Kami berangkat dari Leiden pada tanggal 24 Juli dan kembali ke Belanda pada 29 Agustus 2019.

Namun, seperti biasa, masa libur itu juga diisi oleh sang Bapak dengan beberapa seminar dan ceramah. Rasanya sungkan menolak undangan kawan-kawan di Malaysia dan Indonesia yang begitu baik. Untuk itu, mohon maaf dipinta kepada Raisa, Farel, dan Mami mereka. Walau beberapa hari terpaksa dicuri oleh sang Bapak untuk berseminar dan memberi ceramah, masa untuk libur tetap ada: kami dapat relaks di Langkawi, Pulau Tuba, Padang, dan Pariaman.

Ada 5 seminar/panel/ceramah yang saya ikuti di Asia Tenggara selama liburan musim panas 2019. Sebelum meninggalkan Leiden pada 24 Juli, saya juga telah berpatisipasi sebagai pemakalah dalam ICAS 11 (15-19 Juli 2019) yang diadakan di Universiteit Leiden yang dihadiri sekitar 2500 orang scholars dari berbagai belahan dunia. Saya membentangkan kertas kerja yang berjudul: “Longing for Indies: The Malay Letters from the Island of Exile (Ceylon).”

Lima seminar/panel/ceramah yang saya ikuti di Asia Tenggara adalah:

1. Sebagai panelis jemputan di Universiti Putra Malaysia (UPM) dalam panel yang berjudul “Melayu Pertama Mengeliling Dunia: Panglima Awang@Enrique de Malacca, Antara Realiti atau Ilusi?” yang diadakan pada tanggal 29 Juli 2019. Panel itu menghadirkan dua panelis lain dari Malaysia: Prof. Madya Dr. Shaiful Bahri Md Radzi dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Prof. Emeritus Dato’ Dr. Wan Hashim Wan Teh Universiti Pertahanan Nasional Malaysia (UPNM). Presentasi saya dalam panel itu berjudul: “Panglima Awang dan wira Melayu Lain dalam Pemfiksyenan Sejarah Penaklukan Portugis ke Atas Melaka.”Seminar di UPM 29 Juli 2019                                                                                              2. Sebagai pengucap dasar dalam Seminar Antarabangsa Susastera, Bahasa dan Budaya Nusantara (Sutera) 2019. Seminar yang mengambil tema “Bahasa, Sastera & Budaya Mendepani Era Revolusi 4.0” ini diadakan di Langkawi (Pusat Penyelidikan Langkawi, Universiti Kebangsaan Malaysia) pada 1-2 Agustus 2019. Seminar ini diadakan atas kerjasama Universiti Malaysia Perlis (UniMAP) dengan Dewan Bahasa dan Pustaka, UKM, Yayasan Budi, dll. Tajuk ucap dasar saya adalah: “Kebudayaan dan Identiti Nasional di Era Revolusi Industri 4.0.”                                                                                              3. Memberi kuliah umum di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Surabaya, pada 19 Agustus 2019. Judul presentasi saya: “Jeritan Hari Mereka yang Diselonkan: Surat-surat Royal Eksil dari Sri Lanka.”                                                                  Ucap dasar Suryadi Sutera Langkawi 1-3 Agust 20194. Sebagai pemakalah undangan dalam PAHMI-13: International Conference on Malaysia-Indonesia Relations yang diadakan di Padang pada tanggal 21-23 Agustus 2019. Penyelenggaranya adalah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Judul makalah saya: “The Reception of Minangkabau Cassettes and VCDs in Malaysia: An Example of Indonesia-Malaysia Cultural Relations.”

5.Memberi ceramah umum di UIN Imam Bonjol Padang pada 27 Agustus 2019 dengan judul ceramah: “The Hajj in the Eyes of Three-Western Educated Malay Muslim Intellectuals in Early 20th Century.”Seminar Hubungan Malaysia-Indonesia Padang 21-23 Agust 2019

Demikianlah kegiatan ilmiah sebagai selingan libur musim panas keluarga kami. Semoga berbagi ilmu yang sedikit akan bermanfaat bagi orang lain. Amin!

Foto fg Yasrul

Rute perjalanan

24 Juli – 29 Agustus 2019

  1. Amsterdam – Zurich, Rabu 24 Juli (KLM KL 1963), berangkat: 17:10
  2. Zurich – Muscat, Rabu, Rabu 24 Juli (Oman Air WY 154), berangkat: 21:55
  3. Muscat – Kuala Lumpur, Kamis 25 Juli (Oman Air WY 823), berangkat: 09:55
  4. Kuala Lumpur – Kuala Perlis, Kamis 29 Agus (Bus malam City Express), berangkat: 23:00
  5. Kuala Perlis – Langkawi, Jumat 30 Agustus (Langkawi Ferry), berangkat: 09:30
  6. Langkawi – Pulau Tuba, Sabtu 3 Agustus (boat), berangkat: 16:00
  7. Pulau Tuba – Langkawi, Minggu 4 Agustus (boat), berangkat: 13:00
  8. Langkawi – Kuala Perlis – Minggu 4 Agustus (Langkawi Ferry), berangkat: 19:00
  9. Kuala Perlis – Kuala Lumpur, Minggu 4 Agustus 2010 (Mara Liner), berangkat: 22:30
  10. Kuala Lumpur – Padang, Senin 5 Agustus (Air Asia AK 405), berangkat: 15:30
  11. Padang Jakarta, Sabtu 17 Agustus (Garuda GA 149), berangkat: 11:30
  12. Jakarta – Surabaya, Sabtu 17 Agustus (Garuda GA 448), berangkat: 15:15
  13. Surabaya – Jakarta, Selasa 20 Agustus (Batik Air SEQ/53), berangkat: 15:05
  14. Jakarta – Padang, Selasa 20 Agustus (Batik Air SEQ/19), berangkat: 18:55
  15. Padang – Kuala Lumpur, Rabu, 28 Agustus (Air Asia AK 404), berangkat: 16:10
  16. Kuala Lumpur – Muscat, Kamis 29 Agustus (Oman Air WY 822), berangkat: 09:30)
  17. Muscat – London, Kamis 29 Agustus (Oman Air WY 101), berangkat: 14:30
  18. London – Amsterdam, Kamis 29 Agustus (KLM KL 1028), berangkat: 20:55

Baadilla

Sumber: Berkala Bintang Hindia (Amsterdam), No. 16, Tahoen jang pertama, 8 “Augustus” 1903, hlm. 167.

Catatan

Sjech Said bin Abdullah Baӓdilla dipanggil oleh anak keterunannya dengan nama Said Tjong Baadilla, dikenal sebagai “’Raja Mutiara’ Hindia Belanda” (“’Th Pearl of King’ of the East Indies”). Beliau berdarah Arab dan lahir sekitar 1855. Beliau adalah orang pertama dari Hindia Belanda yang naik kereta api Trans Siberia ke Eropa (melalui Singapura dan Shanghai) pada tahun 1903 untuk mengobati matanya yang sakit di Belanda (lihat laporan berjudul “De Siberische Spoorweg” dalam koran Maasbode terbitan Rotterdam edisi 7 Juli 1903).  Lebih jauh tentang kehidupan beliau di Banda Neira dan masa jaya dan keruntuhan bisnis mutiara dan perdangannya rempah-rempahnya yang punya jaringan luas di Indonesia timur, lihat memoir cucu buyutnya: Des Alwi, Friends and Exiles: A Memoir of Nutmeg Isles and the Indonesian Nationalist Movement. Ithaca, New York: Southeast Asia Program Publications, Southeast Asia Program, Cornell University, 2008. Sjech Said bin Abdullah Baӓdilla wafat pada bulan Februari 1933 dalam usia 78 tahun (lihat: De Indische Courant terbitan Surabaya edisi 7 Februari 1933; lihat keratan berita ini di bawah).

De Indische Courant (Surabaya) 07-02-1933

 

Dr. M. Amir †

     Dr. M. Amir, voor de oorlog een bekende figuur in de Medanse samenleving, is blijkens berichten in de Indonesische bladen op 20 December [1949] in Nederland overleden.

Dr. Amir, die zijn medische opleiding in Leiden en Parijs genoot, was voor de oorlog as psychiater te Medan gevestigd. Na de Japanse capitulatie speelde hij een vooraanstaande rol bij de oprichting de Republik Indonesia. Hij werkte mede bij he opstellen de republikeinse grondwet en werd minister zonder portefeuille in het eerste kabinet-Soekarno. Korte tijd later werd hij benoemd to republikeinse vice-gouverneur van Noord-Sumatra, met zetel te Medan. Na het uitbreken der z.g. “sociale revolutie” (waarvoor sommige kringen hem verantwoordelijk stelden), heeft dr. Amir zich onder bescherming van de Britse militaire autoriteiten gesteld. Weinig later kreeg hij gelegenheid naar Nederland te vertrekken.

     Dr. Amir keerde nog eenmaal terug naar Indonesië en vestigde zich te Makassar. Een hartkwaal noopte hem echter medio 1949 veer naar Nederland te gaan, waar zijn vrouw en kinderen waren achtergebleven. Hij werd toen opgenomen in het Binnengasthuis te Amsterdam, waar hij 20 December na een ziekbed van twee manden overleden is.”

***

Laporan koran Het Nieuwsblad voor Sumatra (Medan) edisi Jumat (Vrijdag) 6 Januari 1950 tentang meninggalnya Dr. M. Amir di Amsterdam pada 20 Desember 1949. Terjemahan laporan di atas kurang lebih sbb:

Menurut laporan pers Indonesia, Dr. M. Amir, seorang tokoh terkenal di kalangan masyarakat di kota Medan sebelum perang, meninggal di Belanda pada 20 Desember [1949].

Dr. Amir, yang menerima pelatihan medis di Leiden dan Paris, dikenal sebagai psikiater di Medan sebelum perang. Setelah pendudukan Jepang berakhir, ia memainkan peran utama dalam pembentukan Republik Indonesia. Dia membantu merancang konstitusi republik dan menjadi menteri tanpa portofolio dalam kabinet Sukarno yang pertama. Tak lama kemudian, ia diangkat menjadi Wakil Gubernur Republik untuk Sumatera Utara, yang berkedudukan di Medan. Setelah pecahnya apa yang disebut “revolusi sosial” (di mana beberapa kalangan menganggapnya ikut bertanggung jawab), Dr. Amir ditempatkan di bawah perlindungan otoritas militer Inggris. Tidak lama kemudian, ia mendapat kesempatan pergi ke Belanda.

Dr. Amir kembali ke Indonesia sekali lagi dan menetap di Makassar. Namun, kondisi jantung yang kurang baik memaksanya untuk pergi ke Belanda pada pertengahan 1949, di mana istri dan anak-anaknya ditinggalkannya. Dia kemudian dirawat di rumah sakit Binnengasthuis di Amsterdam, di mana dia meninggal pada 20 Desember, setelah dua bulan terbaring sakit.

Begitulah akhir cerita Dr. M. Amir, seorang putra Talawi yang terkenal, yang mendapat gelar doktor di bidang Medis di Belanda, tapi sangat prolifik menulis hal-hal seputar politik dan kebudayaan pada pertengahan pertama abad ke-20.

Amir meraih gelar doktor di bidang medis di Universitas Amsterdam pada tahun 1928 dengan disertasi (proefschrift) berjudul ‘Bijdrage tot de kliniek en therapie der deflexieliggingen’ (lihat: De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 03-02-1929; PandjiPoestaka, No. 30 TAHOEN VI, 13 April 1928: 557). De Indische courant (Surabaya) edisi 9 Maret 1928 menulis laporan tentang promosi doktornya sbb:

     “Promotie.

     Ann de gementelijke Universiteit te Amsterdam is bevorderd tot doctor in de geneeskunde op proefschrift: Bijdrage tot de kliniek en therapie der deflexieliggingen, de heer M. Amir, geboren te Talawi.”

Moehammad Amir, demikian namma lengkapnya, juga mendalami ilmu jiwa (psychiatrie). Lahir di Talawi pada 27 Januari 1900 dari pasangan M. Joenoes Soetan Malako dan Siti Alamah yang bersuku Mandaliko, M. Amir adalah salah seorang intelektual Minangkabau yang sangat cemerlang pada zamannya.

Sayang, ia meninggal dalam usia yang cukup muda: 49 tahun. Namun, dalam usia yang singkat itu ia telah menorehkan banyak hal dalam sejarah negeri ini. Kisah hidup dan pemikirannya belum pernah dikajioeang secara mendalam, satu aspek penting dalam sejarah Indonesia yang perlu digali dan diungkap oleh para sejarawan kita.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 27 Oktober 2019

 

RAPAT BESTIOER

            Bestioer Kota Ampat Saijo telah meadakan rapat Bestioer pada petang Sabtoe malam Minggoe 18-19 Mei 1929, bertempat di kantoer “Soeloeh Kota Ampat” di pasar Talawi, jang dikepalai oleh Dt. Gagar Sampono, Pangatoea perkoempoelan K.A.S. terseboet.

            Boeah kerapatan itoe, ijalah membitjarakan kepentingan K.A.S. jaitoe mentjari daja oepaja dari hal perkara oeang masoek oentoek perkoempoelan K.A.S. soepaja kas perkoempoelan itoe, djangan terdapat ke koerangan.

            Isinja kerapatan jang telah ditjantoemkan dalam Notulen boeknja, nanti akan kita rentjanakan poela dalam Soeloeh kita ini.

            Sesoedah rapat Bestioer K.A.S. keperloean perkoempoelan K.A.S. terseboet, Bestioer membitjarakan poela dari hal “Taman Isteri” [T.I.], jang mana gerakan kaoem iboe [itu] perloe mendapat toedjangan dari Bestioer K.A.S. seperti memberi nasihat tentang peratoerannja kalau ada jang tidak baik dan memberi derma dengan oeang kalau ada keperloeannja jang tidak bisa T. I. memikoelnja, seperti memboeat tempat peladjaran d.s. bagaija.

            Kita doakan segala Bestioer K. A. S. terseboet akan beroesaha mendatangkan bermatjam-matjam kemadjoean oentoek anak negeri kita di Koto Ampat ini.

                                                                                              Lampoe K.A.

***

Kutipan langsung dari laporan surat kabar milik masyarakat Talawi Soeloeh Koto-Ampat (Terbit seboelan sekali), No. 4, Tahoen 1, Juni 1929. Melalui laporan ini dapat disimak betapa aktifnya dan antusiasnya masyarakat Kenagarian Talawi menyambut kemajuan, walaupun nagari tersebut terletak di pedalaman Minangkabau dan jauh dari pusat administrasi kolonial, Padang.

Di bawah pimpinan Kepala Nagari (Wali Nagari)-nya yang inovatif dan terbuka dalam menerima kemajuan, Dt. Gagar Sampono, didirikanlah perkumpulan/organisasi Kota Ampat Saijo (K.A.S.), wadah yang menghimpun seluruh warga Kenagarian Talawi, baik yang tinggal di kampung maupun yang berada di rantau. Sebagai orgaan organisasi ini, diterbitkan pula koran Soeloeh Kota-Ampat yang menjadi media komunikasi antar warga kenagarian ini (lihat ‘Paco-Paco Minangkabau’, Padang Ekspres, Minggu 13-10-2019).

Laporan di atas juga menginformasikan kepada kita tentang berdirinya organisasi kaum ibu di Kenagarian Talawi yang diberi nama ‘Taman Isteri’. Ini adalah sesuatu yang luar biasa: bahwa di akhir dekade ketiga abad ke-20, kaum perempuan di sebuah desa Minangkabau (juga di beberapa desa lainnya) sudah memiliki kesadaran untuk berorganisasi demi meraih kemajuan.

“Talawi namanja negeri,

Tiada patoet meninggal diri,

Tiroe toeladan hendaknja tjari.

Tjoba poela menjatoekan diri.

 

Oentoeng tertjapai seperti bangsa lain,

Oedjeodnja satoe tiada berlain,

Orang kerdja kita djangan bermain,

Oebah[h] sifat seperti mengganti kain.

 

[…]

 

Toentoet ilmoe tjara sekarang,

Toelis dan batja karang mengarang,

Timoer dan barat soepaja terang,

Tempoeh kemadjoean moelai sekarang.

 

Semenit djangan berlalai[2],

Semoeanja kita haroeslah pandai,

Singkat dioelas, senteng dibilai,

Soepaja maksoed lekas sampai.

 

Ampat negeri kalau seija,

Awak hina mendjadi moelia,

Antah selamat hidoep didoenia,

Aman sentosa tanah Hindia.”

Demikian kutipan beberapa bait syair sokongan yang berjudul “Koto Ampat Saijo” yang dimuat dalam Soeloeh Koto-Ampat, No. 6-7, Tahoen 1, Augustus-September 1929.

Talawi yang terletak tak jauh dari Sawahlunto, ada sebuah contoh konkrit untuk melihat efek kemajuan Barat merasuk ke desa-desa Minangkabau pada awal abad ke-20. Kata ‘bestioer/bestuur’ (pengurus), ‘voorzitter’ (ketua), dan ‘vergadering’ (rapat) sudah menjadi leksikon sehari-hari warga desa. Mungkin konsep berorganisasi ala Eropa/Belanda itu begitu mudah diterima karena orang Minangkabau sudah lama terbiasa hidup dalam tradisi bermusyawarah dan bermufakat dalam lingkungan budaya mereka yang sudah sejak semula mengenal ‘demokrasi’ ala ‘republik nagari’ itu.

Kiranya amat menarik menulis sejarah Kenagarian Talawi (juga nagari-nagari lainnya di Minangkabau), sebuah desa yang melahirkan manusia boneh sekaliber M. Yamin dan M. Amir yang sudah mengecap budaya akademik dan intelektual Eropa di akhir akhir abad ke-19 ketika banyak warga sebangsanya belum lagi ‘tahu di kain’.

Mungkinkah untuk menulis sejarah sebuah nagari di Minangkabau? Kenapa tidak?

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 20 Oktober 2019

 

SOELOEH KOTA AMPAT

    Negeri Talawi kedoedoekannja hanja kepala negeri sadja, dapat mengeloerkan satoe soerat kabar “Soeloeh Kota Ampat” boeat permoelaan dikeloearkan sekali seboelan. Boeat negeri begitoe ketjil apalagi djaoeh poela dari iboe onderafdeeling dapat mendirikan soerat kabar – Menoeroet berita, langganan soedah banjak diloear negeri itoe – Kita atoerkan selamat pada pengoeroes S. K. A. moedah2an berhasil jang dimaksoed. 

Wassalam.

ISLAMIE

***

Berita yang dimuat dalam surat kabar Soeloeh Koto-Ampat, media cetak yang diterbitkan oleh para pemimpin dan anak nagari Talawi, sebuah kampung yang letaknya jauh di pedalaman Minangkabau dan “djaoeh poela dari iboe onderafdeeling”, tapi memperlihatkan gairah besar dalam menyongsong kemajuan zaman yang mulai menghondoh Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Tepatnya, berita ini dimuat dalam Soeloeh Koto-Ampat, No. 3, Tahoen 1, Mei 1929.

Siapa yang tidak mengenal Talawi, kampungnya Muhammad Yamin dan M. Amir, dua putra Minangkabau yang telah menorehkan tinta emas dalam perjalanan sejarah Indonesia. Mungkin karena itu pulalah, anak nagari Talawi terinspirasi untuk meraih kemajuan ala Barat yang ‘mendemamkan’ kaum bumiputra tanah jajahan Hindia Belanda pada masa itu.

Dikatakan bahwa untuk sementara Suluh Kota Empat “diterbitkan sekali seboelan.” Fungsinya adalah “onetoek menjokong Kota Ampat Saijo Talawi.” Kota Ampat Saijo (K.A.S.) adalah organisasi anak nagari Talawi).

Soeloeh Kota Ampat terbit setebal 4 halaman. Redactie dan Administratie-nya dipegang oleh M. Dj. Magek Kajo yang beralamat di “Talawi, Sawah Loento, S.W.K.” [Sumatra’s Westkust]. Surat kabar ini “ditjetak pada Drukkerij ‘LIMBAGO MINANGKABAU’ Pajakoemboeh.”

Soeloeh Kota Ampat dijual seharga 16,5 cent gulden per edisi. Harga langganan: setahun f 2,- dan untuk enam bulan f 1,-.  Harga “advertentie [iklan] boleh berdamai.”

Nomor pertama terbit pada bulan Maret 1929. Belum diperoleh informasi berapa lama koran ini eksis. Isinya terutama meng-cover isu-isu yang terkait dengan kehidupan anak nagari Talawi, baik di kampung maupun di rantau. Namun, ada juga berita-berita tentang negeri luaran.

Di bawah Wali Nagari-nya yang sangat aktif, Dt. Gagar Sampono, anak nagari Talawi bekerjasama dan bertekad meraih peluang kemajuan zaman yang datang. Kepala Nagari ini menjadi “pengetoean” K.A.S. dan juga penasehat “Taman Isteri”, organisasi kaum ibu Kenagarian Talawi.

Dalam sebuah syair berjudul “Seroean” yang dimuat dalam koran ini edisi No. 4, Tahoen 1, Juni 1929, Redactie menulis:

Orang Koto Ampat, harap seija

Oentoek mentjari, kemadjoeang (sic) doenia

Oentoengnja besar, negerinja moelija

Oempama emas, jang berbahagija

 

Engkoe ninik mamak dalam seroean

Entijk dan siti, gadis roepawan

Elok berdjoempa, pandang kemadjoean

Europa bahasa itoe toedjoean

                 

Anak negeri semoea diseroe

An[g]koe dan toean, ataupoen goeroe

Anak kemenankan, djangan keleroe

Aman sentosa, dizaman baharoe

 

Negeri dan doesoen, harap madjoekan

Nederland bahasa, kita kembangkan

Naik setingkat, kita seroekan

Negeri dan desa, sama madjoekan.”

 

Talawi dengan koran Soeloeh Kota Ampat-nya adalah gambaran nyata tentang jauhnya pengaruh kemajuan merasuki masyarakat Minangkabau. Dan kita sudah sama mengetahui bahwa ada banyak nagari lainnya di Minangkabau yang menyambut era kemajuan itu dengan gairah seperti yang terjadi di Talawi.

Kiranya menarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut tentang modernisme dan perubahan sosial nagari di Minangkabau pada paroh pertama abad ke-20. Kita tunggu para sejarawan UNAND, UNP, dan perguruan tinggi lainnya di Sumatera Barat turun tangan.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 13 Oktober 2019

BAZAAR DAN HANDWERK TENTONSTELLING HUA CHIAO TSING NIEN HUI

            Hari Saptoe malam djam 6.30 bazaar dan handwerk tentonstelling dari Damesafdeeling Hua Chiao Tsing Nien Hui [HCTNH] telah diboeka, dibawah perhatian jang besar.

            Diantara orang orang oendangan, ada kelihatan toean toean Sim Hong Lie, kapitein Tionghoa dengan njonja, toean Tjoa Kong Bie, luitenant Tionghoa Pajakoemboeh dengan njonja, toean Lie Tjhoen Goan, wijkmeester Tionghoa, dan lain lain toean toean, njonja njonja dan nona nona.

            Pemboekaan didahoeloei dengan satoe pembitjaraan ringkas dari toean The Tjeng Loon, voorzitter dari HCTNH sectie Padang, jang menjatakan terima kasih pada jang hadir atas perhatian jang telah diberikan pada gerakan perkoempoelannja, serta mengoendjoekan, bahwa pendapatan dari bazaar itoe akan digoenakan boeat pekerdjaan sociaal, teroetama boeat penoendjang kasnja Afdeeling Armenzorg, jang memberikan toendjangan beras pada orang orang toea Tionghoa miskin dan djanda djanda jang perloe dengan toendjangan bersama.

            Spreker kemoekakan bagaimana afdeeling ini mendapat kesoekaran besar dalam kalangan financien, teroetama disebabkan toendjangan jang didapat dari pendoedoek Tionghoa, ada djaoeh sedikit dibandingkan dengan toendjangan jang Afdeeling Armenzorg mesti berikan dan berharap sadja soepaja bazaar dan handwerken jang bakal diboeka, bakal mengasi[l]kan hasil jang baik.

            Sesoedah itoe laloe diminta njonja Kapitein Tionghoa, boeat goenting pitah jang direntang didepan pintoe, hingga dengan begitoe, bazaar dan handwerk tentoonstelling dinjatakan diboeka.

            Koendjoengan pada Saptoe. Malam ada ramai sekali, dan pendapatan ada memoeaskan.

            Bazaar dan handwerk tentonstelling, diramaikan oleh Afdeeling Muziek H.C.T.N.H. dengan mereka poenja strijkorkest, harmonicaband dan Gambang.

            Dalam bazaar ini, orang bisa beli roepa roepa barang makanan, minoeman dan barang toilet, dari berbagai bagai firma, seperti Tels & Co, Hopenstedt, Borsumy, Jacobson van den Berg Geo Wehry, Kong Bie Hiang dan lain lain.”

***

Laporan koran Sinar Sumatra, No. 4, Tahoen ke 32, Hari Senen 6 Januari 1936/12 Tjap Dji Gwee 2486 -11 Sjawal 1354 tentang acara bazaar atau pasar derma yang diselenggarakan oleh afdeeling wanita perkumpulan orang Tionghoa HUA CHIAO TSING NIEN HUI (disingkat: HCTNH) cabang Padang. Acara tersebut “bertempat di club gebouwnja sendiri di Pondok 15” (Sinar Sumatra, No. 3, Tahoen ke 32, Hari Saptoe 4 Januari 1936).

HCTNH sangat memberi perhatian kepada kalangan penduduk Tionghoa dari kelas bawah. Organisasi ini memiliki Afdeeling Armenzorg (bagian penyantun orang miskin) yang menyantuni orang-orang Tionghoa yang ekonominya sangat lemah, antara lain dengan “memberikan toendjangan beras pada orang orang toea Tionghoa miskin dan djanda djanda jang perloe dengan toendjangan bersama.”

Tentang inside acara bazaar tersebut, laporan di atas memberi gambaran secara terang: ada stand-stand penjualan berbagai macam produk kerajinan tangan (handwerken), produk-produk berbagai firma dan toko terkenal di Padang pada masa itu, dan juga ada acara musik.

Refleksi yang dapat kita peroleh dari laporan di atas adalah bahwa orang Tionghoa memiliki rasa kebersamaan yang kuat, baik kaum lelaki maupun kaum wanitanya. Mereka yang berhasil secara ekonomi berusaha membatu yang ekonominya lemah. Walaupun dalam lapangan politik sering juga muncul perbedaan di antara mereka, akan tetapi kalau sudah menyangkut keetnisan (kecinaan), mereka melupakan perbedaan-perbedaan itu dan bersatu untuk saling membantu. Kita juga dapat kesan betapa kesadaran berorganisasi untuk kemajuan dan kemaslahatan bersama sudah sangat tinggi di kalangan orang Tionghoa.

Keberadaan H.C.T.N.H. dengan misi “pekerjaan sociaal”-nya menunjukkan bahwa orang Tionghoa (di Padang) yang kaya tidak abai kepada anggota bangsaya yang miskin dan belum beruntung secara ekonomi.

Sebuah organisasi lain dari kalangan orang Tionghoa di Padang yang memiliki misi yang relatif sama adalah Armenfonds Chung Hsioh. Demikianlah umpamanya, pada Minggu 5 Januari 1936, organisasi yang diketuai oleh Dr. Liem Giem Tjiang ini telah membagi-bagikan pakaian, sepatu, topi dll. kepada sekitar 450 anak Tionghoa miskin di Pulau Karam yang dananya juga dihimpun dari masyarakat Tionghoa di Padang dan Sumatra’s Westkust pada umumnya (Sinar Sumatra, No. 4, Tahoen ke 32, Hari Senen 6 Januari 1936).

Banyak laporan media cetak semasa menunjukkan keterikatan kuat orang Tionghoa Indonesia (termasuk mereka yang tinggal di Padang) secara emosional dengan tanah leluhur mereka. Jika misalnya terjadi bencana di daratan Cina, orang-orang Tionghoa yang tinggal di Hindia Belanda menggalang dana untuk meringankan beban para korban.

Kiranya keuletan, kegigihan dalam berusaha, cinta tanah leluhur, kekompakan dan rasa kebersamaan yang menjadi ciri khas saudara Tionghoa kita ini perlu ditiru oleh orang Minangkabau.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 6 Oktober 2019

 

 

PERGOEROEAN MOESLIM

Boekit Tinggi

            Menerima moerid baroe poetera dan poeteri bahagian Tsanawijah dan Ibtidaij[a]h

“Sjarat moerid jang diterima”

  • Bahagian Tsanawijah jang telah tamat klas IV Thawalib, Dinijah, Tarbijah dan jang sama dengan dia.
  • Wang masoek boeat moerid baroe f 1,50 bajar dimoeka beserta dengan soerat keterangan.
  • Wang sekolah seboelan f 1 – bajar dimoeka dan boleh djoega sekali bajar boeat setahoen atau berkwartal.
  • Bahagian Ibtidaijah: jang tahoe toelis batja hoeroef Arab dan jang telah tamat sekolah klas doea atau klas IV H.I.S. atau jang sama dengan dia.
  • Wang masoek f 1. Disertakan dengan soerat keterangan.
  • Wang sekolah seboelan f 0,75 bajar dimoeka.

Moerid jang datang dari djaoeh diwadjibkan tinggal diinternaat, boeat poetera dan boeat poeteri jang didjaga dengan rapi.

Pembajaran internaat dengan penerangan dan air f 1- boeat seorang dalam seboelan.

Kalau dengan makan doea kali sehari dan pagi dapat teh, tambah f 4 – lagi, pembajaran dimoeka. Perkakas tempat tidoer tanggoeng sendiri.

Siapa jang berkepentingan boleh beroeroesan dengan Directeur “Pergoeroean Moeslim”, Landbouwweg No. 80 Boekit Tinggi.

***

Iklan pendidikan yang disalin dari surat kabar Sinar Sumatra, No. 2, Tahoen ke 32, Hari Djoemahat 3 Januari 1936/4 Tjap Dji Gwee 2486 -8 Sjawal 1354. Melalui iklan ini dan berita-berita terkait semasa yang banyak disiarkan dalam media-media vernakular dapat dikesan beberapa hal mengenai dunia pendidikan di Sumatera Barat/Minangkabau pada tahun tahun 1920-an dan 30-an.

Pertama, sekolah-sekolah yang bersifat keislaman berkembang di tengah penetrasi sekolah-sekolah sekuler yang diperkenalkan dan disokong secara moral dan finansial oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Sebagaimana sudah sama diketahui, orang Minangkabau, paling tidak di wilayah-wilayah tertentu, khususnya di Koto Gadang, sangat antusias menerima sistem pendidikan ala Eropa (lihat Elizabeth E. Graves, The Minangkabau response to Dutch colonial rule in the nineteenth century. Ithaca, N.Y.: Cornell Modern Indonesia Project, 1981).

Sebagai etnis penganut agama Islam, tampaknya sebagian orang Minangkabau menganggap pendidikan sekuler itu membahayakan masyarakat, dalam arti akan membawa pengaruh keduniawian atau sekularisme dalam masyarakat. Oleh sebab itu perlu adanya imbangan terhadapnya dengan mengembangkan pendidikan yang tetap berpijak pada keislaman.

Maka berkembanglah di banyak nagari di Minangkabau sekolah-sekolah agama seperti Tsanawiyah, Diniyah, Thawalib, Tarbiyah, Ibtidaiyah, Muallimin, dan lain-lain. Bermunculan pula tokoh-tokoh pendidik yang berciri keislaman, baik laki-laki maupun perempuan, seperti Zainuddin Labay, Rahmah El Yunisiyah, dll.

Kedua, kehadiran sekolah agama ini memberi peluang lebih besar kepada anak perempuan Minangkabau untuk mengecap pendidikan. Mereka berlomba-lomba dengan anak laki-laki dalam mengejar kemajuan. Bahkan, berkat sekolah-sekolah agama tersebut, pada tahun 1930an sudah ada remaja putri Minangkabau yang pergi ke Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir, untuk melanjutkan pendidikan mereka.

Namun, ternyata sekolah-sekolah agama tersebut mengadopsi hal-hal tertentu dalam sistem pendidikan sekuler ala Eropa itu. Demikianlah umpamanya, mereka juga mengajarkan bahasa Belanda, bahasa Inggris, ilmu berhitung, ilmu alam, dll.

Dengan kata lain, terjadi proses peniruan. Sebagaimana dapat dikesan dari iklan di atas, peniruan itu juga menyangkut treatment terhadap pelajar: sekolah-sekolah agama tersebut juga memakai sistem internaat (pengasramaan) yang sudah lebih dulu diterapkan di Kweekschool (Sekolah Raja) Fort de Kock.

Demikianlah, melalui banyak iklan mengenai sekolah-sekolah yang dikelola oleh PERGOROEAN MOESLIM seperti di atas, dan juga dari banyak laporan media semasa, dapat disimpulkan bahwa sepanjang paroh pertama abad ke-20 terjadi dinamika pendidikan di Minangkabau di mana sistem pendidikan sekuler ala Eropa ‘dihadang’ oleh sistem pendidikan yang berbasis keislaman. Kedua sistem pendidikan ini saling berhadapan, yang merefleksikan proses pendefinisian yang terus-menerus identitas keminangan di tengah perubahan zaman. Kiranya menarik untuk mengkaji hal ini secara lebih mendalam dalam perspektif sejarah sosial.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 29 September 2019

 

 

Een gearresteerde Menangkabauer.

   Op de vraag van den heer Abdul Firman Gelar Maharadja Soangkoepoen de Regeering bereid is mede te deelen welke de redenen zijn de arrestatie van den Menangkabauer Sjech Mohamad Tahir Djalaloeddin Al Azhard, en of er kans is op zijn spoedige invrijheidsstelling, heeft de regeering als volgt geantworord:

   De Menangkabauer Sjech Mohamad Tahir Djalaloeddin al Azhard is 8 Maart jl. komende van Singapore, te Fort de Kock aangehouden, omdat hij reeds geruimen tijd te voeren door den resident van Sumatra’s Westkust voor interneering was voorgedragen, daar hij geacht werd te behooren tot de gevaarlijke P. K. I.-kern in dat gewest, voornamelijk indien zijn, dat hij met behulp van den godsdienst propaganda voor die partij zou hebben gemaakt.

    Naar de rol, welke hij in deze beweging heeft vervuld, wordt intusschen een nader onderzoek ingesteld, hetwelk nog niet is beëindigd.

    Hangende dit onderzoek kan de regeering geen uitspraak doen omtrent de vraag, of er kans is op zijn spoedige invrijheidsstelling.”

***

Laporan De Indishe Courant (Surabaya) edisi 5 Juli 1928 (lihat juga De Sumatra Post (Medan), 9 Juli 1928 dan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (Batavia), 3 Juli 1928) tentang penangkapan terhadap Syekh Tahir Djalaloeddin, ulama Minangkabau lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir.

Isi laporan di atas kurang lebih sebagai berikut: Pada tanggal 8 Maret 1928, Syekh Moehammad Tahir Djalaloeddin Al-Falaki Al-Azhari – demikian nama lengkapnya – yang tinggal di wilayah British Malaya pulang sebentar ke kampung halamannya di Minangkabau, tepatnya ke Fort de Kock (Bukittinggi). Akan tetapi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda segera menangkapnya. Penangkapan itu dilakukan dengan alasan atas desakan pihak-pihak tertentu dalam masyarakat Minangkabau (tampaknya yang pro Belanda) yang menuduh ulama ini terlibat dalam propaganda penentangan yang dilakukan kaum Komunis terhadap Otoritas Kolonial Hindia Belanda.

Dikatakan bahwa Pemerintah khawatir bahwa Syekh Tahir Djalaloeddin akan menggunakan pengaruhnya sebagai ulama besar yang memiliki banyak pengagum dan pengikut untuk menggerakkan perjuangan kaum Komunis di Sumatera Barat, yang masa itu memang sejalan dengan cita-cita orang Muslim yang juga bersikap anti penjajahan.

Dengan demikian, penangkapan yang dilakukan oleh Pemerintah terhadapnya bersifat antisipasi, sekaligus untuk menyelidiki kemungkinan peran yang telah dimainkannya dalam penyebaran perasaan penentangan terhadap Pemerintah yang telah mengakibatkan pecahnya pemberontakan kaum Komunis melawan penjajah Belanda pada tahun 1926 di Sumatera Barat.

Wakil Pribumi di Volksraad Abdul Firman Gelar Maharadja Soangkoepoen yang asal Tapanuli mengkritisi dan menanyakan ihwal penangkapan Syekh Tahir Djalaloeddin itu kepada Pemerintah. Ia menanyakan alasan penangkapan itu dan kemungkinan untuk membebaskannya sesegera mungkin.

Pemerintah menjawab bahwa hal itu menunggu investigasi lebih lanjut dan mereka belum bisa menyatakan apakah ulama itu dapat segera dibebaskan.

Belum berhasil ditemukan akhir dari proses penahanan Syekh Tahir Djalaloeddin ini. Akan tetapi, berdasarkan sumber-sumber kedua dapat diketahui bahwa beliau akhirnya kembali ke Semenanjung Malaya, tempat ia sudah bermastautin sejak 1899, yaitu di Perak.

Syekh Tahir Djalaloeddin yang ahli ilmu falak itu adalah ulama keturunan Minangkabau yang menjadi Mufti Perak serta telah membawa reformasi keagamaan (Islam) di Semenanjung Malaya. Lebih jauh mengenai peran politik dan keagamaannya di negara jiran itu, bacalah antara lain disertasi Dr. Hafiz Zakariya, ‘Islamic reform in colonial Malaya: Shaykh Tahir Jalaluddin and Sayyid Shaykh al-Hadi’ [Disertasi PhD, University of California, Santa Barbara, 2006].

Meskipun tinggal di Perak, Syekh Tahir Djalaloeddin aktif menyebarkan pengetahuan Islam ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, termasuk Pulau Sumatera.

Ulama kelahiran Ampek Angkek Agam pada 9 Desember 1869 ini wafat di Kuala Kangsar Perak pada 26 Oktober 1956.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 22 September 2019

MINANGKABAU TEAM

            Tanggal 4 dan 5 Januari [1936] di Plein van Rome akan diadakan pertandingan antara:

                                   MINANGKABAU TEAM – MILITAIRE XI S W K

                                                          Idem        – YOUNG FELLOW

            Minangkabau team ini jang tersoesoen dari spelers djempolan Sumatra Barat, bermaksoed akan melawat ke Straits apabila kekoeatannja dirasa soedah tjoekoep besar.

            Di Fort de Kock, Pajakoemboeh dan Sawahloento telah diadakan beberapa kali pertandingan dan Team ini tetap mendapat kemenangan. Tjoema di Padang beloem pernah diadakan pertandingan dan baroe ini kali akan ditjoba mengoekoer kekoeatannja.

            Militairen-eiftal jang terdiri dari djago djago voetbal dari Fort de Kock, P. Pandjang dan Padang akan mengeloearkan soesoenan jang sekoeat koeatnja poela, dan ditambah poela oleh seorang bekas speler Bond Malang, toean DIKMAN jang baroe datang disini.

            Pertandingan dimoelai tetap djam 4.30 sore.

            M.K. TEAM

                                                           Oesman

                                                              INS

                        Djamin                                                         Darwis

                        G.Sedjati                                            G.A.Head Medan

            Hitam                                     Taher                          Badawi

            G.Sedjati                                G.S.                          S.Dagang

    Koetan                                           Arifin                          Noer

     Orion                                            INS                            G.S.

    Liem Kek Kim                                                                      Pang

            G.S.                                                                               Gas

            Reserve. Sjofjan Salih dan Raimi, Willem dan Hendrik, di Padang ini tidak toeroet main dalam Minangkabau-Team.

***

Laporan harian Sinar Sumatra, No. 2, Tahoen ke 32, Hari Djoemahat 3 Januari 1936/4 Tjap Dji Gwee 2486 -8 Sjawal 1354 tentang rencana pertandingan sepakbola di Padang pada awal Januari 1936. Disebutkan bahwa Minangkabau Team akan berhadapan dengan tim Militaire XI S.W.K. [Sumatra’s Westkust], kemudian dengan tim Young Fellow.

Banyak laporan surat kabar semasa memberitakan pertandingan sepakbola (eiftal) antardaerah dan antarinstansi di Hindia Belanda. Bahkan kerap kali juga diadakan pertandingan dengan tim-tim eiftal dari luar wilayah Hindia Belanda, seperti dari wilayah the Straits Settlements (Semenanjung Malaya, termasuk Singapura yang berada di bawah pentadbiran Inggris), Hongkong, juga dari Eropa.

Sepakbola dan gerakan politik, sosial, ekonomi dan budaya dalam konteks zaman kolonial di Indonesia belum banyak dikaji orang. Padahal, sebagaimana ditunjukan oleh Freek Colombijn dalam artikelnya “Politics of Indonesian Football” dalam jurnal Archipel Vol. 29 (2000), hlm.171-200, olahraga sepakbola di zaman kolonial menyentuh banyak aspek, termasuk politik, ekonomi, dan sosial.

Padang adalah kota yang sudah cukup awal memiliki tim sepakbola. Colombijn dalam artikel di atas (hlm.175) menyebut: tim sepakbola pertama di Padang berdiri tahun 1901, bernama Padangsche Voetbal Club. Pendirinya adalah orang-orang Belanda. Tahun-tahun berikutnya berdiri enam tim lagi, menyiratkan meningkatnya gairah olahraga sepakbola di Sumatera Barat. Di antara keenam tim itu termasuklah tiga tim orang Minangkabau dan tim anggota militer yang bernama Sparta (terinspirasi dari nama negara Yunani kuno ‘Sparta’). Tim ini mengadakan berbagai pertandingan, termasuk melawan anak-anak kapal perang Jerman yang singgah di Emmahaven.

Pada 1905, tujuh tim sepakbola yang ada di Sumatra’s Westkust bergabung dalam satu asosiasi yang diberi nama WSVB (West Sumatra Voetbal Bond). Menarik bahwa dalam WSVB ini bergabung pengurus dan pemain dari kalangan pribumi (Minangkabau), Eropa (Belanda), dan Tionghoa. Namun, dinamika politik tak lepas dari sepakbola, sebagaimana halnya di masa sekarang. Pada 1922, tim-tim Minangkabau (pribumi) keluar dari WSVB dan membentuk asosiasi sendiri yang disebut SVM (Sportvereeniging Minangkabau) (Colombijn, ibid.:177).

Masih banyak lagi cerita menarik tentang dunia persepakbolaan di Zaman Kolonial. Tim-tim tumbuh dan hilang saling berganti karena kebanyakan pemainnya adalah para pegawai pemerintah, anggota militer, dan lain-lain. Orang-orang seperti itu selalu mengalami mutasi atau (di)pindah(kan) ke daerah lain, yang tentunya mempengaruhi keutuhan tim.

Menjelang berakhirnya kolonialisme Belanda di Indonesia, keramaian di lapangan sepakbola sering juga dimanfaatkan sebagai ajang kampanye politik oleh kaum republiken untuk mengkritisi penjajahan Belanda.

Kiranya sepakbola dalam kajian sejarah sosial sudah harus menjadi perhatian para sejarawan kita. Hasilnya pasti menarik, baik secara akademis maupun untuk pengetahuan umum.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 15 September 2019

Older Posts »

Categories