20180420_164611-crop

20180420_164636-crop

Keterangan gambar: Atas: Kompleks pertokoan Eigen Hulp yang dibangun oleh arsitek Ir. J.F. van Hoytema; bawah: Bangunan Pasar Glodok yang dibangun oleh arsitek Ir. B.J.K. Kramer; keduanya terletak di Batavia.

Sumber foto: Majalah De Ingenieur, orgaan het Koninklijke Instituut van Engineurs en van de Vereeniging van Delftstsche Ingenieurs, 39e jaargang,  No. 22, 31 Mei 1934: 401.

Advertisements
Posted by: niadilova | 08/12/2018

Kilas balik: KONGRES NADHLATOEL ‘OELAMA [1928]

logo nu klasik     Kongrés itoe diadakan disoerabaja pada tanggal 9 sampai 11 October ini [1928]. Ada 29 perkara jang dibitjarakan, misalnja ta’lik kawin, hal karantina, hal membedah majat d.l.l.

Ta’lik kawin. Telah sekian lamanja di Djawa Tengah, demikian poela di Djawa Barat dilakoekan orang soeatoe ta’lik (perdjandjian) kawin. Beberapa orang ‘oelama dari Djawa Timoer mengatakan, bahwa ada kalanja ta’lik kawin itoe dipakai orang dengan djalan jang tidak sah. Oléh karena itoe dipostélkannja soepaja ta’lik itoe dihapoeskan. (Dalam kongrés itoe terdengar poela soeara – oempamanja dari toean Mostaid Toeban – jang mengatakan bahwa ta’lik itoe pada ‘oemoemnja telah dipergoenakan sekian lamanja dengan baik sekali hasilnja. Tambahan poela pada djaman ini dimana-mana dioesahakan orang soepaja keadaan perempoean dalam perkawinan akan diperbaiki. Satoe djalan jang menoedjoe kepada tjita-tjita itoe, ialah ta’lik. Betapakah boléh djadi tak’lik jang baik hasilnja itoe dihapoeskan, hanja karena ada orang jang salah memakai perdjandjian itoe? Red P.P. [Pandji Poestaka].)

 

Karantina. Hadji jang baroe kembali dari Djoedah, jang dimasoekkan karantina, mesti membajar sehari semalam f 12,50 katanja. Akan tetapi tempat jang diberikan kepadanja sangat boeroek, katanja poela. Kalau ta’ salah, tiap-tiap orang hadji membajar tikét kapal itoe, soedah termasoek sesoeatoe djoemlah ± f 10.- oentoek ongkos selama ia masoek karantina. Red. P.P.). Oléh karena itoe kongrés akan mengirimkan sesoeatoe motie  kepada Pemerintah; dalam moetie itoe dipohonkan agar soepaja peri keadaan dalam los karantina diperbaiki, misalnja diadakan moekena (telekoeng); selimoet jang patoet; bantal dan kasoer hendaklah diboeat daripada kapas, djangan seperti sekarang ini diisi sadja dengan djerami atau roempoet; anak-anak hendaklah mendapat makanan sepantasnja, jaïtoe biskoeit Marie dan soesoe (Roepanja makanan ini keloear dari kebiasaan, karena diroemah atau dikampoeng kebanjakan tidak diberi makan biskoeit atau minoem soesoe, Red P. P.) djangan seperti sekarang diberi makanan oentoek orang toea; dikarantina minta diadakan soeatoe buffet dengan ditentoekan harganja; kalau ada hadji jang terserang penjakit jang menoelar, hendaklah hanja ia dengan koempelan jang berhoeboeng dengan dia sadja ditahan dikarantina, tapi djangan seantéro penoempang kapal seperti telah terdjadi sekarang.

Membedah majat. Kongrés memoetoeskan hendak menjampaikan soerat permohonan kepada Pemerintah Agoeng, agar soepaja majat orang Islam hanja dibedah (dipotong) kalau bergoena boeat perkara pengadilan. Demikian poela setelah ditjatat apa jang perloe boeat menentoekan tentang matinja orang itoe, isi peroet jang dipotong dan dikeloearkan itoe hendaklah dikembalikan poela kedalam peroet si mati.

Membaca chotbah. Tidak semoea Boemipoetera paham bahasa ‘Arab. Pembatjaan chotbah dalam bahasa ‘Arab itoe, ta’dapat diartikan dengan sesempoerna-sempoernanja oléh si pendengar. Di Soerabaja soedah lazim chotbah itoe diterangkan dalam bahasa Djawa serta ta’ ada rintangannja dari pihak bestuur. Itoelah sebabnja maka Nahdlatoel ‘Oelama minta soepaja dengan ‘oemoem chotbah itoe diterangkan dalam bahasa Boemipoetera serta hendaknja djangan ada larangan dari pihak Pemerintah.

Dalam kongrés itoe diadakan pilihan bestir baroe. Tempat kedoedoekan bestir, tetap di Soerabaja. Pada waktoe ini perhimpoenan hanja mempoenjai 8 tjabang, akan tetapi dalam kongrés banjak tetamoe dari tempat-tempat lain berdjandji akan mendirikan tjabang. Perhimpoenan “Nahdlatoel ‘Oelama” sekali-kali tidak mentjampoeri perkara politik, jang dioeroesnja hanja segala hal jang berhoeboeng dengan agama Islam djoea. (Pew. Soer. [Pewarta Soerabaja]).

***

Sumber: Majalah Pandji Poestaka, No. 85, TAHOEN VI, 23 OCTOBER 1928: 1431. Teks disalin sesuai ejaan aslinya. Kata-kata dalam tanda “[ ]” ditambahkan oleh penyalin. Ilustrasi juga merupakan tambahan dari penyalin.

Penyalin: Dr. Suryadi, MA, Leiden University, Belanda

Tjamboet No.19,TAHOEN KE I, Hari Saptoe 29 Juli 1933

Sumber: Surat kabar Tjamboet (Padang), No.19, TAHOEN KE I, Hari Saptoe 29 Juli 1933.

Catatan: Opera ini melakukan pertunjukan di Padang selama beberapa minggu. Menarik kiranya jika ada mahasiswa kreatif dan pintar yang mau meneliti (untuk tingkat disertasi) tentang the emergence of urban culture and entertainment di Padang pada awal abad ke-20. Bahan-bahannya banyak sekali tersedia di Perpustakaan Universiteit Leiden dan tentunya juga di beberapa perpustakaan lain di dunia.

Padang Genting

 

Djakarta, 8 Agoest (Antara)

      TADI malam B.B.C. (Londen) menjiarkan, bahwa seorang opsir Inggeris ditembak mati di Padang. Kini sedang dikirim kesana 2.000 serdadoe.” (A)

==============

Padang genting

Boekittinggi, 8 Agoest (Antara)

   BERHOEBOENG dengan penangkapan sewenang2 atas diri pembesar2 Indonesia oleh Inggeris/Nica di Padang maka Goebernoer Moeda Soematera Tengah Dr. Moh. Djamil telah mengirimkan kawat kepada pihak Serikat menoentoet soepaja mereka dibebaskan dengan segera, karena hal itoe moengkin akan mengganggoe keamanan jg. akibatnja tidak bisa ditanggoeng.

   Dari pihak jang boleh dipertjaja “Antara” mendapat kabar bahwa Kepala Polisi Padang bagian siasat tn. St. Boerhanoedin dan 14 polisi agen jang ditangkap oleh Serikat telah dimerdekakan kembali pada tg. 5/8 [1946].

     Tentang keadaan di Padang jang sebagai diketahui kini dalam keadaan katjau-balau karena perboeatan Inggeris/Nica dapat dikabarkan lebih djaoeh bahwa telah terjadi kebakaran di Alanglawas, jaitoe bagian kamp dikota Padang, hingga 4 roemah terbakar. Setengah djam kemoedian terdjadi poela kebakaran di Padangpasir dan di Kampoeng Perak. Djoega terdengar letoesan2 dari djoeroesan lapangan terbang di Tabing kira 15 km. dari Padang.” (B)

***

Salinan dari laporan surat kabar Ra’jat, No.236 TAHOEN KE I, KEMIS 8 AGOESTOES 1946 (A) dan No. 237, THOEN KE I, DJOEM’AT, 9 AGOESTOES 1946 (B) tentang tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh pasukan Inggris dan Belanda (NICA) di Padang pada awal Agustus 1946 kenyusul kedatangan mereka kembali ke Indonesia dengan alasan untuk memulihkan keamaanan negeri yang sudah ditinggalkan oleh Jepang itu. Namun, sebagaimana sudah sama kita ketahui, kedatangan tentara Belanda yang dibantu oleh pasukan Inggris itu dianggap oleh bangsa Indonesia sebagai upaya untuk menjajah Indonesia kembali.

Pasukan Inggris dan Belanda melakukan penangkapan-penangkapan dimana-mana. Mereka juga melakukan perusakan dan pembakaran rumah-rumah penduduk, serta menyita senjata dan fasilitas publik. Tindakan sewenang-wenang ini telah menimbulkan rasa antipati yang makin meluas di kalangan rakyat Indonesia.

Sejarah telah mencatat bahwa akhirnya Belanda secara resmi melakukan Agresi Militer Pertama (‘Aksi Polisionil’ menurut istilah mereka) pada 27 Juli 1947, yang kemudian dilanjutkan dengan Agresi Militer Kedua sejak 19 Desember 1948. Kedua agresi militer itu gagal. Rakyat Indonesia sudah bertekad untuk tidak mau dijajah lagi oleh Belanda.

Kiranya para sejarawan dapat melakukan investitasi historis lebih menyeluruh tentang apa yang telah dilakukan oleh gabungan pasukan Inggris (dengan tentara Gurkha-nya) dan Belanda dengan tentara  NICA-nya) dalam rentang waktu Agustus 1945 sampai Juli 1947. Pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan yang mereka lakukan setelah mendarat di Indonesia harus dipertanggungjawabkan. Penelitan KITLV dan mitra-mitranya tentang Indonesia pada periode 1945-1950 harus mengungkapkan pula dosa-dosa yang telah dilakukan oleh tentang Inggris di Indonesia, tidak hanya fokus kepada aksi-aksi brutal tentara Belanda saja.

Dr. Suryadi – Leiden University / Padang Ekspres, Minggu 27 Mei 2018

 

Posted by: niadilova | 23/11/2018

Puisi Nusantara 12: Osama Yogi: “AKOE PEMIMPIN?”

Dengan sombong menepoek dada.

Ta’ segan akoe berkata:

“Akoe pemimpin Moerba”,

“Pembawa bahagia Djelata”

 

Rakjat pertjaja.

Akoe dipoedja.

“mereka” koe-perkoeda,

Akoe kaja bertimboen harta.

 

Rakjat koebohongi

Dirikoe koe-tipoe

Hanja ontoek dirikoe sendiri.

 

Dimanakah kemanoesiaankoe?

adakah akoe dirikoe?

Hidoepkah akoe?

 

Akoe bentji pada dirikoe,

Karena dirikoe penipoe dirikoe.

Osama Yogi.

***

Sumber: Revolusioner, Madjalah Resmi Pesindo, Pemoeda Socialis Indonesia,No. 28 Tahoen I. 7 Oktober 1948:6.

Catatan: Tampaknya sajak ini menyindir pemimpin Partai MURBA (ejaan lama: MOERBA, Moesjawarah Rakjat Banjak), yang dianggapnya menipu masyarakat dan memperkaya diri  sendiri. Siapakah gerangan di antara 4 pemimpin partai MOERBA (Tan Malaka, Chaerul  Saleh, Soekarni, dan Adam Malik) yang disindirnya? Jika dilihat penampilan keempat orang  itu dalam foto-foto lama, yang paling parlente gayanya adalah Chaerul Saleh dan Adam Malik.

Sindiran ini tetap relevan sampai sekarang: banyak pemimpin partai di negeri ini hidup mewah. Mereka menipu rakyat dengan janji-janji manis, apalagi menjelang masa pemilu.

20180504_171216-crop

Sumber: Surat kabar Ra’jat, Membawa soeara-perdjoeangan Ra’jat mempertahankan    Repoeblik Indonesia, No. 144, Tahoen KE I, Senin 22 April 1946.

PERAJAAN DAN PERALATAN DI SOELIT-AIR

Ketika Mr. M. Djamin diberi bergelar Datoek Soetan Maharadja Besar

Pada bolean Februari j.l. [1932] ini t. Mohammad Djamin soedah sampai kembali ketanah air beliau (Soelit-Air) dengan membawa daradjat Meester in de rechten dari Nederland [Sekolah Tinggu Hukum di Leiden; sekarang Universiteit Leiden]. Baroe-baroe ini beliau diangkat mendjadi advocaat dan procureur pada Raad van Justitie di Padang, jaïtoe diiboe negeri tanah air beliau.

Mr. M. Djamin foto 1

Pada hari Kamis 4 Augustus 1932 ini sekalian penghoeloe dan orang tjerdik pandai dalam negeri Soleit-Air telah mengadakan kerapatan diatas balai-balérong ‘adat negeri Soelit-Air, memoetoeskan bahasa Mr. M. Djamin diangkat oléh negeri mendjadi “Orang gedang seorang senegeri”, jaïtoe menoeroet ‘adat jang soedah biasa terpakai di Soelit-Air dengan memakai gelar “Datoek Soetan Maharadja Besar”, sebagai oelasan marhoem datoek Soetan Maharadja Redacteur Oetoesan Melajoe di Padang.

Kepoetoesan moefakat kerapatan negeri itoe di’oemoemkan pada hari Ahad 18 September 1932 ini dengan mengadakan perdjamoean besar memotong tiga ékor kerbau, dan memenoehi ‘adat jang lazin jaïtoe: ‘adat diisi lembaga ditoeang, darah dikalikan dalam, tandoek digantoengkan tinggi, koean dikatjau daging dilapah (‘adat mendirikan penghoeloe). Perdjamoean ini diadakan diatas balai2 ‘adat negeri dengan mendapat mendapat perhatian jang loear biasa dari anak negeri, demikian lagi dari tamoe-tamoe jang dioendang dari negeri-negeri jang berkeliling.

Kira-kira poekoel 12 teengah hari waktoe jang terseboet, Mr. M. Djamin soedah memakai pakaian ‘adat penghoeloe tjara Minangkabau dengan setjoekoepnja. Dari roemah ‘adat poesaka beliau, beliau diarak oléh kira-kira 80 orang penghoeloe dengan memakai kebesaran; dibelakang arakan itoe kelihatan lagi kira-kira 100 orang perempoean jang mendjoedjoeng boenga sirih jang terhias, sebagai kebesaran dan menambah semarak perarakan terseboet. Oepatjara itoe berdjalana keliling kota, achirnja menoedjoe kebalai-balai ‘adat jaïtoe ditempat djamoean diadakan. Sesampainja dipintoe gerbang jang soedah terhias lagi dengan oekiran hoeroef “selamat datang”, perarakan itoe disamboet dengan dentoem bedil bertoeroet-toeroet toedjoeh kali, ‘alamat kebesaran. Ketika djamoean sedang hadir, doea tiga orang penghoeloe berpidato dengan pandjang lébar menoeroet ‘adat; oedjoednja meng’oemoemkan kepada jang hadir moelaï waktoe itoe Mr. M. Djamin telah bergelar Datoek Soetan Maharadja Besar.

Poekoel 3 léwat sedikit setelah segala djamoe selesai makan minoem dan wang ‘adat soedah dibagi-bagi, perdjamoean itoepon disoedahlah dengan do’a selamat.

Sebagai penoetoep, rasanja ada djoega berfaédah djika penoelis bentangkan dengan ringkas sedjarah Mr. M. Djamin gl. Dt. Soetan Maharadja Besar itoe, ahar pembatja ketahoei.

Mr. M. Djamin foto 2

Mr. M. Djamin gl. Dt. Soetan Maharadja Besar dilahirkan di Soelit-Air (Solok) pada tahoen 1903. Beliau anak dari mendiang Dt. Malin Maharadja gep.[ensioneerd] Penghoeloe Kepala Soelit-Air; tjoetjoe kandoeng dari marhoem Dt. Radjo Mansoer Larashoofd Soelit-Air jang penghabisan; kemenakan dari Dt. Radjo Mansoer Menteri politie 1e kl. Medan jang sekarang. Djadi sebeloemnja beliau memakai gelar ‘adat poesaka beliau sendiri, telah diangkat oléh negeri memakai gelar “Dt. Soetan Maharadja Besar”.

Pada tahoen 1909 beliau moelaï mengoendjoengi bangkoe sekolah partikoelir (Volkschool) di Soelit-Air; tahoen 1912 masoek sekolah Gouv.[ernement] kl. II Singkarak dan tahoen 1913 masoek sekolah H.I.S. di Solok.

Setelah tammat pada H.I.S. Solok th. 1917, beliau toeroet dalam oedjian bakal djadi moerid Kweekschool di Fort de Kock. Dalam oedjian ini beliau dapat pontén jang paling baik, tetapi sajang tidak dapat diterima karena menoeroet keterangan dokter ada berpenjakit {1402} dada. Tahoen itoe djoega beliau diterima di kl. I pada sekolah M.u.l.o. di Padang; setelah tammat teroes masoek Rechtschool di betawi.

Sesoedah beliau loeloes dalam oedjian penghabisan disekolah hakim [di Betawi] pada tahoen 1922, diangkatlah mendjadi Griffier dibantoekan pada Landraad Padang. Tidak lama kemoedian ketika Sekolah Hakim Tinggi (Rechthoogeschool) diboeka di Betawi, beliau diterima lagi mendjadi stoedén disana. Sebeloemnja beliau menamatkan sekolah itoe, atas permintaan beliau sendiri pada pertengahan tahoen 1927 bertolaklah beliau menoedjoe tanah dingin [Belanda], akan melandjoetkan ‘ilmoe kehakiman itoe.

Dengan selamat sekaran gbeliau telah berada kembali disisi ahli pamili beliau dengan memangkoe daradjat jang moelja.

Selama beliau dalam peladjaran dari awal sampai achirnja teroes-meneroes mendapan pontén jang tertinggi. Dalam perloembaan djarang sekali no. 2, malahan selaloe dimoeka.

Achiroe’lkalam kita berseroe, moga2 pandjanglah ‘oemoer beliau, selamat sedjahteralah sekalian ahli pamili beliau dan bertambah lapanglah djalan jang beliau toeroet itoe bagi pemoeda Minangkabau, amin!

S.M. {1403}

***

Sumber: Majalah Pandji Poestaka, No. 89, TAHOEN X, 4 November 1932, hlm.1402-1403. Artikel ini disalin sebagaimana versi aslinya, dengan sedikit tambahan dalam tanda “[ ]”. Ilustrasi berasal dari artikel aslinya (hlm. 1402).

Penyalin: Dr. Suryadi, Leiden University, Belanda

Catatan: Tentang Mr. Mohammad Djamin Dt.Maharadja Besar, meninggal pada hari Sabtu, 10 Mei 1957 di Cipanas dan dimakamkan di TPU Karet Jakarta, lihat juga: https://niadilova.wordpress.com/2015/01/05/minang-saisuak-204-mr-mohammad-djamin/. Menarik juga dicatat bahwa beliau adalah seorang anggota terkemuka organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) yang secara historis berakar di Jawa. Mungkin oleh sebab itulah dia melarang disebarkannya paham Muhammadiyah di Sulit Air, yang sampai menimbulkan protes dalam masyarakat di kampungnya (lihat artikel “Biar saja tak beradat asal saja beragama: Pledooi Dt. Madjo Bongsoe menjamboet vonnis kerapatan adat negeri Soelit Air jang dikepalai oleh Mr. [Mohammad Djamin] Dt. St. Maharadja Besar.” yang dimuat dalam surat kabar Tjamboet [Padang], No. 34 TAHOEN KE I, HARI ARBA’A 20 SEPT 1933).

Nieuwe Digoelbewoners.

Permi en P.S.I. leider Verbannen.

   In overeenstemming met den Raad van Nederlandsch-Indië s krachtens artikel 37 de Indische Staatsregeling aan:

     Iljas Jakoeb, onder-voorzitter van het Hoofdbestuur van de “Persatoean Moeslimin Indonesia” (Permi) te Asahan (sic) Koembang, Residentie Sumatra’s Westkust;

     Hadji Djalaloedin Thaib, gelar Datoek Panghoeloe Besar, voorzitter van het Hoofdbestuur van de “Persatoean Moeslimin Indonesia” (Permi) te Balingka, Residentie Sumatra’s Westkust;

      Sabillal Rasad alias Rasad Jacub gelar Datoek Bandaharo, lid en commissaris van het Hoofdbestuur te Manindjau van de “Partai Sarekat Islam Indonesia”, te Manindjau, Residentie Sumatra’s Westkust en[;]

     Hadji Oedin Rahmany, van beroep Godsdienst-onderwijzer, lid en voorzitter van het afdeelings-bestuur te Manindjau van de “Partai Sarekat Islam Indonesia”, te Loeboek Basoeng, Residentie Sumatra’s Westkust, in het belang van de openbare rust en orde de hoofdplaats der tijdelijke onderafdeeling Boven-Digoel, afdeeling Amboina, Gouvernement der Molukken, tot verblijf aangewezen.”

***

Salinan berita dari koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 21 Juli 1934 tentang pendigulan empat orang intelektual Minangkabau (pemimpin Permi dan PSI). Rezim Kolonial Belanda mendakwa mereka telah melanggar pasal 37 Indische Staatsregeling (Undang-undang Negara Hindia Belanda). Mereka yang menjadi penghuni baru Digul (nieuwe Digoelbewoners) itu adalah: Iljas Jakoeb, Hadji Djalaloedin Thaib gelar Datoek Pangholoe Besar, Sabillal Rasad alias Rasad Jacub gelar Datoek Bandaharo dan Hadji Oedin Rahmany (lihat juga: Eindhoven Dagblad, 07-08-1934).

Seperti dapat disimak dalam laporan di atas, Iljas Jakoeb adalah Wakil Ketua Permi (Persatoean Moeslimin Indonesia) yang berasal dari Asam [bukan Asahan] Kumbang, Onderafdeeling Painan. Usianya baru 32 tahun saat dikirim ke Digul pada 1934. (Berarti dia lahir tahun 1902) (lihat: De Indische Courant, 24-07-1943 [artikel: “Naar Boven-Digoel”]).

Hadji Djalaloedin Thaib berusia 37 tahun waktu ditangkap (1934). Ketua pengurus pusat Permi ini adalah putra Minangkabau kelahiran Balingka pada 1897.

Sabillal Rasad lahir di Maninjau pada tahun 1907. Waktu ditangkap pada 1934, dia baru berusia 27 tahun. Pria yang ketika ditangkap ini disebut “zonder beroep” (tanpa pekerjaan) ini adalah pengurus pusat Partai Sarekat Islam Indonesia (P.S.I.).

Sedangkan Hadji Oedin Rahmany berusia 35 tahun saat ditangkap pada 1943. Pria kelahiran Lubuak Sikapiang pada tahun 1899 ini bekerja sebagai guru agama (godsdienstonderwijzer) dan menjadi anggota pengurus P.S.I. di Maninjau.

Sebelum dikirim ke Digul, Hadji Oedin Rahmany dipenjara di Payakumbuh, sedangkan tiga orang lainnya  (Iljas Jakoeb, Hadji Djaloedin Thaib dan Sabillal Rasad) dipenjara di Padang (Soerabaijasch Handelsblad, 23-07-1934).

Mungkin akan memberi banyak manfaat secara akademik apabila ada sejarawan Sumatera Barat yang menulis buku yang berisi biografi singkat orang-orang Minangkabau yang pernah didigulkan oleh Rezim Kolonial Hindia Belanda yang represif itu.

**

Dr. Suryadi – Leiden University / Padang Ekspres, Minggu 20 Mei 2018

20180702_161632-crop.jpg20180703_110008-crop

Catatan: Sepanjang tiga perempat pertama abad ke-20, lebih-lebih lagi pada paroh pertamanya, begitu banyak media Islam terbit di Indonesia. Satu di antaranya adalah Al Islam yang iklannya disajikan dalam portal “Ilan klasik Nusantara” nomor ini. Studi yang mendalam terhadap media-media Islam seperti ini belum banyak dilakukan. Kehadiran media Islam yang begitu beragam pada masa itu tidak lepas dari posisi sosial-politik umat Islam Indonesia yang sering mendapat represi dari kekuasaan kolonial dan juga oleh rezim yang memerintah Indonesia sendiri di zaman kemerdekaan. Kini media-media Islam seperti ini tidak sebanyak dulu lagi.

Sumber: Mimbar Ra’jat, Th. 1, No. 1-25, 1 Maart – 4 Mei 1925

Foto Sjaiful Bahri-cropBila mendengar nama ‘Orkes Sjaiful Bahri’ (didirikan di Jakarta, 1951), tentulah hal itu mengingatkan kita kepada nama seorang Minangkabau yang pernah malang melintang di blantika musik Indonesia dan Malaysia pada tahun 1950-an sampai 1970an. Ia tiada lain adalah Sjaiful Bahri, tokoh rubrik ‘Minang saisuak’ kali ini.

Riwayat hidup Sjaiful Bahri (di Malaysia namanya antara lain ditulis: ‘Saiful Bahri’) belum banyak diungkap dan diteliti orang, berbeda dengan Zubir Said, putra Minangkabau lain yang juga menjadi legenda musik Nusantara, yang menciptakan lagu kebangsaan Singapura, “Majulah Singapura” (lihat: Hasril Chaniago, 101 Orang Minang di Pentas Sejarah, Padang: Citra Budaya, 2010: 550-552).

Sjaiful lahir di Payakumbuh pada 19 September 1922 dari keluarga biasa. Ia 11 orang bersaudara. Pendidikannya dimulai dari INS Kayu Tanam tempat ia memulai bakat musiknya. Tahun 1941, ia sudah hijrah ke Jakarta dan menjadi pemain biola di Orkes Studio Jakarta. Setelah itu namanya makin berkibar di dunia musik. Setelah Indonesia merdeka, Sjaiful sering bernyanyi di Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Ia berkenalan dengan Ismail Marzuki yang mengetuai RRI Jakarta. Tahun 1954 Ismail Marzuki wafat dan Sjaiful menggantikan posisinya di RRI Jakarta. Sebelumnya, pada 1951 Sjaiful membentuk ‘Orkes Sjaiful Bahri’ yang menjadi salah satu legenda dalam blantika musik Indonesia pada tahun 1950-an dan 60-an. Aransemen musik dan lagu-lagu ciptaan Sjaiful juga banyak dipakai film-film Indonesia pada masa itu. Ia bersahabat baik dengan tokoh film Indonesia Usmar Ismail. Musik pengiring film ‘Tiga Dara’ yang terkenal yang disutradarai Usmar Ismail adalah gubahan Sjaiful.

Di akhir 1950an, Sjaiful tinggal beberapa lama di Malaysia. Ketika itulah ia terlibat dalam mempersiapkan lagu kebangsaan Malaysia, ‘Negaraku’. Lebih dari itu, ia juga terlibat dalam mempersiapkan anthem state Malaka, ‘Malaka Mamu Jaya’. Tampaknya Tunku Abdul Rahman, pemimpin Malaya yang kemudian menjadi Perdana Menteri Malaysia pertama, sengaja mengundang Sjaful untuk urusan persiapan lagu kebangsaan Malaysia ini. Turut juga diundang Zubir Said yang waktu itu bermukim di Singapura. Tanggal 31 Agustus 1957, untuk pertama kalinya ‘Negaraku’ dinyanyikan di Kuala Lumpur, menandai merdekanya Malaysia dari Inggris. Lebih jauh tentang peran Sjaiful dalam penciptaan lagu ‘Negaraku’ , silakan baca buku Saidah Rastam, Rosalie and Other Love Songs (Petaling Jaya: Strategic Information and Research Development Centre, 2017, 2nd ed.: 225-235) dan disertasi Shazlin Amir Hamzah, ‘Penjenamaan Bangsa: Lagu-lagu Patriotik Popular dan Pembentukan Jenama Malaysia’ (Universiti Kebangsaan Malaysia, 2016).

Dari kedua rujukan di atas dapat disimpulkan: Sjaiful hijarah ke Kuala Lumpur menyusul keputusan Soekarno melancarkan politik konfrontasi terhadap Malaysia pada Juli 1963. Ia meninggalkan karir prestisiusnya sebagai pemusik terkenal di Jakarta karena tidak setuju dengan keputusan Rezim Soekarno yang melancarkan politik konfrontasi melawan Malaysia.

Sjaful ‘menyembunyikan diri’ di Malaysia. Ia memakai nama samaran ‘Surya Buana’, karena takut diuntit oleh mata-mata Indonesia. Maklum, situasi konfrontasi antara kedua negara jiran yang baru merdeka itu cenderung memanas. Sjaiful rupanya menyukai Malaysia, yang juga sudah dikunjunginya sebelumnya, karena menurutnya lebih cantik dan lebih tenang, berbeda dengan Jakarta yang selalu penuh dengan hiruk-pikuk politik. Seorang seniman seperti Sjaful tentu tidak suka kekerasan. “I was impressed by the racial harmony of this country…I am artist. I don’t like confrontation anymore than many other Indonesians…Even music in Indonesia is not free from politics”, ungkapnya dalam koran Straits Times (17-11-1963) sebagaimana dikutip oleh Saidah Rastam (op.cit.: 229).

Belum ditemukan data pasti berapa banyak agu yang sudah diciptakan Sjaiful. Yang jelas, banyak lagunya menjadi hit dan melegenda sampai kini, antara lain ‘Semalam di Malaya’ [kata ‘Malaya’ kemudian berganti menjadi ‘Malaysia’] yang tetap dinyanyikan orang sampai sekarang. Agak aneh, di negeri asal sendiri [Indonesia], nama Sjaful seolah tenggelam, sementara di Malaysia, ‘tanah air keduanya’, namanya abadi lewat lagu-lagu ciptaannya, seperti ‘Berjaya’, ‘Muhibbah’, ‘Prajurit Tanah Ayer’, ’Kenangan Masa’, ‘Fajar Harapan’, ‘Surat Tak Bernama’, dan ‘Serunai di Waktu Malam’. yang tetap dinyanyikan di negara jiran itu sampai sekarang. Lirik beberapa lagu Sjaiful merefleksikan perasaan cinta dan kagum kepada masyarakat dan tanah Semenanjung Malaya (sekarang: Malaysia). Di Malaysia Sjaiful aktif di lapangan kebudayaan dan seni, antara lain dalam Orkes Radio Malaya dan institusi Filem Negara Malaysia. Ia menjadi guru dan panutan banuak seniman muda Malaysia pada waktu itu, termasuk P. Ramlee, artis Malaysia yang terkenal di zamannya.Nasib seorang musikus mungkin begitu: lagu-lagunya abadi, tapi namanya cendung dilupakan orang.

Selama hidupnya, Sjaiful menikah tiga kali: Istri pertama di Indonesia (yang diceraikan sebelum hijrah ke Malaysia) dan istri lainnya di Malaysia. Sjaful Bahri wafat pada 5 Desember 1976 di Tokyo ketika ia sedang menggarap soundrack untuk film ‘Wulan di Sarang Penculik’. Jenazahnya dibawa ke Jakarta, kota yang telah membesarkannya di dunia musik, dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Innalillahi wainailaihi rajiun! Harta Allah akhirnya akan kembali kepadaNya.

Sumber foto: koran Malaysia [Berita Harian?] kiriman Dr. Shazlin Amir Hamzah yang tarikhnya belum diketahui [tapi tak lewat dari 1968].

Suryadi – Leiden University, Belanda

Older Posts »

Categories