Si Gantang 1c

Catatan: Inilah penampilan si Gantang, salah seorang perampok atau bandit yang amat ditakuti di Betawi (Batavia) pada tahun awa abad ke-20.  Si Gantang, mirip si Pitung, sering diberi label ‘bandit’ atau ‘pengacau keamanan’ oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, lantaran mereka sering melakukan perampokan yang konon lebih sering memakan korban pada pedagang Cina kaya yang dianggap dekat dengan penjajah Belanda. Hasil rampokan mereka sering dibagi-bagikan kepada orang miskin. Istilah ‘buaya Betawi’ yang dilekatkan kepada orang-orang seperti si Gantang ini jelas mengandung pengertian yang agak negatif: laki-laki yang berkelakuan preman, cenderung kasar, hidup bebas (walau mungkin beristri/berkeluarga) dan suka menggoda wanita-wanita cantik. Di sini diturunkan juga foto seorang ‘buaya betawi’ cilik. Selain ‘buaya Betawi’, kita juga mengenal istilah ‘buaya Deli’ sebagaimana disebut dalam buku Parada Harahap, Dari Pantai ke Pantai: perdjalanan ke-Soematra, October – Dec. 1925 dan  Mart-April 1926. Weltevreden: Uitgevers Maatschappij ‘Bintang Hindia’, 1926. Lebih jauh tentang dunia perbanditan di Hindia Belanda, bacalah buku Margreet van Till, Banditry in West Java, 1869-1942 (Penerjemah: David McKay and Beverley Jackson), Singapore: NUS Press, 2011.

89886400_515919212459934_4647414416843735040_nurv

Sumber foto Bandera Wolanda [No. 74, 1911], hlm. 5

    “Diterima a f 200. Tanggal 22 bulan ini [Oktober 1919] bestuur Sjarikat Oesaha telah menerima satoe postwesel besarnja f 200 dari engkoe Abdul Moerad gelar Mangkoeto Garang, dinjatakan dalam postwesel itoe, oentoek Adabiahschool, dari peninggalan harta Societeit di Air Bangis, jang baroe dimatikan oleh poetoesan vergadering ledennja.

    Mengenang pemberian ini, amatlah besar harganja dalam pergaoelan dimasa ini, soeatoe boekti dan alasan jang bergantoeng kepada pikiran dan pemandangan, kenang-kenangan soetji jang dikandoeng dalam gerakan sjarikat Oesaha atas perdjalanan membangoenkan sikap onderwijs jang amat bergoena.

    Segala keadaan sipat-sipat, boeroek baik, akan dapat belaka peisi boekoe peringatannja.

    Lebih dioetamakan terima kasih dalam kedatangan pemberian dari Ajer Bangis ini, sesoeatoe peringatan atas penginggalan “bangoenan” jang diperboeat oleh moepakat jang banjak, poen peninggalannja itoe disampaikan atau tersampai djoega kepada goena orang banjak.

    Atas pemberian ini, vereeniging Sjarikat Oesaha meoetjapkan terima kasih kepada engkeo engkoe di Ajer Bangis itoe.

                                                                           Atas nama bestuur

  1. Taher secretaries

***

Laporan surat kabar Tjaja-Soematra (Padang), No. 92, Tahoen ke 23, Hari Selasa 28 Oktober 1919 tentang sumbangan yang diterima dari masyarakat untuk pembangunan Adabiahschool di Padang.

Sebagaimana sudah diungkapkan dalam sejumlah studi tentang sejarah pendidikan dan modernisme di Minangkabau, Adabiahschool adalah salah satu sekolah swasta yang cukup bergengsi yang pendiriannya diusahakan oleh kaum intelektual Minangkabau pada dekade kedua abad ke-20. Adalah Sjarikat Oesaha yang berada di bawah pimpinan Taher Marah Soetan yang berinisiatif mendirikan sekolah ini. Taher yang bekerja di Emmahaven (Teluk Bayur) mendirikan Sjarikat Oesaha pada tahun 1914 dengan tujuan antara lain untuk memajukan masyarakat Minangkabau melalui pendidikan (onderwijs) modern (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2015/04/06/minang-saisuak-217-taher-marah-soetan-1890-1953-goodfather-nya-kaoem-pergerakan/; diakses 4-3-2020).

Perguruan Adabiah yang sampai sekarang masih ada di Padang adalah salah satu warisan dari usaha nyata Taher dan kawan-kawannya. Taher mulai merintis pembangunan sekolah partikulir ini tahun 1915, tapi baru setahun sesudahnya (1916) berdiri secara resmi dan diberi subsidi penuh oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Wartawan kawakan Parada Harahap yang pernah mengunjungi sekolah ini mencatat: “[W]aktoe pemboekaan sekolah itoe tahun 1916, moeridnja tjoema 90 orang, dalam mana ada 75 laki[-laki] dan 15 perempoean.” Tapi pada tahun 1925, saat ia mengunjungi sekolah ini, jumlah muridnya sudah berkembang menjadi “3 sekolah, jaitoe Adabiah I boeat H.I.S., Adabiah II H.I.S. dan satoe lagi Frobelschool.” Jumlah muridnya sudah mencapai 750 orang yang diajar oleh 4 guru Eropa (yang punya hoofdacte) dan 12 guru pribumi (7 lelaki, 2 perempuan).

Parada begitu terkesan dengan kerapian administrasi sekolah ini dan dedikasi dan wibawa Taher yang begitu tinggi di kalangan guru-guru Adabiah school dan intelektual pribumi di Padang pada umumnya (Parada Harahap, Dari pantai ke pantai: perdjalanan ke-Soematra, October – Dec. 1925 dan Maart – April 1926. Weltevreden: Uitgevers Maatschappij ‘Bintang Hindia’, 1926, hlm.103-4).

Rupanya di awal pendirian Adabiahschool ini sejumlah orang sudah menyumbangkan dana untuk menyokong pembangunan gedung dan peralatan sekolah ini, antara lain adalah “engkoe Abdul Moerad gelar Mangkoeto Garang”, sebagaimana disebut dalam salinan berita Tjaja-Soematra di atas. Uang f 200 yang disumbangkannya berasal dari kas sebuha societeit di Air Bangis yang baru ditutup. Jadi, kita dapat mengetahui bahwa masyarakat Air Bangis sudah ikut pula menyumbang untuk pembangunan Perguruan Adabiah ini dulunya.

Tjaja-Soematra edisi Hari Saptoe 8 November 1919, No. 97, Tahoen ke 23 mencatat pula seorang donatur lain:

      “Sjarikat Oesaha. Semalam bestuur Sjarikat Oesaha telah menerima derma dari Engkoe Mohamad Anin gelar Radja Endah Soetan di Pasar Gedang disini oeang banjaknja f 100, goena penolong peroesahaan pendirian sekolah Adabiah. Pertolongan jang beliau djatoehkan oentoek faedah dan kegoenaan orang banjak itoe, njatalah boekan sedikit nilainja, karena nampaklah pertolongan itoe akan mementingkan dan memerloekan faedah oentoek bangsa dan tanah ajer, dimana beliau telah berasa bahwa kemadjoean bangsa itoe, maoelah ditenagai dengan roepa roepa pertolongan. Djadinja keadaan beliau itoe bertentangan sekali kemaoean setengah bangsa kita jang tiada soedi dan tiada senang hatinja melihat pendirian Adabiahschool jang akan melamboek anak kemanakannja akan mendjadi orang jang tjerdas. Kepada beliau bestuur Sjarikat Oesaha meoetjapkan banjak terima kasih.”

Jadi, donatur kedua ini bernama “Engkoe Mohamad Anin gelar Radja Endah Soetan” yang tinggal di Pasar Gadang. Donasinya sebesar f 100 kepada Sjarikat Oesaha juga dimaksudkan untuk menyokong pembangunan Adabiahschool.

Satu refleksi yang dapat dikemukanan merujuk kepada kedua laporan di atas adalah bahwa pada awal abad ke-20 tampaknya masih banyak orang Minangkabau yang belum percaya akan manfaat pendidikan untuk “melamboek anak kemanakan [supaya] mendjadi orang jang tjerdas” dan “faedah[nja] oentoek bagsa dan tnah ajer.”

Orang-orang yang memberikan sumbangan (moril dan materil) bagi pembangunan Adabiahschool dinilai sebagai individu yang sudah berpikiran maju, yang memiliki “alasan jang bergantoeng kepada pikiran dan pemandangan” yang sudah terbuka dan tercerahkan. Ini “bertentangan sekali [dengan] kemaoean setengah bangsa kita jang tiada soedi dan tiada senang hatinja melihat pendirian Adabiahschool.

Demikianlah sekelumit catatan sejarah mengenai awal pendirian Adabiahschool di Padang. Semoga Perguruan Adabiah terus eksis dan berjaya, dan semangat gotong royong dalam mewujudkan hal-hal yang baik tetap kekal dalam masyarakat Minangkabau.

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 8 Maret 2020.

COPIE OVER SI PATAI

De schrijver krijgt negen maanden.

     Semaoen Bakry, afkomsting uit Koerai Tadji Pariaman, thans te Bengkoelen woonachtig, schreef een boekje getiteld “Si Patai”. Zoals deze titel reeds aangeeft,

Werd in dit werkje, het leven beschreven van den communist “Si Patai”, bij vele onzer lezers nogbekend, als zijnde de hoofdleider van de communisten-relletjes, welke zich voorde den in de Ommelanden van Padang, in het jaar 1926 en voor de bedwinging waarvan militairen uit Java warden gedirigeerd.

     De Schrijver wilde zijn boekje bij de drukkerij Roman Pergaoelan te Fort de Ko[c]k doen drukken, waartoe hij de copy per post Fort de Kock verzond. De copy kwam in handen van de censuur, die haar door nam, en toen bevond, dat deze schrijverij niet bevordelijk is voor de openbars rust en orde, vooral in tijden als deze.

     Semaoen Bakry werd door de Politie te Bengkoelen aan de verhoor onderwerpen, en tot nader onderzoek aangehouden.

     De Landraad te Bengkoelen heeft thans, volgens de “Sum. Bode”, uitspraak gedaan in deze zaak en vonnis geveld, waarbij Semaoen Bakry tot 9 maanden gevangenis straf is veroordeeld wegens overtreding van artikel 153 bis van het Wetboek van Strafrecht.

***

Laporan koran De Sumatra Post, 8 Maret 1941 tentang Semaoen Bakry, putra Kurai Taji Pariaman, yang mendapat hukuman penjara 9 bulan di Bengkulu. Inti dari laporan di atas kurang lebih sebagai berikut:

Semaoen Bakry, dari Kurai Taji Pariaman, saat ini tinggal di Bengkulu, menulis sebuah buklet (buku kecil) yang berjudul “Si Patai” yang dari namanya jelas sudah sama diketahui umum adalah seorang pemimpin utama dalam kerusuhan komunis yang terjadi di Padang Ommelanden Padang pada 1926 sebelum akhirnya berhasil ditewaskan oleh Belanda (Mengenai cerita Si Patai ini yang dengan beberapa pengikutnya berhasil ditewaskan Belanda, lihatlah: https://niadilova.wordpress.com/2015/10/19/minang-saisuak-239-tewasnya-si-patai-maharajo-jambi/; diakses 27-02-2020).

Naskah buku itu dikirim ke Fort de Kock (Bukittinggi) melalui pos untuk minta dicetak di percetakan Roman Pergaoelan di kota itu. Akan tetapi rupannya salinan naskah buku itu jatuh ke tangan penyensor (otoritas kolonial Hindia Belanda) yang menemukan bahwa isinya tidak kondusif atau berbahaya untuk perdamaian dan ketertiban masyarakat, terutama sekali pada saat-saat sekarang ini.

Semaoen Bakry kemudian diinterogasi oleh polisi Bengkulu dan ditangkap untuk penyelidikan lebih lanjut. Landraad setempat memproses penulisnya secara hukum dan menjatuhkan putusan: Semaoen Bakry dijatuhi hukuman 9 bulan penjara karena melanggar pasal 153 bis KUHP Hindia Belanda.

Dalam buku karangan S. Fuad Bakry (anak Semaoen Bakry) dan Teguh Wiyono, Samaun Bakri Sang Jurnalis (2014) – jadi, nama ditulis ‘Samaun Bakri’ – disebutkan bahwa Semaoen Bakry lahir di Kurai Taji tanggal 28 April 1908, anak dari pasangan suami-istri Bagindo Abu Bakar (keturunan Raja Ulakan) dan Siti Sjarifah (hlm. 28, 107). Semaoen menikah 5 kali: dengan Rakiyah asal Pasa Talang (waktu Semaoen masih berumur 18 thn), dengan Zubaedah asal Sunur (kampung penulis), dengan Hafsah asal Ampalu, dengan Siti Maryam asal Batang Tajongkek Kurai Taji (anak sepupu Haji Mangan), dan dengan Nursima asal Sungai Rotan (h.72, 105-7).

Semaoen Bakry adalah seorang wartawan yang cukup trengginas di zamannya. Ia aktif dalam perjuangan tanah airnya dalam merebut kemerdekaan dan pasca 1945 ketika Belanda melakukan agresi terhadap Indonesia. Semaoen cukup dekat dengan Soekarno di masa-masa perjuangan. Ia adalah salah seorang saksi dari kalangan angkatan muda republiken dalam penyusunan naskah Proklamasi (Bakry & Wiyono, ibid.:145-49). Puncak karir politiknya adalah menjadi Wakil Residen Banten tahun 1947 (ibid.:252).

Dalam buku Bakry dan Wiyono yang disebutkan di atas, diceritakan masa perantauan Semaoen di Bengkulu (Bagian III, khususnya h.73-94). Ia berada di sana sejak 1938 dan menyambut Soekarno yang tempat pembuangannya dipindahkan Belanda ke Bengkulu dari Ende (foto Semaoen bersama Soekarno ada di h.76). Waktu itu Semaoen sudah aktif dalam organisasi Muhammadiyah (yang sudah dicemplunginya sejak berada di kampugnnya di Kurai Taji). Di Bengkulu Semaoen menerbitkan koran Sasaran yang kemudian dibredel Belanda. Lalu diterbitkannya pula koran baru, Penabur, yang kemudian juga dibredel Belanda.

Cerita tentang buku “Si Patai” ada di halaman 90-91 buku Bakry dan Wiyono. Rupanya Semaoen menulis cerita Si Patai dengan versi yang berbeda dengan versi Belanda yang mengatakan bahwa pahlawan rakyat Pauah (Padang Ommelanden) itu adalah pantolan komunis dan bandit yang meresahkan masyarakat. Padahal ia adalah seorang pejuang yang sangat anti Belanda. Namun, dalam buku Bakry dan Wiyono dikatakan bahwa Semaoen dihukum 4 tahun penjara karena kasus buku “Si Patai” itu, berbeda dengan laporan di atas yang menyebut hukuman 9 bulan. Disebutkan juga (h.89) bahwa buku “Si Patai” itu diterbikan di Medan, bukan di Fort de Kock (oleh penerbit Roman Pergaoelan).

Semaoen Bakry wafat dalam kecelakaan pesawat terbang RI Dakota 002 tahun 1948. Bakry dan Wiyono (ibid.) menulis: “[D]di pagi buta, tanggal 30 September 1948, kapten pilot Bobby Freeberg (yang dalam laporan-laporan koran Belanda disebut ‘eenmansluchtmacht van de republiek’) memulai penerbangan Maguwo-Bukittinggi [dengan pesawat Dakota RI 002]…dengan lima awak dan satu penumpang. Selain kapten pilot Bobby Freeberg tercatat awak kopilot Bambang Saptoadji, ahli Teknik Sumadi, operator radio Suryatman, dan pilot kedua Santoso. Sedangkan satu-satunya penumpang adalah Wakil Residen Banten Samaun Bakri (sic).

Pesawat tersebut sukses tinggal landas dari Pangkalan Udara Maguwo. Sebagaimana biasa, pesawat RI-002 kerap melakukan black flight… guna menghindari pesawat-pesawat pemburu milik Belanda yang banyak berpangkalan di Sumatera dan Jawa.”Rupanya pesawat itu membawa 20 kg emas dan rencananya akan menemui Wakil Presiden Mohammad Hatta di Bukittinggi, selanjutnya akan terbang ke Birma.

Ada isu bahwa emas itu akan ditukarkan untuk mendapatkan senjata di luar negeri. Namun, pesawat itu hilang di atas udara Sumatera Bagian selatan pada 1 Oktober 1948, dan 20 kilogram emas itu tak pernah diketahui keberadaannya sampai sekarang. Ada dua isu yang beredar: 1) pesawat RI-002 dipaksa mendarat di daerah pendudukan Belanda Lampung, kemudian disuruh terbang lagi tanpa 20 kg emas itu; 2) pesawat RI-002 dipaksa mendarat di daerah pendudukan Belanda di Palembang, sebagaimana dilaporkan banyak media pada waktu itu, tapi disangkal oleh Belanda (Bakry dan Wiyono, ibid.:248-49).

Koran-koran Belanda cenderung memberitakan bahwa pesawat itu, dengan 20 kg emas di dalamnya, berencana membeli senjata gelap (smokkel wapens) untuk menyokong perjuangan Republik Indonesia (lihat misalnya: Het Vrije Volk: Democratisch-Socialistisch Dagblad, 13-10-1948; De Tijd: Godsdienstig-Staatkundig Dagblad, 13-10-1948).

Sekitar 30 tahun kemudian, bangkai pesawat RI-002 ditemukan oleh seorang penduduk desa Lesung Batu, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Setelah diidentifikasi, rupanya benar bahwa itu adalah pesawat Dakota RI-002 yang ditumpangi oleh Semaoen Bakry yang hilang dalam penerbangan rahasia dari Yogya ke Bukittinggi tahun 1948.

Kerangka keenam jenazah penumpangnya berhasil diidentifikasi. Kerangka tubuh Bobby Freeberg diterbangkan ke negaranya, Amerika Serikat, dan Kerangka 5 jenazah lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tanjung Karang, Lampung, dengan upacara kenegaraan yang dihadiri oleh Gubernur Lampung Yasir Hadibroto dan para pejabat pemerintah lainnya (Bakry dan Wiyono, op.cit.:290-91).

Demikianlah cuplikan biografi Semaoen Bakry yang telah mendarmabaktikan hidupnya kepada Republik Indonesia.

Pada tgl. 27 Februari 2020 telah diselenggarakan “SEMINAR SEHARI ‘MENGENANG PERJUANGAN SAMAUN BAKRI UNTUK REPUBLIK HINGGA AKHIR HAYAT’” yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Pariaman bekerjasama dengan Ikatan Alumni SMP Negeri 3 Pariaman, bertempat di Aula Kantor Walikota Pariaman. Seminar itu merupakan salah satu kegiatan dalam rangka pengajuan almarhum Semaenn Bakry menjadi pahlawan nasional. Semoga cita-cita mulia ini terwuduh hendaknya. Amin!

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 21 Maret 2020

 

1.ArumStellingen:

“In foreign-language curricula priority should be given to the correct pronunciation of the ‘new’ sounds in the target language; correct pronunciation of the ‘similar’ sounds should not be a concern (this dissertation)” [Stelling no. 3]

“Javanese and Sundanese learners of English show difficulty contrasting neighboring vowels using spectral parameters (this dissertation)” [stelling no. 4]

Judul: ‘The acquisition of English vowels by Javanese and Sundanese native speakers’

Penulis: Dr. Arum Perwitasari

Tarikh Promosi: 19 Februari 2019

Promotor: Prof. Dr. Niels O. Schiller; Prof. Dr. Marian Klamer

Co-promotor: Dr. Jurrian Witteman

Jumlah Stellingen: 9

Tautan disertasi: https://openaccess.leidenuniv.nl/handle/1887/68575

*Versi cetak disertasi ini diterbitkan oleh LOT (Utrecht), 2019

2.Arumc

Catatan: Stellingen adalah proposisi (propositions) dari sebuah disertasi, yaitu sejumlah pendirian yang ingin dipertahankan oleh seorang calon doktor (promovendus) berdasarkan temuan-temuan di dalam disertasinya. Pendirian itu boleh saja melawan pendirian sarjana lain. Stellingen adalah unsur yang harus ada dalam sebuah disertasi yang dipertahankan di Universiteit Leiden. Ia dicetak dalam selembar kertas dan diselipkan di dalam disertasi. Jumlah stellingen berkisar antara 8-12, tapi dalam sedikit kasus ada juga yang jumlahnya sampai 15. Di samping pendirian-pendirian yang menyangkut temuan-temuan di dalam disertasi, stellingen juga boleh diisi dengan beberapa pendirian yang terkait dengan bidang-bidang ilmu yang relevan dan masih ada hubungannya dengan disertasi si promovendus. Biasanya nomor yang terakhir dari stellingen mengandung unsur kelucuan tapi bernas. Pada saat ujian terbuka (defence) yang berlangsung selama satu jam, anggota tim penguji berhak mengajukan pertanyaan kepada promovendus melalui salah satu stelling dari disertasinya.

Studie in Zuid Sumatra.

      Door Lector Hamburgsche Universiteit.

     Momenteel vertoeft te Palembang de heer Oesman Idris gelar Soetan Pangeran, die gelijk men weet, lector is aan de Hamburgsche Universiteit (Duitschland) voor de bestudeering der zeden en gewoonten van enkele nog weinig bekende stamen in het Palembangsche, zoals in de Pasoemahlanden en Koeboe-streken.

     Verder zal hij een studie maken van de taal in Redjang en Lebong (Lampongs). Genoemde lector is de zoon van Datoe Poetih,den gewezen demang, die indertijd uit Djeddah werd verwijderd doode Regeering van Ibn So’ud.”

***

Read More…

2q.Tjaja Sumatram No.99, Hari Kemis 13 November 1919, Tahun ke 23-c

Read More…

PENGADOEAN ANAK NEGERI PARIT POETOES.

Perboeatan doea orang penghoeloeanja.

            Menoeroet kabar jang kita peroleh, adalah beberapa poeloeh anak negeri kampoeng Parit Poetoes (Ampang Gadang) bilangan Fort de Kock, soedah sama memasoekkan pengadoean pada jang berwadjib, berhoeboeng marika katanja soedah ditipoe oleh doea orang penghoeloeanja.

            Menoeroet boenji rekest pengadoean itoe, adalah marika jang banjaknja lebih koerang 80 orang soedah sama berijoer 1 helai atap zink seorang atawa sama djoega dengan diganti dengan oeang banjaknja f 1.10.

            Kemoedian ketahoean bahasa sekalian atap zink jang djadi ijuran itoe soedah dipergoenakan oleh Datoeknja jang kedoea, atas setahoe jang pertama djoega.

Read More…

Directeursbenoeming bij Padang Portland Cement

AMSTERDAM, Zaterdag (ANP). – Met de stem van één aandelhouder tegen is in de vergadering vaan aandeelhouders in de Padang Portland Cement Maatschappij he bestuursvoorstel goedgekeurd om ontslag te verlenen aan de Gebr. Veth’s Handel-Maatschappij als directeur van de vennoootschap. De benoeming van de heer H. G. Veth werd goedgekeurd.”

***

Laporan surat kabar Het Parool (Amsterdam) edisi Zaterdag (Sabtu) 13 Desember 1958 tentang pengangkatan Direktur Maskapai Padang Portland Cement (sekarang: PT. Semen Padang) yang baru, G. H. Veth.

Read More…

1.Tjaja Sumatra, No.95,Hari Selasa 4 November 1919 Tahoen ke 23-c

Read More…

Posted by: niadilova | 03/02/2020

PPM #243: Mohammad Hatta Kembali ke Tanah Air (1932)

Mohammad Hatta te Batavia.

            Blijkens een Aneta-telegram uit Batavia is Mohammad Hatta daar hedenmorgen per s.s. “Generaal van der Heyden” gearriveerd. Hij werd door Inlandsche voormannen begroet.

            Behalve tot de P.I. treedt Hatta ook toe tot de P.N.I. Ji zal zich voorlopig bepalen tot het zich oriënteeren ten aanzien van de politiek situatie.”

***

Laporan surat kabar Soerabaiasch Handelsblad (Surabaya) edisi Woensdag (Rabu) 24 Augustus 1932 tentang kedatangan Mohammad Hatta di Batavia. Ia kembali ke tanah air setelah berhasil menyelesaikan studinya di Belanda (di Handels-Hogeschool Rotterdam). Hatta kembali ke tanah airnya setelah bermukim di Belanda kurang lebih 11 tahun lamanya (Hatta Sampai di Belanda tgl. 5 September 1921).

Read More…

Older Posts »

Categories