AAN NIERZIEKTE OVERLEDEN.

Aneta seint uit Padang, dat de kapitein der Chineezen Ang Eng Lai, een te Padang bekende handelaar in boschproducten aan een nierziekte is overleden. Hij was dezer dagen voornemens naar Batavia te gaan voor geneeskundige hulp.

***

Laporan surat kabar De Sumatra Post (Medan) edisi 30 Januari 1939 tentang meninggalnya Kapitein der Chineezen (Kapitan Cina/Tionghoa) di Padang, Ang Eng Lay. (lihat juga: Bataviaasch Nieuwsblad, Batavia, 30-01-1939; De Indische Courant, Surabaya, 01-02-1939). Tampaknya Ang Eng Lay baru setahun memegang jabatan ini (lihat: Bataviaasch Nieuwsblad, 19-02-1938).

Terjemahan bebas laporan di atas adalah sebagai berikut:

MENINGGAL KARENA PENYAKIT GINJAL.

[Kantor berita] Aneta mengabarkan dari Padang bahwa Kapitein (Kapten) Cina Ang Eng Lai, seorang pedagang hasil-hasil hutan yang terkenal di Padang, telah meninggal dunia karena penyakit ginjal. Hari-hari terakhir ini ia bermaksud pergi ke Batavia untuk mendapatkan bantuan medis.”

Tidak dijelaskan kapan persisnya, Ang Eng Lay meninggal, tapi tampaknya dalam minggu terakhir bulan Desember 1938.

Kapitein de Chineezen’ adalah jabatan yang cukup prestisius di Hindia Belanda pada zaman kolonial. Tugasnya adalah mengepalai komunitas orang Cina/Tionghoa di kota-kota Hindia Belanda. Di kota-kota yang lebih besar dengan jumlah komunitas orang Tionghoa yang juga lebih besar (Seperti Surabaya, Medan, dll.), jabatan itu dibuat setingkat lebih tinggi, yaitu ‘Majoor der Chineezen’ (Mayor Tionghoa). Di bawah jabatan ‘Kapitein der Chineezen’, ada jabatan ‘Luitenant der Chineezen’.

Di Padang, jabatan Kapitein der Chineezen sudah sejak abad ke-18 dibuat oleh Belanda. Semula tentunya hanya Luitenant de Chineezen karena jumlah orang Tionghoa di kota itu relatif masih sedikit. Tapi pernah juga jabatan itu sampai ke tingkat ‘Majoor der Chineezen’ (Periksalah Regeering Almanaak Hindia Belanda).

Sebagai kota pelabuhan dan kota perdagangan terpenting di pantai barat Sumatera, Padang sudah lama menjadi tujuan migrasi orang Cina dari Tiongkok. Namun, memasuki dekade-dekade pertama abad ke-20, Padang mulai mundur karena kehadiran kompetitor kota Medan dengan pelabuhan Belawan-nya.

Orang-orang yang akan memegang jabatan Kapitein der Chineezen biasanya dipilih dari kalangan orang Tionghoa yang terkemuka, lebih sering dari kalangan pedagang terkemuka ketimbang intelektual. Lama masa jabatannya tidak tentu, tergantung kepada interest otoritas kolonial Hindia Belanda setempat. Pada akhir Desember 1892, misalnya, jabatan Kapitein Cina di Padang diserahterimakan dari Lie Khong Teek kepada Lie Khong Hoan yang sebelumnya menjabat sebagai Luitenant der Chineezen di kota itu (Java-Bode, Batavia, 01-02-1893). Sebelumnya, pada bulan Juni 1885, diangkat Kapitein der Chineezen yang baru di kota itu, Lim Siauw Soen, yang sebelumnya juga menjabat sebagai Luitenant der Chineezen di kota itu (De Locomotief, 10-06-1885). Sebelum Lie Khong Teek, jabatan Kapitan Cina di Padang dipegang oleh Lie Saay tapi dengan pangkat terakhir ‘Majoor-Titulair der Chineezen’ (Soerabaijasch Handelsblad, Surabaya, 22-06-1885).

Jenazah Ang Eng Lay dikebumikan pada hari Minggu 12 Februari 1939 di Pemakaman Cina di Padang, dilepas dengan upacara kebesaran dengan iringan musik militer, dihadiri oleh “de resident, civiele en militaire autoriteiten van hoog tot laag en notabelen van alle bevolkingsgroepen”, mengutip laporan koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (Batavia) edisi 13 Februari 1939. (lihat juga: Bataviaasch Nieuwsblad, 13-02-1939).

Jabatan yang kosong yang ditinggalkan Ang Eng Lay untuk sementara dipegang oleh Lie Tek Beng. Pengganti Ang Eng Lay segera dicari, dan pada minggu kedua Februari 1939 muncul dua kandidat yang dinominasikan: 1) Gho Soen Tong, Direktur N.V. Handel Maatschappij Gho Goan Thee; 2) Lie Tek Beng, Direktur Firma Gho Leng (De Sumatra Post, 10-02-1939).

Akhirnya yang terpilih (tentu saja atas persetujuan otoritas kolonial Hindia Belanda di Sumatra’s Westkust) adalah ‘groothandelaar’ (pedagang besar) Gho Soen Tong, yang diangkat secara resmi pada akhir Agustus 1939 (De Sumatra Post, 01-09-1939).

Belum diperoleh informasi sampai kapan Gho Soen Tong memegang jabatan Kapitan Tionghoa di Padang. Akan tetapi sangat mungkin dialah satu di antara orang-orang terakhir yang memegang jabatan ini di Padang sebelum dihapus (juga di kota-kota lainnya) menyusul kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 29 Desember 2019

Mara Soetan Overleden

Na enkele dagen ziek te zijn gewest is der heer Ibrahim gelar Mara Soetan Dindsdag op 97-jarige leeftijd in Djakarta overleden. Zijn stoffelijk overschot werd Woensdagmiddag in Karet ter aarde besteld. Onder hen die wijlen Mara Soetan de laatste eer bewezen, bevond zich Moh. Sjafei, zijn aangenomen zoon, than parlementslid.

Ibrahim Mara Soetan, afkomstig uit Kajutanam in Midden-Sumatra was reeds voor 1900 een bekende letterkundige. Verscheidene van zijn werken o.a. “Pembuka Fikiran” en “Pelita”, zijn uitgegeven. In de latste tijd heeft wijlen Mara Soetan zijch toegelegd op het schrijven van kinderboeken.

***

Laporan surat kabar Het Neuwsblad voor Sumatra (Medan) edisi Jumat 2 April 1954 tentang wafatnya Ibrahim gelar Mara Soetan. (Lihat juga: De Locomotief (Semarang), 2-4-1954 dan Algemeen Indisch Dagblad: De Preangerbode (Bandung), 2-4-1954).

Ibrahim gelar Mara Soetan – mohon dibedakan dengan Taher gelar Marah Soetan (1890-1953)–adalah seorang intelektual Minangkabau, guru dan penulis buku yang terkemuka pada zamannya. Ia adalah ayah angkat Muhammad Sjafei, pendiri Indonesisch Nederlandsche School (INS) Kayu Tanam (1926). Namanya acap kali disebut dalam banyak sumber pertama tentang dunia intelektual Minangkabau pada akhir abad ke-19 dan paroh pertama abad ke-20, sering ditulis: “Toean/Engkoe Mara Soetan”. Fotonya dapat dilihat dalam Pandji Poestaka, No. 44, Thn X, 13 Mei 1932:678.

Ibrahim gelar Mara Soetan adalah seorang intelektual Minangkabau pekerja keras. Ayah angkat Mohammad Sjafei ini menulis cukup banyak buku untuk anak-anak sekolah, juga karangan-karangan lainnya. Beberapa buku karangannya kini masih tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, seperti Djalan ke Timoer (1928), Boenga Tjoelan  (4 Jilid) (1933), Pelita (2 jilid) (1938), dan Soear (1939). Oleh sebab itu namanya dikenal luas di kalangan guru-guru sekolah rendah pada zamannya.

Riwayat hidup Mara Soetan penuh lika-liku perjuangan dan sering berpindah-pindah. Setidaknya ia pernah bekerja di tiga pulau: Sumatera, Jawa, dan Kalimantan (Borneo).

Ada perbedaan dalam catatan tentang tarikh lahir Mara Soetan, Majalah Pandji Poestaka, No. 44, Thn X, 13 Mei 1932, hlm. 678 menyebutkan bahwa dia lahir di Padang tahun 1872. Sementara Tamar Djaja dalam Orang-orang Besar Indonesia [Djakarta: Bulan Bintang, 1966: 628] menyebutkan bahwa dia lahir di Kayu Tanam tahun 1863. Sedangkan Mohamad Sjafei yang menjadi editor kumpulan puisi karangan Marah Soetan sendiri yang berjudul Rindu dan Pudjaan (Padang: Sridharma, [1955]) mencatat bahwa Mara Soetan (yang dipanggil ‘Inyiak’ [Kakek] oleh Sjafei) lahir tahun 1853 tanpa menyebutkan tempat lahirnya. (lebh jauh lihat: https://niadilova.wordpress.com/2014/10/20/minang-saisuak-194-intelektual-minang-ibrahim-gelar-mara-soetan/). Dari sumber-sumbr lain yang disebutkan di atas, diketahui bahwa ibu Mara Soetan adalah seorang keturunan Jawa dari Pasuruan dan ayahnya adalah orang Minangkabau yang berasal dari Kayu Tanam. Oleh karena itu, dapat dipahami mengapa Mohamad Sjafei, anak angkat Mara Soetan yang berasal dari Kalimantan, mendirikan INS di Kayu Tanam, karena mungkin bentuk penghormatan kepada kampung halaman ayah angkatnya.

Jika kita berpedoman pada laporan koran Het Neuwsblad voor Sumatra di atas, maka Mara Soetan, yang memang disebutkan berasal dari kayu Tanam ([hij] afkomstig uit Kajutanam in Midden-Sumatra…), lahir pada tahun 1857, karena disebutkan dalam laporan di atas bahwa ia wafat dalam usia 97 tahun pada 1954. Laporan di atas secara tepat juga menjelaskan tarikh meninggalnya Marah Soetan, yaitu: hari Selasa (Dinsdag) 30 Maret 1954 di Jakarta, setelah beberapa hari menderita sakit karena usia tua. Disebutkan juga dalam laporan di atas bahwa jenazah Mara Soetan dikebumikan di TPU Karet Jakarta.

Demikian sedikit tambahan maklumat tentang Ibrahim Gelar Mara Soetan. Kiranya namanya patut pula dicatat dalam direktori orang Minangkabau di panggung sejarah.

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 22 Desember 2019

 

Westkustenaren naar Boven Digul.

Op dezelfde overwegingen als bij vorige berluiten zijn de volgende personen geïnterneerd naar Boven Digoel:

            Mohammad Sjoekoer gelar Datoek Badharo Koening, 22 jaar, onderwijzer aan de Dinijah school te Kota Lawas, voorzitter de Sarekat Rajat te Kota Lawas, laatstelijk woonachtig te Pandai Sikat nabij Kota Lawas, onderafdeeling Padang Pandjang.

            Moein gelar Soetan Maroehoen, 28 jaar, kleermaker, lid van de Sarekat Rajat, voorzitter en propagandist de Sarekat Tani te Panjalaian, laatstelijk woonachtig te Padang Pandjang.

            Oenggoen gelar Chatib Besar, 41 jaar, chatib en landbouwer, lid der Sarekat Tani, organisator der Indonesische Padvinders Organisatie, laatstelijk woonachtig te Pitalah, onderafdeeling Padang Pandjang.

            Tongong gelar Datoe’ Besar, 52 jaar, gewezen rechercheur van politie en penghoeloe kepala, adviseur van de Sarekat Tani en leider van de Sarekat Hitam, laatststelijk woonachtig te Goenoeng, onderafdeeling Padang Pandjang.”

***

Laporan surat kabar De Sumatra Post (Medan) edisi 9 Januari 1929 tentang pend-Digul-an 4 orang Minangkabau lagi sebagai akibat dari aksi bersih-bersih (lebih baik dikatakan sebagai ‘aksi sapu bersih’) Pemerintah Kolonial Hindia Belanda di Sumatera Barat pasca meletusnya ‘Pemberontakan Silungkang’.

Sebagaimana dapat disimak dalam laporan di atas, mereka yang dibuang itu adalah (nama mereka dituliskan menurut ejaan sekarang):

  1. Mohammad Syukur gelar Datuak Bandaro Kuniang, usia baru 22 tahun, guru Diniyah School Koto Laweh, ketua Sarekat Rajat di Koto Laweh, terakhir berdomisili di Pandai Sikek, dekat Koto Laweh, onderafdeeling Padang Panjang.
  2. Muin gelar Sutan Maruhun, usia 28 tahun, pekerjaan sebagai tukang jahit, anggota Sarekat Rajat, ketua dan propagandist Sarekat Tani di Panyalaian, terakhir berdomisili di Padang Panjang.
  3. Unggun gelar Khatib Basa, usia 41 tahun, seorang khatib yang memiliki pekerjaan sehari-hari sebagai petani, anggota Sarekat Tani, pengurus Organisasi Kepanduan Indonesia, terakhir berdomisili di Pitalah, onderafdeeling Padang Panjang.
  4. Tongong gelar Datuak Basa, usia 52 tahun, mantan reserse polisi dan penghulu kepala, penasihat Sarekat Tani dan anggota Sarekat Hitam, teakhir berdomisili di Gunuang, onderafdeeling Padang Panjang.

Dapat dikesan bahwa keempat orang itu cukup berbeda jauh dalam usia: (1) dan (2) relatif masih muda, masing-masing 22 dan 28 tahun. Sedangkan (3) dan (4) sudah cukup tua: masing-masing 41 dan 52 tahun. Ini memberi kesan bahwa pengikut gerakan anti penjajahan Belanda pada masa itu berasal dari berbagai tingkatan usia.

Yang menarik, dalam laporan di atas disebutkan beberapa nama organisasi (sarekat/serikat) yang, sejauh yang dapat diketahui, ada yang bersifat agak rahasia dan sangat kuat dipengaruhi oleh ajaran komunis pada waktu itu. Cukup mengherankan, dan mungkin perlu dijelaskan secara akademik, mengapa ideologi komunis itu sangat populer di kalangan orang Minangkabau pada masa itu.

Ada 3 perkumpulan yang disebutkan, yaitu Sarekat Rajat (Rakyat), Sarekat Tani, dan Sarekat Hitam. Terkesan bahwa pengaruh dan semangat gerakan perkumpulan-perkumlan itu menjalar sampai ke desa-desa.

Belum ada studi yang mendalam mengenai perkumpulan-perkumpulan tersebut. Apa sebenarnya Sarekat Rajat, Sarekat Tani dan Sarekat Hitam? Siapa pendirinya? Bagamana sepak terjangnya? Berapa orang dan siapa saja yang menjadi anggotanya? Apa platform perjuangan mereka? Dan lain sebagainya. Apakah sarekat-sarekat itu didukung oleh seluruh orang Minangkabau pada waktu itu atau ada pula yang mengkritisinya? Kiranya hal ini perlu diteliti lebih lanjut.

Yang cukup pasti adalah bahwa ketiga sarekat tersebut dipandang berbahaya oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Mereka dianggap sebagai pengacau keamanan negeri. Sarekat Hitam, misalnya, diasosiasikan dengan kelompok bandit yang telah menimbulkan keresahan dalam masyarakat Minangkabau.

Akhir 1920an adalah salah satu periode yang cukup kritis dalam sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia. Untuk konteks Minangkabau, terjadinya ‘Pemberontakan Silungkang’ tahun 1926 membawa akibat-akibat yang cukup serius secara sosial dan politik. Kiranya periode ini perlu diteliti lebih dalam oleh para sejarawan kita, baik di level daerah (keresidenan) maupun pada level nagari.

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 15 Desember 2019

 

Padang, 13 November 1923.

De gearresterde communisten zijn Zaioneddin, verantwoordelijk redacteur van het te Padang-Pandjang verschijnend communistisch weekblad Djago-Djago. Hadji Datoek Batoea[h], verantwoordelijk redacteur van de Pemandangan Islam, en verder Datoek Mangkoedoensatien (sic) en Datoek Indokajo.”

***

Laporan surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië  (Batavia) edisi 13 November 1923 tentang pencokokan redaktur dua berkala progresif dan dianggap radikal yang terbit di Padang Panjang serta dua orang pembantu/rekan mereka.

Sebagaimana dapat dibaca dalam salinan laporan surat kabar berbahasa Belanda di atas, mereka yang ditangkap oleh aparat Politiek Inlichtingen Dienst (PID), aparat dinas kepolisian kolonial Hindia Belanda, adalah Redaktur penanggunggjawab berkala Djago-Djago, Natar Zainoeddin, dan Redaktur penangung jawab berkala Pemandangan Islam, Hadji Datoek Batoeah. Ditangkap pula dua orang rekan mereka: Datoek Makodoensatie [sering ditulis juga: Machoedoem Sati] dan Daroek Indokajo [Indokayo].

Djago-Djajgo adalah mingguan yang merupakan corong (orgaan) kaum komunis di Padang Panjang. Sedangkan Pemandangan Islam adalah media kaum muslim progresif yang sebenarnya memiliki tujuan perjuangan yang sejalan dengan kaum komunis, yaitu ingin mengenyahkan penjajah Belanda dari bumi Indonesia.

Kedua orang itu dicokok PID karena mereka terinjak ranjau pers (persdelict): menulis kritik yang tajam tentang kebijakan otoritas kolonial Hindia Belanda di media masing-masing. Dua lainnya terkait dengan aktivitas mereka sebagai pemimpin dan propagandis komunis di Sumatera Barat.

Nama Djago-Djago jelas berkonotasi ‘ajakan’, untuk tidak mengatakan ‘hasutan’: itu adalah Bahasa Minang yang artinya; ‘Bangun! Bangun!’ Maksudnya, menyuruh kaum pribumi, saudara mereka sebangsa untuk segera bangun dari ‘tidur’ panjang mereka dan melepaskan diri dari belitan penjajahan Belanda.

Menyusul kemudian ditangkap pula Arif Fadillah dan Djaäfar, dua orang aktivis komunis lainnya di Padang Panjang yang ikut mengurus keredaksian Djago-Djago. Kasus mereka mulai disidangkan oleh Landraad Padang Panjang pada 31Januari 1924. Ketika mereka dibawa dari penjara ke gedung pengadilan Landraad Padang Panjang, para simpatisan komunis melepas mereka dengan menyanyikan hymne komunis antarbangsa “Internationale” (De Sumatra Post [merujuk De Sumatra Bode], 7 Februari 1924).

Penahanan Datoek Batoeah dkk. telah menimbulkan reaksi di kalangan masyarakat Padang Panjang khususnya dan Minangkabau pada umumnya. Masyarakat berdemo menuntut pembebasan para pemimpin mereka itu. Mereka sempat dilepas tapi kemudian ditangkap lagi.

Sejarah telah menjacatat bahwa akhirnya pada Januari 1925, Natar Zainoeddin dan Haji Achmad Chatib gelar Datoek Batoeah diasingkan ke Indonesia bagian timur, masing-masing ke “Kaffananoe” (maksudnya Kafamenanu) di Pulau Timor dan Kalabahi di Pulau Alor (Bataviaasch Nieuwsblad, 14 Januari 1925).

Dua tahun kemudian, tepatnya pada bulan Agustus 1927, kedua pemimpin gerakan komunis Sumatera Barat itu dipindahkan ke tempat yang lebih jauh lagi dan terpencil: Boven Digul. Tindakan ini merupakan bagian dari aksi ‘pembersihan’ gerakan komunis oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda setelah pemberontakan yang dianggap prematur dan boleh dibilang gagal pada 1926. Ikut diasingkan ke Digul bersama keduanya beberapa pemimpin komunis lainnya yang berasal dari berbagai daerah, seperti Aliarcham (yang sangat radikal dan akhirnya meninggal di ‘Kamp Interniran di New Guinea itu), Madjohan, Winanta, Prawiromihardjo, Wirosoedadmomihardjo, Marlan, dan Kasban (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië [Batavia], 18 Agustus 1927).

Pemberontakan komunis Sumatera Barat (sering disebut ‘Pemberontakan Komunis Silungkang’) yang prematur itu membuat Belanda mengambil keputusan menangkapi para penggerak dan simpatisan gerakan ini. Ratusan orang ditangkap dan banyak yang dibuang ke luar Sumatera Barat, termasuk ke Digul yang terpencil di New Guinea (Irian/Papua).

Lebih jauh tentang gerakan komunis di Padang Panjang pada masa zaman kolonial, bacalah buku Fikrul Hanif Sufyan, Menuju Lentera Merah: Gerakan Propagandis Komunis di Serambi Mekah, 1923-1949 (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2017).

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 8 Desember 2019

Harian Api, No. 32 Th ke I, Minggu 21 November 1965

Sumber: Harian Api (Djakarta), No. 32 Th ke I, Minggu 21 November 1965

Bintang Hindia, No.8, Tahoen jang Pertama, 15 April 1903

Sumber: Bintang Hindia (Amsterdam), No.8, Tahoen jang Pertama, 15 April 1903, hlm. 91

Catatan: Lahir tahun 1829, Lie A. Sie merupakan orang Cina terkaya dan paling berpengaruh di Aceh. Dia banyak membantu menyukseskan penaklukan Belanda terhadap Aceh. Ia sering memenangkan proyek-proyek pembangunan di Aceh, tentu saja berkat kedekatannya dengan pejabat militer dan sipil Kompeni. Antara lain dialah yang menjadi salah seorang kontraktor pembangunan kembali Mesjid Raya Aceh yang terbakar dalam peperangan antara orang Aceh dengan Belanda, selain berperan besar dalam pembangunan transportasi trem di Aceh. Sebelum menjabat sabagai Mayor Cina di Kutaraja (sekarang: Banda Aceh), Lie A. Sie sebelumnya menjabat sebagai “luitenant de Chineezen” di Olehleh, afdeeling Aceh Besar (Groot-Atjeh) (Atjeh en onderhorigheeden) pada bulan Juni 1898 (lihat Java-Bode, 29 Juni 1898). Ia menjadi Mayor-titulair Cina di Banda Aceh selama 22 tahun. Lie A. Sie meninggal di Kutaraja pada awal Maret 1922 dan baru dikebumikan pada akhir bulan itu (30 Maret 1922) dengan upacara kebesaran (lihat Bataviaasch Nieuwsblad, 1 April 1922).

Posted by: niadilova | 08/12/2019

Karikatur Nusantara @26: Gestapu PKI (1965)

API (No. 23 Th. ke I, Djum'at 29 Oktober 1965

Sumber: Harian Api (Jakarta), No. 23 Th. ke I, Djum’at 29 Oktober 1965

CHUNG HSIOH’S ARMENFONDS

            Kemaren pagi kira2 450 anak anak Tionghoa miskin soedah sama berkoempoel digedong Tiong Hwe Kwee Koan di Poelau Karam, berhoeboeng dengan gerakan dari Armenfonds Chung Hsioh, jang akan lakoekan pembagian pakaian, sepatoe, topi, enz.

            Gerakan ini sebagaimana diketahoei dilakoekan saban hampir dekat tahoen baroe Imlek dan ini kali, kalau tak salah ada[lah] jang keampat kalinja.

            Anggauta anggauta lelaki dan perempoean dari perserikatan terseboet bekerdja keras sekali, menjoesoen kain kain dan lain lain barang jang akan dibagikan, jang kelihatan ada banjak sekali.

            Dan dekat djam 10 pagi, oleh toean Liem Siok Hien telah diambil foto.

            Diantara tetamoe jang datang, tertampak djoega Kapitein Tionghoa dengan njonja dan lain lain toean, sedangkan wakil pers antaranja dari Sinar Sumatra.

            Djam 10 toean Dr. Liem Giem Tjiang, voorzitter dari Centrale hung Hsioh Padang telah berbitjara mengoetjapkan terima kasih pada jang hadir, teroetama pada toean toean, njonja njonja, nona nona jang telah membantoe gerakan itoe dengan koeat, baik dengan tenaga, pikiran dan oeang, hingga perkoempoelannja boeat kesekian kalinja, kembali bisa bagikan pakaian boeat anak bangsa Tionghoa jang tidak mampoe.

            Toean Lim menjatakan pengharapannja soepaja toendjangan itoe akan didapatkan seteroesnja, hingga dilain tahien dan tahoen tahoen jang bakal datang, kalau keadaan perloe djoega, akan bisa diteroeskan tindakan seperti sekarang.

            Kemoedian berdiri toean Gan Tiam Goan, jang bitjara atas nama Comite Armenfonds, menjatakan terima kasih atas kedatangan jang hadir, wakil wakil perkoempoelan dan wakil wakil pers.

            Spreker menerangkan, bahwa selainnja pakaian jang telah didjahit, djoega akan dibagi kain sadja, agar bisa ditoekar dan didjahit sendiri oleh orang toea anak anak, sebab pakaian jang telah didjahit ada banjak kali tidak sesoeai dan mesti dioelang kembali mendjahitnja.

            Djoega spreker mengoetjapkan terima kasih pada berbagai bagai toean jang telah toeroet beroesaha mentjari toendjangan goena Armenfonds terseboet.

            Pembagian ini berdjalan dengan baik dan baroe berachir kira kira djam 2 sore.”

***

Laporan harian Sinar Sumatra, No. 4, Tahoen ke 32, Hari Senen 6 Januari 1936/12 Tjap Dji Gwee 2486 -11 Sjawal 1354) tentang aksi sosial membantu anak-anak dari keluarga Tionghoa miskin di Padang. Aksi sosial tersebut dikoordinir oleh perserikatan orang Tionghoa Chung Hsioh cabang Padang. Organisasi ini memiliki komite “armenfonds” yang bertujuan untuk membantu keluarga-keluarga Tionghoa miskin atau yang berkekurangan secara ekonomi. (Armefonds, bahasa Belanda, berarti ‘dana untuk orang miskin’).

Sebagaimana dapat disimak dalam laporan di atas, sasaran utama aksi kemanusiaan Armenfonds Chung Hsioh adalah anak-anak Tionghoa miskin. Mereka diberi pakaian, sepatu, topi, dll. secara cuma-cuma. Aksi kemanusiaan ini sudah dilakukan di Padang sejak 1932.

Laporan di atas menginformasikan kepada kita beberapa figur yang berperan sebagai pengurus organisasi ini, seperti Dr. Liem Giem Tjiang (Voorzitter-nya), Gan Tiam Goan (dari Komite Armendfonds-nya), dan Liem Siok Hien. Para tetamu yang menjadi donatur, termasuk Kapitein Tionghoa dan unsur pers juga hadir pada kesempatan tersebut.

Ada 450 orang anak yang mendapat bantuan. Aksi kemanusiaan ini diadakan di di gedung “Tiong Hwe Kwee Koan di Poelau Karam”. Tiong Hwe /Hoa Kwee Koan juga merupakan salah satu organisasi orang Tionghoa yang bergerak di bidang pendidikan. Perkumpulan ini didirikan di Batavia tahun 1900 dan juga memiliki cabang di Padang (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2015/04/27/minang-saisuak-220-tiong-hoa-hwe-koan-padang/). Tujuannyanya adalah untuk menyatukan orang Tionghoa di Hindia Belanda dalam upaya untuk menyediakan pendidikan (onderwijs) yang berkualitas dan dapat menjangkau seluruh anak-anak Tionghoa.

Laporan di atas juga memberi kesan kepada kita betapa kuatnya rasa persatuan dan rasa kebersamaan di kalangan orang Tionghoa, baik kaum lelaki maupun kaum wanitanya, tua maupun muda. Mereka yang berhasil secara ekonomi berusaha membatu saudara sebangsanya yang masih berkekurangan. Walaupun dalam lapangan politik sering juga muncul perbedaan di antara mereka, akan tetapi kalau sudah menyangkut keetnisan (kecinaan), mereka melupakan perbedaan-perbedaan itu dan bersatu untuk saling membantu.

Keberadaan Armenfonds Chung Hsioh dengan misi sosial-kemanusiaannya menunjukkan bahwa orang Tionghoa di Padang (juga di tempat-tempat lainnya di Hindia Belanda) yang kaya tidak abai kepada anggota bangsanya yang miskin dan belum beruntung secara ekonomi.

Kita juga memperoleh kesan betapa kesadaran berorganisasi untuk kemajuan dan kemaslahatan bersama sudah sangat tinggi di kalangan orang Tionghoa. Mereka memiliki berbagai organisasi, mulai dari yang bersangkutan dengan bisnis sampai kepada organisasi-ogranisasi kemanusiaan.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 1 Desember 2019

TRAINING COLLEGE.

Diboeka di Pajakoemboeh.

            Pada tanggal 3 Februari 1935 di Pajakoemboeh akan diboeka satoe Pergoeroean Islam Tinggi dengan nama Training College atawa Koellijatoel Moe’allimin, jang bertoedjoean akan membimbing pemoeda pemoeda poetra dan poetri mendapat pengetahoean jang loeas dan landjoet dalam dalam soal seloek beloeknja Islam dan pengetahoean oemoem (Algemeene kennis).

            Lamanja beladjar adalah 4 taon dan moerid moerid jang diterima jalah marika jang lepasan Thawallibschool, Dinijahschool dan Tarbijatoel Islamijah atawa jang sama dengan itoe, dengan sjarat telah mempoenjai diploma telah tamat dari klas 7.

            Goeroe goeroenja terdiri dari toean toean Nasroeddin Thaha bekas student Darul Ulum Cairo, Iljas M. Ali bekas student di al-Azhar Cairo, Djanaid Moehammad (al Falaqie) dan Zainuddin al Hamidi (Ma’haj Islamij Mekkah).

            Moerid moerid jang ingin belajar haroes membajar oeang sekolah f 2.- seboelan berikoet oeang masoek f 2,50 dan ini moesti dibajar lebih doeloe.

            Bisa diterangkan djoega pengoeroesnja Traning College ini terdiri dari toean toean:           

  1. Zainoeddin Hamidij ketoea
  2. Roesli A. Wahid, djoeroesoerat
  3. Lamid St. Madjolelo bendahari
  4. Rahib dan H. Abd. Hamid Saady pembantoe.

***

Laporan harian Sinar Sumatra, No. 289, Hari Saptoe 29 December 1934, 23 Tjam It Gwee 2485 – 22 Ramadhan 1353 tentang akan dibukanya satu sekolah baru setingkat training college di Payakumbuh pada tgl. 3 Februari 1935. Sebagaimana dapat disimak dalam laporan di atas, sekolah tersebut, yang dalam istilah Islam disebut “Koellijatoel Moe’allimin” memprioritaskan penerimaan siswa dari sekolah-sekolah Islam.

Pada tahun 1930an, semangat keislaman menguat di Minangkabau, mungkin sebagai reaksi antitesis terhadap penyebaran sekolah sekuler yang juga meluas. Walau bagaimanapun, hal ini terkait pula dengan pertentangan antara kaum tua dan kaum muda di Minangkabau.

Era 1930an adalah masa berkembangnya partai-partai politik yang berazaskan Islam di kalangan intelektual pribumi di Minangkabau. PERTI, PERMI, dan beberapa partai partai politik lainnya mendapat sambutan cukup luas dalam masyarakat Minangkabau. Cabang-cabang partai tersebut berdiri di beberapa nagari. Hal ini membuat Pemerintah Kolonial Hindia Belanda merasa takut. Oleh karena itu, seringkali para aktivis partai-partai tersebut diperiksa, ditangkap, malah ada yang dikirim ke Digul.

Menguatnya gerakan keislaman di Minangkabau itu, yang antara lain diimplementasikan juga dalam dunia pendidikan, perlu dikaji lebih jauh oleh para sejarawan. Saya berasumsi bahwa bukan tidak mungkin hal itu juga sebagai reaksi terhadap meluasnya paham Komunis di kalangan masyarakat Minangkabau. Namun demikian, hal ini perlu dibuktikan melalui penelitian sejarah yang lebih mendalam.

Lepas dari itu, fakta sejarah ini membuktikan bahwa sulit untuk membantah bahwa umat Islam telah memainkan peranan penting dalam penyemaian perasaan nasionalisme dan gerakan perjuangan melawan penjajah di zaman lampau.

Laporan di atas juga memberi gambaran kepada kita tentang pengaruh kuat tradisi keilmuan dan intelektualisme Arab/Timur Tengah di Minangkabau. Disebutkan bahwa pengurus dan guru-guru yang akan mengajar di Training College ini memperoleh pendidikan keislaman dari Mesir dan Saudi Arabia. Kiranya menarik untuk menelusuri lebih jauh riwayat hidup para pengurus dan guru-guru yang namanya disebutkan dalam laporan di atas.

Penelusuran kepustakaan lebih jauh mengenai Training College ini terus dilakukan. Kiranya para pembaca rubrik ‘Paco-Paco Minangkabau’ yang mengetahui sejarah perguruan tinggi Islam yang pernah berdiri di Payakumbuh ini dapat menambah dan melengkapi informasi ini.

Apakah masih ada sisa-sisa bangunan “Pergoeroean Islam Tinggi” ini sekarang di Payakumbuh? Wallahualam!

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 24 November 2019

 

De “Vader” de Minangkabauers

      Soetan Moh. Salim †

     In den ouderdom van 84 jaar is 5 November jl. te Medan na een langdurig ziekbed, verscheiden Soeatan Mohamad Salim, out hoofddjaksa van Riouw en laatstelijk lid van den Landraad te Medan.

     Met Soetan Mohamad Salim, die door alle Minangkabauers Boeja (vader) werd genoemd, is één der merkwaardigste Minangkabausche figuren heengegaan, aldus lezen wij in de Sum. Post.

     Zonder ooit school te hebben gegaan, kwanwijlen Soetan Mohamad Salim reeds op zeer jeugdigen leeftijd – ongeveer 68 jaar geleden – in Gouvernements dienst. Men kan van hem wel zeggen, dan hij zich het lezen en schrijven in dezen dienst had eigen gemaakt. En deze autodidact had het in het ambtelijke gebracht tot het hoogste ambt, dat er toen voor een Inlander was te bereiken, tot hoofddjaksa. Hij was een sieraad van het Inlandsche ambtenarencorps, mede door zijn zeer uitgebreide wetskennis verkregen voor zijn phenomenaal geheugen.

     In het begin van deze eeuw werd Boeja gepensioneerd, waarna hij zich te Batavia ging vestigen voor de verdere opvoeding zijner kinderen.

     Éen van hen is de bekende Hadji [Agoes] Saim de P.S.I.I. leiden.

     Al de Salims, zeide eens een bekend hooggeplaatst ambtenaar, spreken het Nederlandsch evengoed en even zuiver als de beste Nederlander. Drie andere zoons bereikten in Gouvernement dienst in hun betrekking eveneens het hoogste, hetgeen voor een Inlander in te bereiken.

     Waar Boeja zich ging vestigen, Batavia, Garoet en Medan, werd hij steeds tot lid van den Landraad benoemd. Door zijn groote wetskennis en kennis van den Islam was Boeja dan ook in vele zaken den aangewezen adviseur. Steeds gaf hij zijn adviezen gratis. In de bekende Medansche moskee-kwestie waarin het Delische zelfbestuur en de Moehamadijah scherp tegenover elkaar stonden, ongeveer twee jaren geleden, speelde Soetan Mohamad Salim eveneens een adviseerende rol. Hij was het, die, alles officieel behandeld willende zien, omtrent deze kwestie de opinie inwon van het Kantoor van Inlandsche Zaken te Batavia.

     In de laatste jaren was Boeja steeds sukkelende. Zijn gezicht een zijn gehoor gingen achteruit, waardoor hij niet meer voor de Landraads-zittingen werd aangewezen.

***

Laporan koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (Batavia) edisi 13 November 1934 tentang wafatnya Soetan Mohamad Salim, seorang intelektual Minangkabau yang terkenal asal Koto Gadang. Laporan di atas menyebut beliau sebagai “De ‘vader’ van Minangkabauers” (ayah orang Minangkabau) (lihat juga De Indische Courant [Surabaya], 13-11-1934).

Memang semasa hidupnya Soetan Moehamad Salim adalah tempat bertanya dan mengadu orang Koto Gadang dan orang Minangkabau pada umumnya.

Soetah Moehamad Salim termasuk lelaki (mamak/ayah) Minangkabau generasi pertama yang menyerap sistem pendidikan Barat (Belanda). Ia yang hanya belajar secara otodidak dari ayahnya, Abdoel Rachman gelar Datoek Dinegeri Orang Kaja Besar, yang juga sudah mendapat pencerahan, dan selama 50 juga menjadi Hoofddjaksa di Padang.

Media vernakular pada waktu itu menyebut ayah-anak ini sebagai ‘hervormer’ (pembaharu) yang mengajak masyarakatnya mengubah kebiasaan dalam memandang dan memperlakukan anak dan kemenakan. Soetan Mohamad Salim menyekolahkan anak perempuannya ke sekolah sekuler ala Eropa/Belanda, hal yang tentunya sangat tabu pada masa itu.

Terjemahan bebas laporan di atas (disingkatkan) kira-kira sebagai berikut:

Pada usia 84 tahun, tgl. 5 November 1934, setelah lama sakit, Soetan Mohamad Salim, Hoodfdjaksa (Jaksa Kepala) di Riau dan jabatannya yang terbaru sebagai anggota Dewan Pertanahan di Medan, wafat di Medan.

Soetan Mohamad Salim, yang dipanggil ‘Buya’ (Ayah) oleh semua orang Minangkabau, adalah salah satu tokoh Minangkabau yang paling luar biasa, telah meninggal, demikian laporan De Sumatra Post.

Tanpa pernah bersekolah, Soetan Mohamad Salim telah memasuki dinas Pemerintah pada usia yang masih sangat muda – sekitar 68 tahun yang lalu [1866]. Dapat dikatakan bahwa beliau telah belajar membaca dan menulis selama berada dalam dinas pemerintah ini. Dan otodidak ini telah membawanya ke tingkat tertinggi dalam jabatan sipil Pemerintah yang dapat dijangkau oleh orang pribumi, yaitu sebagai Hoofddjaksa. Beliau adalah ‘perhiasan’ pegawai negeri Belanda, antara lain karena pengetahuannya yang luas tentang hukum dan karena daya ingatnya yang luar biasa.

Pada awal abad ini Buya pensiun, setelah itu ia pindah ke Batavia untuk pendidikan lebih lanjut untuk anak-anaknya.

Salah seorang anaknya adalah Hadji [Agoes] Salim, pemimpin P.S.I.I.

Semua anggota keluarga Soetan Mohamad Salim yang pernah menjadi pejabat tinggi terkenal dapat berbicara Bahasa Belanda, sebaik dan semurni bicara orang Belanda terbaik.

Tiga putranya yang lain juga mencapai tingkat tertinggi dalam pelayanan Pemerintah dalam pekerjaan mereka yang berhasil dicapai oleh penduduk asli.

Di manapun Buya pernah pergi untuk menetap, seperti di Batavia, Garoet, dan Medan, beliau selalu ditunjuk sebagai anggota Landraad. Karena pengetahuannya yang luas tentang hukum dan ilmu keislaman, Buya adalah penasihat yang ditunjuk dalam banyak kasus. Beliau selalu memberikan saran-sarannya secara gratis. Dalam kasus Mesjid Medan yang terkenal di mana Pemerintah Deli dan Muhamadiyah saling bertentangan satu sama lain, yang terjadi sekitar dua tahun lalu, Soetan Mohamad Salim juga memainkan peran sebagai penasihat. Beliaulah yang, karena ingin melihat segala sesuatu harus ditangani secara resmi, meminta pendapat Kantor Urusan Penduduk Asli (Kantoor van Inlandsche Zaken) di Batavia tentang masalah ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, Buya terus berjuang. Wajah dan pendengarannya memburuk, sehingga beliau tidak lagi ditunjuk untuk urusan Landraads.

Berita Kota Gedang, No. 11, November 1934, Tahoen VI yang menurunkan obituari almarhum menulis:

SOETAN SALIM

    gelar

SOETAN MOEHAMAD SALIM

2 Augustus 1851 – 5 November 1934

dimakamkan dikota Medan dalam oesia 83 tahoen

beliau mempoenjai 83 orang ketoeroenan.

[…]

Inna lillahi wainna ilaihi radjioen.

Pada hari Isnajan tanggal 5 November 1934 malam kira2 pokoel 8, telah berpoelang beliau kerahmatoellah dalam oesia genap 83 tahoen, dengan meninggalkan seorang isteri jang masih hidoep, dan 83 orang anak, tjoetjoe, serta boejoet, jang sekalian adalah dalam selamat sedjahtera.

“D.B.” yang menulis obituari itu mencatat jasa-jasa almarhum, menyebut bahwa “[r]oemah tempat kediaman beliau di Tg. Pinang[Tanjung Pinang] mendjadilah satoe tempat pengharapan bagi kaoem kerabat beliau jang datang mendapatkan beliau dari K. G. [Koto Gadang]”, dan “boekan sadja oentoek kaoem keloearga beliau jang paling dekat, djoega sekalian orang K. G. jang lain jang datang ke Riau dengan maksoed mentjari djalan penghoedoepan dalam kalangan djabatan atau peroesahaan, pastilah akan memperoleh toendjangan dan nasheat jang berharga dari beliau.”

Soetan Mohamad Salim juga disebut sebagai “orang K.G. jang pertama tama kali menjempoernakan sikap kepada anak, jaitoe sikap seperti jang ditoentoet oleh agama kita: Islam.” Sungguhpun demikian, beliau tetap memperhatikan kemenakan: “djanganlah kita sangka bahwa kemenakan beliau atau kaoem beliau dari pehak toeroenan iboe, beliau belakangi semata mata. […] Beliau tak loepa akan mamang[an] orang toea toea.

    Kaloek pakoe katjang belimbing,

    Daoen sitapoe dilenggangkan,

    Anak dipangkoe kemenakan dibimbing,

    Oerang kampoeng petenggangkan.

Teranglah djadinja bahwa almarhoem ini seorang Islam K.G. sedjati. Anak dipangkoe dengan tenaga, kemenakan dimbimbing dengan nasehat[,] orang kampoeng dipetenggangkan dengan akal.

Banyak lagi jasa keluarga Soetan Mohamad Salim untuk Koto Gadang, seperti dicatat oleh “D.B.” Sekitar tahun 1920, Soetan Homamad Salim “dipilih dengan seoara rata oleh Vereeniging Studiefonds Kota Gedang mendjadi President dan perkoempoelan itoe.” Salah seorang putrinya juga telah “mendjadi djoeroe pendidik di K. G. [Koto Gadang].” Demikian juga dengan “poetera beliau Toean Hadji Agoes Salim” juga “telah toeroet memberikan tenaga oentoek sekolah S.K. G. (1912-1915).” Juga beliau sendiri ikut terjun membantu pendidikan di kampungnya: dikatakan bahwa “dizaman beliau itoelah S. K.G. mempoenjai moerid sampai ± 230 orang.”

Anak perempuan Soetan Mohamad Salim yang dipanggil ‘Tante’ oleh orang Koto Gadang juga mempin sekolah di kampungnya itu yang disebut ‘Sekolah Tante’. “Terang poelalah djadinja bahwa djoea poeteri beliau seperti ajahda dan nenekda beliau poen telah djadi seorang hervormster poela dalam kampoengnja”, tulis “D.B”.

Demikianlah dulu perlakuan seorang intelektual Minangkabau terhadap anak kemenakan, sanak famili, orang kampung, orang seetnis dan kepada bangsanya secara umum. Oleh sebab itu pulalah semua orang menaruh hormat dan respek kepadanya. Sifat bijak seperti itu mungkin sulit ditemukan pada masa sekarang.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 17 November 1932

Older Posts »

Categories