Posted by: niadilova | 29/02/2016

Minang Saisuak #253 – Berpakaian Cara Adat Minangkabau (1926)

Minang saisuak - Berpakaian Cara Adat Minangkabau (1926)

Revolusi fashion di Indonesia jauh lebih cepat terjadi dibanding, misalnya, revolusi makanan. Dalam rentang sekitar satu abad telah terjadi beberapa kali pergantian mode, baik yang menyangkut pakaian pria, lebih lebih lagi pakaian wanita.

Di Minangkabau, revolusi mode ini sudah terjadi sejak awal abad ke-20. Pada masa itu muncul perdebatan antara penggemar fashion barat dan penyuka fashion Arab (yang diidentikkan dengan fashion Islam). Orang-orang yang suka memakai pantalon, dasi, dan jas, dikritik oleh mereka yang berorientasi Timur Tengah. Hal itu dapat dibaca lebih lanjut dalam artikel Nico  J.G. Kaptein, ‘Southeast Asian debates and Middle Eastern inspiration: European dress in Minangkabau at the beginning of the 20th century.’ Dalam: Eric Tagliacozzo (ed.), Southeast Asia and the Middle East:  Islam, movement, and the longue durée, pp. 176-195. Singapore: NUS Press; Stanford: Stanford University Press, 2009).

Foto yang kami ketengahkan kali ini mengabadikan orang “berbapakaian tjara ‘adat Minangkabau” di darek (dataran tinggi Minangkabau) pada tahun 1920-an. Demikian judul yang menyertai gambar ini yang dimuat dalam salah satu edisi majalah Pandji Poestaka tahun 1926 (lihat keterangan sumber di bawah).

Jadi, foto ini dibuat semasa revolusi pakaian tahap awal sedang terjadi di Minangkabau. Barangkali itu bukan revolusi yang benar-benar awal, karena pada pertengahan pertama abad ke-19 sudah terjadi pula revolusi pakaian di Minangkabau karena munculnya gerakan Paderi. Pada masa itu orang-orang Paderi memperkenalkan pakaian cara Arab kepada masyarakat Minangkabau.

Bahwa pada tahun 1920-an itu telah terjadi revolusi pakaian di Minangkabau, dapat dikesan dari keterangan (caption) yang menyertai foto ini. Dikatakan: “Pakaian seperti jang terloekis pada gambar di atas ini, makin lama makin terdesak djoega oléh pakaian Barat. Makin djarang djoega kelihatan pakaian jang indah-indah itoe. Apalagi soedah berpoeloeh tahoen anak negeri tiada menenoennja lagi. Dalam pada itoe banjak poela jng didjoeal kepada bangsa asing, akan didjadikan perhiasan roemah atau soeatoe barang kegandjilan sadja.”

Jadi, jelaslah bahwa keterpinggiran pakaian tradisional Minangkabau, seperti yang terlihat dalam foto ini, bukan baru terjadi sekarang. Rupanya sudah lama hal itu terjadi, dan tentu ini terkait dengan modernitas yang memang sudah lama memasuki Minangkabau, baik melalui agent para perantaunya maupun melalui media lainnya. Sansai Minangkabau!

Suryadi – Leiden University, Belanda | Singgalang, Minggu, 28 Februari 2016 (Sumber: Pandji Poestaka, No. 45, Tahoen IV, 8 Djuni 1926:1022).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: