Tjermin, No. 23, TAHUN KE-11, 15 OKTOBER 1950, p.22-CROP

Di bawah foto ini terdapat keterangan sebagai berikut:

“Henk Rondonuwu, bekas menteri penerangan N.I.T. [Negara Indonesia Timur] dengan Nona Gadis Rasjid, dengan siapa ia telah menikah pada 27 September j.l. [1950] di Djakarta. Nona Gadis Rasjadi adalah wartawan wanita Indonesia jang terkenal. (Klise: “Pewarta Surabaja”).

Sumber foto: Majalah Tionghoa Tjermin (Surabaya), No. 23, TAHUN KE-11, 15 OKTOBER 1950, hlm.28

Advertisements

tHsrian Abadi, Rabu 15 September 1954-crop

Sumber foto: Harian Abadi, Rabu 15 September 1954

Catatan: Tentang mesin jahit (sewing machine) dan modernity di Asia, lihat antara lain Nira Wickramasinghe, Metallic Modern: Everyday Machines in Colonial Sri Lanka (New York/Oxford:  Berghahn Books, 2014. (lihat resensi Suryadi terhadap buku itu di sini: https://www.cambridge.org/core/journals/itinerario/article/nira-wickramasinghe-metallic-modern-everyday-machines-in-colonial-sri-lanka-new-yorkoxford-berghahn-books-2014-181-pp-isbn-9781782382423-7000/03B37875EC4B35A1360C016B0D321575).

Minangkabau-Instituut

   Pada penghabisan tahoen jang terlampau [1917] di Amsterdam soedah didirikan Minangkabau Instituut. Maksoednja Minangkabau-Instituut ini jalah akan bekerdja sama-sama dengan Koloniaal Instituut mengoempoelkan pengetahoean tentang negeri Minangkabau di Sumatra. Dan lagi akan memberi tempat kepada anak negeri Minangkabau mempeladjari pengetahoean terseboet dan dengan djalan begini soepaja bisa menambah kesedjahteraaan dan kemadjoean rajat Minangkabau dan memperkoeat pertalian pemerintah dengan negeri.

     Soepaja moedah mentjapai maksoed ini, maka pada Instituut Minangkabau terseboet akan bekerdja beberapa orang ambtenaar (archivarissen). Dan djoega akan memberi bantuan, kalau perloe kepada pemeriksaan-pemeriksaan ke Tanah Minangkabau, dan mengirim orang-orang pandai ke Sumatra boeat memeriksa keadaan disana.

     Bestuur dari Instituut terseboet adalah seperti berikoet:

     Th. F. A. Delprat, president, prof. J. C. van Eerde, secretaris, A. H. Kleiweg de Zwaan, penningmeester; J. Ballot; K.H. H. van Bennekom; Dr. C. W. Jansen, Dr. J. P. Kleiweg de Zwaan; prof. Dr.  Ph. S. van Ronkel, W. H. M. Schaade, dan dr. C. G.Veth.”

***

Laporan- surat kabar Neratja (Batavia), No. 91, Tahoen II, hari Rebo 15 Mei 1918 tentang berdirinya Minangkabau Instituut di Amsterdam. Tepatnya, institusi ini resmi berdiri pada akhir November 1917 (lihat De Tijd [’s-Hertogenbosch], 24-11-1917). Laporan Neratja di atas memberitahu kita tentang tujuan pendirian institut ini dan para akademsi dan staf pendukung yang menjalankan dan mengelolanya.

Berdirinya Minangkabau Istituut tidak lepas dari gairah mempelajari daerah-daerah koloni yang sedang marak di Eropa pada masa itu, khususnya di Belanda. Kepulauan Nusantara yang begitu luas dan sangat heterogen dari segi etnik dan budaya amat menarik perhatian Pemerintah dan pada akademisi Belanda. Mereka mempelajari apa saja yang terkait dengan koloni mereka yang luas dan kaya itu. Tentu saja hal itu dilakukan dalam rangka memahami masyarakat dan budaya daerah koloni untuk kelanjutan hegemoni kolonialisme Belanda di tanah jajahan yang kaya itu.

Minangkabau Instituut didirikan menyusul rekan-rekannya yang lain yang sudah lebih dahulu berdiri, seperti Bataksch Instituut (1908), Oostkust van Sumatra Instituut dan Zuid Sumatra Instituut (1916), yang merupakan bagian dari upaya-upaya ilmiah untuk mengeksplorasi Pulau Sumatra. Selain yang menyangkut etnis dan budaya lokal di Pulau Sumatera, didirikan pula institut-institut yang mengkaji beberapa etnik dan budaya di pulau-pulau lainnya, seperti Java Instituut, Bali Instituut, dan Celebes Instituut.

Disebutkan dalam laporan di atas bahwa tujuan didirikannya Minangkabau Instituut ialah: bekerjasama dengan Koloniaal Instituut (didirikan tahun 1912) untuk mengumpulkan pengetahuan ilmiah tentang masyarakat, bahasa, budaya, dan geografi Minangkabau yang memberi peluang kepada “anak negeri Minangkabau [sendiri] untuk mempeladjari pengetahoean terseboet dan dengan djalan begini soepaja bisa menambah kesedjahteraaan dan kemadjoean rajat Minangkabau dan memperkoeat pertalian” antara Pemerintah Belanda (Negara Induk) dengan koloninya, dalam hal ini masyarakat Minangkabau.

Nama-nama bestuur (pengurus) Minangkabau Instituut, sebagaimana tertera di atas, adalah akademisi yang sudah lama terlibat dalam penelitian sosial budaya tentang Minangkabau dan Sumatra pada umumnya. Prof. J. C. van Eerde, misalnya, banyak menerbitkan publikasi tentang bahasa dan budaya Minangkabau. Demikian juga dengan, Dr. J. P. Kleiweg de Zwaan, seorang antropolog fisik yang sangat tertarik dengan dunia pedukunan dan penyakit gila (krankzinnig) yang banyak diderita oleh orang Minangkabau. Beliau adalah salah seorang anggota tim peneliti senior dalam Centraal Sumatra Expeditie yang dipimpin Alfred Maass, 1907-1908. Sedangkan Prof. Dr. Ph. S. van Ronkel adalah akademikus Leiden yang banyak meneliti tradisi lisan dan pernaskahan Minangkabau.

Para anggota Minangkabau Instituut membayar kontribusi tahunan sebesar f 25 (De Sumatra Post, 02-03-1918) dan mereka berhak mendapatkan jurnal Minangkabau Instituut yang diterbitkan oleh lembaga ini.

Untuk menata kearsipan institut yang baru didirikan ini, didatangkanlah archivaris A. Joustra yang sudah bekerja pada Bataksch Instituut. Ia dibantu oleh ajunct-archivaris Amaroellah Galar Soetan Mangkoeto, seorang putra Minangkabau generasi peneroka yang bersekolah ke Belanda (De Tijd, ibid.; Het Sumatra Post, 02-03-1918). Berangkat ke Belanda pada September 1906 (sebelumnya menjadi hulponderwijzer di Idi, Aceh), Amaroellah ga[e]lar Soetan Mangkoeto bin Mangkoeto Caijo, demikian nama lengkapnya,  sangat aktif dalam pengajaran bahasa Melayu di beberapa lembaga pendidikan di Belanda, seperti di De Vereeniging voor Voortgezet Handelonderwijs (Openbare Handelsschool)  di Amsterdam dan di Koninklijk Instituut voor de Marine di Willemsoord. Ia juga aktif dalam keredaksian koran Kaoem Moeda, Bandera Wolanda dan berkala Bintang Hindia yang dikelola oleh pensiunan tentara Clockener Brousson.  Amaroellah juga seorang aktivis Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) generasi pertama (didirikan di Leiden oleh Soetan Casajangan Soripada dkk. pada 1908). Bahkan pada 1921 Amaroellah juga diangkat menjadi anggota Amsterdamschen Raad, satu-satunya anggota Dewan Kota Amsterdam yang berdarah pribumi Indonesia (De Telegraaf, 08-09-1921).

Tarikh berdirinya Minangkabau Instituut menandai meningkatnya ketertarikan dunia internasional secara akademis pada masyarakat dan budaya Minangkabau dan hal itu berkelanjutan sampai sekarang. Ratusan disertasi sudah ditulis orang (dalam dan luar negeri) tentang etnis bernasab ibu terbesar di dunia sekaligus penganut Islam itu. Di tahun 1943 (zaman pendudukan Jepang), berdiri pula Institute for Research on Minangkabau Society di Padang yang digagas oleh Abdoel Madjid Usman dkk. dan disokong oleh Gubernur Yano. Di tahun 1969, Dr. Mochtar Naim dkk. mendirikan pula Center for Minangkabau Studies di Padang. Kemudian pada tahun 1999 berdiri pula di Padang Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau yang diterajui oleh Buya Masoed Abidin dkk.

Dapat dikesan bahwa terjadi penularan ke dalam: para intelektual Minangkabau sendiri tergugah untuk mendirikan pusat kajian akademik guna meneliti masyarakat dan kebudayaan sendiri. Namun, tampaknya gairah akademik yang diimplemetasikan dalam bentuk lembaga penelitian itu semakin menurun sehingga sekarang yang tinggal hanyalah sebuah Minangkabau Corner, sebuah ‘Sudut Minangkabau’) saja lagi, di sebuah universitas di Sumatera Barat, sebagaimana dikeluhkan Tan Sri Dato’ Seri Utama Dr. Rais Yatim, mamak gadang orang Minangkabau di Malaysia, dalam beberapa kali perbincangan dengan penulis. Dari ‘Center…(Pusat) menciut menjadi ‘…Corner’ (Sudut) tentu menyiratkan terjadinya pengecilan peran, kalaulah bukan kemunduran.

Oleh karena itu, mungkin sudah saatnya untuk mendirikan kembali sebuah pusat kajian Minangkabau yang berwibawa. Idealnya institusi seperti itu muncul di Sumatera Barat sendiri, tapi jika tidak, di negeri manapun ia berdiri (di Malaysia, misalnya), niscaya ia akan bermanfaat untuk dunia ilmu pengetahuan dan untuk masyarakat Minangkabau sendiri.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 17 Maret 2019

 

Penangkapan

Dari Padang Pandjang orang kirim kabar, pada petang Minggoe 11 November kira-kira poekoel 5 petang toean Asistent Resident Padang Pandjang bersama Djaksa dan Toeankoe Demang dan dibantoe lebih koerang doea loesin soldadoe bersendjata bajonet, telah datang menggeledah kantoor International Debating Club di Padang Pandjang.

            Natar Zainoedin verantw.[oordelijk] redacteur Djago-Djago dan Hadji Datoe Batoeah redacteur Pemandangan Islam telah dipreventief.

            Menoeroet kabar lain, malamnja ada doea orang anak negeri Kota Lawas dihantar oleh seperangkatan politie bersendjata, dimasoekkan dalam boei dan paginja teroet lagi ampat orang ditangkap dimasoekkan dalam pendjara di Padang Pandjang.

Fort de Kock.

            Menoeroet kabar angin, bahwa engkoe Soetan Perpatih di Fort de Kock djoega akan ditahan, kabarnja toean Resident telah datang kesana berhoeboeng dengan perkara itoe.

Apa benar?

            Dalam kota Padang petjah lagi kabar jang mengatakan, bahwa Penghoeloe kepala negeri Penjalaian di Padang Pandjang, diboenoeh oleh orang djahat, jang katanja berhoeboeng dengan gerakan communist di Padang Pandjang. Apakah benar kabar ini, beloem dapat diketahoei, hanja dikira-kira sadja kabar ini tiada benar, jang barangkali orang sengaja mengeloearkan kabar itoe akan mendahsjatkan kabar penangkapan beberapa orang di Padang Pandjang seperti telah dikabarkan.

Tangkap dan Gerandah

            Oet.[oesan] Melajoe[,] Perobahan dan Tjaja Soematra mengabarkan:

Tertangkap.

            Kami menerima telegram dari Koeboe Kerambil (P. Pandjang) jang mewartakan, bahwa delapan orang dari kaoem Djago Djago telah dimasoekkan dalam pendjara P. Pandjang.

            Dalam seboeah sado antara Koeboe Kerambil dengan Padang Pandjang, ada penoempang Asistent Demang, Kepala Negeri Boenga Tandjoeng, dan Arif Fadillah Redacteur Djago Djago.

            Arif Fadillah kelihatan bermoeka asam.

            Antara jang telah dipendjara itoe, ialah e e. H. Dt. Batoeah, N. Zaionedin, Dt. Indo Kajo dan Mangkoedoem Sati.

            Sebagaimana telah dikabarkan maka di Kota Lawas Padang Pandjang telah ditangkap beberapa orang jang disangka djadi kaoem merah, begitoepoen kabar officieel memberitahoe lagi, bahwa di Kota Lawas itoe telah ditangkap Baginda Tan Amas, Radjo nan Kajo, Djoerek dan Ibrahim Makoemar.”

***

Laporan-laporan dalam harian Neratja (Batavia), No. 222, Tahoen VII, Senin 26 November 1923 tentang tindakan penangkapan yang dilakukan otoritas kolonial Hindia Belanda di Padang Panjang dalam upaya menangkal pengaruh ajaran komunis yang, walau masih baru diperkenalkan, terus mendapat sambutan dalam masyarakat Minangkabau.

Nama-nama yang disebut dalam laporan di atas adalah orang-orang yang dianggap sebagai aktor intelektual gerakan komunis di Minangkabau, khususnya di Padang Panjang. “Kaum merah” itu ditangkap dan ditahan (‘dipreventief’) karena menganut ideologi komunis dan aktif menyebarkannya kepada orang lain, baik secara lisan, lebih-lebih lagi melalui tulisan di media yang mereka kelola sendiri, seperti Djago-Djago dan Pemandangan Islam. Hal ini dianggap berbahaya karena ajaran para pemimpin komunis tersebut dituduh menghasut rakyat untuk memberontak kepada penguasa kolonial Hindia Belanda.

Sasaran utama penangkapan itu tampaknya  adalah para penggerak International Debating Club, sebuah kelompok diskusi yang baru berdiri sekitar sebulan sebelumya (lihat Djago! Djago!, No. 1, Tahoen I, Senin 8 October 1923:3), yang melaluinya ajaran komunis, ide-ide kemerdekaan, hak untuk mengurus diri sendiri, dan kritisisme kepada kebijakan-kebijakan politik dan ekonomi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda disuntikkan kepada para peserta diskusi yang tentunya akan dipesanberantaikan kepada masyarakat. Di sana ada Haji Dt. Batoeah, Redaktur berkala Pemandangan Islam, Natar Zainoedin dan Arif Fadillah, Direktur dan Redaktur berkala DjagoDjago. Kedua media tersebut sangat vokal mengeritik kebijakan-kebijakan penguasa kolonial Hindia Belanda dan memuat tulisan-tulisan yang menyuntikkan kesadaran untuk merdeka.

Rangkaian laporan di atas menyebut pula beberapa nama lain yang dianggap terkait dengan penyebaran kritisisme kepada Pemerintah: Soetan Perpatih, Dt. Indo Kajo, Makoedoem Sati, Baginda Tan Amas, Rajo nan Kajo, Djoerek, Ibrahim Makoemar, dll.

Tahun 1923 adalah masa yang panas di Padang Panjang dan sekitarnya. Sikap otoriter dan represif penguasa kolonial Hindia Belanda dengan menangkapi para pemimpin ‘komunis’ itu disambut dengan berbagai unjuk rasa oleh masyarakat Minangkabau, tidak hanya di Padang Panjang, tapi juga di daerah-daerah lain.

Laporan di atas juga merefleksikan perpecahan dalam masyarakat Minangkabau akibat munculnya gerakan ini. Penentangan tentunya muncul dari kalangan yang dekat dengan Belanda, seperti keluarga angku Damang, tuanku Lareh, penghulu kepala bersurat, dll. Para penghulu dan kepala nagari yang dianggap pro Belanda menjadi sasaran teror dan pembunuhan. (Beberapa kasus telah diinformasikan dalam rubrik ini dalam nomor-nomor sebelumnya.)

Tentang muncul dan berkembangkan ajaran ‘kuminih’ di Padang Panjang pada periode ini, bacalah buku Fikrul Hanif Sufyan, Menuju Lentera Merah: Gerakan Propagandis Komunis di Serambi Mekah (Yogyakarta: UGM Press, 2017).

Sejarah telah mencatat bahwa orang-orang yang ditangkap itu sebagian dibuang jauh dari Minangkabau, bahkan ada yang diasingkan ke Digul, seperti Haji Dt. Batoeah, Natar Zainoedinn dan Arif Fadillah. Namun, gerakan komunis tak dapat dibendung. Ia terus menyebar dalam masyarakat Minangkabau dan berujung pada “Pemberontakan Komunis” tahun 1926/27 yang apinya dipantikkan dari Silungkang, tapi dengan cepat dapat dipadamkan dengan kekuatan militer yang represif oleh Batavia.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 10 Maret 2019

Meisjedvereeniging Kota Gedang

           Pada hari Ahad tanggal 1 Februari [1925] ini telah dilansoengkan di roemah Sekolah Renda Keradjinan Amai Setia atas permoefakatan beberapa intellectuele meisjes dinegeri kita dengan pimpinan Gadis2 itoe sendiri permoesjawaratan akan mentjari kata jang semoefakat dan roendingan jang seoekoer oentoek mendirikan seboeah Meisjes Vereeniging. Setelah doedoek beroending meadoe moefakat, tetaplah kemaoean jang hadir, kira2 doea poeloeh orang gadis intellectuals, meatjoe2 mendirikan seboeah Meisjes Vereeniging K. Gedang. Dan pada keesokan harinja dioelang rapat itoe jang dihadiri oleh 60 gadis-gadis. Waktoe itoe ditoeliskanlah nama nama leden jang banjaknja 33 orang. Pada waktoe menoelis ini Vereeniging itoe telah mempoenjai 55 orang lid, jang paling dibawah tamat sekola H.I.S.

Haloean Vereeniging ini ialah menoeroet keterangan Presidentenja setelah ia diintervieuw Soera [Kota Gedang] semata mata hendak menjadarkan kaem iboe tentangan memperhaloes boedi pekerti gadis gadis negeri kita dengan berdasar Minangkabau menoeroet djalan bertolong tolongan dan memperhoeboengkan selatoerrahim pada tiap tiap waktoe dan tempat, sambil memperloeas pemandangan dan memperdalam pengetahoean jang lajak bagi gadis jang terpeladjar.

Hal ini, menoeroet keterangan Presidente terseboet ialah akan ditjapai dengan meadakan boekoe boekoe seperti: Gracieuse, De Vrouw en har Huis, Practische wenken voor de huishouding dan sebagainja.

Boeat sementara diambil 1½ djam waktoe pada tiap2 hari Isnajan petang hari datang berkoempoel dengan membawa pendjahitan masing-masingnja lid keroemah sekolah K.A.S. akan tambah menambah kepandaian sesama lid.

Diangkat mendjadi Bestuur jang pertama kali, dengan soeara jang terlebih banjak, gadis gadis:

           Emma Jahja         Presidente

            Zaimal                 Secretares

            Zakiah                 Penningmeesteres

Soeara Kota Gedang mendo’akan dengan djalan ini moedah moedahan landjoetlah oesianja Meisjes Vereeniging ini akan mendjadi semarak bagi negeri dan demikianlah atas permintaan Bestuur Vereeniging ini Soeara [Kota Gedang] menjampaikan harapan Vereenging ini kepada padoeka angkoe angkoe pembatja, moga moga berkat rahim hati angkoe angkoe menjokong Meisjesvereeniging ini, dengan do’a dan djoega demi sekiranja ada diantara pembatja ini terlebih2 dari pihak kaoem iboe jang soeka mendermakan kitab-kitab atau boekoe-boekoe jang akan boleh dipegoenakan Vereeniging ini, Vereeniging terseboet akan soeka menerimanja dengan beriboe terima kasih.

Demikianlah pengharapan Bestuur Meisjes Vereeniging K.Ged.”

***

Laporan koran nagari Soeara Kota-Gedang, No. 2, Tahoen ke X, Februari 1925 tentang pembentukan sebuah organisasi keputrian di Koto Gadang. Disebutkan bahwa pada tanggal 1 Februari 1925 sekitar 20 orang gadis Koto Gadang yang terpelajar berkumpul di rumah Kerajinan Amai Setia (KAS). Diprakarsai oleh Rakena Puti, KAS didirikan pada 11 Ferbruari 1911, kemudian menjadi berkembang di bawah pimpinan Rohana Kudus. Tujuan utama KAS ialah untuk meningkatkan derajat kaum wanita Koto Gadang, dan Minangkabau pada umumnya, dengan memberi pelajaran menulis, membaca, berhitung, urusan rumah tangga, etiket, dan kerajinan tangan untuk meningkatkan keterampilan dan ekonomi rumah tangga mereka.

Laporan di atas menyebutkan bahwa dalam pertemuan selanjutnya, terbentuklah kepengurusan Meisjes Vereeniging Kota Gedang tersebut, yaitu: Emma Jahja sebagai Presidente-nya, Zaimal sebagai Secretares, dan Zakiah sebagai Penningmeesteres (Bendahari). Tujuan organisasi ini sejalan dengan KAS, yaitu “semata mata hendak menjadarkan kaem iboe tentangan memperhaloes boedi pekerti gadis gadis negeri [Koto Gadang] dengan berdasar Minangkabau menoeroet djalan bertolong tolongan dan memperhoeboengkan selatoerrahim pada tiap tiap waktoe dan tempat, sambil memperloeas pemandangan dan memperdalam pengetahoean jang lajak bagi gadis jang terpeladjar.

Laporan Soeara KotaGedang di atas merekam antusiasme gadis-gadis Koto Gadang untuk bangkit mengejar ketertinggalan mereka dari kaum laki-lakinya. Pada masa itu (1920an), ketika kebanyakan kaum perempuan di nagarinagari lain di Minangkabau, bahkan di Indonesia, masih terkungkung dalam kekolotan dan buta huruf, gadis-gadis Koto Gadang sudah mengecap pendidikan modern ala Eropa/Belanda, pintar berbahasa Melayu tinggi dan Belanda dan ada yang bekerja di instansi Binnenlands Bestuur Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Seperti dapat dikesan dalam laporan di atas, mereka membaca buku-buku dalam bahasa Melayu dan Belanda.

Namun, gadis-gadis Koto Gadang di zaman itu terkungkung dalam peraturan adat yang keras di mana mereka hanya diperbolehkan menikah dengan laki-laki asal Koto Gadang saja. Sebaliknya, laki-laki Koto Gadang boleh menikah dengan wanita dari nagari atau bahkan etnis lain. Pada masa itu sudah mulai terdengar suara-suara dari pihak kaum wanita Koto Gadang yang memprotes aturan adat yang kaku itu (lihat: Pandji Poestaka, No.37, Tahoen 1, 13 September 1923, hlm. 12-13).

Demikianlah sedikit tambahan informasi seputar gerakan kaum wanita Koto Gadang dalam meraih kemajuan pada paroh pertama abad ke-20.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 3 Maret 2019

 

Berangkatnja toean L. Datoek Toemanggoeng

      Berangkatnja Patih pada pamerenta.

      Bertitel penghoeloe dalem adat.

      Berdarah Minangkabau, berhati nationalist.

      Berkata banar, berdjalan loeroes.

            Berhoeboeng dengan amannja negri pada waktoe jang achir ini, maka oleh pamerenta telah dikabarkan pada toean L. Datoek Toemanggoeng jang mendjadi Patih dan ter beschikking pada Resident di Sumatra Barat ini, soepaja toean terseboet koembali lagi ke Batavia ka tempat bermoela.

            Begitoelah kemaren dengan menoempang kapal Van Lansberge toean terseboet serta familienja berangkat koembali ka Betawi dengan meninggalkan tempat toempah darah toean terseboet.

[…]

***

Kudungan dari laporan Sinar Sumatra, No. 13, Taon ka 24, HARI SENIN  16 JANUARI 1928 – 24 TJAP-DJI-GWEE 2478– 23 RADJAB 1346) tentang kembalinya Landjoemin Datoek Toemanggoeng ke Batavia bulan Januari 1928.

Landjoemin adalah salah seorang intelektual Minangkabau pertama yang mendapat pangkat Patih dalam administrasi Pemerintahan Dalam Negeri (Binnenlands Bestuur/BB) Kolonial Hindia Belanda. Beliau berasal dari Sungai Puar. Istri beliau, Rangkayo Chailan Sjamsoe, adalah seorang penggerak emansipasi wanita di zamannya dan juga propagandis bahasa Esperanto di Asia Tenggara.

Laporan di atas menjelaskan kepulangan Landjoemin kembali ke Batavia setelah beberapa saat lamanya berada di Sumatera Barat untuk menyelidiki sekaligus memberi nasehat kepada para pemuka pemerintah dan adat di kampung halamannya itu yang baru saja dilanda huru-hara pemberontakan kaum komunis di Silungkang dan beberapa daerah lainnya di Minangkabau.

Batavia (Gubernur Jendral Andries Cornelis Dirk de Graeff) membentuk satu Komisi yang diketuai oleh Prof. B.J.O. Schiereke untuk menyelidiki penyebab timbulnya kerusuhan tersebut dan mencari solusi yang terbaik untuk mengembalikan rust en orde di Minangkabau. Salah satu anggota Komisi itu adalah Demang Maninjau Darwis Dt. Madjolelo.

Landjoemin bukan anggota Komisi itu. “Saja datang kemari, sengaja saja minta sendiri pada pamerenta, dengan harapan soepaja saja dapat menerangkan pada bangsa saja pendoedoek Minangkabau akan keboeroekkan dan keboesoekkannja communist”, katanya, sebagaimana dikutip oleh Sinar Sumatra dalam keratan lain laporan di atas.

Ketika berpidato di atas kapal Van Lansberge di hadapan ninik mamak dan orang-orang patut menjelang keberangkatannya kembali ke Batavia, Landjoemin antara lain berkata:

Orang Minangkabau sebelomnja berada dibawah pamerentah Belanda telah djoega mempoenjai adat dan agama jang semporna, jang dapat membawak rajat ke djalan jang selamat. Dan sekarang setelah kita berada dibawah pamerenta Belanda jang ada poela memboeat oendang oendang, oleh sebab mana wadjiblah kita ketahoei dan pahami dengan sedjelas djelasnja akan ketiga peratoeran itoe.

            Djikalau sekiranja timboel perselisihan jang bersangkoet dengan adat, djanganlah orang lari pada wakil pamerenta atau lain badan, tapi larilah pada penghoeloe ninik mamak kita. Di bebrapa tempat saja meadakan lezing, dengan mentjeritakan bagaimana keboeroekan dan keboesoekan Tarekat Merah [komunis] itoe, hingga kelihatan dengan njata orang orang kampoeng jang bodo itoe, baroe taoe akan kesesatannja. Pekerdjaan saja itoe ada sangat berbehaja dan mendapat serangan dan tikeman dari kiri dan kanan, tapi kerna saja berdjalan diatas rail kebenaran dan loeroes, Insja Allah sampei di sa’at saja akan berangkat ini adalah dalam selamat sadja, tida koerang soeatoe apa.

Kalau saja tida lekas datang ka Soengei Pear, jaitoe negri saja [sendiri], barangkali tidak mempoenjai tempo lama lagi, itoe negri akan hantjoer leboer poela seperti keadaan di Siloengkang. Beroentoeng anak negri di itoe tempat sesoeda mendengar nasihat saja dengan segera meoendoerkan diri dari itoe Tarekat Merah.

            Toean toean, ninik mamak, djaoehkanlah itoe Tarekat Merah. Boekannja saja tida setoedjoe pada perkoempoelan, atau mehalang halangi akan adanja pergerakan – tida – tapi adakanlah jang tida melanggar pada adat, agama dan wet pamerentah, dan saja nanti akan soeka poela memasoeki itoe perkoempoelan dengan menoendjang dengan bebrapa kekoeatan tenaga saja.

            Kalau oendang-oendang jang tida lamak dihati toean-oean dan ninik-mamak, djanganlah lekas lari pada pemimpin pemimpin jang kebanjakan kepandeiannja hanja berkata-kata bohong sadja, tapi larilah pada pamerenta, poelangkanlah pada wakilnja dengan setjara djalan berdjanjang naik, bertanggah (sic) turun.”

Laporan di atas memberi kesan: Landjoemin disambut hangat di kampung halamannya. Banyak orang melepasnya dengan “meadakan perdjamoean perpisahan antara marika dengan toean Datoek Toemanggoeng, begitoepoen di kota Padang, djoega diadaken itoe matjem perdjamoean” yang “boekan sadja diadaken oleh bangsa Boemipoetra, tetapi bangsa Eropa dan Tionghoa poen tiada poela ketinggalan[…].

Namun, banyak juga orang Minangkabau yang tidak menyukai Landjoemin karena dia dianggap sebagai kolaborator Belanda, satu faktor yang mungkin telah menjadi penyebab kematiannya yang tragis setelah diculik oleh para pelaku Pemberontakan Baso, Maret 1947.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 24 Februari 2019

 

Jubileum Minangkabau Saijo

            Dalam soerat soerat kabar di Medan dimoeatkan kabaran tentang jubileum Minangkabau Saijo jang telah tjoekoep 5 taon berdirinja.

            Pada minggu pagi tanggal 5 December taon jang baroe laloe, Minangkabau Saijo penoeh sesak didatangin oleh banjak orang jang berasal dari Minangkabau, begitoepoen beberapa tetamoe tida loepa dapat oendangan.

            Gedoeng Minangkabau saijo dihiasin dengan bermatjam matjam boengah boengahan jang menarik perhatian serta dalemnja diadakan bermatjem matjem permainan Minangkabau.

            Djam 1 malemnja baroelah itoe kerameian ditotoep.”

***

Laporan surat kabar Sinar Sumatra edisi Selasa 3 Januari 1928 – 11 Tjap-Dji-Gwee 2478 – 10 Radjab 1346, No. 2, Taon ka 24 tentang perayaan ulang tahun (jubileum) persatuan perantau Minangkabau (vereniging van Minangkabauers) di Medan dan sekitarnya yang bernama “Minangkabau Saijo” (ejaan sekarang: “Minangkabau Saiyo”).

Sebagaimana dapat dikesan dalam laporan di atas, disebutkan bahwa tanggal 5 Desember 1928 malam telah diadakan peringatan ulang tahun ke-5 organisasi orang Minangkabau di perantauan Tanah Deli. Banyak jenis kesenian Minangkabau dipertunjukkan pada malam itu.

Alamat sekretariat “Minangkabau Saiyo”-Medan adalah di Emmastraat (Jalan Ratu Emma), Medan. Organisasi ini mengemban peran sosial dan ekonomi untuk membantu sesama perantau Minangkabau yang ada di kota itu (atau Sumatera Utara pada umumnya). Bila ada warga Minangkabau di Medan dan sekitarnya yang mendapat kemalangan atau mengalami masalah lain, “Minangkabau Saiyo”-Medan akan turun tangan membantu mereka. (lihat misalnya berita “Hulpvaardigheid” dalam De Sumatra post, 22-10-1923).

Perkumpulan “Minangkabau Saiyo”-Medan secara resmi dibentuk pada hari Mingggu 24 Desember 1922 dalam sebuah rapat akbar di gedung bioskop Oranje (Oranje-bioscoop), salah satu panggung gambar hidup yang terkenal di Medan pada masa itu, yang dihadiri tak kurang dari 2000 orang perantau Minangkabau di kota itu. Bioskop Oranje penuh sesak sehingga tak ada lagi tempat yang terluang. Terpilih sebagai ketuanya “Datoe Radja Angat” (Datuak Rajo Angek). Dalam kesempatan itu beberapa pemuka perantau Minangkabau di Medan ikut memberi sambutan. Salah seorang di antaranya, Moh. Samin, berbicara tentang pengangguran di kalangan perantau Minang di Medan dan upaya-upaya untuk mencarikan pekerjaan untuk mereka. Juga diadakan acara badoncek yang berhasil mengumpulkan dana sebanyak f 600. Kesenian anak nagari Minangkabau, seperti pupuik, saluang, dan musik perarakan lainnya juga diperdengarkan. Datuak Rajo Angek yang terpilih menjadi ketua perkumpulang itu kemudian diarak dengan musik (mungkin gandang tambua/tasa atau talempong pacik) dari Oranje-bioscoop ke rumahnya (De Sumatra post, 27-12-1922).

Dapat dikesan jumlah para perantau Minangkabau di Medan pada akhir 1920an (2000-an lebih) dan betapa kompaknya mereka. Organisasi yang mereka bentuk adalah untuk memperjuangkan kepentingan bersama dan supaya dapat saling membantu. Nama “Minangkabau Saijo” yang dipilih menyiratkan kerjasama yang baik dan semangat seayun selangkah antara sesama perantau Minang itu. Organisasi perantau Minang “Minang(kabau) Saijo” juga di sejumlah kota lain, seperti Jakarta dan Bandung.

Kiranya kisah sukses organisasi perantau Minangkabau di masa lalu ini, dengan sikap kompak dan saraso samalu yang diperlihatkannya, dapat menjadi “cermin terus” bagi organisasi-organisasi perantau Minang sekarang, yang di beberapa tempat terlihat terpecah dan mengalami intrik satu sama lain karena pengaruh politik praktis.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 17 Februari 2019

 

Diamond Star

            Soedah beberapa malam Diamond Star bermain digedong bioscoop lama Kampoeng Nias, saban malam dapat koendjoengan penonton loear biasa.

            Ini opera waktoe belakangan ini banjak membawa perobahan baik technieknja, maoepoen lain-lain, hingga memoeaskan bagi sesoeatoe penonton.

            Disini orang haroes letakkan poedjian lebih djaoeh teroetama pada toean toean Njoo Cheng Seng, Wahid dan William Ang jang telah bisa angkat deradjatnja sesoeatoe tooneel, jang dalamnja bersifat Timoer.

            Extra’s tjoekoep memoeaskan dari pihak perempoean, tetapi tidak kelihatan dari kaoem laki laki jang sedikitnja menarik perhatian djoega.”

***

Salinan berita dari harian Persamaan (Padang), Tahoen ke I, No. 25, Sabtoe 28 April 1934 – 14 Moeharram 1353 tentang pertunjukan toneelgezelschap (grup sandiwara) Diamond Star selama beberapa malam di Padang dalam rangka kegiatan pasar malam yang sedang berlangsung di kota itu. Pertunjukan yang diadakan di “gedong bioscoop lama Kampoeng Nias” itu dihadiri oleh banyak pengunjung, khususnya kaum wanita.

Dalam edisi yang sama, Persamaan melaporkan bahwa dalam kesempatan pertunjukan di Padang itu, Diamond Star juga merayakan setahun naik panggungnya Fifi Young, salah seorang bintang opera yang sangat terkenal di Hindia Belanda dan Asia Tenggara pada umumnya pada masa itu, yang kemudian pada tahun 1950 beralih ke layar perak dan menjadi salah seorang bintang film pribumi yang tersohor di zamannya (lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Fifi_Young; dikunjungi 08-02-2019; lihat juga: P. Labrousse, “Entretien avec Fifi Young”, Archipel 5, 1973:175-177). Persamaan menulis:

Perajaan Fifi young

            Diamond Star Opera nanti petang Ahad [29-04-1938] ini di Pasar Malam akan merajakan hari tjoekoepnja Miss Fifi Joung satoe tahoen diatas tooneel. Malam itoe diambil tjerita speciaal bernama “Oost en West”, Timoer dan Barat.

            Loear biasa soenggoeh!

            Sehabis permainan ada poela pesta diatas tooneel.

            Kita oetjapkan selamat kepada Fifi Joung.”

Yang menarik dari laporan pertama di atas adalah ulasan Persamaan yang menyatakan bahwa “toean-toean Njoo Cheng Seng, Wahid dan William Ang” yang memimpin Diamond Star dinilai telah berjasa mengangkat “deradjatnja soeatoe toneel [pribumi]” dengan memasukkan unsur ketimuran (“…jang dalamnja bersifat Timoer.”). Kita tahu bahwa toneel (tonil) adalah seni pertunjukan yang diperkenalkan oleh orang Barat, dan tiga sutradara/pemain Diamond Star yang disebut di atas dinilai telah berhasil mendomestikasikan seni pertunjukan yang berakar dari kebudayaan/kesenian Eropa tersebut.

Sementara laporan kedua tentang Fifi Young memberitahu kita tentang tarikh mulainya karir bintang panggung/layar perak kelahiran Aceh 12 Januari 1914 itu di pentas sandiwara, yaitu sejak 1937. (Fifi Young meninggal di Jakarta pada 7 Maret 1975). Fifi Young juga merupakan salah satu bintang Inheemsch opera- en Indisch toneelgezelshap DARDANELLA yang amat terkenal itu yang, bersama bintangnya yang lain, seperti Miss Dja dan Miss Soeratna, telah mengadakan tur internasional, termasuk ke Belanda pada akhir 1930an (lihat: Bataviaasch Nieuwsblad, 11-11-1938).

Kehadiran toneelgezelschap Diamond Star di Padang pada 1934 merupakan bagian dari sejarah pertumbuhkembangan budaya pop dan urban entertainment di kota terpenting di pantai Barat Sumatera itu pada paroh pertama abad ke-20, yang sayangnya masih belum pernah diteliti secara dalam oleh akademisi kita.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 10 Februari 2019

 

Matoe patoet bersjoekoer

            Disamping sekolah Optima jang dikendalikan Matoea Saijo jang telah beroemoer 3 tahoen, sekarang hidoep lagi sekolah baroe oentoek anak2 perempoean, bernama “Poeteri Boengsoe School”.

            Pada 1 Jan. ’41 atas initiatif SKIM jg diketoeai oleh rangkaja Sjafiah telah berdiri satoe Comite pembangoen sekolah perempoean. Dalam tempo 70 hari Comite tsb telah dapat mengoempoelkan tenaga oentoek mendirikan sekolah itoe.

            Pada 10 Aug.[ustus] telah dilangsoengkan pemboekaan officieel dari sekolah “Poeteri Boengsoe School” itoe dengan dihadiri oleh ninik mamak, kepala negeri, orang tjerdik pandai, oelama2 serta engkoe2 dan rangkaja2 dan sebagian besar kaoem iboe.

            Waktoe perajaan pemboekaan itoe rkj. Sjafiah telah membentangkan dgn pandjang lebar sedjarah Poeteri Boengsoe School dari awal sampai terdiri itoe. Serta memintak bantoean pada jang hadir, akan mendjadi lid dermawan.

            Dalam pada itoe Voorzitter memintak, poetih kapas boleh dilihat, poetih hati berkeadaan.

            Jang hadir memberi soembangan dgn berpatoetan[:] 11 orang kepala2 negeri, wakil2 perkoempoelan, wakil negeri jg tjadiak pandai dgn soenggoeh2 berdjandji akan menjokong dgn djalan apa sekalipoen.

            Selandjoetnja kita berdoa pandjanglah oemoer sekolah PBS itoe dan bertambah actieflah Comite bekerdja serta terboektilah sokongan dari engkoe2 penjoembang itoe. Poetera, poeteri dalam doea kelarasan itoe akan djadi isi masjarakat jang berhargalah hendaknja. Orang datang.”

***

Salinan berita dalam surat kabar Persamaan (Padang), Tahoen ke VIII, No. 185, Djoem’at 15 Aug[ustus] 1941/22 Radjab 1360, tentang kegiatan kaum wanita di Matua (Matur), Agam, dalam usaha memajukan kaumnya.

Sebagaimana dapat disimak dalam laporan koran Persamaan di atas, kaum ibu di Matua yang dipimpin oleh Rangkayo Sjarifah telah membentuk sebuah komite untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak perempuan di nagari itu dan sekitarnya yang diberi nama “Poeteri Boengsoe School”.

Nama “Poeteri Boengsoe” tentu mengingatkan kita pada nama, Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku dalam Kaba Cundua Mato yang dilarikan oleh Raja Imbang Jayo ke Ranah Sikalawi tempat ayahnya, Tiang Bungkuak, memegang kendali negeri lahir batin. Namun, akhirnya Puti Bungsu dapat direbut kembali oleh Cindua Mato yang diutus oleh Bundo Kanduang ke Ranah Sikalawi. Cindua Mato berhasil pula membunuh Tiang Bungkuak, ayah Imbang Jayo, yang sakti itu, dan kembali dengan selamat ke Pagaruyung bersama Puti Bungsu. Entahlah apa yang terjadi antara Cindua Mato dengan tunangan Dang Tuanku, calon Raja Pagaruyung itu, selama dalam perjalanan dari Ranah Sikalawi ke Pagaruyung. Mungkin hanya almarhum Wisran Hadilah yang dapat menerka-nerka.

Kembali ke laporan surat kabar Persamaan di atas, dapat dikesan betapa sejak paroh pertama abad ke-20, bahkan sudah sejak dekade-dekade awal abad itu, kaum wanita Minangkabau sudah terinspirasi oleh kemajuan Barat. Mereka berlomba-lomba dengan kaum pria untuk meningkatkan pendidikan dan membebaskan diri dari buta huruf. Namun, yang unik adalah bahwa usaha meraih kemajuan ala Barat itu dikombinasikan dengan Islam, sehingga pada tahun 1930-an sudah ada murid wanita Minangkabau yang dikirim ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Berbagai sekolah untuk wanita, baik yang bersifat umum maupun sekolah-sekolah yang disebut “sekolah kepandaian puteri” didirikan di berbagai daerah di Sumatra’s Westkust. Hasilnya adalah: munculnya golongan wanita Minangkabau melek huruf dan berkemajuan yang sadar akan eksistensi dan potensi dirinya. Syarifah Nawawi, Rahmah Elyunusiayah, Rasuna Said, Siti Akmar Dahlan Abdoellah, Rahmah Saleh, dan banyak lainnya adalah produk dari perjuangan kaum wanita Minangkabau untuk meningkatkan kualitas diri mereka.

Sampai saat ini, kajian yang mendalam tentang gerakan kaum wanita Minangkabau untuk mencapai kemajuan ini belum pernah dilakukan. Bila kita rajin membaca surat-surat kabar lama dan dokumen-dokumen lain semasa, rasanya cukup mungkin untuk melakukan satu studi mendalam, eksploratif dan ekstensif mengenai tema ini.

Laporan di atas juga memberi kesan bahwa selain gerakan kemajuan yang diperjuangkan oleh kaum wanita Minangkabau telah menjalar sampai ke desa-desa seperti Matua, Koto Gadang, Singkarak, dll., upaya kaum wanita Minangkabau untuk meningkatkan kualitas dirinya juga disokong oleh kaum lelaki. Jika gerakan Rangkajo Sjarifah (sejarah tentang beliau mesti diungkap lebih jauh, mungkin beliah adalah Sjarifah Nawawi, anak guru Kweekschool Fort de Kocok, Nawawi Soetan Makmoer) di Matua dalam mendirikan “Poeteri Boengsoe School” disokong oleh “11 orang kepala2 negeri, wakil2 perkoempoelan, wakil negeri jg tjadiak pandai [yang] dgn soenggoeh2 berdjandji akan menjokong dgn djalan apa sekalipoen”, maka sangat mungkin hal yang sama juga terjadi di nagari-nagari lainnya di Minangkabau pada masa itu.

Pendek kata, sebuah studi mendalam (mungkin sebuah disertasi) tentang sejarah gerakan kemajuan kaum wanita Minangkabau sejak awal abad ke-20 hingga sekarang perlu ditulis. Oleh siapa? Kita tunggu reaksi dari sejarawan UNAND, UNP, Universitas Bung Hatta dan perguruan-perguruan tinggi lainnya yang ada di Ranah Minang.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 3 Februari 2019

Z.K.H. Prins Hendrik meninggal doenia

            Berhoeboeng dengan meninggalnja Z K.H. Prins Hendrik, hari Arbaa pagi sekeliling kota Padang naik bendera setengah tiang jang menjatakan toeroet berdoeka tjita.

            Soerat2 kabar dikota ini sama menjatakan toeroet berdoeka tjita, sedang Sumatra Bode telah memoeat kabar2 meninggal itoe satoe pagina penoeh dengan memakai pinggir hitam.

            Kota Padang mempoenjai djoega gedong bioscoop dan ditambah poela dengan satoe circus jang terdiri dari orang2 Tionghoa tidak bermain. Sedang dalam kampoeng2 satoe boenianpoen tidak terdengar.

            Z K H Prins Hendrik meninggalnja diserang penjakit Hartverlamming dengan sekojong kojong.

            Meninggalnja Z K H Prins Hendrik tidak dihadapan Koningin dan Prinses.

            Beliau telah meninggalkan doenia dalam beroemoer 58 tahoen.”

***

Laporan surat kabar Tjmboet (terbit di Padang), No. 36, Tahoen ke II, Hari Djoem’at 6 Juli 1934 tentang wafatnya suami Ratu Wilhelmina, Duke Heinrich Wladimir Albrecht Ernst of Mecklenburg-Schwerin, yang di kalangan pribumi Hindia Belanda akrab disebut “Prins Hendrik”. Prins Hendrik mangkat pada hari Selasa 3 Juli 1934 di Den Haag dalam usia 58 tahun.

Duke Heinrich Wladimir Albrecht Ernst of Mecklenburg-Schwerin lahir pada 19 April 1876 di Schwerin, Jerman. Ia adalah anak lelaki termuda dari Frederick Francis II, Grand Duke of Mecklenburg-Schwerin, dengan istrinya Princess Marie of Schwarzburg-Rudolstadt.

Prins Hendrik dinobatkan menjadi Pangeran Belanda pada 6 Fbruari 1901 dan menikah dengan Ratu Wilhelmina pada 7 Februari 1901 di Den Haag. Namun, perkawinan mereka tampaknya tak bahagia, walaupun pasangan itu beroleh seorang anak perempuan, Juliana, yang kemudian menggantikan ibunya sebagai Ratu Belanda pada 4 September 1948 setelah sang ibu lengser dari tahta (abdicated). Terdapat kenyataan yang cukup jelas bahwa di beberapa monarki di Eropa sang suami dari beberapa orang ratu hidup tertekan dan tak bahagia lantaran mengawini seorang perempuan yang memiliki status lebih tinggi darinya. Prins Hendrik adalah salah seorang di antaranya.

Sebagaimana dapat disimak dalam laporan di atas, Pemerintah dan rakyat Hindia Belanda berkabung setelah menerima berita mangkatnya suami Ratu Wilhelmina tersebut. Banyak kegiatan publik dihentikan untuk sementara sebagai tanda turut berdukacita dan ekspresi belasungkawa. Suasana jadi sepi dimana-mana, sampai-sampai “di dalam kampoeng2 satoe boenianpoen tidak terdengar.” Dilaporkan pula bahwa Prins Hendrik meninggal secara mendadak karena “penjakit Hartverlamming” (serangan jantung).

Dalam edisi yang sama, surat kabar Tjamboet menulis: “

Toeroet berdoeka diistana

Menoeroet kawat Aneta kemaren kepada S B [Sumatra Bode] menerangkan bahasa dengan officieel dikabarkan dari Bogor, bahwa Wali Negeri [Gubernur Jendral] telah menerima telegraam jang boekan sedikit lagi tentang meninggalnja Prins Hendrik. Telegraam jang pertama sekali datang dari vlootvoogd diatas nama Koninklijk Marine.

            Legercommandant telah memboeat perhoeboengan teroes kepada Sri Baginda.

Begitulah secuil rekaman sejarah yang menggambarkan hubungan politik da emosi antara Hindia Belanda dan Negeri Induk (Nederland) melalui kasus mangkatnya Prins Hendrik, ayah Ratu Juliana, yang pernah berjasa dalam menyatukan dua organisasi kepanduan Belanda, NPO (Nederlandse Padvinders Organisatie) dan NPB (Nederlandse Padvinders Bond), menjadi De Nederlandse Padvinders (NPV) pada 11 Desember 1915.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 27 Januari 2019

 

« Newer Posts - Older Posts »

Categories