Algemeen Indisch dagblad_de Preangerbode (Bandng) 28-5-1956

Keterangan: Presiden Soekarno dan anaknya, Guntur, melihat patung Abraham Lincoln di Washington D.C. dalam kesempatan kunjungan beliau ke Amerika Serikat pada bulan Mei 1956.

Sumber: Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode (Bandung), Senin (maandag), 28 Mei 1956

Java-bode (Jakarta) 31-03-1951
Sumber: Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie (Jakarta), 31-03-1951
Catatan:
Menurut keterangan Hasril Chaniago di dinding facebooknya, Baharoedin Datoek Bagindo, yang namanya sering disingkat: ‘B.D.B.’, adalah seorang pengusaha sukses di zaman Orde Lama. Beliau dekat dengan Presiden Sukarno. Beliau ikut membiayai pembangunan Monumen Perang Kamang di Bukittinggi yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Wakil Panglima/Kepala Staf Angkatan Bersenjata RI Jenderal Dr. A.H. Nasution pada 15 Juni 1963. Hasril Chaniago mengatakan bahwa “pengusaha pejuang” BDB yang yang juga punya nama panggilan “Datuak Gagok” adalah putra Banuhampu, Agam, yang beristrikan wanita asal Tiakar Payakumbuh. Mengutip Hasril Chaniago lagi:
Selama Perang Kemerdekaan [BDB]  ikut berjuang di daerah Payakumbuh-Lima Puluh Kota. BDB adalah salah satu pejuang yang selamat dalam Peristiwa Situjuh 15 Januari 1949 yang menyebabkan gugurnya 69 syuhada bangsa termasuk Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah (MPRD) Sumatera Barat yang juga anghota KNIP Chatib Sulaiman. Setelah Perang Kemerdekaan BDB alias Datuk Gagok beralih menjadi pengusaha sukses dan dekat dengan para pemimpin Republik termasuk Presiden Soekarno dan Mr. Muhammad Yamin.
BDB adalah pengusaha Indonesia pertama yang menjalin kerjasama dengan Jepang setelah kemerdekaan, kemudian tercatat sebagai pendiri pabrik korek api yang pertama di Indonesia di Pematang Siantar dengan merek Korek Api “1001” (generasi yang saat ini berumur 50 tahun ke atas pasti akrab dengan korek api “1001” ini).
Sayang kisah hidup Baharuddin Dt. Bagindo alias “Datuk Gagok” belum banyak diungkap.
(Lihat: https://www.facebook.com/hasril.chaniago/posts/10157491632852684; diakses 9 Juni 2020)

Ternyata, selain punya perusahaan korek api di Pematang Siantar, Baharoedin juga punya firma (perusahaan) di Jakarta.

Demikian sedikit informasi mengenai Baharoedin Datoek Bagindo

WhatsApp Image 2020-06-03 at 17.32.27MINGGU-MINGGU belakangan ini jagat medsos Indonesia diramaikan oleh berita penangkapan Ruslan Buton, seorang mantan tantara (kapten infanteri) yang diberhentikan karena membunuh seorang preman bernama La Gode yang sering mengganggu dan meresahkan warga ketika Ruslan bertugas sebagai Komandan Kompi sekaligus Komandan Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau. Akan tetapi banyak orang sudah tahu bahwa masyarakat setempat menganggap Ruslan sebagai pahlawan karena ia berhasil membebaskan mereka dari intimidasi preman La Gode. Rupanya Ruslan yang sangat kritis terhadap pendatangan tenaga kerja Cina dalam jumlah yang sangat banyak ke Indonesia Timur dan ekploitasi sumber daya alam Indonesia Timur oleh kapitalis asing yang dibekingi oleh Jakarta, yang membuat para elit lokal di daerah itu tidak berdaya, sengaja dijebak ke dalam konflik dengan La Gode yang berujung pada kematian orang itu. Sebaliknya, pihak lain memberi cap Ruslan sebagai mantan tentara yang punya ‘jejak kelam’ (lihat: https://www.jpnn.com/news/jejak-kelam-ruslan-buton-pecatan-tni-yang-diduga-terlibat-kasus-pembunuhan-petani; diakses 02-06-2020).

Read More…

Posted by: niadilova | 29/05/2020

Perlakuan terhadap Manula Minangkabau di Zaman Modern

Alfan Miko, Sosiologi Lansia: Pergeseran Pranata Penyantunan Lansia dalam Keluarga Minangkabau yang Berubah di Sumatera Barat. Padang: Penerbit Erka, 2017, xxvi + 356 pp. ISBN 978-602-6506-43-6 (paperback)

Rebecca Fanany and Ismet Fanany, The Elderly Must Endure: Ageing in the Minangkabau Community in Modern Indonesia. Singapore: ISEAS – Yusof Ishak Institute, xii + 309 pp. ISBN: 978-981-4818-46-9 (paperback)

blogsurya

Menjadi lansia (lanjut usia) atau manula adalah fenomena manusia khususnya dan makhluk hidup pada umumnya. Segala yang bernyawa, jika panjang umurnya, tentu akan melewati usia tua sebelum mati. Namun, dalam hal manusia (human), masa tua akan dilalui dan diperlakukan dengan cara yang relatif berbeda antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya, antara satu negara dengan negara lainnya. Ini tentu disebabkan oleh banyak faktor, antara lain yang dominan adalah: agama, lingkungan dan budaya lokal serta kebijakan sosial-budaya dan politik negara setempat.

Read More…

20200509_204438Walaupun ada-pihak-pihak yang berpendapat bahwa budaya Minangkabau telah mengalami degradasi yang tajam, tetapi saat ini orang Minangkabau masih mengamalkan konsep; “Saiyo Sakato. Tagak surang dibulek’i, tagak basamo dipasamokan. Ka hilia sarangkuah dayuang, ka mudiak sarantak galah“.

Demikian disampaikan Surya Suryadi, Dosen Universitas Leiden Belanda, di laman fesbuknya Sabtu (9/5), setelah selesai webinar, Open Teleconference dengan tema “Dialog Ranah dan Rantau: Tantangan Pendidikan Generasi Muda Minangkabau di Era Revolusi Industri 4.0, Perubahan Kehidupan Masyarakat (Society 5.0), dan ‘New Normal’ Pasca-Pandemi Covid-19”, yang digagas oleh Minang Diaspora Network-Global (MDN-G) Bidang Pendidikan.

Read More…

kbpii-membagikan-bahan-pangan-di-tengan-pandemi-corona-kepada_200410185108-913Representasi Islam dalam media (sosial) di Indonesia yang semakin gencar telah menggoyang pemahaman umat tentang banyak hal yang menyangkut ajaran agama Muhammad SAW ini. Salah satunya, sebagaimana yang diamati dan dianalisa oleh Fatimah Husein dan Martin Slama dalam artikel di bawah ini (Indonesia and the Malay World, 46(134), 2018:80-93) adalah bergesernya pemahaman orang tentang RIYA.

Kini, di zaman Corona ini, lihatlah oleh engkau, membantu kawula yang berkekurangan dengan beras segantang dan dua bungkus Indomie pun harus difoto dan diberitahukan kepada orang sedunia lewat berbagai laman Facebook dan di WA group.

Bantuan sakalemeng itu harus dibungkus dengan kantong bergambar orang gagah berjas atau berkopiah licin menyandang kain Bugis. Sering biaya membuat tas/kantong itu hampir sama dengan harga bantuan yang ditaruh di dalamnya.

Read More…

    “De heer J.D.L. le Febvre overleden.

     LAREN, Woensdag (ANP). – Te Blaricum is op 85-jarige leeftijd overleden de heer J. D. L. le Febvre, oud-resident van Sumatra’s Westkust. Hij was de pionier van de arbeidsinspectie in Deli, waarbij hij veel tegenwerking van de planters ondervond.

     De heer le Febvre was een grootvriend van wijlen mr P. J. Troelstra en van Mohammed Hatta, de huidige vice-president van Indonesië. In zijn boek “Indonesische Overpeinzingen” noemde Sjahrazad (Soetan Sjahrir) de heer Le Febvre de “vader van de Indonesiërs”. 

***

Read More…

Posted by: niadilova | 04/04/2020

Kisah Le Febvre: Residen Belanda Sahabat Bung Hatta

François-Joseph_LefebvreDalam arsip koran lama di Belanda ada sebuah hal menarik.Di sana tertera sebuah iklan ucapan bela sungkawa. Isinya: Telah berpulang Tuan J.D.L. Le Febvre, mantan Residen Sumatra’s Westkust 1915-1919 di Blaricum, Belanda, dalam usia 85 tahun pada 6 Agustus 1955.

Apa menariknya, almarhum juga dikenang sebagai teman orang Minangkabau. Kebijakan-kebijakan politiknya yang pro rakyat Minangkabau telah mengakibatkan dia dicopot dari kursi Residen Sumatra Barat. Walau coba dibela oleh Minister van Coloniën Thomas Bastiaan Pleyte, keputusan Batavia (Gubernur Jenderal J. van Limburg Stirum) tidak bisa diubah dan Le Febvre dipaksa pensiun dini.

Read More…

    “W. A. C. Withlau †

     Naar Aneta uit Den Haag meldt, is aldaar op 65-jarigen leeftijd overladen de heer Whitlau, oud-gouverneur van Sumatra’s Westkust.

     De Overlendene, die op 16 October 1872 te Den Haag geboren werd, kwan op 15 September 1895 te lande aan als ambtenaar ter beschikking van het Binnenlandsch Bestuur en werd al spoedig geplaatst als bestuurambtenaar op Sumatra’s Weskust. Ook na zijn terugkeer van verlofuit het Moederland werd de heer Whitlau wederon op Sumatra geplaatst. In 1915 volgt dan zijn benoeming tot assistant-resident van Sumatra’s Westkust. In 1924 wordt den heer Whitlau de titel van gouverneur verleend.”

 ***

Read More…

COPIE OVER SI PATAI

De schrijver krijgt negen maanden.

     Semaoen Bakry, afkomsting uit Koerai Tadji Pariaman, thans te Bengkoelen woonachtig, schreef een boekje getiteld “Si Patai”. Zoals deze titel reeds aangeeft,

Werd in dit werkje, het leven beschreven van den communist “Si Patai”, bij vele onzer lezers nogbekend, als zijnde de hoofdleider van de communisten-relletjes, welke zich voorde den in de Ommelanden van Padang, in het jaar 1926 en voor de bedwinging waarvan militairen uit Java warden gedirigeerd.

     De Schrijver wilde zijn boekje bij de drukkerij Roman Pergaoelan te Fort de Ko[c]k doen drukken, waartoe hij de copy per post Fort de Kock verzond. De copy kwam in handen van de censuur, die haar door nam, en toen bevond, dat deze schrijverij niet bevordelijk is voor de openbars rust en orde, vooral in tijden als deze.

     Semaoen Bakry werd door de Politie te Bengkoelen aan de verhoor onderwerpen, en tot nader onderzoek aangehouden.

     De Landraad te Bengkoelen heeft thans, volgens de “Sum. Bode”, uitspraak gedaan in deze zaak en vonnis geveld, waarbij Semaoen Bakry tot 9 maanden gevangenis straf is veroordeeld wegens overtreding van artikel 153 bis van het Wetboek van Strafrecht.

***

Read More…

« Newer Posts - Older Posts »

Categories