Madjalah KOTAPRADJA [Djakarta], No. 1 - Th. ke-III, 15 Sept. 1952, hlm.11-crop

Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali dari menunaikan ibadah haji. Caption foto ini menyebut: “Wakil Presiden Hatta telah kembali dari perdjalanan menunaikan rukun hadji ketanah sutji; beliau disambut dengan meriahnya dilapangan Kemajoran.”

Sumber: Madjalah KOTAPRADJA [Djakarta], No. 1 – Th. ke-III, 15 Sept. 1952, hlm.11.

Advertisements

'40 tahun PKI, 1920-1960' (Jakarta Lembaga Sejarah PKI dari Departemen Agitasi dan Propaganda C.C. P.K.I., 1960), p.87.crop

Sumber: Buku 40 tahun PKI, 1920-1960. Jakarta: Lembaga Sejarah PKI dari Departemen Agitasi dan Propaganda C.C. P.K.I., 1960: 87.

“Hadji Dachlan Abdullah meninggal

Innalillahi wai inna ilaihi radij’un (sic).

Duta Indonesia di Iraq jang pertama meninggal.

Alangkah terkedjutnja bangsa Indonesia dan umat Islam seluruhnja mendengar warta berita Radio, pada malam minggu j.l. jang memberitakan bahwa hadji Dahlan Abdullah Duta Indonesia di Iraq meninggal dunia pada hari Djum’atnja karena menderita sakit. Siapa kiranja Hadji Dahlan Abdullah, bagai (sic) umat Islam jang mengikuti pergerakan tentu tidak asing lagi namanja, seorang santri-intellek jang jarang tolok bandingnja. Beliau pada bulan April jang lalu diangkat oleh pemerintah RIS, untuk mendjabat duta Indonesia di Iraq, untuk merapatkan hubungan Indonesia dengan tanah Iraq, sebagai negara teman seagama.

   Sekarang beliau sudah meninggal, meninggalkan lowongan jang tidak mudah akan ditjari penggantinja…...”

***

Salinan berita dari Penuntun. Madjallah Kementerian Agama Rep. Indonesia No. 5, Th. ke IV, Mei 1950, hlm. 85 di bawah tajuk “Hadji Dachlan Abdullah meninggal”. Laporan ini mengabarkan wafatnya salah seorang putra Minangkabau terkemuka asal Pariaman, Haji Baginda Dahlan Abdoellah, yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi Duta Republik Indonesia Serikat (RIS) untuk negara-negara Irak, Transjordania, Libanon dan Syria.

Dahlan Abdoellah (sering ditulis juga ‘Dachlan Abdoelah/Abdullah) baru menyerahkan surat kepercayaannya kepada Pemerintah Irak di Bagdad pada tgl. 8 April 1950.  Dahlan wafat di rumah sakit di Bagdad pada tgl. 12 Mei 1950 karena serangan jantung. Dengan demikian, hanya sekitar sebulan saja Dahlan menduduki jabatannya sebagai Duta RIS di Bagdad.

Surat kabar Merdeka edisi 15 Mei 1950 di bawah berita “DUTA RIS DI IRAK, HADJI B. DACHLAN ABDULLAH WAFAT” menulis:

Djakarta, 15 Mei

Oleh Kementerian Luar Negeri telah diterima kawat dari Bagdad, bahwa duta RIS di Irak, Hadji Baginda Dahlan Abdullah, telah wafat dirumah sakit di Bagdad pada hari Djum’at jl. tidak lama setelah menderita penjakit lemah djantung. Ia berusia kira2 55 tahun.

Almarhum Hadji Baginda Dahlan Abdullah berangkat ketempat kedudukannja pada tg. 28 Maret jl. dengan seorang stafnja, Moechtar Mahjuddin, dan menjerahkan surat kapertjajaan kepada regent Irak, jaitu wakil radja selama radja Irak belum dewasa, pada tgl. 8 April jl.

        Hadji Baginda Dahlan Abdullah dilahirkan di Pariaman (Sumatera Barat) pada tahun 1895. Ia memulai [pen]didikannja disekolah rendah di Padang dan kemudian di Sekolah Radja (Normaal School) di Bukit Tinggi, dimana ia duduk sekelas dengan Tan Malaka.

       Lantaran keentjeran otaknja, maka setamatnja dari sekolah, lalu ia beserta Tan Malaka dan seorang temannja jang lain mendapat kesempatan untuk melandjutkan peladjarannja di negeri Belanda dan masuk pada “Kweekschool voor Onderwijzer” di Den Haag sampai tammat ditahun 1915.

       Kemudian ia menjambung pengetahuannja untuk mempeladjari “Maleische Land en Volkenkunde” pada Universiteit Leiden hingga tammat pula. Lalu ia mempeladjari ilmu bahasa2 Timur sambil membantu Prof. Van Ronkel, tetapi peladjarannja ini tak pernah ditammatkannja.

       Sebabnja ialah, sebagaimana kebanjakan mahasiswa Indonesia dimasa itu, lantaran ketularan semangat pergerakan nasional, ia lebih mentjurahkan pikiran dan tenaganja untuk perdjuangan “Perhimpunan Indonesia”(sic) jang diketuainja beberapa waktu lamanja. Teman seperdjuangannja waktu itu diantaranja ialah Ir. Soerachman, presiden Balai Perguruan Tinggi sekarang, Prof. Surjomihardjo dan banjak lagi lain2 jang termasuk golongan radikal.

      Untuk menambah ilmu dan pengalaman perdjuangan itu, Dahlan Abdullah mengembara sampai ke Djerman dan Perantjis. Ia pernah diberi “studie opdracht” ke Mekkah dan Cairo untuk mempeladjari keadaan mukimin setelah perang dunia I dan keadaan maha-siswa Indonesia di Mesir.

Harian Merdeka juga menyebut sifat-sifat Dahlan: “Almarhum Hadji Dahlan Abdullah memang tidak begitu dikenal oleh masjarakat ramai, tapi dikalangan pemimpin2 jang sudah landjut umurnja nama Dahlan Abdullah sudah tidak asing lagi, jang memberinja nama djolokan “Lach en Abdullah” karena sifatnja jang selalu riang gembira. Dia teman sewaktu dari almarhum Dr. Ratulangie, almarhum Thamrin dan Monotutu, Tan Malaka dan lain2.

       Jenazah Dahlan Abdoellah dimakamkan di Kompleks Pemakaman Syekh Abdul Kadir Djailani di Bagdad dengan upacara kenegaraan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kerajaan Irak. “Dengan tjara kebesaran jang luar biasa ini serta ditempat jang dianggap paling sutji itulah djenazah [Dahl;an Abdoellah] dimakamkan dan ditempat itulah [ia] beristirahat untuk selama-lamanja seorang duta Indonesia”, demikian ulasan Madjallah Merdeka, No. 23, Th. III, 10 Djuni 1950, hlm.6.

Saya sedang menyusun biografi Baginda Dahlan Abdoellah yang insya Allah akan dapat diterbitkan dalam waktu dekat.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 12 Mei 2019

 

STUDIEFONDS KOTA GEDANG

Lima belas tahoen telah lamanja berdiri; bermatjam-matjamlah poela jang ditanggoengnja didalam masa jang sekian lamanja itoe; tiadalah akan dapat kita menjeboetkan satoe persatoe dihalaman Soeara ini, tentoelah engkoe pembatja djoea jang akan mengetahoei bagaimana matjamnja pertjobaan jang telah diderita oleh perkoempoelan negeri ini dari….anak negeri kita sendiri, sehingga terkadang-kadang didalam masa jang limabelas tahoen jang soedah terlampau itoe, tjemaslah kita akan lenjapnja dari moeka boemi dan tiadalah rasanja akan olehnja oesia jang sekian tahoen lamanja, hal mana roepanja sekarang adalah bersalahan benar dengan angka2 kita dahoeloe itoe, jaitoe soenggoehpoen dengan tertegoen-tegoen, mentjapai djoea ia akan oesia jang sekian lamanja berkat oesaha engkoe2 pemimpin Vereeniging kita itoe dengan membawa djoea hasil jang kita tjita-tjita dari padanja sela[r]oet selama ini, jaitoe mengijam djoea anak negeri kita akan pengjadjaran jang dilimpahkan sekolah Studiefonds itoe kepada beberapa merekaitoe ilmoe pengetahoean tjoekoep sekedar pentjahari penghidoepan oentoeh (sic) bekas moerid2 sekolah itoe masing2 dan soedah berobat rasanja djerih pajah pemimpin2 Vereeniging serta soedahlah poela berhasil oeang boelanan leden perkoempoelan djika dibandingkan dengan hasil pendapatan bekas moerid-moerid sekolah DKG, soenggoeh beloem boleh kita mengatakan sekarang Vereeniging SKG telah semporna benar, karena kita poen mengharapkan djoea, moedah-moedahan bertambah djoealah hendaknja kokohnja pendirian SKG karena sebenarnjalah sekolah SKG ini soeatoe tingkat jang pertama bagi sebagian besar anak negeri kita oentoek pentjari djalan penghidoepan jang halal.

[…]

                                                                                                                       ‘Diabolo

***

Keratan tulisan seorang putra Koto Gadang ber-pseudonym ‘Diabolo’ dalam koran SOEARAKOTA GEDANG, No. 12, Taoen ke X, December 1925. Tulisan itu adalah catatan untuk menyambut ulang tahun ke-10 Studiefonds Kota Gedang (1910-1925). Tulisan ‘Diabolo’ ini menggarisbawahi berbagai capaian yang sudah diraih oleh yayasan beasiswa milik masyarakat Koto Gadang tersebut.

Studiefonds Kota Gedang sudah digagas sejak 1909, namun statuta-nya baru mendapag pengakuan resmi dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada awal tahun 1910, sebagaimana dapat dikesan dari laporan Bataviaasch Nieuwsblad edisi 29 Januari 1910 sbb: “Drang naar onderwijs. – De statuten der vereeniging “Studiefonds Kota Gedang” te Kota Gedang (Sumatra’s Westkust) zijn goedgekeurd.”

‘Diabolo’ menulis: “Akan segala hasil jang diperoleh anak negeri dari pada Vereeniging SKG [Suara Kota Gedang] ini tiadalah perloe benar kita terangkan disini lagi, karena bolehlah dikatakan sekalian kita mengetahoei bahwasanja tiadalah ada seorang djoea bekas moerid SKG jang boleh kita katakan beloem mendapat berkat ilmoe jang telah ditoentoetja, banjak sedikitnja menoeroet nasib mereka itoe masing2, akan tetapi tjoekoeplah sekedar penghidoepannja anak beranak seorang seorang.”

Nyatalah betapa besar manfaat studiefonds ini bagi anak negeri Koto Gadang. ‘Diabolo’ mengajak masyarakat Koto Gadang untuk bersyukur kepada Allah atas berbagai capaian yang sudah diraih oleh studiefonds ini.

Studiefonds Kota Gedang pun memperluas jangkauannya ke rantau. ‘Diabolo’ menulis: “Setelah berdiri tjabang2 Betawi, Bandoeng, Medan dll,[…] boekankah ini soeatoe tanda bagi kita bahwa telah seloeroehnja anak negeri kita merasa pada setiap boelannja bahasa tiadalah dapat kita membantoe anak negeri kita selain dari dengan memberinja pengadjaran, soepaja dengan pengetahoean jang ditoentoetnja itoe [mereka] mendapat ia soeatoe djalan pentjari penghidoepannaja kelak[…].”

‘Diabolo’ mengatakan bahwa untuk memajukan anak negeri Koto Gadang tiada lain ialah dengan ilmu pengetahuan yang dapat membawa mereka “menempoeh djalan jang halal dan menghindarkan [diri] dari pada segala kedjahatan jang biasanja terbit pada mereka jang tiada berilmoe, karena sebenarnjalah kekoerangan ilmoe itoe djoea jang kerap kali membawa manoesia ini kepada berbagai bagai kebentjanaan seperti tiap2 ilmoe membawa manoesia kepada bermatjam matjam poela kebaikan dan kesentosaan.”

‘Diabolo’ berharap “moga-moga berkat toeloes dan ichlas hati segala anak negeri kita akan tetap djoelah Vereeniging SKG. itoe berdiri selamanja agar selama negeri dihoeni menginjam djoea anak tjoetjoe lazatnja (sic) boeah jang ditanan nenek ditahoen 1909, sebagai kita sekarang menginjam lezatnja hasil sawah ladang jang ditaroekoi dengan hati jang toeloes serta ichlas poela oleh nenek2 kita dizaman dahoeloe2.”

Mati harimau tinggal belangnja, mati gadjah tinggal gadingnja, mati manoesia tinggal namanja, mati mamak tinggal poesako”, demikian kata ‘Diabolo’ mengakhiri tulisannya.

Namun, tak yang abadi di dunia yang fana ini. Di senja kala kolonialisme Belanda di Indonesia, Studiefonds Kota Gedang pun mati pula. Pada tahun 1951, beberapa putra Koto Gadang mencoba menghidupkannya kembali (Haluan, No.24, Tahun ke III, Senin 5 Februari 1951), tapi tampaknya pisang memang jarang berbuah dua kali.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda/ Padang Ekspres, Minggu 5 Mei 2019

Geïnterneerd.

Bij G. B. [Gouvernement Besluit] is, is overeenstemming met den Raad van Indië, aan Achmad Chatib gelar Hadji Datoek Batoeah en Arif Fadillah gelar Maharadja Soetan, geïnterteerden ter hoofdplaats der tijdeeljjke onderadeeling Boven-Digoel, afdeeling Amboina (gouvernement der Molukken), de plaats Tanah-Tinggi in genoemde onderafdeeling tot verblijf aagewezen.”

***

Laporan De Indische Courant (Surabaya) edisi 23 Maret 1932 tentang pengasingan Achmad Chatib gelar Hadji Datoek Batoeah dan Arif Fadillah (nama belakangnya sering juga ditulis Fadhilah) ke Digul (lihat juga: De Sumatra Post edisi 31 Maret 1932). Kedua orang sahabat itu adalah aktifis terkemuka Sjarikat Ra’jat dan pemimpin komunis yang terdepan di Padang Panjang pada awal 1920an.

Datoek Batuah bersama Natar Zainoeddin dan Djamaloedin Tamin merupakan figur penting dalam lingkaran aktifis Internationaal Debating Club yang didirikan di Padang Panjang pada bulan September 1923 (lihat: Djago! Djago! no. 1, Tahoen I, Senin 8 October 1923:3). Sedangkan Arif menjadi salah seorang Redacteur berkala Djago! Djago!, media International Debating Club yang sangat kritis kepada Rezim Kolonial Hindia Belanda.

Sejak semula Datoek Batuah dan Arif Fadillah sudah menunjukkan sifat radikal kepada penjajah Belanda. Ahmat Adam dalam bukunya Suara Minangkabau: Sejarah dan Bibliografi Akhbar dan Majalah di Sumatera Barat 1900-1941 (Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya, 2012:121) menulis: “Arif Fadhilah, seorang anggota redaksi Djago! Djago! sejak penghujung 1923, telah mendapati dirinya ditekan oleh pihak berkuasa. Dia telah berkali-kali diperiksa mengenai tulisannya di dalam surat berkala itu. Lihat Doenia Achirat no. 23, 26 Nov 1923. Lihat juga Djago! Djago! no. 5, 20 Nov 1923.”

Arif Fadillah mengetuai PKI cabang Padang Panjang setelah dua seniornya yang menjadi pengurus partai itu, Djamaloeddin Tamin dan Mahmud pergi ke Singapura menemui Tan Malaka. Sejak aktif dalam gerakan ini pada tahun 1923, Arif banyak menulis artikel yang banyak mengandung kritik pedas kepada otoritas kolonial Hindia Belanda dalam berkala Djago! Djago! Ia pernah dipenjarakan selama 6 bulan pada tahun 1924. Arif ditangkap lagi menyusul terjadinya Pemberontakan Silungkang 1926. Ia ditahan lama sekali sebelum diputuskan untuk dibuang ke Digul bersama Datoek Batoeah yang sebelumnya sudah diasingkan ke Kalabahi, Pulau Alor.

Laporan di atas menginformasikan kepada kita tempat Datoek Batoeah dan Arif Fadillah diinternir di Digul: mereka ditempatkan di Kamp Tanah Tinggi. Kamp ini dikhususkan bagi orang-orang buangan yang yang nonkooperatif, pembangkang dan sulit diajak bekerja sama oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Kamp Tanah Tinggi terletak di atas Kamp Tanah Merah, berjarak sekitar 45 km satu sama lain. Kamp Tanah Merah adalah tempat bagi interniran yang masih menunjukkan sikap kooperatif dengan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Pada bulan Juli 1934 koran Sinar Deli yang terbit di Medan memuat surat Arif Fadillah yang diselundupkan dari Digul. Dalam surat itu ia mengabarkan tentang hidupnya yang sengsara dan putus harapan di Digul.  Dalam laporan itu, Hasan Nul Arifin, Redaktur Sinar Deli yang pengarang roman Medan itu juga menceritakan hubungannya dengan Arif Fadillah. Ia juga menyebut hubungan Arif dengan Roestam Effendi, yang juga berasal dari Minangkabau, yang menjadi anggota Parlemen Belanda (De Tweede Kamer) mewakili Partai Komunis Belanda.

Demikian sedikit cerita tentang pen-Digul-an dua orang komunis Minangkabau di tahun 1930an. Datoek Batoeah dan Arif Fadillah diungsikan ke Australia pada tahun 1943, sekitar setahun setelah Jepang menaklukkan Rezim Kolonial Hindia Belanda dalam Perang Asia Timur Raya.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 28 April 2019

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 13-07-2916

Sumber: Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (Batavia),13 Juli 1916

Catatan: Melalui dapat dikesan betapa percaya dirinya orang Koto Gadang di awal abad ke-20 dan betapa bonafide-nya Studiefonds Kota Gedang ini sehingga mereka berani merekrut guru dari kalangan bangsa Eropa dengan akte kepala sekolah (hoofd0nderwijzer) atau guru bantu (hulponderwijzer). Studiefonds Kota Gedang secara resmi berdiri pada awal 1910. Berikut beberapa postingan dalam blog ini yang terkait dengan studiefonds ini.

  1. https://niadilova.wordpress.com/2019/04/08/ppm-204-studiefonds-koto-gadang-mengirim-2-pelajar-ke-belanda-1910/
  2. https://niadilova.wordpress.com/2019/03/22/ppm-192-usaha-mengaktifkan-kembali-studiefonds-koto-gadang-1951/

Nieuwe geïnterneerden

Op dezelfde overwegingen als bij vorige besluiten zal weder een vrij groot aantal personen worden geïnterneerd. Hoeronder zijn ook nog de volgende Westkustenaars;

[…]

Hamid gelar Soetan Sinaro Perpatih, 30 jaar, o.m. gewezen leerling bij den Topografischen Dienst en de Staatspoorwegen, propagandist der P.K.I., laatstelijk woonachtig te Fort de Kock.

[…]

***

Laporan De Sumatra Post edisi 23 November 1928 yang memberitakan pen-Digul-an seorang lagi intelektual muda Minangkabau: Hamid gelar Soetan Sinaro Perpatih. Dalam berbagai literature dan laporan media semasa, namanya sering disingkat menjadi H. S.S. Perpatih (atau Parpatieh).

Turut di-Digul-kan bersama H. S.S. Perpatih lima orang Minangkabau lainnya, yaitu:

1) Maliki gelar Datoek Sipado, usia 35 tahun (lahir tahun 1893), penghulu di “Aoer Peroemahan”, petani (landbouwer), propagandis dan ondervoorzitter PKI dan sekretaris Sarekat Tani di kampungnya, Aur Perumahan, tempat tinggal terakhir di “Aoer Peroemahan, residentie Sumatra’s Westkust.”

2) Djamaloedin gelar Malin Soetan, usia 28 tahun (lahir tahun 1900) (apakah mungkin orang ini Djamaloedin Tamin?), pemimpin PKI cabang Aur Perumahan dan penasehat (adviseur) Sarekat Tani di Aur Perumahan, tempat tinggal terakhir tercatat di “Ikoer Loeboek (Padang Pandjang), residentie Sumatra’s Westkust.”

3) Abdoel Djabar, usia 25 tahun (lahir tahun 1903), bekerja sebagai kuli, propagandis PKI, tempat tinggal terakhir di Sianok, “residentie Sumatra’s Westkust”.

4) Basir, usia 29 tahun (lahir tahun 1899), seorang tukang pangkas (barbier), propagandis PKI, tempat tinggal terakhir di Fort de Kock.

5) Aboe Samah gelar Soetan Salim, usia 30 tahun (lahir tahun 1898), administator bulanan Sasaran Rakjat, pengurus (voorzitter) dan propagandis PKI, tempat tinggal terakhir di “Padang Pandjang, residentie Sumatra’s Westkust”. (De Sumatra Post, ibid.)

Dari laporan di atas dapat dikesan bahwa H. S.S. Perpatih berasal dari Fort de Kock (Bukittinggi) dan lahir tahun 1898.

S.S. Perpatih ditangkap di Medan pada 27 Juni 1926. Sebelumnya, ia pergi ke Jawa, kemudian ke Singapura di mana ia mulai menjadi propagandis komunis yang mencoba kembali ke Sumatera untuk melakukan proganda komunis, sebagaimana dilaporkan oleh ‘mata-mata’ penguasa Hindia Belanda B.J.O. Schirieke dalam sidang Volksraad bulan Juli 1926 (De Indische Courant,17 Jul 1926)

Sebelumnya, pada 1923, H. S.S. Perpatih sudah juga berurusan dengan PID (Politiek Inlichtingen Dienst) Hindia Belanda. Pada waktu itu dia dipreventief (‘diamankan’ – meminjam istilah Orde Baru) oleh PID di Padang Panjang karena keterlibatannya dalam penerbitan berkala Doenia Achirat (lihat di bawah) yang dipandang radikal oleh penguasa kolonial Hindia Belanda. Namun, atas protes rakyat dan kawan-kawannya, Hamid dan beberapa orang lainnya yang ditangkap dibebaskan kembali (De Preangerbode, 23 November 1923).

  1. S.S. Perpatih aktif dalam penerbitan beberapa majalah dan berkala, antara lain (lihat Ahmat Adam, Suara Minangkabau: Sejarah dan Bibliografi Akhbar dan Majalah di Sumatera Barat 1900-1941, Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya, 2012):
  2. Minangkabau-Bergerak (1919), diterbitkan oleh Sarikat Combinatie Minangkabau (S.C.M.) dan dicetak oleh Snelpersdrukkerij Merapi & Co., Fort de Kock. (sebagai Pekerja/Wartawan).
  3. Al-Bajan [penjelasan]: Soerat chabar oentoek keperloean segala hal tentangan Agama Islam (1919-1921), diterbitkan oleh Jamáyah Sumatra Thawalib Parabek dan dicetak oleh Drukkerij Merapi & Co., Fort de Kock. (sebagai ‘Al-Nadzir’/Pengawas). Sekarang, dwimingguan ini sedang diteliti secara ekstensif oleh Khairul Ashdiq, kandidat PhD Universiti Malaya.
  4. Soematera-Bergerak. Teroetama penjokong gerakan ra’jat jang terperintah di Hindia-Nederland (1919-1923), diterbitkan oleh Magas A. Madjid dan B.[aginda] Djamaloedin Rasad dan dicetak oleh Snelpersdrukkerij Merapi & C.,, Fort de Kock. (sebagai Ketua Redaktur).
  5. Ma’loemat. Penjertai pergerakan banhsa jang berhaloean oentoek keselamatan oemoem (1920), diterbitkan oleh H.S.S. Parpatieh sendiri dan dicetak oleh Snelpersdrukkerij Merapi & C.,, Fort de Kock. (sebagai Penerbit dan Penanggung jawab).
  6. Perobahan.Soera boeat segala bangsa (1921-1923), diterbitkan oleh Padangsche Snelpersdrukkerij, Tjia Eng Thiam, dan Perkongsia Perobahan dan dicetak olej Padansche Snelpersdrukkerij, Pomdok. (sebagai Eerste Redacterur/Redaktur Pertama).
  7. Doenia Achirat (1922-1924), diterbitkan oleh Sain Ak Maliki dan dicetak oleh Snelpersdrukkerij Merapi & Co, Fort de Kock dan Volksdrukerij, Padang. (sebagai Radaktur).
  8. Warta Doenia (1923), diterbitkan oleh Handelsdrukkerij Warta Doenia dan dicetak oleh Drukkerij Orang Alam Minangkabau milik Mahjoedin Dt. Soetan Maharadja. (sebagai Eerste Redacteur/Redaktur Pertama).
  9. Djago! Djago! (1923-1924), diterbitkan oleh International Debating Club, Padang Panjang dan dicetak oleh Drukkerij ‘Badezst’ (Padang Panjang) dan Padangsche Snelpersdrukkerij (Padang). (sebagai Verantwoordelijk Redakteur/Redaktur Penanggung jawab).Sangat mungkin H. S.S. Perpatih diungsikan ke Australia menyusul jatuhnya Hindia Belanda ke tangan Jepang, lalu ia kembali ke Sumatera. Akan dicoba kumpulkan keterangan lebih lanjut mengenai riwayat hidup salah seorang penggiat pers vernakular di Minangkabau ini.
  10. Di Digul, Hamid dan banyak interniran lainnya ditempatkan di Tanah Merah, kamp interniran tingkat pertama, tempat bagi orang-orang yang dianggap sangat berbahaya, sebagaimana dicatat oleh Chalid Salim dalam bukunya 15 Tahun Digul (versi terjemahan 1977:153-184, 283).

*Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 21 April 2019

 

De Groote Opruiming.

[…]

Iste Besluit.

Overwegende, dat de groote onrust, bepaaldelijk in den laatsen tijd in verschillende gewesten en in het bijzonder de zeer onglangs vooral in West-Java plaats gehad hebbende enrnstige troebelen ontwijfelbaar veroorzaak zijn door het drijven der P.K.I. en hare onderorganisaties.

Is goedgevonden en verstaan:

In overeenstemming met den Raad van Nederlandsch-Indië, krachtens artikel 37 der Indische Staatsregeling aan:

[…]

[…] Oesman gelar Soetan Keadilan alias Roer oud ongeveer 25 jaar, gewezen redacteur van het dagblad Njala, propagandist der P.K.I., geboren te Pajakoemboeh, Sumatra’s Westkust en laatstelijk woonachtig te Batavia.”

***

Laporan surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad edisi 21 Desember 1926 yang memberitakan keputusan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membuang Oesman gelar Soetan Keadilan ke Digul. Bersama Oesman diasingkan juga ke Digul 8 orang pantolan dan propagandis P.K.I. lainnya dari Jawa. Merujuk ke Pasal 37 Undang-Undang Negara Hindia Belanda, orang-orang itu dianggap berbahaya dan dapat mengganggu rust en orde.

Mereka yang di-Digul-kan bersama Oesman yaitu: 1) Moehammad Noer (23 thn) asal Fort de Kock, tinggal di Batavia, anggota resortcommissie untuk PKI Batavia dan pernah bekerja sebagai mantri kehutanan; 2) Soekarna Atmadja (35) asal Tasikmalaya, tinggal di Batavia, pengurus PKI wilayah Weltevreden Barat dan pernah bekerja di Dinas Perkeretaapian; 3) Tjempono (22) asal Banyu Urip, Kedu, tinggal di Batavia, redaktur buletin Njala dan pengurus S.P.P.L. dan propagandis dan sekretaris PKI ondersectie Batavia; 4) Radjenal alias Sastrosoewirjo (37) asal Yogyakarta, tinggal di Cirebon, pengurus PKI Cirebon dan bekas guru sekolah pemerintah; 5) Gendon Soeleman asal Brebes, tinggal di Cirebon, propagandis PKI di Cirebon dan pernah bekerja di Dinas Perkeretaapian di Sumatera Selatan; 6) Moehammad Saboer (20) asal Kuningan, propagandis PKI di Kuningan, pernah bekerja sebagai mantri kesehatan di C.B.Z. dan redaktur buletin Api yang terbit di Semarang; 7) Achmad bin Hoesin (25) asal Benawa, Komering Hilir, Residensi Palembang, tanpa pekerjaan, tanpa tempat tinggal pasti; 8) Achmad Chatib alias Boejoeng (Buyung) (21 th) asal Padang Panjang, Sumatera Barat, propagandis PKI, tanpa tempat tinggal pasti (De Sumatra Post, 27-12-1926).

Sebagaimana dicatat dalam laporan di atas, Oesman gelar Soetan Keadilan (25 thn) berasal dari Payumbuh, Sumatera Barat. Seperti halnya Tjempono, Oesman yang tinggal di Batavia adalah redacteur buletin Njala, media (orgaan) PKI yang terbit di ibukota Hindia Belanda itu, sekaligus propagandis untuk partainya.

Oesman ditangkap oleh dua orang polisi Eropa di kantornya pada akhir Desember 1925 dengan tuduhan menyebarkan Njala yang sebelumnya dikelola oleh Darsono yang sudah lebih dulu ditangkap dan diasingkan. Kedua polisi Eropa tersebut juga menyita dokumen-dokumen lainnya yang mereka temukan di kantor Njala (De Indische Courant, 30-12-1925).

Ketika berada di Digul yang terpencil itu, Oesman (di Digul ia sering dipanggil dengan nama ‘Oeska’) pernah  melarikan diri. Kisah pelariannya dicatat oleh mantan Asisten Resident Daniel van der Meulen dalam bukunya Ik Stond Er Bij (Baarn: Bosch en Keuning, 1965) yang dirujuk oleh I.F.M. Chalid Salim (adik Haji Agus Salim) dalam bukunya (versi terjemahan) Limabelas Tahun Digul: Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea (Jakarta: Bulan Bintang, 1977:378-382).

Menurut Salim, merujuk Daniel (1965), pelarian Oesman dan beberapa orang kawannya terjadi pada tahun 1929.  Mereka berhasil mencapai hulu Sungaii Fly yang sudah masuk wilayah Papua yang dikontrol Australia. Setelah tinggal beberapa saat di sebuah perkampungan ‘beradab’ yang sudah disentuh oleh misi penginjilan, Oesman dkk. ditangkap oleh otoritas Australia, dibawa ke penjara yang ‘nyaman’, sebelum dijemput kembali oleh polisi Hindia Belanda dan dikembalikan ke Digul (Australia dan Hindia Belanda memiliki perjanjian ekstradisi).

“Setelah ia diangkut kembali ke Digul dan menyelesaikan masa hukumannya di penjara, Oeska [Oesman gelar Soetan Keadilan] diperkenankan untuk pulang ke kampung halaman[nya di Payakumbuh]. Di sana ia berada di bawah pengawasan bekas Asisten Residen Daniel van der Meulen, yang telah menerbitkan buku yang berjudul “Ik stond er bij”, yang di dalamnya juga termuat kisah petualangan Oeska” (Salim, 1977:378).

Dapat dikesan pula bahwa para aktivis PKI yang dibuang ke Digul itu kebanyakannya berusia masih muda (antara 20-40 tahun). Di tahun 1920-an, penguasa kolonial Hindia Belanda mulai panik melihat gerakan rakyat yang makin keras menentang Pemerintah, khususnya dari kalangan pengikut komunis. Karena panik, mereka main tangkap dan main buang. Gubernur Jendral menggunakan “exorbitante rechten”-nya yang seolah tanpa batas itu. Kebanyakan mereka yang ditangkap itu dibuang ke Digul. Hendaknya budaya panikan seperti itu jangan ditiru oleh rezim yang berkuasa di Indonesia sekarang.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 14 April 2019

Posted by: niadilova | 14/04/2019

Renung #77: Pemilu 2019 dan perang Simbol Warna Putih

Badan pemenangan nasional prabowo-sandiSecara mengejutkan kampanye akbar terakhir pasangan kandidat presiden nomor urut 01 (Jokowi-Ma’ruf) di Jakarta pada hari Sabtu 13 April 2019 menampilkan massa pendukungnya yang tidak memakai pakaian berwana merah, sebagaimana biasanya mereka tampilkan di berbagai forum penggalangan dan show of force kelompok petahana.

Mirip dengan situasi kampanye pasangan oponen (Prabowo-Sandi) yang diadakan di tempat yang sama sekitar seminggu sebelumnya (7 April), Stadion Gelora Bung Karno pada hari itu dipenuhi oleh pendukung Jokowi-Ma’ruf yang berpakaian putih yang sedikit diselingi oleh warna lain, khususnya merah, simbol warna yang selama ini dipakai oleh pihak Jokowi sebagai representasi dari simbol warna partai PDI Perjuangan yang merupakan partai utama pengusung pasangan kandidat nomor urut 01.

Jadi, secara nyata terjadi ‘perang simbol’ di putaran terakhir kampanye akbar pemilu 2019. Dengan cerdik pasangan 01 secara tersirat (atau mungkin juga secara sadar) melakukan mimicry (meminjam istilah Homi K. Bhabha), parody, bahkan sampai batas tertentu juga demystification terhadap simbol warna putih yang selama ini dipakai dan diidentikkan dengan pendukung paslon 02. Hal ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya Jokowi mengajak para pendukungnya untuk memakai pakaian putih-putih saat pergi ke TPS pada tanggal 17 April nanti, puncak ‘pesta demokrasi’ Indonesia dalam pemilu presiden 2019.

Perang simbol warna putih antara kedua kubu itu tentu saja tidak mampu menghilangkan kesan orientasi politik dari mayoritas pendukung kedua paslon presiden itu. Kebanyakan pendukung Jokowi-Ma’ruf memakai kemeja warna putih, berbeda dengan baju tipe gamis berwarna putih yang dipakai oleh kebanyakan pendukung Prabowo-Sandi. Dengan kata lain, peniruan, parodi, dan demistifikasi simbol warna putih dalam putaran terakhir kampanye akbar kedua paslon tetap tidak mampu menyembunyikan percanggahan orientasi politik Indonesia yang sudah menyejarah sejak negara-bangsa ini berdiri: nasionalisme sekuler di satu pihak dan nasionalisme religius di pihak lain.

Perang simbol warna baju seperti ini bukan baru kali ini saja terjadi. Kita masih ingat dua tahun lalu, dalam pilkada Jakarta terjadi perang simbol melalui baju bermotif kotak-kotak. Di saat-saat terakhir, simbol baju bermotif kota-kotak yang diusung oleh pasangan petahanan Ahok-Jarot diparodikan dengan cerdik oleh tim kampanye oponennya (pasangan Anis-Sandi).  Dalam  https://niadilova.wordpress.com/2017/04/22/renung-69-kotak-kotak/ saya menulis:  “Minggu-minggu setelah putaran pertama pilkada Jakarta, simbol baju kotak-kotak itu segera diparodikan oleh pihak oponen, dan parodi itu begitu telak. ‘Bersatu kita teguh, terkotak-kotak kita runtuh’, begitu bunyi sebuah slogan yang dengan cerdas diciptakan oleh kubu Anis-Sandiaga. […] Slogan itu segera menyebar di medsos dan juga dalam bentuk baju kaos [berwarna putih] yang dibagi-bagikan dan dipakai dalam kampanye-kampanye Anis-Sandi, juga dalam bentuk spanduk dan banner. Tampaknya kubu petahana terlambat mengantisipasinya, dan jauh sebelumnya sepertinya mereka tidak menyadari kemungkinan pihak oponen dengan cerdas akan memparodikan simbol baju [bermotif] kotak-kotak kebanggaan mereka itu.”  Kubu Anis-Sandiaga akhirnya menang, menjungkalkan pasangan petahana. Kemenangan itu sedikit banyak ditentukan oleh kecerdikan dalam menggunakan simbol-simbol, sesuatu yang sudah menjadi kenicayaan dalam komunikasi dan kompetisi politik di Indonesia yang masyarakatnya masih hidup dalam kultur setengah rasional itu.

Dan kali ini, dalam kontestasi pilpres 2019, perang simbol itu makin menguat. Kali ini giliran pihak petahana yang melakukan mimicry terhadap simbol warna putih  yang sudah sejak semula asosiatif dengan kalangan Islam pendukung pasangan oposisi.

Tampaknya pihak paslon 02 tidak tinggal diam dengan trick  peniruan yang dilakukan oleh oponen mereka. Himbauan tim kampanye pasangan petahana kepada para pendukungnya untuk memakai pakaian putih-putih ke TPS tanggal 17 April nanti segera dinetralisir oleh tim pemenangan pasangan oponennya (Prabowo-Sandi) dengan imbauan yang sama: meminta para pendukung paslon 02 untuk juga memakai pakaian putih-putih ke TPS di hari pencoblosan. Dengan demikian, mereka mengharapkan di TPS-TPS nanti akan terjadi pengaburan batas antara pendukung petahana dan pendukung oponennya yang ingin dihadirkan oleh petahana, yang diperkirakan akan berefek secara psikologis kepada pihak (pengikut) petahana.

Tampaknya perang simbol ini akan makin mengkristal dalam tiga hari ke depan. Apakah himbauan Tim Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi (lihat foto di atas) kepada pengikutnya untuk memakai pakaian putih-putih ke TPS-TPS akan diikuti oleh para pendukung paslon 02?  Bagaimana pula dengan pakaian orang gila natinya di TPS, jika mereka jadi ikut memilih. (Bukankah jika ada orang gila yang tidak berpakaian berada di antara antrian calon pencoblos yang berpakaian putih-putih secara langsung atau tidak juga melecehkan kemanusiaan?

Kalaupun pendukung paslon 02 memakai pakaian putih-putih, tentu yang harus mereka tampilkan adalah pakaian putih-putih biasa (kemeja atau baju kurung/celana panjang putih), sebab jika mereka memakai pakaian putih-putih yang bergaya gamis, sebagaimana selama ini cenderung ditampilkan dalam berbagai show of force para pendukung paslon 02, maka tujuan pengelabuan batas pendukung kedua paslon tentu tidak akan efektif dan berhasil.

Marilah sama-sama kita nantikan warna apa yang dominan akan tampil dan bagaimana situasi di TPS-TPS pada hari pencoblosan, Rabu 17 April 2019 nanti. Semoga juga orang gila yang akan ikut mencoblos juga akan diberi pakaian putih, atau paling tidak pakaian apa saja, asal tidak telanjang dada, apalagi telanjang bulat, demi menghormati ‘perhelatan nasional’ yang ‘sakral’ itu.

Kepada pembaca dimohon jangan lupa untuk mengabadikan’perang simbol’ dan situasi di TPS-TPS itu dengan kamera HP seri terbaru buatan Korea milik Anda.

Leiden, 14 April 2019

 

 

 

 

Majalah Tjermin, No.23, TAHUN KE-11, 15 OKTOBER 1950,p.18-crop

Catatan: Sebagaimana saya tulis di lamaf Facebook saya, terus terang saya jarang menemukan PUISI penuh semangat nasionalisme yang ditulis oleh saudara Tionghoa kita di tahun 1940an-60an. Sudah banyak sekali terbitan2 vernakular Indonesia yang tersimpan di Leiden University Library yang terbit sepanjang paroh pertama abad ke-20, bahkan sampai tahun 1970an, yang saya baca, tapi temuan puisi yang ditulis OEY HOCK TJAY (1950) dari Tasikmalaya ini terasa sangat spesial, sampai2 saya terlonjak dan tersenyum sendiri dalam ruang perpustakaan yang sepi dari suara itu. Siapakah kiranya OEY HOCK TJAY? Saya mencoba menelusurinya, tapi belum membuahkan hasil. Kalau ada teman2 FB yang mengetahuinya lebih jauh, kiranya berkenan berbagi info dengan saya. Begitu langkanya puisi seperti ini, saya usulkan agar nama OEY HOCK TJAY di diabadikan untuk salah satu fasilitas publik di Tasikmalaya atau malah di tingkat nasional. (Postingan tgl. 24 Maret 2019, pukul 3:10).

Sumber: Majalah Tjermin, No.23, TAHUN KE-11, 15 OKTOBER 1950, hlm.18.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories