Posted by: niadilova | 25/12/2017

Minang saisuak #323: Bachtiar Djamily (1929-1998): anak Supayang bertalenta wartawan & sastrawan

3327_002-cropMungkin pembaca rubrik Minang saisuak, yang sudah sejak pertengahan tahun 2010 dengan setia menemani para pembaca Singgalang edisi Minggu, pernah membaca Orang Rantai dari Silungkang (Djakarta: Firma Tekad, 1966), sebuah novel berlatar belakang pemberontakan PKI Silungkang (1927).

Orang Rantai dari Silungkang (lihat ilustrasi) adalah satu dari banyak karya tokoh yang kami turunkan kali ini: Bachtiar Djamily. Lahir di Supayang pada tanggal 10 November 1929, Bachtiar adalah salah seorang anak dari ulama Minangkabau kenamaan, Syekh Muhammad Djamil Djaho.  Semasa hidupnya, Bachtiar dikenal sebagai seorang wartawan dan pengarang yang produktif. Beliau telah menulis lebih dari seratus cerpen, beberapa roman dan buku-buku sejarah, agama, biografi dan politik Indonesia dan Malaysia.

Bachtiar muda mendapat pendidikan sekolah rakyat di kampungnya (1939) dan sekolah Belanda Schakel School (1940) tapi tidak tamat. Sebagaimana kebanyakan pemuda Indonesia di masanya, Bachtiar ikut dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) menyusul proklamasi kemerdekaaan Indonesia tahun 1945. Setelah BKR dilebur jadi TNI, beliau terus aktif dalam Batalion Merapi di Padang Panjang, Sumatera Barat. Terakhir di dunia ketentaraan, beliau berdinas dalam Komandemen Sumatera Seksi XI (Seksi Koordinasi & Mobilisasi Perjuangan Rakyat) pada tahun 1947.

Bachtiar Djamily_Orang Rantai dari Silungkang 1966-crop

Ketika hendak belajar ke India tahun 1948, Bachtiar ‘terdampar’ di Malaysia. Maka menetaplah beliau di Tanah Semenanjung itu (termasuk di Singapura) sampai 1956. Selama menetap negeri jiran itu, beliau aktif menulis cerpen dan artikel-artikel untuk surat kabar setempat dan ketika tinggal di Singapura tahun 1953 beliau menjadi wartawan harian Waspada (Medan).

Setelah itu kembali ke Indonesia, Bachtiar terus aktif dalam dunia kewartawanan dan kepengarangan. Beliau mendirikan beberapa koran dan dari 1957 sampai 1959 beliau menjadi wartawan kesayangan Presiden Soekarno. Tapi tampaknya beliau mulai mengeritik Pemerintahan Soekarno yang pada tahun-tahun sesudahnya yang makin mesra dengan PKI. Dua surat kabar yang beliau dirikan, Jihad dan Jiwa Proklamasi, dibeslah oleh Rezim Aidit-Subandrio-Chaerul Saleh menjelang meletusnya peristiwa 1965.

Ketika Rezim Orde Baru memerintah Indonesia, Bachtiar tampaknya mendukungnya. Ini dapat dikesan dari banyak tulisan beliau mengenai Orde Baru dan para pejabatnya. Demikianlah umpamanya, beliau menulis biografi Presiden Soeharto (Soeharto: Anak Petani jadi Presiden. Kuala Lumpur: Penerbit Utusan Melayu,1968) dan beberapa pejabat penting Orde Baru lainnya. Pada 14 Oktober 1990, beliau dianugrahi oleh Pemerintah Republik Indonesia penghargaan “Penegak Pers Pancasila”.

Bachtiar Djamily adalah salah satu pilar ‘jembatan budaya dan persahabatan’antara Indonesia dan Malaysia dalam dunia kepengarangan dan kewartawanan. Memang tampaknya dalam dunia kesusastraan, beliau lebih dikenal di Malaysia daripada di negeri kelahirannya sendiri, Indonesia. Di Malaysia, Bachtiar dicatat sebagai salah seorang pengarang Asas 50. Karya-karya beliau (sastra dan non sastra) memang lebih banyak diterbitkan di Malaysia, tapi juga ada yang diterbitkan di Indonesia dan Singapura. Oleh sebab itu, salah satu sumber di Wikipedia menyebutnya sebagai ‘penulis Malaysia’ (lihat: https://ms.wikipedia.org/wiki/Bachtiar_Djamily).

Ratusan cerpennya tersebar di berbagai harian di Malaysia. Demikian juga esei-esei dan artikel-artikelnya, yang diterbitkan di beberapa harian di Malaysia dan juga Indonesia.

Di antara karya-karya sastra buah pena Bachtiar Djamily dalama bentuk roman atau novel adalah: Bertapa di Gunung Ledang (Singapura: Harmy, 1951), Yang Berontak & Yang Menyerah (Djakarta: Tekad, 1962; lihat ilustrasi [kredit foto: Koko Hendri Lubis]), Orang Rantai dari Silungkang (Djakarta: Tekad, 1966), Burong Nuri Terbang Tinggi (Kuala Lumpur: Utusan Melayu, 1966; lihat ilustrasi), Di-kejar Perawan Tua (Kuala Lumpur: Utusan Melayu, 1966; lihat ilustrasi), Laila: Janda Muda Bergigi Emas (Petaling Jaya: C.H. Raf, 1976). Selain itu, beliau menulis Korban Pengarang Muda, Ulama Taslim, Nik Teh: Janda Muda dari Kelantan (ketiganya diterbitkan oleh The Sentosa Store, Kuala Pilah, Negeri Sembilan), Rahsia Suami Istri (diterbitkan oleh M. Noor, Acheen Street, Pulau Pinang), Luka Lama Berdarah Balik, Tak Hanyut Dilanda Arus, Mencari Gadis yang Hilang (ketiganya diterbitkan oleh Firma Tekad, Djakarta), antologi bersama Kisah Seorang Janda ke Tanah Suci (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1968), Mencari Jalan Pulang dan Bertemu Ruas dengan Buku.

Bachtiar Djamily_Yang memberontak & yang menyerah-crop Koko H Lubis

Sementara karya-karya buku yang ditulis Bachtiar yang terkait dengan dunia kewartawanannya, selain tentang Soeharto yang telah disebutkan di atas, antara lain adalah: Bagaimana Melawan Subversive Komunis? (Kuala Lumpur: Nusantara, 1966), Meneropong Kepemimpinan Soeharto dan Nasoetion (Singapura: Purnama Publications,1968), Kenapa PAS Boleh Jadi PAS? (Petaling Jaya: C.H. Raf), Adam Malik sebagai Negarawan, Politisi, Diplomat & Wartawan (Kuala Lumpur: Pustaka Melayu Baru, 1978), Bung Karno, Ajarannya & Pelaksanaannya (Jakarta: Biro Suryabana & Penerbit Warga Mulya,1988), Latar Belakang & Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya (Bogor: H.M. Ibrahim, 1988), Dari Pondok Pesantren Suryalaya ke Ka’batullah (Bogor: H. M. Ibrahim, 1990),  Riwayat Hidup & Perjuangan Syekh Thahir Jalaluddin Al-Azhari Al-Falaki (Kuala Lumpur: Asmah Publisher, 1994), Hidup & Perjuangan Prof. Dr. Burhanuddin El-Hulaimy (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa & Pustaka,1996), dan Biografi Buya Kita: Sheikh Muhammad Djamil Djaho (Kuala Lumpur: Asmah Publisher, 1996).

Bachtiar Djamily_Burong nuri terbang tinggi-crop

Di hari tuanya, tampaknya Bachtiar Djamily, yang menikah dengan Hajah Marianis binti Ibrahim (1954) dan dikaruniai 7 orang anak, memilih untuk menetap di Malaysia. Sumber Wikipedia yang dirujuk di atas menyebutkan alamat beliau di No. 35, Lorong Langat off, Jalan Istana, 41400 Kelang, Selangor.

Bahctiar Djamily meninggal di Malaysia pada tanggal 12 Februari 1998 dalam usia 69 tahun. Azman Ismail dalam laporan obituarinya “Bachtia…yang telah pergi” yang dimuat dalam Utusan Malaysia edisi 17 Februari 1998 menulis:

“DUNIA sastera tanah air kehilangan seorang lagi tokohnya.
Beliau ialah Bachtiar [bin] Sheikh Muhd. Djamil Djaho yang lebih dikenal sebagai Bachtiar Djamily atau nama pena Imbang Jaya. Beliau meninggal dunia di rumahnya di Damansara Utama, Petaling Jaya, 12 Februari lalu.
Tidak dapat dinafikan setiap yang hidup pasti ada akhirnya. Namun, jasa-jasa Bachtiar yang merupakan salah seorang tokoh Angkatan Sasterawan 50 (Asas 50) tetap meninggalkan kenangan tersendiri kepada generasi dunia sastera tanah air.
Kehadirannya dalam generasi persuratan Melayu bersama Asas 50 amat dirasakan. Sebaris dengan tokoh-tokoh seperti Asraf, Masuri S.N., Keris Mas, [dan] Usman Awang, beliau menabur bakti kepada cita-cita intelektual Melayu pada era tersebut.
Agak berbeza dengan tokoh-tokoh Asas 50 lainnya, Bachtiar merupakan seorang wartawan yang aktif serta mendapat tunjuk ajar meluas daripada tokoh-tokoh kewartawanan seperti A. Samad Islamil, Melan Abdullah dan Ibrahim Mahmud.

Bachtiar Djamily_Di-kejar perawan tua-crop

Ketekunannya berkarya dan kepetahan bercapak serta pidato menjadikannya seorang wartawan yang produktif dan dikenal ramai.
Malah, di negara kelahirannya, Indonesia, beliau menjadi wartawan yang disayangi oleh bekas presiden Indonesia, Soekarno.
Di samping itu, beliau juga sering menghantar karya-karyanya ke Majlis, Utusan Melayu, Utusan Zaman, Warta Negara, Mastika, Pengasuh, Juita, Muntiara, Kenchana dan lain-lain.”

Mudah-mudahan sudah ada mahasiswa atau peneliti di Malaysia dan di Indonesia yang sudah meneliti riwayat hidup dan karya-karya Bachtiar Djamily. Tak diragukan lagi bahwa beliau jelas layak dicatat sebagai salah seorang putra Minang yang telah memberikan kontribusi penting dalam perjalanan sejarah dan jurnalisme serta wacana sastra dan kebudayaan di rantau Melayu yang berseling sungai, selat dan laut ini. (Sumber foto: Haji Bachtiar Djamily, Biografi Buya Kita: Sheikh Muhammad Djamil Djaho, Kuala Lumpur: Asmah Publisher, 1996: sampul belakang).

Dr. Suryadi, MA – Leiden University, Belanda / Harian Singgalang, Minggu 24 Desember 2017


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: