Posted by: niadilova | 04/06/2020

Ruslan Buton, Media Baru, dan Psikologi Negara Kekuasaan

WhatsApp Image 2020-06-03 at 17.32.27MINGGU-MINGGU belakangan ini jagat medsos Indonesia diramaikan oleh berita penangkapan Ruslan Buton, seorang mantan tantara (kapten infanteri) yang diberhentikan karena membunuh seorang preman bernama La Gode yang sering mengganggu dan meresahkan warga ketika Ruslan bertugas sebagai Komandan Kompi sekaligus Komandan Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau. Akan tetapi banyak orang sudah tahu bahwa masyarakat setempat menganggap Ruslan sebagai pahlawan karena ia berhasil membebaskan mereka dari intimidasi preman La Gode. Rupanya Ruslan yang sangat kritis terhadap pendatangan tenaga kerja Cina dalam jumlah yang sangat banyak ke Indonesia Timur dan ekploitasi sumber daya alam Indonesia Timur oleh kapitalis asing yang dibekingi oleh Jakarta, yang membuat para elit lokal di daerah itu tidak berdaya, sengaja dijebak ke dalam konflik dengan La Gode yang berujung pada kematian orang itu. Sebaliknya, pihak lain memberi cap Ruslan sebagai mantan tentara yang punya ‘jejak kelam’ (lihat: https://www.jpnn.com/news/jejak-kelam-ruslan-buton-pecatan-tni-yang-diduga-terlibat-kasus-pembunuhan-petani; diakses 02-06-2020).

Rupanya Ruslan menolak iming-iming uang untuk pembebasan sejumlah pekerja Cina yang ditangkapnya karena tidak memiliki dokumen yang lengkap (lihat transkripsi video di bawah). “Penolakan inilah yang diduga menjadi penyebab kliennya mulai diincar agar turun dari jabatannya. Empat bulan setelah [Ruslan menolak uang suap itu], markas sekaligus asrama TNI yang dipimpinnya diserang oleh seorang pria bernama La Gode.” Untuk membela dan mempertahankan markasnya, Ruslan tentu saja berhadapan dengan La Gode sehingga orang itu terbunuh. Belakangan diketahui bahwa La Gode (yang bukan tidak mungkin adalah orang suruhan dari pihak tertentu) adalah seorang mantan narapidana yang pernah dipenjara karena sudah dua kali membunuh orang (lihat: https://beritamerdeka.net/news/tangkap-tka-china-masuk-maluku-ini-alasan-ruslan-buton-dipecat-dari-tni/index.html; diakses 02-06-2020). Akan tetapi, siapapun yang dibunuh oleh Ruslan, tentu sebagai anggota TNI ia menghadapi konsekuensi hukum. Namun, dapat disimpulkan bahwa Ruslan disingkirkan dari korps TNI bukan seratus persen karena kasus yang bersifat natural (lihat: https://news.beritaislam.org/2020/06/terungkap-kuasa-hukum-ruslan-buton.html?m=1; diakses 02-06-2020).

Sebuah tulisan lain muncul di medsos yang menceritakan kisah pembebasan satu keluarga di Bandung dari perampok yang memasuki rumahnya atas bantuan Ruslan Buton ketika ia masih berdinas di Bandung (lihat: https://rmollampung.id/ruslan-buton-pahlawan-kami-sejak-sertu/; diakses 02-06-2020).

Tagar #SaveRuslanButon

Pada tanggal 28 Mei 2020 Ruslan dijemput polisi di rumahnya di Pasar Wajo, Buton. Ia ditangkap atas tuduhan mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Jokowi yang meminta beliau untuk mundur secara legowo “dari tahta kepresidenan”. Segera setelah itu muncul dukungan luas di medsos terhadap Ruslan. Banyak netizen menulis tagar “#SaveRuslanButon” di dinding Facebok mereka dan juga menanggapi postingan-postingan netizen yang terkait dengan penangkapan Ruslan Buton. Mereka meminta Pemerintah membebaskan Ruslan Buton. Lalu bermunculan pula poster-poster yang merepresentasikan dan merefleksikan dukungan moral terhadap Ruslan Buton (lihat ilustrasi).

SaveRuslanButon-3

Maka, sebagaimana biasa, para netizen menelusuri track record dan jejak digital Ruslan Buton. Sebuah video tentang Ruslan beredar secara luas di medsos. Berikut adalah transkripsi video tersebut dengan mencatatkan sumbernya.

Transkripsi pidato dan surat terbuka Ruslan Buton

Ini adalah transkripsi video tentang Ruslan Buton yang beredar di media sosial. Transkripsi ini didasarkan atas link berikut ini: <sumber: https://www.facebook.com/groups/281730816561249/wp/282789289524534?ext=1591357605&hash=AeRwTfXSYVuwILle> (diakses 2 Juni 2020).

Video ini terdiri atas dua bagian:

Bagian pertama berisi keratan tanggapan Ruslan Buton dalam sebuah acara di Lemhanas* dan yang kedua adalah narasi surat terbukanya yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo. 

Bagian pertama: Pertemuan di Lemhanas

“[…]
Saya merasakan kebangkitan komunis. Sejak…o…beberapa tahun yang lalu, tadi sudah disampaikan oleh adik yang satu, sejak dihilangkannya pelajaran PMP dirubah, sejak dihilangkannya [pelajaran] sejarah: Sejarah Perjuangan Bangsa sekarang dihilangkan, Pak. Artinya, generasi-generasi kita muda sekarang ini sudah tidak tahu sejarah, Pak. Mereka tidak tahu PKI itu apa, masa bodoh, nggak berbahaya. Bagi saya sangat membahayakan, Pak.
Ancaman PKI, saya bercerita sedikit, Pak. Apakah para pekerja Cina, TKA Cina yang masuk ini bukan merupakan ancaman, Pak? Saya dari Ternate, Pak. Saya dinas terakhir sebagai komandan kompi di satuan 732 Raider di Ternate, setiap saya pulang jam 2 malam penerbangan, di bandara itu hampir penuh dengan orang-orang Cina. [Mereka] tidak bisa berbahasa Indonesia. Bayangkan, Pak.
Saya contohkan satu [terdengar interupsi: ‘baik…’]. Sebentar, Pak. Ini menyangkut kedaulatan negara, Pak. [terdengar lagi interupsi: ‘Ya…., sudah setengah dua ini’]. Betul, ini menyangkut kedaulatan bangsa dan negara.
Jadi, saya da kasus. Ketika saya melaksanakan satgas di Pulau Taliabu, di situ ada kelompok Cina yang banyak sekali. Ketika saya bertanya kepada kepala desa, ketika saya panggil, lima orang saya panggil, tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak bisa berbahasa Cina, eh…berbahasa Inggris, dan tidak punya paspor, tidak punya visa. Dan saya tangkap. Malam hari saya didatangin satu letkol polisi, akbp polisi, satu mayor tantara untuk menebus atau memanggil, menjemput mereka. Saya tolak. Dengan ada imbalan satu kantong plastik uang. Saya tolak. [Terdengar interupsi: ‘Baik…baik, Pak…. ]. Ya. Artinya, bahwa negara kita sekarang dalam ancaman, Pak. Negara kita dalam ancaman. Jadi, saya mohon, harus ada ketegasan dari Pemerintah, baik…Bb Bapak Fadli [Zon], mungkin dibikin dalam bentuk tap MPR agar komunis itu tidak boleh berkembang di negara ini [Terdengar interupsi: ‘ya… .’). Kami….”

Bagian kedua: Surat terbuka Ruslan Buton kepada Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo

“Saudara Insinyur Haji Joko Widodo,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saya Ruslan Buton, mewakili seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Di tengah pandemik Covid-19, saya melihat tata kelola berbangsa dan bernegara yang begitu sulit dicerna akal sehat untuk dipahami oleh siapapun. Kebijakan-kebijakan Saudara selalu melukai dan merugikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah acaman lepasnya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kami cintai ini. Suka atau tidak suka, di era kepemimpinan Saudaralah semua menjadi kacau balau alias amburadul dalam segala hal. Entah karena ketidakmampuan Saudara atau bisikan kelompok yang memiliki kepentingan yang tidak Saudara pahami atau mungkin karena Saudara telah tersandera oleh kepentingan para elit politik. Di sini saya tidak akan memaparkan kebijakan-kebijakan Saudara yang lebih banyak merugikan rakyat, bangsa dan negara, sebagai etika berkomunikasi saya kepada Saudara, yang kebetulan menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Saudara Joko Widodo yang saya hormati,
Semua sistem yang berlaku di negeri ini bagaikan benang kusut yang sangat sulit untuk dirakit kembali. Oleh karenanya, dengan bahasa yang sangat sederhana ini, saya mohon dengan hormat agar Saudara dengan tulus dan ikhlas secara sadar untuk mengundurkan diri dari jabatan Saudara sebagai Presiden Republik Indonesia. Hal ini perlu dilakukan demi kepentingan bangsa, untuk menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebelum kedaulatan negara benar-benar runtuh, dikuasai asing, terutama Cina Komunis.
Saya tahu, ini adalah pilihan sulit, namun merupakan pilihan terbaik. Saudara seorang negarawan yang pastinya ingin membangun negeri ini. Namun, harus jujur saya katakan bahwa Saudara belum memiliki banyak kemampuan untuk membangun bangsa yang besar ini, berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Sehingga terjadilah kebijakan-kebijakan yang menjadi blunder politik yang sangat merugikan rakyat, bangsa dan negara.
Saudara Joko Widodo,
Sekali lagi saya sampaikan bahwa solusi terbaik [untuk] menyelamatkan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia hanya ada satu: Saudara harus bersikap kesatria dan legowo untuk mundur dari tahta kepresidenan. Namun, bila tidak, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat, seluruh komponen bangsa, dari berbagai suku, agama dan ras yang akan menjelma bagaikan tsunami dahsyat yang akan meluluhlantakkan para pengkhianat bangsa. Akan bermunculan harimau-harimau, singa-singa dan serigala-serigala lapar untuk memburu dan memangsa para pengkhianat bangsa.
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1955 Pasal 1 Ayat 2 yang mengatakan bahwa kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar [1945].
Saudara Joko Widodo,
Lengsernya Jenderal Besar Suharto bisa menjadi sebuah acuan atau referensi untuk Saudara lakukan. Sebagai seorang negarawan beliau menyatakan mundur dari tahta kepresidenan, demi menghindari pertumpahan darah [antar] sesama anak bangsa. Dan saya berharap Saudara juga bersikap demikian. Saudara bisa menghindari potensi pertumpahan darah antar sesama anak bangsa.
Ketika Pertiwi memanggil, maka kami akan menjadi garda terdepan untuk menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kendari, 18 Mei 2020
Ruslan Buton
Panglima Serdadu Ekstrimatra Nusantara”
* Informasi dari Fadli Zon, komunikasi pribadi, Selasa 2 Juni 2020

Tranksriptor: Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands

Isi Video: tiga isu penting

Membaca transkripsi kedua bagian isi video itu, dapat ditarik tiga poin penting yang terkandung di dalamnya.

Pertama: Isu tenaga kerja Cina

Bagian pertama video jelas mengangkat isu tentang tenaga kerja Cina yang membanjiri kawasan Indonesia Timur. Cukup gampang mencari berbagai laporan media tentang isu ini sekarang. Jakarta telah bertindak sebagai pembeking kuat untuk pendatangan tenaga kerja Cina ini. Para tenaga kerja Cina tersebut bekerja di berbagai wilayah di Indonesia Timur dalam kawasan-kawasan konsesi tambang di Sulawesi Tenggara, Ternate, dan lain-lain. Namun, selalu saja pihak penguasa di Jakarta mengelak dan berdalih bahwa jumlah mereka masih proporsional, mereka didatangkan karena tenaga kerja lokal belum punya skill yang cukup dan berbagai alasan lainnya. Mengutip kata-kata Ruslan Buton sebagaimana dapat dibaca dalam transkripsi di atas:

Ketika saya melaksanakan satgas di Pulau Taliabu, di situ ada kelompok Cina yang banyak sekali. Ketika saya bertanya kepada kepala desa, ketika saya panggil, lima orang saya panggil, tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak bisa berbahasa Cina, eh…berbahasa Inggris, dan tidak punya paspor, tidak punya visa. Dan saya tangkap. Malam hari saya didatangin satu letkol polisi, akbp polisi, satu mayor tantara untuk menebus atau memanggil, menjemput mereka. Saya tolak. Dengan ada imbalan satu kantong plastik uang. Saya tolak. […]. Ya. Artinya, bahwa negara kita sekarang dalam ancaman, Pak. Negara kita dalam ancaman.

Banyak di antara tenaga kerja dari Cina itu tidak memiliki dokumen yang lengkap. Terdapat berbagai laporan dari masyarakat tentang ini, tapi otoritas/pihak berwenang tak melakukan tindakan yang proporsional, seolah-olah mereka dibelenggu oleh kekuatan yang tak tampak. Ruslan adalah salah seorang warga negara Indonesia yang berani menangkap mereka, yang akhirnya menimbulkan konsekuensi serius terhadap karir militernya. Keadaan ini seolah memperlihatkan negara ini tidak lagi punya kedaulatan. Sebagai putra Indonesia Timur, Ruslan tampaknya merasa khawatir melihat situasi yang berkembang. Ia melihat ‘invansi’ tenaga kerja Cina dalam jumlah besar itu berpotensi mengancam kedaulatan Indonesia.

Kedua: Permohonan agar Presiden Jokowi mundur

Bagian kedua dari video itu berisi permohonan Ruslan agar Presiden Jokowi mundur dari “tahta kepresidenan” Republik Indonesia. Permohonan itu disampaikannya karena ia merasa “sangat prihatin dengan kondisi bangsa saat ini.” Ia menilai Presiden Jokowi “belum memiliki banyak kemampuan untuk membangun bangsa yang besar ini.” Kebijakan-kebijakan sang Presiden dinilainya “selalu melukai dan merugikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara.” Ia sangat mengkhawatirkan lepasnya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat ia cintai.

SaveRuslanButon-1

Ruslan melihat Indonesia kini “menjadi kacau balau alias amburadul dalam segala hal.” Menurutnya pilihan mundur bagi Presiden Jokowi adalah hal yang terbaik untuk menyelamatkan bangsa Indonesia dari perpecahan dan konflik mendalam. Bila tidak, ia khawatir “bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat, seluruh komponen bangsa, dari berbagai suku, agama dan ras yang akan menjelma bagaikan tsunami dahsyat yang akan meluluhlantakkan para pengkhianat bangsa.” Ruslan menyuruh Presiden Jokowi mengambil hikmah dari lengsernya Presiden Suharto pada tahun 1998. Dengan bijaksana, Suharto memilih mundur untuk menghindari pertumpahan darah antar sesama anak bangsa.

Dari narasi transkripsi surat Jokowi di atas dapat dikesan bahwa Ruslan adalah seorang rakyat Indonesia yang mencintai bangsa dan negaranya. Ia memakai bahasa yang sopan dalam surat itu (misalnya: “Saudara Joko Widodo yang saya hormati”). Panggilan “Saudara” jarang kita dengar sekarang, bahkan di kalangan politisi di Jakarta yang cenderung “ber-kamu-kamu” dalam berdiskusi, apalagi berdebat. Kesantunan bahasa seorang mantan prajurit yang setia kepada bangsa dan negaranya terlihat dalam keseluruhan narasi surat terbuka Ruslan kepada Presiden Jokowi. “[D]engan bahasa yang sangat sederhana ini, saya mohon dengan hormat agar Saudara dengan tulus dan ikhlas secara sadar untuk mengundurkan diri dari jabatan Saudara sebagai Presiden Republik Indonesia”, katanya. (Kursif oleh Suryadi).

Dalam satu paragraf Ruslan memprediksikan munculnya suatu titik kulminasi jika tensi politik nasional tidak dikendorkan, yang menurutnya hanya dapat dilakukan dengan mundurnya Presiden Jokowi. Ia mengatakan bukan tidak mungkin akan terjadi “gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat, seluruh komponen bangsa dari berbagai suku, agama dan ras yang akan menjelma bagaikan tsunami dahsyat yang akan meluluhlantakkan para pengkhianat bangsa.” Jika keadaan chaos itu terjadi,  ia mengkhawatirkan munculnya “harimau-harimau, singa-singa dan serigala-serigala lapar untuk memburu dan memangsa pada pengkhianat bangsa.” Di sini Ruslan memakai metafora: para “harimau”, “singa”, dan “serigala” lapar adalah kiasan kepada individu-individu atau pihak-pihak tertentu dalam masyarakat yang, sebagaimana umumnya terjadi dalam konflik politik, berseberangan ide dan pandangan dengan oponen politiknya. Kata-kata Ruslan itu boleh dipandang sebagai warning, suatu usaha untuk ‘memintas sebelum hanyut’, memberi peringatan sebelum hal yang paling buruk terjadi.

Ketiga: Isu kebangkitan PKI

Ruslan Buton rupanya sangat khawatir terhadap kemungkinan kembalinya kekuatan komunis di Indonesia. Isu ini semakin mengemuka sejak beberapa tahun terakhir ini, terlbih lagi di era kepemimpinan Presiden Jokowi Ada yang menganggap ini isapan jempol belaka dan sengaja dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu untuk manufer politik mereka. Pihak lain dengan keyakinan tinggi melihat bukti-bukti yang tampak dan menyatakan bahwa PKI sudah muncul lagi. Meminjam judul dan larik puisi DN Aidit, “kini ia sudah dewasa”, PKI “tahan teror dan provokasi, dulu, sekarang, dan nanti, [karena ia adalah] “Antaeus, anak Poseidon”, yang “takterkalahkan selama setia pada bumi” (Lihat: Buku 40 tahun PKI, 1920-1960. Jakarta: Lembaga Sejarah PKI dan Departemen Agitasi dan Propaganda C.C. P.K.I, 1960:87).

Sebagaimana dapat dikesan dalam transkripsi video bagian pertama, Ruslan Buton melihat generasi muda Indonesia sekarang sudah tidak tahu sejarah. “Mereka tidak tahu PKI itu apa, masa bodoh”, dan menganggapnya tidak berbahaya. Menurutnya ini juga disebabkan oleh penghilangan pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa dalam kurikulum sekolah menengah.

SaveRuslanBUton-2

Ruslan juga melihat ancaman PKI sekaitan dengan kedatangan begitu banyak pekerja dari Cina ke Indonesia. Dari uraiannya (lihat transkripsi video) dapat dikesan bahwa ia khawatir ini merupakan bagian dari strategi negara Cina untuk menyebarkan ideologi komunis di Indonesia. Sebagaimana telah dicatat dalam sejarah, political uprising yang terjadi di Indonesia tahun 1960an tidak lepas dari pembentukan poros Jakarta-Peking. Bayang-banyang historis ini tentu akan mewarnai pikiran pihak-pihak atau siapa saja yang mengkhawatirkan kemunculan kembali PKI di Indonesia.

‘New media’ dan negara kekuasaan yang mudah tersinggung

Mengapa Ruslan Buton ditangkap? Apakah karena surat terbukanya begitu berbahaya? Bukankah kebebasan menyatakan pendapat di depan umum dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945, termasuk usulan pemakzulan presiden? Bukankah sudah ada orang lain yang juga mengirimkan surat terbuka yang meminta Presiden Jokowi mundur dari jabatannya? Mengapa dia tidak ditangkap? Bahkan di medsos beredar juga video tiga orang bersalawat yang menyerukan Jokowi mundur. Lebih banyak lagi postingan di dinding-dinding facebook yang berisi nada yang sama.

Dari segi politik, pengaitan penangkapan Ruslan dengan ‘invisible hands’ yang tidak ingin soal isu tenaga kerja Cina diapungkan tentu bisa dipahami. Jika ditilik lebih dalam, dengan mempertimbangkan wacana yang sedang hangat beredar di ranah publik, penangkapan Ruslan memang lebih kental kaitannya dengan isu tenaga kerja Cina ini ketimbang soal usulan pemberhentian Presiden.

Akan tetapi sebagai peneliti budaya media (media culture), saya ingin meninjau kasus Ruslan ini secara lebih dalam lagi dari konteks kajian media dan politik. Dalam salah satu stelling [proposition] disertasi saya (2014) saya berhujah: “One of the real challenges faced by authoritarian regimes in Southeast Asian countries is to maintain the effectiveness of modern media as instruments of state propaganda.” (lihat: https://openaccess.leidenuniv.nl/bitstream/handle/1887/30115/Dissertation-Suryadi.stellingen.pdf?sequence=25; stelling no. 9; diakses 02-06-2020). Hal ini tampak nyata dan kentara sekali dalam ranah politik Indonesia kontemporer. Pemerintah Jokowi (Jokowi’s administration) bahkan sampai menyewa buzzers dan influencers dengan biaya milyaran untuk membentuk dan mempengaruhi opini publik untuk melawan pihak-pihak yang menunjukkan sikap oposisi dan kritisisme.

Di era sosial media yang begitu luas pengaruhnya di zaman sekarang, penguasa yang anti kritik dan anti demokrasi akan dengan mudah tersinggung oleh wacana kritis terhadapnya yang menyebar cepat di media sosial, dan hampir tak dapat dikontrol oleh negara. Penguasa antri kritik dihinggapi phobia dan selalu merasa medsos adalah ‘hidden camera’ yang menelanjangi mereka. Sebagai produk ‘new media’, medsos memiliki ciri yang berbeda dari ‘old media’. Rezim-rezim anti kritik yang ada di dunia sekarang masih mencoba menerapkan konsep ‘repressive use of media’ di tengah perubahan sifat mendasar media baru yang sangat ‘emansipatoris’, walau mereka tahu usaha itu sebenarnya sia-sia belaka. H.M. Enzensberger dalam ‘Constituents of a theory of the media’, New Left Review 64 (1970): 13-36 membedakan ciri ‘old media’ dan ‘new media’ sebagai berikut:

Repressive Use of Media (Ciri ‘Old’ Media) Emancipatory Use of Media (ciri ‘New Media [Seperti Sosmed])
-Centrally controlled program

-One transmitter, many receivers

-Passive consumer behavior

-Production by specialists

-Control by property owners or bureucracy

-Decentralized program

-Each receiver a potential transmitter

-Interaction of those involved, feedback

-Collective production

-Social control by self-organization

Jadi, hampir tidak mungkin bagi negara untuk mengontrol media sosial di zaman sekarang. Penguasa yang bijak tidak akan melakukan penangkapan-penangkapan, tapi justru akan melakukan counter dengan cara yang terencana dan cerdik. Jika tidak, kita akan melihat terus berakumulasinya rasa phobia penguasa-penguasa yang anti kritik, yang akan menuju ke sebuah titik kulminasi. Energi ke arah titik kulminasi itu bisa datang dari sebuah ikon, seperti ‘#SaveRuslanButon’. Dan sejarah telah menunjukkan kepada kita bahwa di titik kulminasi itulah tegak rebahnya sebuah rezim ditentukan.

Ikon koreksi dan resistensi terhadap rezim anti kritik

Penangkapan Ruslan Buton, yang kemudian diikuti dengan menyebarnya tagar “#SaveRuslanButon”, “#BebaskanRuslanButon” dan berbagai poster yang menggambarkan Ruslan dalam segaram militer, menunjukkan meluasnya dukungan terhadap orang ini. Dalam minggu ini muncul pula facebook group yang diberi nama “Teman Ruslan Buton”. Perkembangan ini menarik untuk diamati lebih seksama.

Tampaknya Ruslan Buton mulai berubah menjadi semacam ikon resistensi terhadap Jakarta. Semakin banyak orang yang bergabung dan mengasosiasikan diri dengan ikon ini, mereka yang berpandangan sama tentang keadaan Indonesia sekarang, terutama dalam hal terancamnya kedaulatan negara oleh kekuatan asing dan pengurasan sumber daya alam Indonesia oleh para kapitalis asing yang telah memegang ‘batang leher’ para pengambil keputusan di dalam negeri, baik di tingkat nasional maupun lokal.

Melihat situasi politik dan kohesi sosial bangsa Indonesia kini, ikon ini mungkin tidak akan bisa bertahan hidup, malah mungkin segera akan jadi bongsai. Tapi gerak politik sebuah bangsa tidak dapat diprediksi secara tepat, bahkan juga oleh para scholar, analis dan pengamat politik.

Leiden, 4 Juni 2020

Dr. Suryadi, MA – Leiden University, The Netherlands

 


Responses

  1. Ulasan yang sangat renyah dipahami keren pak Dr. Suryadi

    On Thu, Jun 4, 2020 at 8:55 PM Dr. Suryadi | LIAS – SAS Indonesië, Universiteit Leiden, Belanda wrote:

    > niadilova posted: “MINGGU-MINGGU belakangan ini jagat medsos Indonesia > diramaikan oleh berita penangkapan Ruslan Buton, seorang mantan tantara > (kapten infanteri) yang dipecat karena membunuh seorang preman bernama La > Gode yang sering mengganggu dan meresahkan warga ketika R” >


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: