Posted by: niadilova | 22/03/2020

PPM #247: Putra Kurai Taji Semaoen Bakry divonis 9 bulan penjara (1941)

COPIE OVER SI PATAI

De schrijver krijgt negen maanden.

     Semaoen Bakry, afkomsting uit Koerai Tadji Pariaman, thans te Bengkoelen woonachtig, schreef een boekje getiteld “Si Patai”. Zoals deze titel reeds aangeeft,

Werd in dit werkje, het leven beschreven van den communist “Si Patai”, bij vele onzer lezers nogbekend, als zijnde de hoofdleider van de communisten-relletjes, welke zich voorde den in de Ommelanden van Padang, in het jaar 1926 en voor de bedwinging waarvan militairen uit Java warden gedirigeerd.

     De Schrijver wilde zijn boekje bij de drukkerij Roman Pergaoelan te Fort de Ko[c]k doen drukken, waartoe hij de copy per post Fort de Kock verzond. De copy kwam in handen van de censuur, die haar door nam, en toen bevond, dat deze schrijverij niet bevordelijk is voor de openbars rust en orde, vooral in tijden als deze.

     Semaoen Bakry werd door de Politie te Bengkoelen aan de verhoor onderwerpen, en tot nader onderzoek aangehouden.

     De Landraad te Bengkoelen heeft thans, volgens de “Sum. Bode”, uitspraak gedaan in deze zaak en vonnis geveld, waarbij Semaoen Bakry tot 9 maanden gevangenis straf is veroordeeld wegens overtreding van artikel 153 bis van het Wetboek van Strafrecht.

***

Laporan koran De Sumatra Post, 8 Maret 1941 tentang Semaoen Bakry, putra Kurai Taji Pariaman, yang mendapat hukuman penjara 9 bulan di Bengkulu. Inti dari laporan di atas kurang lebih sebagai berikut:

Semaoen Bakry, dari Kurai Taji Pariaman, saat ini tinggal di Bengkulu, menulis sebuah buklet (buku kecil) yang berjudul “Si Patai” yang dari namanya jelas sudah sama diketahui umum adalah seorang pemimpin utama dalam kerusuhan komunis yang terjadi di Padang Ommelanden Padang pada 1926 sebelum akhirnya berhasil ditewaskan oleh Belanda (Mengenai cerita Si Patai ini yang dengan beberapa pengikutnya berhasil ditewaskan Belanda, lihatlah: https://niadilova.wordpress.com/2015/10/19/minang-saisuak-239-tewasnya-si-patai-maharajo-jambi/; diakses 27-02-2020).

Naskah buku itu dikirim ke Fort de Kock (Bukittinggi) melalui pos untuk minta dicetak di percetakan Roman Pergaoelan di kota itu. Akan tetapi rupannya salinan naskah buku itu jatuh ke tangan penyensor (otoritas kolonial Hindia Belanda) yang menemukan bahwa isinya tidak kondusif atau berbahaya untuk perdamaian dan ketertiban masyarakat, terutama sekali pada saat-saat sekarang ini.

Semaoen Bakry kemudian diinterogasi oleh polisi Bengkulu dan ditangkap untuk penyelidikan lebih lanjut. Landraad setempat memproses penulisnya secara hukum dan menjatuhkan putusan: Semaoen Bakry dijatuhi hukuman 9 bulan penjara karena melanggar pasal 153 bis KUHP Hindia Belanda.

Dalam buku karangan S. Fuad Bakry (anak Semaoen Bakry) dan Teguh Wiyono, Samaun Bakri Sang Jurnalis (2014) – jadi, nama ditulis ‘Samaun Bakri’ – disebutkan bahwa Semaoen Bakry lahir di Kurai Taji tanggal 28 April 1908, anak dari pasangan suami-istri Bagindo Abu Bakar (keturunan Raja Ulakan) dan Siti Sjarifah (hlm. 28, 107). Semaoen menikah 5 kali: dengan Rakiyah asal Pasa Talang (waktu Semaoen masih berumur 18 thn), dengan Zubaedah asal Sunur (kampung penulis), dengan Hafsah asal Ampalu, dengan Siti Maryam asal Batang Tajongkek Kurai Taji (anak sepupu Haji Mangan), dan dengan Nursima asal Sungai Rotan (h.72, 105-7).

Semaoen Bakry adalah seorang wartawan yang cukup trengginas di zamannya. Ia aktif dalam perjuangan tanah airnya dalam merebut kemerdekaan dan pasca 1945 ketika Belanda melakukan agresi terhadap Indonesia. Semaoen cukup dekat dengan Soekarno di masa-masa perjuangan. Ia adalah salah seorang saksi dari kalangan angkatan muda republiken dalam penyusunan naskah Proklamasi (Bakry & Wiyono, ibid.:145-49). Puncak karir politiknya adalah menjadi Wakil Residen Banten tahun 1947 (ibid.:252).

Dalam buku Bakry dan Wiyono yang disebutkan di atas, diceritakan masa perantauan Semaoen di Bengkulu (Bagian III, khususnya h.73-94). Ia berada di sana sejak 1938 dan menyambut Soekarno yang tempat pembuangannya dipindahkan Belanda ke Bengkulu dari Ende (foto Semaoen bersama Soekarno ada di h.76). Waktu itu Semaoen sudah aktif dalam organisasi Muhammadiyah (yang sudah dicemplunginya sejak berada di kampugnnya di Kurai Taji). Di Bengkulu Semaoen menerbitkan koran Sasaran yang kemudian dibredel Belanda. Lalu diterbitkannya pula koran baru, Penabur, yang kemudian juga dibredel Belanda.

Cerita tentang buku “Si Patai” ada di halaman 90-91 buku Bakry dan Wiyono. Rupanya Semaoen menulis cerita Si Patai dengan versi yang berbeda dengan versi Belanda yang mengatakan bahwa pahlawan rakyat Pauah (Padang Ommelanden) itu adalah pantolan komunis dan bandit yang meresahkan masyarakat. Padahal ia adalah seorang pejuang yang sangat anti Belanda. Namun, dalam buku Bakry dan Wiyono dikatakan bahwa Semaoen dihukum 4 tahun penjara karena kasus buku “Si Patai” itu, berbeda dengan laporan di atas yang menyebut hukuman 9 bulan. Disebutkan juga (h.89) bahwa buku “Si Patai” itu diterbikan di Medan, bukan di Fort de Kock (oleh penerbit Roman Pergaoelan).

Semaoen Bakry wafat dalam kecelakaan pesawat terbang RI Dakota 002 tahun 1948. Bakry dan Wiyono (ibid.) menulis: “[D]di pagi buta, tanggal 30 September 1948, kapten pilot Bobby Freeberg (yang dalam laporan-laporan koran Belanda disebut ‘eenmansluchtmacht van de republiek’) memulai penerbangan Maguwo-Bukittinggi [dengan pesawat Dakota RI 002]…dengan lima awak dan satu penumpang. Selain kapten pilot Bobby Freeberg tercatat awak kopilot Bambang Saptoadji, ahli Teknik Sumadi, operator radio Suryatman, dan pilot kedua Santoso. Sedangkan satu-satunya penumpang adalah Wakil Residen Banten Samaun Bakri (sic).

Pesawat tersebut sukses tinggal landas dari Pangkalan Udara Maguwo. Sebagaimana biasa, pesawat RI-002 kerap melakukan black flight… guna menghindari pesawat-pesawat pemburu milik Belanda yang banyak berpangkalan di Sumatera dan Jawa.”Rupanya pesawat itu membawa 20 kg emas dan rencananya akan menemui Wakil Presiden Mohammad Hatta di Bukittinggi, selanjutnya akan terbang ke Birma.

Ada isu bahwa emas itu akan ditukarkan untuk mendapatkan senjata di luar negeri. Namun, pesawat itu hilang di atas udara Sumatera Bagian selatan pada 1 Oktober 1948, dan 20 kilogram emas itu tak pernah diketahui keberadaannya sampai sekarang. Ada dua isu yang beredar: 1) pesawat RI-002 dipaksa mendarat di daerah pendudukan Belanda Lampung, kemudian disuruh terbang lagi tanpa 20 kg emas itu; 2) pesawat RI-002 dipaksa mendarat di daerah pendudukan Belanda di Palembang, sebagaimana dilaporkan banyak media pada waktu itu, tapi disangkal oleh Belanda (Bakry dan Wiyono, ibid.:248-49).

Koran-koran Belanda cenderung memberitakan bahwa pesawat itu, dengan 20 kg emas di dalamnya, berencana membeli senjata gelap (smokkel wapens) untuk menyokong perjuangan Republik Indonesia (lihat misalnya: Het Vrije Volk: Democratisch-Socialistisch Dagblad, 13-10-1948; De Tijd: Godsdienstig-Staatkundig Dagblad, 13-10-1948).

Sekitar 30 tahun kemudian, bangkai pesawat RI-002 ditemukan oleh seorang penduduk desa Lesung Batu, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Setelah diidentifikasi, rupanya benar bahwa itu adalah pesawat Dakota RI-002 yang ditumpangi oleh Semaoen Bakry yang hilang dalam penerbangan rahasia dari Yogya ke Bukittinggi tahun 1948.

Kerangka keenam jenazah penumpangnya berhasil diidentifikasi. Kerangka tubuh Bobby Freeberg diterbangkan ke negaranya, Amerika Serikat, dan Kerangka 5 jenazah lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tanjung Karang, Lampung, dengan upacara kenegaraan yang dihadiri oleh Gubernur Lampung Yasir Hadibroto dan para pejabat pemerintah lainnya (Bakry dan Wiyono, op.cit.:290-91).

Demikianlah cuplikan biografi Semaoen Bakry yang telah mendarmabaktikan hidupnya kepada Republik Indonesia.

Pada tgl. 27 Februari 2020 telah diselenggarakan “SEMINAR SEHARI ‘MENGENANG PERJUANGAN SAMAUN BAKRI UNTUK REPUBLIK HINGGA AKHIR HAYAT’” yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Pariaman bekerjasama dengan Ikatan Alumni SMP Negeri 3 Pariaman, bertempat di Aula Kantor Walikota Pariaman. Seminar itu merupakan salah satu kegiatan dalam rangka pengajuan almarhum Semaenn Bakry menjadi pahlawan nasional. Semoga cita-cita mulia ini terwuduh hendaknya. Amin!

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 21 Maret 2020

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: