Posted by: niadilova | 18/03/2020

Visual klasik Nusantara #122: “Buaya Betawi” (awal 1900an)

Si Gantang 1c

Catatan: Inilah penampilan si Gantang, salah seorang perampok atau bandit yang amat ditakuti di Betawi (Batavia) pada tahun awa abad ke-20.  Si Gantang, mirip si Pitung, sering diberi label ‘bandit’ atau ‘pengacau keamanan’ oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, lantaran mereka sering melakukan perampokan yang konon lebih sering memakan korban pada pedagang Cina kaya yang dianggap dekat dengan penjajah Belanda. Hasil rampokan mereka sering dibagi-bagikan kepada orang miskin. Istilah ‘buaya Betawi’ yang dilekatkan kepada orang-orang seperti si Gantang ini jelas mengandung pengertian yang agak negatif: laki-laki yang berkelakuan preman, cenderung kasar, hidup bebas (walau mungkin beristri/berkeluarga) dan suka menggoda wanita-wanita cantik. Di sini diturunkan juga foto seorang ‘buaya betawi’ cilik. Selain ‘buaya Betawi’, kita juga mengenal istilah ‘buaya Deli’ sebagaimana disebut dalam buku Parada Harahap, Dari Pantai ke Pantai: perdjalanan ke-Soematra, October – Dec. 1925 dan  Mart-April 1926. Weltevreden: Uitgevers Maatschappij ‘Bintang Hindia’, 1926. Lebih jauh tentang dunia perbanditan di Hindia Belanda, bacalah buku Margreet van Till, Banditry in West Java, 1869-1942 (Penerjemah: David McKay and Beverley Jackson), Singapore: NUS Press, 2011.

89886400_515919212459934_4647414416843735040_nurv

Sumber foto Bandera Wolanda [No. 74, 1911], hlm. 5


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: