Posted by: niadilova | 24/02/2020

PPM #245: Usman Idris: Anak Payakumbuh & Dosen Universitas Hamburg yang Kosmopolit (1920an)

Studie in Zuid Sumatra.

      Door Lector Hamburgsche Universiteit.

     Momenteel vertoeft te Palembang de heer Oesman Idris gelar Soetan Pangeran, die gelijk men weet, lector is aan de Hamburgsche Universiteit (Duitschland) voor de bestudeering der zeden en gewoonten van enkele nog weinig bekende stamen in het Palembangsche, zoals in de Pasoemahlanden en Koeboe-streken.

     Verder zal hij een studie maken van de taal in Redjang en Lebong (Lampongs). Genoemde lector is de zoon van Datoe Poetih,den gewezen demang, die indertijd uit Djeddah werd verwijderd doode Regeering van Ibn So’ud.”

***

Saporan koran Het Nieuws vanden dag voor Nederlandsch-Indië [Batavia] edisi 10 Maret 1931 tentang seorang anak Minangkabau yang menjadi dosen di Universitas Hamburg yang sedang melakukan penelitian di pulau tempat dia dilahirkan: Sumatera. Ia adalah Usman Idris, seorang putra Minangkau yang telah mengunjungi banyak negara di dunia, khususnya Eropa. Nama lengkapnya adalah ‘Oesaman Idris gelar Soetan Pangeran’ (De Sumatra Post [Medan], 16-03-1931). Dalam berbagai macam dokumen dan media yang terbit semasa, nama awalnya ditulis ‘Oesman’, ‘Osman’, atau ‘Usman’.

Usman Idris menjadi lektor dalam pengajaran bahasa Melayu di Universitas Hamburg. Laporan di atas menyebutkan: Usman adalah anak Datoe[k] Poetih, seorang mantan demang (districthoofd) di Padang yang pernah ke Mekah tapi diusir dari Jeddah oleh rezim Ibnu Saud (Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië [Batavia,] 10-03-1931).

Koran Belanda Het Vaderland (’s-Gravenhage) edisi 26-04-1931, mengutip Pertja Selatan (Palembang), dalam laporannya yang berjudul “Eeen cosmopolitisch Maleier” menyebut Usman Idris lahir di Payakumbuh. Setamat sekolah rakyat (Inlandse School) kelas 2, ia melanjutkan studinya ke Kweekschool (Sekolah Raja) Fort de Kock (yang menurut Mohammad Hatta [lihat di bawah] tidak pernah ditamatkannya). Setelah itu ia belajar di Koningin-Wilhelminaschool (K.W.S.) di Batavia.

Pada bulan Mei 1917 Usman lulus ujian ke tingkat dua dalam bidang arsitektur (bouwkundig) di K.W.S. (Bataviaasch Nieuwsblad [Batavia], 03-05-1917). Tahun itu juga Usman tamat dari sekolah itu, lalu mendapat pekerjaan di Maatschappij “Koepang” di Surabaya. Kemudian ia pindah kerja sebagai awak kapal yang memberi kesempatan kepadanya untuk melihat negeri Cina, Amerika, dan Australia.

Kemudian Usman beralih pekerjaan lagi: menjadi karyawan di sebuah onderneming di Medan. Belakangan pindah lagi ke Bagan Siapi-api sebagai pegawai pemerintah (onderopzichter). Delapan bulan kemudian dia di-PHK, dan sekitar Januari 1920, ia  memutuskan untuk pergi ke Eropa.

Kota Eropa yang ditujunya adalah Antwerpen di mana ia belajar di Kunstacademie (Akademi Seni) di kota itu selama 4 bulan. Tapi ia masuk “Benua Dingin’ itu lewat Belanda: pada 14 Januari 1920 Usman sampai di Amsterdam setelah menumpang kapal api ss Vondel dari Batavia (Haagsche Courant [Den Haag], 20-01-1921) untuk memulai kehidupan baru di Eropa.

Dari Antwerpen Usman pergi ke Brussel dan Perancis. Setelah 18 bulan melanglang buana di Perancis, Usman pergi ke Leiden dan tinggal bersama kenalannya (seniornya di Sekolah Raja Fort de Kock) Baginda Dahlan Abdoellah yang sudah berada di Belanda sejak 1913 (Dahlan sama-sama pergi ke Belanda dengan Tan Malaka, teman sekolahnya di Sekolah Raja Fort de Kock). Pada waktu itu Dahlan menjadi Hulpleraar bahasa Melayu di Universitas Leiden (yang mengasisteni Prof. Ph.S. van Ronkel).

Tentang kehidupan Usman di Belanda, Hatta dalam memoarnya (yang diterbitkan ulang tahun 2011) menulis bahwa ia bertemu dengan Usman di Hamburg ketika ia jalan-jalan ke Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya bersama Baginda Dahlan Abdoellah untuk mengisi liburan Natal 1921. Tentang kunjungan ke Hamburg, Hatta menulis:

“Pada waktu itu bekas Residen Sumatera Barat Tuan Le Febvre sudah pensiun dan tinggal di Hamburg. Jadi aku mempunya kenalan di sana [sebelumnya Hatta sudah kenal Le Febvre di Padang]. Dahlan Abdullah juga mempunyai seorang kenalan di sana, bersama Usman Idris, yang dahulu bersama-sama [jadi] murid dengan dia di sekolah raja di Bukittinggi.

Usman Idris tidak pernah tamat sekolah raja [Fort de Kock]. Selagi duduk di kelas V sekolah raja, ia keluar dari sekolah dan pergi “melancong” ke Medan. Kemudian ia menyambung sekolahnya di sekolah teknik menengah, kalau aku tak salah KWS (Koningin Wilhelimina School). Tamat sekolah teknik itu ia bekerja sebagai opzichter, bagian pembangunan rumah-rumah dan banyak ia memperoleh hasil. Dengan hasil yang diperolehnya itu kira-kira tahun 1919 [yang benar: Januari 1920], habis Perang Dunia I, ia pergi ke Nederland. Di Amsterdam dibukanya sebuah kantor membuat rumah-rumah. Kantornya di Amsterdam, tetapi dia sendiri tinggal di Haarlem. Tiap-tiap hari dia pergi ke kantornya dengan mobil.

Tidak lama ternyata padanya bahwa ongkos hidupnya lebih besar daripada pendapatan. Mula-mula ongkos itu dibayarnya dengan uang simpanan yang dibawanya dari Indonesia. Tetapi, akhirnya uang itu habis juga. Sungguhpun berbulan-bulan dirasainya dalam hidupnya ‘lebih besar pasak daripada tiang’, ia tidak mau mengubah cara hidupnya. Akhirnya terpaksa ia menggulung tikar dan hidupnya mulai terlantar. Dengan pertolongan kawan, ia terpaksa bekerja di Indische Restaurant di Laan van Meedervoort, Den Haag, sebagai jongos. Dengan keadaan semacam itulah, ia ditemui oleh Dahlan Abdullah kira-kira pada tahun 1921.

Atas pertolongan Dahlan Abdullah, yang ada kenalannya seorang lektor bahasa Melayu, Dr. Eichele, di Universitas Hamburg, Usman Idris dapat diperbantukan kepadanya sebagai guru bantu bahasa Melayu. Gaji Usman Idris kecil sekali, hampir tidak mencukupi. Dicukupinya buat hidup sederhana sekali sebab ia dapat makan dengan bayaran murah di Studentenheim, tempat makan mahasiswa. Dalam keadaan itulah, kami dapati dia, waktu Dahlan Abdullah dan aku sampai di Hamburg, dapat kami membantu-bantu hidupnya sedikit” (Hatta, 2011:151-52).

Koran Het Vaderland (op.cit) sekanjutnya menyebut bahwa selama 9 tahun mengajar di Universitas Hamburg (dihitung pada 1931, tarikh Het Vaderland memberitakan tentang penelitiannya di Sumatera; berarti ia mulai mengajar di Universitas Hamburg sekitar 1922), setiap masa vakansi ia mengunjungi banyak negeri lain, seperti Denmark, Swedia, Norwegia, Finlandia, Rusia, Turki, Cekoslowakia, Austria, Italia, Swiss, Spanyol, Portugal, dll.

Tahun1926 Usman menikah secara Islam di Konsulat Mesir di Hamburg dengan seorang mahasiswi Jerman yang belajar sejarah seni Asia yang kemudian memberinya seorang anak perempuan. Malangnya, istrinya itu meninggal tahun 1930.

Pada tahun 1931 Usman pergi ke Sumatera bersama dua rekan yang juga dosen di Universitas Hamburg untuk mengadakan penelitian. Kedua koleganya itu adalah Dr. Borschard (seorang medikus) dan Dr. Hellbig (seorang geolog). Usmana memusatkan penelitiannya pada bahasa dan budaya lokal di daerah Pasemah dan daerah-daerah yang didiami orang Kubu di Sumatera Selatan dan di Rejang dan Lebong (masa itu masuk wilayah Lampung). Sedangkan Dr. Boschard memusatkan penelitiannya di Gunung Merapi dan Dr. Hellbig di daerah Tapanuli.

Akhir Januari 1936 terdengar berita Usman Idris diberhentikan dari pekerjaannya sebagai dosen di Universitas Hamburg karena masalah izin tinggalnya di Jerman sudah habis. Tapi ada isu bahwa pemberhentiannya terkait dengan kondisi kesehatannya: beberapa lama Usman sakit dan tidak dapat mengajar. Ada orang yang menggantikannya mengajar. Universitas mendengar kabar Usman sudah balik ke Belanda. Oleh sebab itu ia diberhentikan dari pekerjaannya. Akan tetapi dari Konsulat Jendral Belanda di Hamburg diperoleh informasi bahwa Usman diberhentikan karena posisinya di Universitas Hamburg dianggap tidak penting lagi (De Sumatra Post, 22-01-1936). Tampaknya kontraknya dengan Universitas Hamburg berakhir pada sekitar bulan Desember 1935 karena sebulan sebelum Usman diberhentikan beritanya sudah sampai ke telinga kuli tinta (lihat De Sumatra Post, 12-11-1935).

Demikianlah cuplikan kisah seorang anak Minangkabau yang sudah melanglang buana ke berbagai negara di dunia ini di awal abad ke-20 ketika kebanyakan orang kampungnya masih banyak yang belum tahu di pakaian bersih dan hanya pernah berjalan baru sejauh batas nagari-nya.

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 23 Februari 2020.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: