Posted by: niadilova | 17/02/2020

PPM #244: Penghulu yang menipu orang kampung sendiri sudah sejak dulu ada (1934)

PENGADOEAN ANAK NEGERI PARIT POETOES.

Perboeatan doea orang penghoeloeanja.

            Menoeroet kabar jang kita peroleh, adalah beberapa poeloeh anak negeri kampoeng Parit Poetoes (Ampang Gadang) bilangan Fort de Kock, soedah sama memasoekkan pengadoean pada jang berwadjib, berhoeboeng marika katanja soedah ditipoe oleh doea orang penghoeloeanja.

            Menoeroet boenji rekest pengadoean itoe, adalah marika jang banjaknja lebih koerang 80 orang soedah sama berijoer 1 helai atap zink seorang atawa sama djoega dengan diganti dengan oeang banjaknja f 1.10.

            Kemoedian ketahoean bahasa sekalian atap zink jang djadi ijuran itoe soedah dipergoenakan oleh Datoeknja jang kedoea, atas setahoe jang pertama djoega.

            Dalam hal ini perkara soedah dipereksa oleh Demang di Biaro, jang mana sekaliannja itoe soedah diambil soempahnja, serta memberikan beberapa boekti jaitoe beroepa kwitantie tentang penerimaan orang jang diterima oleh penghoeloenja itoe.

            Selandjoetnja dalam rekest itoe diterangkan djoega tentang penipoean jang lain jang dilakoekan oleh kedoea penghoeloe itoe, dan berbagi-bagi hal pertama tentang manaroeka sawah jang katanja f 100-, tapi tida dibajarnja. Ini terdjadi sewaktoe salah seorang dari penghoeloe itoe mendjadi K[epala] Negri.

            Soeatoe tebat ikan kepoenjaan negri soedah digadaikannja f 100- goena diboeatkan kesoerau, tapi ternjata sebagian dari oeang itoe soedah masoek sakoenja sadja.

            Berhoeboeng dengan perkara itoe soedah lama benar, apalagi sekarang dalam boelan poeasa poela, jang bisa perkara itoe makin lama makin pandjang, sebab banjak orang jang akan dipereksa dalam hal ini, diharapkan kepada pihak atas akan mengoeroes dengan sepertinja, agar jang bersangkoetan dapat keberesannja, apalagi mengingatkan salah seorang  dari marika jang soedah berijoer itoe soedah meninggal doenia poela, djangan hendaknja sampai ditoeroeti poela oleh jang lain, perkara itoe soedah selesai hendaknja (Ampang Gadanger).

***

Saporan surat kabar Sinar Sumatra, No. 289, Hari Saptoe 29 December 1934, 23 Tjam It Gwee 2485 – 22 Ramadhan 1353 tentang perbuatan kurang elok yang dilakukan oleh dua orang penghulu di nagari Parik Putuih, Ampang Gadang, dekat Bukittinggi.

Sebagaimana dapat disimak dalam laporan di atas, kedua penghulu yang tidak disebutkan namanya itu telah menipu banyak orang di kampungnya sendiri. Sebanyak kurang lebih 80 anak-kemenakan dan orang kampungnyayang beriyur (bajulo2) membeli atap seng yang sehelainya seharga f 1.10 sudah dipakai oleh penghulu kedua atas seizin yang penghulu yang pertama.

Rapanya, sebelumnya kedua penghulu itu juga sudah membuat ulah. Disebutkan bahwa uang sebanyak f 100 sebagai upah meneroka sawah juga tidak dibayarkan kepada orang banyak. Juga satu kolam ikan yang berisi ikan sehargaf 100 yang semula direncanakan untuk biaya membangun surau juga sudah dikorupsi oleh kedua penghulu itu.

Kasus-kasus penghulu yang melakukan perbuatan tidak patut ini sering terjadi seiring dengan makin meluas dan mendalamnya pengaruh ekonomi uang di Minangkabau. Hal ini tidak lepas pula dari penetrasi budaya dan politik yang dilakukan oleh kolonialis Belanda ke dalam masyarakat Minangkabau sejak pertengahan abad ke-19. Demikianlah umpamanya, para penghulu basurek yang otoritasnya ikut dilegalkan oleh Belanda mulai dirasuki oleh budaya uang. Hubungan patron-klien antara para penghulu dengan anak buah yang semula lebih banyak dinilai dengan materi-materi yang bersifat tradisional berupa barang mulai digantikan oleh uang. Budaya uang ini makin terkait dengan kuasa, dan pada gilirannya menimbulkan aneka konflik dan friksi di kalangan penghulu sendiri maupun dengan masyarakatnya.

Belum ada studi yang mendalam, lebih-lebih lagi yang bersifat diakronis, terhadap dinamika institusi kepenghuluan ini. Sejarah sudah mencatat bahwa institusi ini telah ditarik ke sana sini oleh keadaan sosial politik semasa, tidak terkecuali untuk kepentingan politik praktis, baik dizaman kolonial maupun setelah Indonesia merdeka. Ini mengingatkan kita pada pembentukan MTKAAM di era kolonial dan LKAAM di masa kemerdekaan. Dinamik antara penghulu dengan dua ‘kaki tungku’ lainnya dalam masyarakat Minangkabau (cadiak pandai dan alim ulama) juga menarik untuk dikaji secara historis. Hubungan itu bersifat fluktuatif, bahkan dalam periode tertentu di zaman kolonil mencari relatif meruncing.

Semoga ada sejarawan kita yang tertarik untuk melakukannya.

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 16 Februari 2020.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: