Posted by: niadilova | 03/02/2020

PPM #242: Mohammad Hatta Kembali ke Tanah Air (1932)

Mohammad Hatta te Batavia.

            Blijkens een Aneta-telegram uit Batavia is Mohammad Hatta daar hedenmorgen per s.s. “Generaal van der Heyden” gearriveerd. Hij werd door Inlandsche voormannen begroet.

            Behalve tot de P.I. treedt Hatta ook toe tot de P.N.I. Ji zal zich voorlopig bepalen tot het zich oriënteeren ten aanzien van de politiek situatie.”

***

Laporan surat kabar Soerabaiasch Handelsblad (Surabaya) edisi Woensdag (Rabu) 24 Augustus 1932 tentang kedatangan Mohammad Hatta di Batavia. Ia kembali ke tanah air setelah berhasil menyelesaikan studinya di Belanda (di Handels-Hogeschool Rotterdam). Hatta kembali ke tanah airnya setelah bermukim di Belanda kurang lebih 11 tahun lamanya (Hatta Sampai di Belanda tgl. 5 September 1921).

Laporan di atas dengan jelas menyebutkan tarikh sampainya Hatta di Batavia: “hedenmorgen (pagi sekali) hari Rabu tanggal 24 Agustus 1932 dengan kapal api General van der Heyden dari perusahaan perkapalan Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) yang berlayar dari Singapura. Menurut laporan koran Het nieuws van den dag voor NederlandschIndië (Batavia) edisi 24-08-1932, kapal General van der Heyden yang ditumpangi Hatta merapat di dermaga Tanjung Priok pada jam 6 pagi tanggal 24 Agustus itu. Koran itu (dan beberapa surat kabar lainnya) melaporkan bahwa di Port Said Hatta diwawancarai oleh sebuah surat kabar Mesir dan disambut oleh perkumpulan mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri itu. Menarik kiranya jika ada sejarawan kita yang mencoba menelusuri/mendapatkan laporan wawancara dengan Hatta yang dimuat dalam surat kabar Mesir itu yang kemungkinan terbit pada minggi terakhir Juli 1932.

Kepulangan Hatta dari Belanda ke Indonesia tidak mengikuti kebiasaan banyak orang waktu itu yang biasanya berlayar dengan kapal dari Rotterdam ke Batavia. Dalam memoarnya (lihat edisi terbitan ulang, Untuk Negeriku, Penerbit Kompas, 2011, Jilid 2, hlm.18 Hatta menulis:

Tanggal 20 Juli 1931 aku meninggalkan Ritterdam, pulang ke Indonesia [lewat jalur darat] dengan melewati Paris dan Genoa. Dari Genoa aku menumpang kapal Jerman “Saarbrücken” ke Singapura. Di Singapura aku tinggal 2 hari dan di situlah aku merasai kembali suasana kolonial. Ke mana aku pergi selalu diikuti oleh polisi rahasia. Untunglah aku disambut ke kapal oleh teman lamaku di Indonesia dahulu bernama Laban. Dialah selama dua hari itu yang membawa aku kemana-mana. Dari Singapura aku meneruskan perjalanan pulang ke Indonesia dengan menumpang kapal KPM”, yaitu ss. General van der Heyden, sebagaimana dilaporkan oleh koran Soerabaiasch Handelsblad yang dikutip di atas. Dengan demikian, Hatta berada di perjalanan selama 35 hari lamanya.

Hatta (ibid.) mengatakan bahwa di Tanjung Priok ia disambut oleh iparnya, Dahlan Sutan Lembaq Tuah, yang tinggal di Sawah Besar (De Sumatra Post, 27-08-1932). Selain itu datang juga menyabut: Nyonya Suwarni Priggodigdo dan beberapa kawannya dari partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI). Harap dipahami bahwa ini berbeda dengan PNI (Partai Nasional Indonesia) yang membesarkan Sukarno yang beberapa saat sebelum kepulangan Hatta telah dibubarkan oleh pemimpinnya yang baru, Mr. Sartono yang nota bene adalah teman Hatta ketika aktif dalam Perhimpunan Indonesia (Indonesische Vereeniging, P.I.) di Belanda.

Hatta (ibid.) mengatakan bahwa ia membawa buku-bukunya dalam 16 peti besi. Buku-buku itu diperiksa oleh douane Tanjung Priok. Media melaporkan bahwa satu bundel majalah P.I. Indonesia Merdeka disita oleh polisi karena dianggap mengandung konten yang berbahaya (lihat: De Indische Courant, Surabaya, 16-12-1932). Sudah sejak beberapa tahun sebelumnya distribusi majalah yang dianggap radikal itu di Indonesia diawasi oleh polisi. Koran De Sumatra Post (Medan) edisi 8 Desember 1932 melaporkan:

Hatta weer op Java terug

            Eeen zijner boeken aangehouden.

            Zooals men weet, werd aan Mohammad Hatta kort geleden ter Sumatra’s Westkust een langer verblijf ontzegd. Hij is nu weer te Batavia gearriveerd, schrift het “Neiuws”. Van de douane, die hem bij zijn aankomst uit Europa al zijn boeken had afgenomen, heeft hij alles terugontvangen, uitgezonderd één boek, bevattende een verzameling van het in Nederland verschijnende Indonesische studenten-tijdschrift “Indonesia Merdika”, dat hij gebundeld heeft.

            Dit tijdschrift werd hier reeds vier jaren geleden verboden, ofschoon zoo van tijd tot tijd de Inlandsche geaboneerden een exemplaar ontvangen.”

Rupanya tak lama setelah setelah sampai di tanah air, Hatta segera berangkat ke Sumatera Barat mengunjungi sanak familinya. Akan tetapi gerak-geriknya terus diawasi oleh polisi. Tak lama kemudian Hatta kembali ke Jawa (‘Hatta weer op Java terug’). Tampaknya Hatta menyadari bahwa untuk mewujudkan cita-cita politiknya untuk memerdekakan bangsanya, memang Jawalah (khususnya Batavia) tempat yang tepat, bukan Padang atau Bukittinggi.

Itulah sekelumit catatan tentang momen kedatangan Hatta kembali ke tanah airnya. Ia kembali ke tanah airnya dengan cita-cita politik yang menggebu: satu tujuan, yatu memerdekakan bangsanya dari penjajah. Dan sebagaimana sudah dicatat dalam sejarah, Mohammad Hatta menjadi salah seorang figur penting yang telah mengantarkan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan Indonesia.

Sudah 74 tahun lamanya Indonesia merdeka. Peliharalah warisan Hatta ini, jangan disia-siakan.

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 2 Februari 2020.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: