Posted by: niadilova | 06/01/2020

PPM #239: Overste Daan Jahja Menjadi Atase Militer Indonesia di Kairo (1954)

 Daan Jahja militair attaché

De legervoorlichtingsdienst maakt bekend, dan overste Daan Jahja Vrijdag met de “Willem Ruys” naar Caïro is vertrokken om zijn post als militair attaché van de republiek Indonesian in E[g]ypte te betrekken.”

***

Laporan surat kabar Het Nieuwsblad voor Sumatra (Medan) edisi 16 November 1954) tentang pengangkatan Overste Daan Jahja sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Kairo, Mesir (lihat juga: Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, Bandung, 13-11-1954).

Sebagaimana dapat disimak dalam laporan di atas, setelah diumumkan oleh Dinas Penerangan Angkatan Bersenjata tentang jabatan baru Daan Jahja, yang bersangkutan segera berangkat ke Kairo pada hari Jumat 18 November 1954 dengan menumpang kapal Willem Ruys dari perusahaan pelayaran Koninklijke Rootterdamsche Lloyd.

Overste Daan Jahja bertugas selama kurang lebih dua tahun di Mesir. Dia digantikan oleh Letnan Kolonel Bustomi yang juga berasal dari Angkatan Darat. Pada tanggal 12 Juni 1956 Letkol Bustomi berangkat ke Mesir untuk menggantikan posisi Daan Jahja (De Nieuwsgier, Batavia/Jakarta, 07-06-1956)

Setelah selesai bertugas sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Kairo, Daan Jahya kembali ke Jakarta. Pada Kamis 5 Juli 1956 pagi, Daan Jahja dinaikkan pangkatnya oleh Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jendral Nasution menjadi kolonel (Java-Bode, 06-07-1956).

Kolonel Daan Jahja kemudian dikaryakan sebagai staf pengajar di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD) di Bandung sebagai dosen administrasi militer, bersama Prof. Dr. Pradjudi Atmosudirdjo, kepala pejabat pada Departemen Perindustrian (untuk mata kuliah Sosio-Antropologi) dan Suroto, kepala pejabat pada Departemen Pendidikan (untuk mata kuliah sejarah) (Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 02-10-1957).

Lahir tahun 5 Januari 1925 di Padang Panjang, Sumatera Barat, Daan Jahja adalah anak Jahja Datoek Kajo, anggota Volksraad asal Minangkabau yang terkenal vokal dan termasuk salah seorang pionir dalam mempropagandakan penggunaan Bahasa Melayu dalam sidang-sidang Volksraad yang biasanya menggunakan Bahasa Belanda (lihat: Azizah Etek, Mursyid A.M. dan Arfan B.R., Kelah Sang Demang: Jahja Datoek Kajo, Pidato Otokritik di Volksraad, 1927-1939. Yogyakarta: LkiS, 2008).

Kolonel Daan Jahja mulai mengenal dunia militer melalui PETA (bentukan Jepang) tahun 1944. Sebelum masuk PETA, ia belajar di HBS Koning Willem III di Batavia, kemudian di Sekolah Kedokteran Batavia yang tidak ditamatkannya karena keluar setelah ikut bergabung dalam protes mahasiswa. Tapi kemudian Daan aktif dalam gerakan kemerdekaan bersama St. Sjahrir. Ia menjadi Kepala Divisi Siliwangi (1948) dan memainkan peranan penting dalam penumpasan gerakan Westerling.

Pada usia 24 tahun Daan Jahja sudah diangkat menjadi Gubernur Militer Jakarta pada bulan Desember 1949.

Banyak jabatan dan tugas-tugas penting sudah diemban oleh Daan Jahja, sejak pada masa pendudukan Jepang sampai masa kemerdekaan, yang tentunya cukup Panjang jika diceritakan di sini (lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Daan_Jahja; diakses 27-12-2019).

Daan Jahja, putra Minangkabau asal Koto Gadang itu, dengan pangkat kemiliteran terakhir Brigadir Jenderal TNI, meninggal di Jakarta pada 20 Juni 1985.

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 5 Januari 2020.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: