Posted by: niadilova | 30/12/2019

PPM #238: Kapitan Cina di Padang, Ang Eng Lay, Meninggal (1939)

AAN NIERZIEKTE OVERLEDEN.

Aneta seint uit Padang, dat de kapitein der Chineezen Ang Eng Lai, een te Padang bekende handelaar in boschproducten aan een nierziekte is overleden. Hij was dezer dagen voornemens naar Batavia te gaan voor geneeskundige hulp.

***

Laporan surat kabar De Sumatra Post (Medan) edisi 30 Januari 1939 tentang meninggalnya Kapitein der Chineezen (Kapitan Cina/Tionghoa) di Padang, Ang Eng Lay. (lihat juga: Bataviaasch Nieuwsblad, Batavia, 30-01-1939; De Indische Courant, Surabaya, 01-02-1939). Tampaknya Ang Eng Lay baru setahun memegang jabatan ini (lihat: Bataviaasch Nieuwsblad, 19-02-1938).

Terjemahan bebas laporan di atas adalah sebagai berikut:

MENINGGAL KARENA PENYAKIT GINJAL.

[Kantor berita] Aneta mengabarkan dari Padang bahwa Kapitein (Kapten) Cina Ang Eng Lai, seorang pedagang hasil-hasil hutan yang terkenal di Padang, telah meninggal dunia karena penyakit ginjal. Hari-hari terakhir ini ia bermaksud pergi ke Batavia untuk mendapatkan bantuan medis.”

Tidak dijelaskan kapan persisnya, Ang Eng Lay meninggal, tapi tampaknya dalam minggu terakhir bulan Desember 1938.

Kapitein de Chineezen’ adalah jabatan yang cukup prestisius di Hindia Belanda pada zaman kolonial. Tugasnya adalah mengepalai komunitas orang Cina/Tionghoa di kota-kota Hindia Belanda. Di kota-kota yang lebih besar dengan jumlah komunitas orang Tionghoa yang juga lebih besar (Seperti Surabaya, Medan, dll.), jabatan itu dibuat setingkat lebih tinggi, yaitu ‘Majoor der Chineezen’ (Mayor Tionghoa). Di bawah jabatan ‘Kapitein der Chineezen’, ada jabatan ‘Luitenant der Chineezen’.

Di Padang, jabatan Kapitein der Chineezen sudah sejak abad ke-18 dibuat oleh Belanda. Semula tentunya hanya Luitenant de Chineezen karena jumlah orang Tionghoa di kota itu relatif masih sedikit. Tapi pernah juga jabatan itu sampai ke tingkat ‘Majoor der Chineezen’ (Periksalah Regeering Almanaak Hindia Belanda).

Sebagai kota pelabuhan dan kota perdagangan terpenting di pantai barat Sumatera, Padang sudah lama menjadi tujuan migrasi orang Cina dari Tiongkok. Namun, memasuki dekade-dekade pertama abad ke-20, Padang mulai mundur karena kehadiran kompetitor kota Medan dengan pelabuhan Belawan-nya.

Orang-orang yang akan memegang jabatan Kapitein der Chineezen biasanya dipilih dari kalangan orang Tionghoa yang terkemuka, lebih sering dari kalangan pedagang terkemuka ketimbang intelektual. Lama masa jabatannya tidak tentu, tergantung kepada interest otoritas kolonial Hindia Belanda setempat. Pada akhir Desember 1892, misalnya, jabatan Kapitein Cina di Padang diserahterimakan dari Lie Khong Teek kepada Lie Khong Hoan yang sebelumnya menjabat sebagai Luitenant der Chineezen di kota itu (Java-Bode, Batavia, 01-02-1893). Sebelumnya, pada bulan Juni 1885, diangkat Kapitein der Chineezen yang baru di kota itu, Lim Siauw Soen, yang sebelumnya juga menjabat sebagai Luitenant der Chineezen di kota itu (De Locomotief, 10-06-1885). Sebelum Lie Khong Teek, jabatan Kapitan Cina di Padang dipegang oleh Lie Saay tapi dengan pangkat terakhir ‘Majoor-Titulair der Chineezen’ (Soerabaijasch Handelsblad, Surabaya, 22-06-1885).

Jenazah Ang Eng Lay dikebumikan pada hari Minggu 12 Februari 1939 di Pemakaman Cina di Padang, dilepas dengan upacara kebesaran dengan iringan musik militer, dihadiri oleh “de resident, civiele en militaire autoriteiten van hoog tot laag en notabelen van alle bevolkingsgroepen”, mengutip laporan koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (Batavia) edisi 13 Februari 1939. (lihat juga: Bataviaasch Nieuwsblad, 13-02-1939).

Jabatan yang kosong yang ditinggalkan Ang Eng Lay untuk sementara dipegang oleh Lie Tek Beng. Pengganti Ang Eng Lay segera dicari, dan pada minggu kedua Februari 1939 muncul dua kandidat yang dinominasikan: 1) Gho Soen Tong, Direktur N.V. Handel Maatschappij Gho Goan Thee; 2) Lie Tek Beng, Direktur Firma Gho Leng (De Sumatra Post, 10-02-1939).

Akhirnya yang terpilih (tentu saja atas persetujuan otoritas kolonial Hindia Belanda di Sumatra’s Westkust) adalah ‘groothandelaar’ (pedagang besar) Gho Soen Tong, yang diangkat secara resmi pada akhir Agustus 1939 (De Sumatra Post, 01-09-1939).

Belum diperoleh informasi sampai kapan Gho Soen Tong memegang jabatan Kapitan Tionghoa di Padang. Akan tetapi sangat mungkin dialah satu di antara orang-orang terakhir yang memegang jabatan ini di Padang sebelum dihapus (juga di kota-kota lainnya) menyusul kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 29 Desember 2019


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: