Posted by: niadilova | 16/12/2019

PPM #236: Lagi, Empat orang Minangkabau dibuang ke Digul (1929)

Westkustenaren naar Boven Digul.

Op dezelfde overwegingen als bij vorige berluiten zijn de volgende personen geïnterneerd naar Boven Digoel:

            Mohammad Sjoekoer gelar Datoek Badharo Koening, 22 jaar, onderwijzer aan de Dinijah school te Kota Lawas, voorzitter de Sarekat Rajat te Kota Lawas, laatstelijk woonachtig te Pandai Sikat nabij Kota Lawas, onderafdeeling Padang Pandjang.

            Moein gelar Soetan Maroehoen, 28 jaar, kleermaker, lid van de Sarekat Rajat, voorzitter en propagandist de Sarekat Tani te Panjalaian, laatstelijk woonachtig te Padang Pandjang.

            Oenggoen gelar Chatib Besar, 41 jaar, chatib en landbouwer, lid der Sarekat Tani, organisator der Indonesische Padvinders Organisatie, laatstelijk woonachtig te Pitalah, onderafdeeling Padang Pandjang.

            Tongong gelar Datoe’ Besar, 52 jaar, gewezen rechercheur van politie en penghoeloe kepala, adviseur van de Sarekat Tani en leider van de Sarekat Hitam, laatststelijk woonachtig te Goenoeng, onderafdeeling Padang Pandjang.”

***

Laporan surat kabar De Sumatra Post (Medan) edisi 9 Januari 1929 tentang pend-Digul-an 4 orang Minangkabau lagi sebagai akibat dari aksi bersih-bersih (lebih baik dikatakan sebagai ‘aksi sapu bersih’) Pemerintah Kolonial Hindia Belanda di Sumatera Barat pasca meletusnya ‘Pemberontakan Silungkang’.

Sebagaimana dapat disimak dalam laporan di atas, mereka yang dibuang itu adalah (nama mereka dituliskan menurut ejaan sekarang):

  1. Mohammad Syukur gelar Datuak Bandaro Kuniang, usia baru 22 tahun, guru Diniyah School Koto Laweh, ketua Sarekat Rajat di Koto Laweh, terakhir berdomisili di Pandai Sikek, dekat Koto Laweh, onderafdeeling Padang Panjang.
  2. Muin gelar Sutan Maruhun, usia 28 tahun, pekerjaan sebagai tukang jahit, anggota Sarekat Rajat, ketua dan propagandist Sarekat Tani di Panyalaian, terakhir berdomisili di Padang Panjang.
  3. Unggun gelar Khatib Basa, usia 41 tahun, seorang khatib yang memiliki pekerjaan sehari-hari sebagai petani, anggota Sarekat Tani, pengurus Organisasi Kepanduan Indonesia, terakhir berdomisili di Pitalah, onderafdeeling Padang Panjang.
  4. Tongong gelar Datuak Basa, usia 52 tahun, mantan reserse polisi dan penghulu kepala, penasihat Sarekat Tani dan anggota Sarekat Hitam, teakhir berdomisili di Gunuang, onderafdeeling Padang Panjang.

Dapat dikesan bahwa keempat orang itu cukup berbeda jauh dalam usia: (1) dan (2) relatif masih muda, masing-masing 22 dan 28 tahun. Sedangkan (3) dan (4) sudah cukup tua: masing-masing 41 dan 52 tahun. Ini memberi kesan bahwa pengikut gerakan anti penjajahan Belanda pada masa itu berasal dari berbagai tingkatan usia.

Yang menarik, dalam laporan di atas disebutkan beberapa nama organisasi (sarekat/serikat) yang, sejauh yang dapat diketahui, ada yang bersifat agak rahasia dan sangat kuat dipengaruhi oleh ajaran komunis pada waktu itu. Cukup mengherankan, dan mungkin perlu dijelaskan secara akademik, mengapa ideologi komunis itu sangat populer di kalangan orang Minangkabau pada masa itu.

Ada 3 perkumpulan yang disebutkan, yaitu Sarekat Rajat (Rakyat), Sarekat Tani, dan Sarekat Hitam. Terkesan bahwa pengaruh dan semangat gerakan perkumpulan-perkumlan itu menjalar sampai ke desa-desa.

Belum ada studi yang mendalam mengenai perkumpulan-perkumpulan tersebut. Apa sebenarnya Sarekat Rajat, Sarekat Tani dan Sarekat Hitam? Siapa pendirinya? Bagamana sepak terjangnya? Berapa orang dan siapa saja yang menjadi anggotanya? Apa platform perjuangan mereka? Dan lain sebagainya. Apakah sarekat-sarekat itu didukung oleh seluruh orang Minangkabau pada waktu itu atau ada pula yang mengkritisinya? Kiranya hal ini perlu diteliti lebih lanjut.

Yang cukup pasti adalah bahwa ketiga sarekat tersebut dipandang berbahaya oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Mereka dianggap sebagai pengacau keamanan negeri. Sarekat Hitam, misalnya, diasosiasikan dengan kelompok bandit yang telah menimbulkan keresahan dalam masyarakat Minangkabau.

Akhir 1920an adalah salah satu periode yang cukup kritis dalam sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia. Untuk konteks Minangkabau, terjadinya ‘Pemberontakan Silungkang’ tahun 1926 membawa akibat-akibat yang cukup serius secara sosial dan politik. Kiranya periode ini perlu diteliti lebih dalam oleh para sejarawan kita, baik di level daerah (keresidenan) maupun pada level nagari.

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 15 Desember 2019

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: