Posted by: niadilova | 09/12/2019

PPM #235: Redaktur “Djago-Djago” dan “Pemandangan Islam” Dicokok PID Hindia Belanda (1923)

Padang, 13 November 1923.

De gearresterde communisten zijn Zaioneddin, verantwoordelijk redacteur van het te Padang-Pandjang verschijnend communistisch weekblad Djago-Djago. Hadji Datoek Batoea[h], verantwoordelijk redacteur van de Pemandangan Islam, en verder Datoek Mangkoedoensatien (sic) en Datoek Indokajo.”

***

Laporan surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië  (Batavia) edisi 13 November 1923 tentang pencokokan redaktur dua berkala progresif dan dianggap radikal yang terbit di Padang Panjang serta dua orang pembantu/rekan mereka.

Sebagaimana dapat dibaca dalam salinan laporan surat kabar berbahasa Belanda di atas, mereka yang ditangkap oleh aparat Politiek Inlichtingen Dienst (PID), aparat dinas kepolisian kolonial Hindia Belanda, adalah Redaktur penanggunggjawab berkala Djago-Djago, Natar Zainoeddin, dan Redaktur penangung jawab berkala Pemandangan Islam, Hadji Datoek Batoeah. Ditangkap pula dua orang rekan mereka: Datoek Makodoensatie [sering ditulis juga: Machoedoem Sati] dan Daroek Indokajo [Indokayo].

Djago-Djajgo adalah mingguan yang merupakan corong (orgaan) kaum komunis di Padang Panjang. Sedangkan Pemandangan Islam adalah media kaum muslim progresif yang sebenarnya memiliki tujuan perjuangan yang sejalan dengan kaum komunis, yaitu ingin mengenyahkan penjajah Belanda dari bumi Indonesia.

Kedua orang itu dicokok PID karena mereka terinjak ranjau pers (persdelict): menulis kritik yang tajam tentang kebijakan otoritas kolonial Hindia Belanda di media masing-masing. Dua lainnya terkait dengan aktivitas mereka sebagai pemimpin dan propagandis komunis di Sumatera Barat.

Nama Djago-Djago jelas berkonotasi ‘ajakan’, untuk tidak mengatakan ‘hasutan’: itu adalah Bahasa Minang yang artinya; ‘Bangun! Bangun!’ Maksudnya, menyuruh kaum pribumi, saudara mereka sebangsa untuk segera bangun dari ‘tidur’ panjang mereka dan melepaskan diri dari belitan penjajahan Belanda.

Menyusul kemudian ditangkap pula Arif Fadillah dan Djaäfar, dua orang aktivis komunis lainnya di Padang Panjang yang ikut mengurus keredaksian Djago-Djago. Kasus mereka mulai disidangkan oleh Landraad Padang Panjang pada 31Januari 1924. Ketika mereka dibawa dari penjara ke gedung pengadilan Landraad Padang Panjang, para simpatisan komunis melepas mereka dengan menyanyikan hymne komunis antarbangsa “Internationale” (De Sumatra Post [merujuk De Sumatra Bode], 7 Februari 1924).

Penahanan Datoek Batoeah dkk. telah menimbulkan reaksi di kalangan masyarakat Padang Panjang khususnya dan Minangkabau pada umumnya. Masyarakat berdemo menuntut pembebasan para pemimpin mereka itu. Mereka sempat dilepas tapi kemudian ditangkap lagi.

Sejarah telah menjacatat bahwa akhirnya pada Januari 1925, Natar Zainoeddin dan Haji Achmad Chatib gelar Datoek Batoeah diasingkan ke Indonesia bagian timur, masing-masing ke “Kaffananoe” (maksudnya Kafamenanu) di Pulau Timor dan Kalabahi di Pulau Alor (Bataviaasch Nieuwsblad, 14 Januari 1925).

Dua tahun kemudian, tepatnya pada bulan Agustus 1927, kedua pemimpin gerakan komunis Sumatera Barat itu dipindahkan ke tempat yang lebih jauh lagi dan terpencil: Boven Digul. Tindakan ini merupakan bagian dari aksi ‘pembersihan’ gerakan komunis oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda setelah pemberontakan yang dianggap prematur dan boleh dibilang gagal pada 1926. Ikut diasingkan ke Digul bersama keduanya beberapa pemimpin komunis lainnya yang berasal dari berbagai daerah, seperti Aliarcham (yang sangat radikal dan akhirnya meninggal di ‘Kamp Interniran di New Guinea itu), Madjohan, Winanta, Prawiromihardjo, Wirosoedadmomihardjo, Marlan, dan Kasban (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië [Batavia], 18 Agustus 1927).

Pemberontakan komunis Sumatera Barat (sering disebut ‘Pemberontakan Komunis Silungkang’) yang prematur itu membuat Belanda mengambil keputusan menangkapi para penggerak dan simpatisan gerakan ini. Ratusan orang ditangkap dan banyak yang dibuang ke luar Sumatera Barat, termasuk ke Digul yang terpencil di New Guinea (Irian/Papua).

Lebih jauh tentang gerakan komunis di Padang Panjang pada masa zaman kolonial, bacalah buku Fikrul Hanif Sufyan, Menuju Lentera Merah: Gerakan Propagandis Komunis di Serambi Mekah, 1923-1949 (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2017).

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 8 Desember 2019


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: