Posted by: niadilova | 21/10/2019

PPM #228: Nagari Talawi dengan ‘Kota Ampat Saijo’ dan ‘Taman Isteri’-nya (1929)

RAPAT BESTIOER

            Bestioer Kota Ampat Saijo telah meadakan rapat Bestioer pada petang Sabtoe malam Minggoe 18-19 Mei 1929, bertempat di kantoer “Soeloeh Kota Ampat” di pasar Talawi, jang dikepalai oleh Dt. Gagar Sampono, Pangatoea perkoempoelan K.A.S. terseboet.

            Boeah kerapatan itoe, ijalah membitjarakan kepentingan K.A.S. jaitoe mentjari daja oepaja dari hal perkara oeang masoek oentoek perkoempoelan K.A.S. soepaja kas perkoempoelan itoe, djangan terdapat ke koerangan.

            Isinja kerapatan jang telah ditjantoemkan dalam Notulen boeknja, nanti akan kita rentjanakan poela dalam Soeloeh kita ini.

            Sesoedah rapat Bestioer K.A.S. keperloean perkoempoelan K.A.S. terseboet, Bestioer membitjarakan poela dari hal “Taman Isteri” [T.I.], jang mana gerakan kaoem iboe [itu] perloe mendapat toedjangan dari Bestioer K.A.S. seperti memberi nasihat tentang peratoerannja kalau ada jang tidak baik dan memberi derma dengan oeang kalau ada keperloeannja jang tidak bisa T. I. memikoelnja, seperti memboeat tempat peladjaran d.s. bagaija.

            Kita doakan segala Bestioer K. A. S. terseboet akan beroesaha mendatangkan bermatjam-matjam kemadjoean oentoek anak negeri kita di Koto Ampat ini.

                                                                                              Lampoe K.A.

***

Kutipan langsung dari laporan surat kabar milik masyarakat Talawi Soeloeh Koto-Ampat (Terbit seboelan sekali), No. 4, Tahoen 1, Juni 1929. Melalui laporan ini dapat disimak betapa aktifnya dan antusiasnya masyarakat Kenagarian Talawi menyambut kemajuan, walaupun nagari tersebut terletak di pedalaman Minangkabau dan jauh dari pusat administrasi kolonial, Padang.

Di bawah pimpinan Kepala Nagari (Wali Nagari)-nya yang inovatif dan terbuka dalam menerima kemajuan, Dt. Gagar Sampono, didirikanlah perkumpulan/organisasi Kota Ampat Saijo (K.A.S.), wadah yang menghimpun seluruh warga Kenagarian Talawi, baik yang tinggal di kampung maupun yang berada di rantau. Sebagai orgaan organisasi ini, diterbitkan pula koran Soeloeh Kota-Ampat yang menjadi media komunikasi antar warga kenagarian ini (lihat ‘Paco-Paco Minangkabau’, Padang Ekspres, Minggu 13-10-2019).

Laporan di atas juga menginformasikan kepada kita tentang berdirinya organisasi kaum ibu di Kenagarian Talawi yang diberi nama ‘Taman Isteri’. Ini adalah sesuatu yang luar biasa: bahwa di akhir dekade ketiga abad ke-20, kaum perempuan di sebuah desa Minangkabau (juga di beberapa desa lainnya) sudah memiliki kesadaran untuk berorganisasi demi meraih kemajuan.

“Talawi namanja negeri,

Tiada patoet meninggal diri,

Tiroe toeladan hendaknja tjari.

Tjoba poela menjatoekan diri.

 

Oentoeng tertjapai seperti bangsa lain,

Oedjeodnja satoe tiada berlain,

Orang kerdja kita djangan bermain,

Oebah[h] sifat seperti mengganti kain.

 

[…]

 

Toentoet ilmoe tjara sekarang,

Toelis dan batja karang mengarang,

Timoer dan barat soepaja terang,

Tempoeh kemadjoean moelai sekarang.

 

Semenit djangan berlalai[2],

Semoeanja kita haroeslah pandai,

Singkat dioelas, senteng dibilai,

Soepaja maksoed lekas sampai.

 

Ampat negeri kalau seija,

Awak hina mendjadi moelia,

Antah selamat hidoep didoenia,

Aman sentosa tanah Hindia.”

Demikian kutipan beberapa bait syair sokongan yang berjudul “Koto Ampat Saijo” yang dimuat dalam Soeloeh Koto-Ampat, No. 6-7, Tahoen 1, Augustus-September 1929.

Talawi yang terletak tak jauh dari Sawahlunto, ada sebuah contoh konkrit untuk melihat efek kemajuan Barat merasuk ke desa-desa Minangkabau pada awal abad ke-20. Kata ‘bestioer/bestuur’ (pengurus), ‘voorzitter’ (ketua), dan ‘vergadering’ (rapat) sudah menjadi leksikon sehari-hari warga desa. Mungkin konsep berorganisasi ala Eropa/Belanda itu begitu mudah diterima karena orang Minangkabau sudah lama terbiasa hidup dalam tradisi bermusyawarah dan bermufakat dalam lingkungan budaya mereka yang sudah sejak semula mengenal ‘demokrasi’ ala ‘republik nagari’ itu.

Kiranya amat menarik menulis sejarah Kenagarian Talawi (juga nagari-nagari lainnya di Minangkabau), sebuah desa yang melahirkan manusia boneh sekaliber M. Yamin dan M. Amir yang sudah mengecap budaya akademik dan intelektual Eropa di akhir akhir abad ke-19 ketika banyak warga sebangsanya belum lagi ‘tahu di kain’.

Mungkinkah untuk menulis sejarah sebuah nagari di Minangkabau? Kenapa tidak?

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 20 Oktober 2019

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: