Posted by: niadilova | 22/07/2019

PPM #217: Cekcok Warga Nagari Koto Tangah dan Aia Tabik Soal Rimba Larangan/Tanah Ulayat (1936)

KAMANG

Perkara rimba Air Terbit

            Beberapa boelan terlampau telah terjadi perselisihan watas rimba antara negeri Kota Tengah dengan Air Tabit, jang kemoedian pada permoelaan November [1936] telah dipoetoeskan oleh kedoea belah pihak, dengan djalan perdamaian, dan ditentoekan watas rimba kedoea negeri itoe menoeroet kaart lama. Kepoetoesan itoe dikoeatkan oleh ninik mamak dari kedoea negeri itoe dengan tanda tangan mereka masing masing diatas 2 helai zegels, selembar tersimpan dikantoor Odhoofd van Kamang Baso dan selembar lagi dikantoor Odhoofd Tilatang.

            Sesoedah diadakannja poetoesan itoe, kita merasa, tentoe perkara itoe takkan teroelang oelang lagi, tetapi doegaan kita itoe djadi meleset, karena pada hari Senin 30 December, Negerihoofd Kota Tengah, Odhoofd Tilatang dan Odhoofd Kamang Baso telah darang ke Air Tabit, karena kabarnja toean toean itoe mendapat kabar, jang orang orang dari Sonsang, (Kota Tengah) pergi beramai ramai  kerimba jang diperselisih[k]an itoe, akan mengerojok orang orang dari Air Tabit, jang kata mereka mengambil kajoe dalam rimba kepoenjaan mereka. Oentoeng orang orang dari Air Tabit tak ada disana. Pihak orang jang dari Air Tabit, menerangkan jang orang orang bahagian Sonsang jang melampau mengambil kajoe masoek kerimba Air Tabit. Kepoetoesan jang diambil pembesar pembesar terseboet sekarang, sementara perkara itoe beloem diperiksa, segala orang dari kedoea negeri itoe tidak boleh mengambil kajoe kerimba jang diperselisihkan. Mana jang bersalah diantara mereka dari kedoea negeri itoe, tentoe kelak akan terboekti djoega. (Mandoeng bertali).”

***

Laporan surat kabar Sinar Sumatra, No. 2, Tahoen ke 32, Hari Djoemahat 3 Januari 1936/4 Tjap Dji Gwee 2486 -8 Sjawal 1354 tentang percekcokan warga dua nagari – Koto Tangah (Kota Tengah) dan Air Tabit (Aia Tabik) – yang disebabkan oleh klaim kedua belah pihak terhadap rimba larangan/tanah ulayat yang terletak di perbatasan antara kedua nagari yang bertetangga itu.

Laporan ini memberi kesan kepada kita kini bahwa persoalan batas nagari sering menjadi penyebab percekcokan antarnagari di Minangkabau, dan rupanya hal itu sudah berlangsung sejak dulu. Nagari-nagari yang merasa duduk sama rendah tegak sama tinggi itu saling mengklaim wilayah yang biasanya berupa rimba (hutan) yang terletak di perbatasan masing-masing nagari.

Dalam masyarakat etnis yang kuat dipengaruhi oleh tradisi lisan, hak-hak penguasaan dan kepemilikan atas tanah bisanya dikuatkan dengan cerita yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ini mengingatkan kita pada disertasi putra Mentawai, Dr. Juniator Tulius, tentang klaim atas tanah di kalangan orang Mentawai yang didasarkan atas cerita-cerita lisan (lihat: Juniator Tulius, ‘Family Stories: Oral Traditions, Memories of the Past, and Contemporary Conflicts over Land in Mentawai – Indonesia’ (Leiden University, 2012).

Konflik tanah di Sumatera Barat termasuk tinggi di Indonesia. Penyebabnya antara lain adalah: klaim atas tanah yang tidak jelas karena transfer tradisi lisan yang mengandung ‘penjelasan’ atas status dan kepemilikan tanah terputus disebabkan oleh perubahan lingkungan sosial dan modernisasi. Penyebab lain: kodifikasi status tanah dengan proses sertifikasi menyebabkan sifat hak atas tanah berubah dari komunal kepada individual. Konflik ini, sampai batas tertentu, berpotensi menimbulkan konflik horizontal dalam masyarakat Minangkabau. Di lain pihak, pihak luar bisa ‘menangguk di air keruh’ dari persoalan tahan yang khas Minangkabau ini. Mereka memanfaatkan konflik tanah yang terjadi dalam banyak keluarga atau nagari Minangkabau itu untuk mengambil alih kepemilikan tanah dengan membelinya, sering dengan bekerjasama dengan representatif negara terkait yang memegang otoritas secara hukum dan kelembagaan.

Laporan di atas juga memberi sugesti kepada pembaca untuk meneliti konflik tanah di Minangkabau dari perspektif sejarah. Rupanya konflik tanah sudah sejak lama menjadi bagian yang inheren dalam masyarakat dan sistem sosial Minangkabau.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 21 Juli 2019


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: