Posted by: niadilova | 08/07/2019

PPM # 215: Rencana Komunis Minang Oesman Gelar Soetan Keadilan ke Moskow (1926)

Selamat djalan

   Pembantoe kita S. di Palembang telah kabarkan kepada kita begini:

   Selang beberapa hari partij kominis disini meadadan (sic) pertemoean di Ilir 28 jaitoe berhoeboeng dengan berangkatnja toean Oesman gel. Soetan Keadilan bekas verantwoordelijk redacteur Njala keloear negeri.

   Toean Oesman itoe akan pergi ke Moskou atau lain-lain negeri jang oleh dia dipandang sebaiknja didatangi perloe mempeladjari prakktijknja kominisme.

   Teman-teman tak ketinggala dalam menjokongnja dia itoe, biarpoen dengan oeang.”

***

Laporan surat kabar Hindia Baroe (Batavia), Tahoen X, No. 69, Kemis 25 Maart 1926 tentang rencana keberangkatan Oesman Soetan Keadilan, mantan direktur Njala, media (orgaan) para penyokong gerakan komunis yang terbit di Batavia, ke Moskow (Uni Soviet) dan “lain-lain negeri” (di Eropa Timur?) Sokongan (tampaknya juga berupa uang) datang dari kawan-kawan seperjuangannya yang berada di Sumatera Selatan.

Sebagaimana telah pernah diinformasikan dalam rubrik ini (Padang Ekspres, 14-3-2019), Oesman Soetan Keadilan adalah salah seorang propagandis komunis asal Minangkabau (Payakumbuh). Akan tetapi ia juga aktif di Batavia. Di Ibukota Hindia Belanda itu ia menjadi rekdatur Njala, dibantu oleh Tjempono asal Kedu (Banyu Urip), sambil terus mengadakan propaganda komunisme kepada masyarakat luas.

Belum ditemukan informasi lebih lanjut mengenai kunjungan Oesman ke Moskow dan “lain-lain negeri” itu. Besar kemungkinan rencana itu tidak jadi (tapi perlu penelitian lebih lanjut), karena pada bulan Desember 1926, Oesman ditangkap dan kemudian Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengeluarkan keputusan untuk mengasingkannya ke Digul. Bataviaasch Nieuwsblad edisi 21 Desember 1926 menulis (di bawah judul “De Groote Opruiming”,‘Pembersihan Besar-besaran’) bahwa beberapa orang sudah diputuskan oleh Pemerintah untuk dibuang ke Digul, termasuk: “[…] Oesman gelar Soetan Keadilan alias Roer oud ongeveer 25 jaar, gewezen redacteur van het dagblad Njala, propagandist der P.K.I., geboren te Pajakoemboeh, Sumatra’s Westkust en laatstelijk woonachtig te Batavia.” Keratan laporan ini menjelaskan: Oesman berasal dari Payakumbuh, usia 27 tahun ketika keluar keputusan pendigulan terhadap dirinya (Desember 1926; ia sudah ditangkap sejak akhir Desember tahun sebelumnya/1925). Dengan demikian, dapat diperkirakan: Oesman lahir pada tahun 1900.

Di Digul Oesman mendapat nama panggilan ‘Oeska’. Ia pernah melarikan diri dari “Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea” itu, sebagaiamana dicatat oleh mantan Asisten Resident Daniel van der Meulen dalam bukunya Ik Stond Er Bij (Baarn: Bosch en Keuning, 1965) yang dirujuk oleh I.F.M. Chalid Salim (adik tiri Haji Agus Salim) dalam bukunya (versi terjemahan) Limabelas Tahun Digul: Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea (Jakarta: Bulan Bintang, 1977:378-382).

Merujuk Van der Meulen (1965), Salim mengatakan bahwa pelarian Oesman dan beberapa orang kawannya terjadi pada tahun 1929. Mereka berhasil mencapai hulu Sungai Fly yang sudah berada dalam wilayah Papua yang dikuasai Australia. Setelah tinggal beberapa saat di sebuah perkampungan ‘beradab’ yang sudah disentuh oleh misi penginjilan, Oesman dkk. ditangkap oleh otoritas Australia, dibawa ke penjara yang ‘nyaman’, sebelum dijemput kembali oleh polisi Hindia Belanda dan dikembalikan ke Digul (Australia dan Hindia Belanda memiliki perjanjian ekstradisi).

“Setelah ia diangkut kembali ke Digul dan menyelesaikan masa hukumannya di penjara, Oeska [Oesman gelar Soetan Keadilan] diperkenankan untuk pulang ke kampung halaman[nya di Payakumbuh]. Di sana ia berada di bawah pengawasan bekas Asisten Residen Daniel van der Meulen, yang telah menerbitkan buku yang berjudul “Ik stond er bij”, yang di dalamnya juga termuat kisah petualangan Oeska” (Salim, 1977:378).

Oesman tidak jera walau sudah dibuang ke Digul; tampaknya anak Minang ini pekat ideologi komunisnya. Di kampung halamannya, bersama dengan temannya A[bbas] Rachman, ia menerbitkan lagi sebuah bulanan bernama Kebenaran yang tetap kritis kepada Pemerintah. Baru pada edisi No. 4 (31 Desember 1935), bulanan yang diterbitkan di Fort de Kock (Bukittinggi) itu terinjak ranjau pers kolonial pula karena sebuah artikel yang dimuat di nomor itu yang menyerang imperialisme Eropa dan meramalkan kejatuhannya. Kebenaran lalu dibeslag oleh Pemerintah (Sumatra Post [Medan], 22-01-1935) dan Oesman bersama A. Rachman yang merupakan salah seorang bestuur P.N.I. cabang Fort de Kock kemudian ditangkap dan untuk kedua kalinya Oesman terancam akan dibuang ke Digul (De Tribune: Het Dagblad voor de Arbeiders [Amsterdam], 08-08-1935; Het Nieuw van den Dag voor Nederlandsch-Indië [Batavia], 21-05-1935).

Belum diperoleh maklumat lebih lanjut apakah Oesman jadi untuk kedua kalinya dibuang ke Digul. Semoga beberapa bagian dari kisah komunis asal Payakumbuh yang sudah berhasil diungkapkan dapat dilengkapi oleh peneliti lain.

Dapat dikesan bahwa para aktivis PKI pada tahun 1920an kebanyakan orang muda (berusia antara 20-40 tahun). Mereka dibuang ke Digul atau dipenjarakan karena menentang penjajahan Barat/Belanda atas negeri mereka. Kini para politisi muda seusia mereka masuk penjara karena korupsi dan suka menilep uang rakyat.

Dr. Suryadi – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 7 Juli 2019

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: