Posted by: niadilova | 06/06/2019

Kilas balik: Perjalanan dari “Pakan Baroe” ke “Pajacombo” (1926)

PAKAN BAROE – PAJACOMBO

(oleh correspondent kita)

            Telah tiga setengah boelan lamanja kita tinggal di Pakan Baroe.

Dalam waktoe jang sekian lamanja banjaklah kita mendapat pemandangan. Barangkali ada jang perloe boeat kepentingan oemoem.

Pembatja dipersilahkan memperhatikannja!

Negeri Pakan Baroe, jang terletak ditepi soengai Tapoeng, banjak pendoedoeknja ada kira2 3000 djiwa, bangsa Tionghoa sadja hamoir seperdoea dari djoemlah itoe. Negeri itoe masoek djadjahan Soeltan Siak Sri Indrapoera jang diwakili dinegeri itoe oleh seorang Datoek Districhoofd.

Pegawai ini diberi djoega hak memoetoeskan perkara2 ketjil menoeroet haknja Magistraat hakim Goevernement. Tetapi tentang bangsa kita sadja.

Ambtenaar gouvernement jang ada disana boeat perkara bestuur sama sekali terpegang dalam tangan seorang mantri politie.

Bestuur kata kita, tetapi tiada ia berhak tjampoer dalam perkara bestuur bangsa kita. Hanja jang masoek bagiannja ialah bangsa Timoer Asing sadja.

Meskipoen begitoe berat djoega tanggoengannja. Meingat segala kewadjiban jang mendjadi pikoelannja seperti: kepolisian, rolzaken, belasting, vreemde Oosterlingen, vendu, d.l.l., kita rasa diadalah sepadan dengan gadjinja jang ketjil itoe. Kalau dibandingkan dengan pekerdjaan seorang Demang dilain gewest, tiadalah djaoeh dari benar rasanja sjika kita katakan pekerdjaan Menteri politiedi Pakan Baroe ada djaoeh lebih berat.

Sebagaimana dahoeloe kita telah pernah toelis, walaupoen Pakan Baroe [hanja] seboeh negeri ketjil [saja], tetapi diharap bekal [bakal] besar dan ramai. Disana boleh dikatakan poesat perniagaan djadjahan Siak.

Hasil boemi jang teroetama ialah para [getah]. Disana ada seboeah onderneming getah jang amat besar.

Dalam satoe minggoe empat kali kapal masoek kenegeri itoe, membawa beroepa-roepa dagangan dari Singapore boeat S.W.K. [Sumatra’s Westkust/Sumatra Barat]. Sekembalinja penoeh bermoeat getah para. Sajang amat perdagangan getah itoe kebanjakan ada di tangan Tiong hoa (sic).

Bangsa kita? Ja……..Bangsa kita.

Hari Djoemaat [26 Maret 1926] kaita bertolak dari negeri ini menoedjoe S.W.K. [Payakumbuh] tanah tempat toempah darah kita.

Dengan menoempang seboeah auto, 38 K.M. djaoehnja kita menempoeh rimba besar sadja. Kemoedian kita sampai didanau Bingkoeang dimana djalan memotong batang Kampar. Djembatan tiada ada, segala auto jang laloe lintas diseberangi [diseberangkan] oleh seboeah veer pont. Menoeroet timbangan kita soedah lebih dari patoet, kalau goevernement ditempat ini meadakan  seboeah djembatan. Meingat banjaknja auto jang melaloei tempat itoe, sampai kadang-kadang ada jang menoenggoe 3 à 4 djam lamanja, baroe sampai gilirannja akan diseberangi [diseberangkan].

Kalai kita tidak salah, hal ini telah pernah dikemoekakan oleh Toean Loetan [wakil Minangkabau] di Volksraad.

Tetapi apa djawab pemerintah?

Soesah mendapat koeli! Kita rasa djawab[an] ini tiada beralasan kebenaran. Sebaliknja diantara Pakan Baroe dan Bangkinang banjak sekali anak negeriberkeliaran dan tiada mempoenjai pekerdjaan.

Djadi apakah djawab pemerintah itoe sebagaimana biasa sekedar akan mentjoekoepi sjarat pertanjaan sadja?

Hari telah poekoel sepoeloeh. Kita teroes berangkat menjoedjoe Bangkinang. Melihat kampoeng-kampoeng jang kita laloei seperti Roembio dan Air Tiris, adalah perasaan kita seolah-olah soedah dekat ketanah toempah darah kita sendiri.

Dikiri kanan djalan moelai kelihatan sawah-sawah, diatasnja kian kemari beberapa ekor kerbau, lemboe dan koeda dengan senang sedang makan roempoet. Beriboe-riboe ekor bangau poetih kelihatan seperti moesafir moesafir sedang melepaskan lelahnja dari perdjalanan jang djaoeh, boeloenja jang poetih bersih itoe berkilat-kilat kena tjahaja matahari. Ada djoega diantaranja pergi berdiri diatas poenggoeng kerbau, dibawa oleh binatang ini kesana sini sepandjang sawah sawah itoe, dari djaoeh ta’ obahnja kelihatan seperti orang orang Hindoestan sedang menghalau gadjah gadjahnja. Setelah kira kira seperempat djam lamanja  auto berdjalan lepas dari Bangkinang sampailah kita di Koeok. Kampoeng diantara Bangkinang dan Koeok ialah Salo. Inilah semoeanja jang dinamakan orang Lima Kota; jaitoe Roembio, Air Tiris, Bangkinang, Salo dan Koekok.

Menoeroet tambo orang toea-toea, tanah Siak Sri Indrapoera ada djoega pertaliannja dengan Lima Kota ini, malah dibawah djadjahannja. Beradaja ketanah Siak, bertoean  ke Lima Kota, berbapak ke Pagar Roejoeng.

Diantara negeri jang lima ini, Koeoklah jang paling ramai pasarnja, sehingga dari Pakan Baroe, jang djaoehnja kira kira 75 K.M., banjak djoega orang datang mengoendjoenginja akan membeli roepa roepa barang dagangan.

Disini kita laloe toeroen dari auto karena dari tempat ini kita moesti teroes berdjalan perahoe, memoediki Batang Kampar.

Pada waktoe jang belakang[an] ini sewa perahoe dan sebagainja mendjadi naik 4 á 5 kali ganda dari jang biasa. Karena hari akan poeasa orang orang berdagang banjak jang poelang kekampoengnja masing masing.

Kitapoen dengan tiga orang teman jang lain laloe menjewa seboeah perahoe sampai ke Tandjoeng Paoeh. Kalau dipikir benar benar perdjalanan ini tiada membangoenkan pikiran sedikit djoega, mengesalkan hati dan oleh karena itoe amat melelahkan. Doea hari doea malam lamanja kita didalam perahoe sadja, makan disana tidoerpoen disana. Adalah perasaan jang mendekatkan kita kepada Toehan, kalau kita bermalam didalam seboeah perahoe [di]tengah rimba besar, sedangkan air soengai itoe bertjahaja tjahaja kena sinarnja boelan, jang sebenar sebentar datang memperlihatkan dirinja dari sebelah awan jang hitam itoe. Djaoeh dari pergaoelan hidoep ditengah tengah rimba jang besar, disanalah kita terkenang akan nasibnja tanah Indonesia, jang tjantik molek kata orang jang memilikinja.

Indonesia bagoes

tetapi malang……

Hati siapa jang ta’kan terharoe meingat tjantiknja Indonesia: als seen gordel van smaragd, kata Multatuli.

Naik spoor dipegoenoengan Alpen adalah memberi pemandangan jang bagoe katanja orang, tetapi boeat kita tjoekoeplah kalau kita telah naik spoor melaloei Anaikloof di Sumatra Barat. Danau danau ditanah Zwitserland amat bagoesnja chabarnja orang, tetapi boeat kita memadailah kalau mata kita telah memandang danau Singkarak.

Waterval Niagara, ja boleh djadi molek, tetapi air mantjoer Kandang Ampat di Anaikloof tjoekoeplah boeat kita.

Karena bagoesnja sesoeatoe barang itoe adalah bergantoeng kepada perasaan orang jang melihatnja. Dan memang rasa kita ada djaoeh lebih dekat kepada tanah air kita, tempat toempah darang bangsa kita, dari pada kepada tanah asing jang beloem pernah kita lihat.

Sebab ta’ kenal maka ta’ sajang?

Boleh djadi.

Kita sampai tjoekoep mengenal tanah air kita, jang bagoes tetapi dimiliki orang lain, sehingga menerbitkan perasaan kasihan dalam kita melihat oentoengnja jang tjelaka itoe.

Pagi pagi hari Ahad sampailah kita di Tandjoeng Paoeh. Djalan jang akan mempertalikan Sumatra Barat dengan Sumatra Timoer, jang soedah dikerdjakan kira kira enam belas tahoen lamanja, sekarang baroe sampai ditempat ini. Dari kini laloe kita menjewa seboeah auto sampai di Pajakoemboeh.

Toemboeh pertanjaan dalam hati kita: Soedahkah pernah tempat tempat, dimana djalan itoe digali diantara Tandjoeng Tandjoeng Balit dan Tandjoeng Paoeh, diperiksa oleh jang berkewadjiban, bahwa tanah disitoe tiada mengandoeng batoe bara?

Menoeroet pemandangan kita sebagai seorang jang tiada ahli adalah [di]tempat tempat itoe banjak mengandoeng intan hitam itoe.

Tetapi…….wallahoe ‘alam.

Hanja Indonesia memang kaja.

Kira kira poekoel 1 kita sampai dinegeri Pangkalan Kota Baroe tempat kedoedoekan seorang Gezaghebber. Dari sini baroe kita dapat berangkat teroes kira kira poekoel 4 petang. Kita lihat djembatan djembatan antara Manggilang dan Oeloe Air masih dengan kajoe sadja. Sebenarnja bolem boleh dinamakan djembatan, karena hanja diboeat dari balok balok kasar, diatasnja dilintangi dengan papan dan tiada mempoenjai leuning (andaran).

Kabarnja belandja boeat peadakan djembatan-djembatan itoe telah ada dalam begrooting.

Mengapa beloem dikerdjakan?

Entahlah.

Seboeah autobus dari A.D.S.S. waktoe laloe diatas seboeah djembatan itoe, kedoea rodanja jang dimoeka terperosok kebawah, karena roepanja papan djembatan itoe telah lama benar melakoekan dientsnja, sehingga tidak tahan lagi memikoel kewadjibannja.

Perdjalanan kitapoen terhalang djoega olehnja. Bersama-sama kita meangkat roda auto jang bertjelaka itoe, kira-kira poekoel 11 malam baroe selesai. Dengan hal jang demikian poekoel 12 baroe kita sampai dinegeri jang ditoedjoe jaitoe kota Pajakoemboeh.

***

Sumber: Surat kabar Hindia Baru,No.28, Tahoen X, Rebo 24 Maart 1926. Teks disalin menurut ejaan aslinya. Kata-kata dalam kurung siku merupakan tambahan dari penyalin yang dimaksudkan untuk memperjelas arti teks ini untuk pembaca masa kini. Nama kota Payakumbuh ditulis dua versi: ‘Pajacombo’ dan ‘Pajakoemboeh’.

Penyalin: Dr. Suryadi, Leiden University, Belanda.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: