Posted by: niadilova | 05/06/2019

Selamat Idul Fitri Kepada “Orang Puasa Dahulu” dan “Orang Puasa Kemudian”

Kampung saya dan kampung tetangga kami nun sudah lama berbeda paham soal praktek keagamaan.Tapi kami hidup berdampingan dengan damai. Memang kadang-kadang terjadi sedikit gejolak, tapi itu tidak sampai menjadikan hubungan kami patah arang.

Dulu moyang kami yang reformis, Syeikh Daud Sunur, beradu argumen soal ilmu agama dengan ulama terkemuka dari kampung tetangga kami itu, Tuanku Lubuk Ipuh namanya. Dalam  adu ujung lidah di hadapan pengikut masing-masing, Syekh Daud kalah dan terpaksa pergi dari kampung halamannya menuju Mekah. Pada kali kedua menuju perantauan nan jauh itu ia  terdampar di Trumon (Tarumun), Aceh Barat, karena kehabisan bekal, dan akhirnya meninggal dalam penjemputan orang kampungnya dan dimakamkan di Singkil.

Syuryadi

Bila Tuan-tuan dan Puan-puan pernah mendengar dan membaca SYAIR MEKAH DAN MADINAH dan SYAIR SUNUR, itulah dua karya Syekh Daud Sunur yang amat elok bahasanya. Membaca karyanya yang pertama membuat hati ingin nak segera mengunjungi Ka’batullah dan Masjidil Haram; membaca karyanya yang kedua membuat air mata berderai dan hati masygul.

Dalam soal Ramadan, kami menyebut tetangga kami itu “orang puasa kemudian”. Sedangkan kami menyebut diri kami “orang puasa dahulu”, maksudnya berpuasa lebih awal. Ketika kami sudah dua hari berhari raya dan sudah turun naik buaian Keling di Pariaman dan Kuraitaji, tetangga kami itu baru  melaksankakan shalat Aidil Fitri yang dilanjutkan dengan membantai kerbau. Kulikat keagamaan yang berbeda di antara kami itu bahkan dicatat pula oleh sarjana Belanda B.J.O. Schrieke dalam risalahnya PERGOLAKAN AGAMA DI SUMATERA BARAT: SEBUAH SUMBANGAN BIBLIOGRAFI (Jakarta: Bhratara, 1973; aslinya dalam Bahasa Belanda).

Sudah berlaksa tahun kami begitu, sampai kini tetap kokoh dengan pendirian masing-masing. Tapi kampung kemana hendak dijual, tetangga kemana hendak dicampakkan? Tak bisa, tak mungkin…

Dari rantau nan jauh di ‘Benua Dingin’, saya dan keluarga mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H kepada handai taulan dan sanak-saudara di Nagari SUNUR, dan tetangga kami ULAKAN dan LUBUK IPUH. Minal aidin wal faiziin, mohon maaf lahir-batin. Maafkan kami karena tidak dapat pulang di hari yang baik bulan nan mulia ini.

Kambang bapucuak pudiang geni,

Kambang di puncak Gunung Ledang,

Jangan diarok badan kami,

Kami jauah di rantau urang.

Urang manumbuak jolong gadang,

Ayam nan makan jolong turun,

Manangih badan di rantau urang,

Kok ka pulang baameh balun.

Kok didulang pandan bak kini,

Kalikih babuah tido,

Kok pulang badan bak kini,

Bapitih sarimih tido.

Islamkepulauan | Leiden, 4 Juni 2019


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: