Posted by: niadilova | 27/05/2019

PPM #211: Dua media cetak progresif-revolusioner di Padang Panjang (1920an)

PEMANDANGAN ISLAM DAN DJAGO! DJAGO!

            Kedoeanya nama soerat chabar jang terbit di Padang Pandjang tetapi diharap soepaja toean-toean dan engkoe engkoe akan menerima lagi kedatangannya “PEMANDANGAN ISLAM” didalam ini minggoe djoega.

            Dikeloearkan oleh PENOENTOET AGAMA ISLAM DI PADANG PANDJANG.

            Isinja menerangkan dan memperbintjangkan asas dan pemandangan ISLAM SEDJATI dalam golongan PERGERAKAN DOENIA jang bakal mentjapai KESELAMTAN ACHIRAT menoeroet setjara kehendaknja masa jang kaloe ini.

            Beroesaha menjokong dan membantoe gerakan BERSAMA jang bergoena oentoek RAJAT dan TANAH AIR kita.

            V[e]antwoordelijk Redacteur;

  1. Dt. Batoeah

            Hoofdredacteur

            Djamaloedin Tamim

            Berlangganan sekoerang-koerangnja 12 lembar harga f 1,25.

            Batjalah sokonglah [dan] toendjanglah gerakkan dan kehendaknja ISLAMISME dan ISLAM SEDJATI dan mintalah berlangganan kepada administratie PEMANDANGAN ISLAM.

  1. Rasjid M. S.

            Kantoor Sumatra Thawalib

                        PADANG PANDJANG

***

Iklan promosi tentang dua media cetak yang berhaluan progresif dan levolusioner yang terbit di Padang Panjang pada tahun 1920an. Kutipan di atas disalin dari berkala DJAGO! DJAGO!, No. 1, tahoen 1, Senin 8 October 1923. Dari kutipan di atas dapat dikesan bahwa Pemandangan Islam diterbitkan dengan tujuan memperjuangkan hak-hak umat Islam (dalam hal ini kaum muslim di Minangkabau) di dunia ini demi “keselamatan achirat’.

Orang sering mengasosiasikan H. Dt. Batoeah dan Djamaloedin Tamim (sering juga ditulis ‘Tamin’) dengan gerakan komunis di Padang Panjang. Akan tetapi dalam kedua surat kabar ini, istilah ‘komunis’ tak jarang sekali tersua. Dalam Djago! Djago! nomor di atas, A[rif] Fadlilah Hr (sering juga ditulis: ‘Arif Fadillah’), salah seorang aktivis ‘komunis’ di Padang Panjang menulis tentang misi dari surat kabar yang ditanggungjawabi Natar Zaionedin itu:

Dengan kekerasan hati jang soetji, oleh toean2 saudara anggota I.D.C. [Internationaal Debating Club] Padang Panjang, maka diterbitkanlah satoe soerat kabar bernama “Djago Djago”.  

Djago Djago”, ialah soerat kabar kaoem melarat jang selaloe dapat tindisan, dari kaoem modal.

“Djago Djago” akan bekerdja sedapat2nja membela kaoem melarat.

“Djago Djago”, akan mentjari kemedekaannja kaoem melarat jang selaloe hari dapat tindisan dari jang lain2.

 Maka “Djago Dago”, dikemoedikan oleh toean N.[atar] Zainoedin, siapa toean N. Zainoedin, betapa toean itoe, serta bagaimana tjinta toean itoe pada kaoem melarat, tentoe toean2 saudara telah mengetahoeinja djoega; lebih2 toean2 saudara di Padang, Semarang, Medan dan Atjeh.”

Arief Fadillah yang menjadi Redacteur Djago! Dajgo! berseru agar golongan kaum melaran bersatu menentang para penindas yang, walau tidak disebutkan secara eksplisit, jelas diarahkan kepada penguasa kolonial Hindia Belanda dengan para kolaborator dan komprador pribuminya. “Hai kaoem melarat dan tertindis, bersiaplah [dan] berkokohlah serta bekerdjalah engkau dengan sebisabisanja, menghindarken diri engkau dari bahaja jang menindis dan memeras engkau itoe”, serunya (ibid.)

Istilah “kaum melarat” jelas beraroma proletar yang tentu saja menjadi ikon perlawanan terhadap kaum borjuis, kaum pemodal, atau kaum kapitalis. Dengan demikian, ‘kaum melarat’ cenderung diasosiasikan dengan kaum komunis. Pelabelan ‘komunis’ ini begitu kuat pada masa itu, dan hal itu terus dihembuskan oleh penguasa kolonial Hindia Belanda yang merasa terancam oleh gerakan politik mereka.

Di halaman judulnya sudah dapat dikesan bahwa “Djago!Djago! [adalah] soerat chabar SOERA MERDEKA kaoem melarat.

Dengan lantang penulis berinisial ‘Z’ memprovokasi para pembaca untuk memerdekakan diri dari pada penindas (penjajah Belanda): “Recht dan hak jang kita harapkan / Jang maha koeasa mesti mengaboelkan / Hambanja mendapat kemedekaan / Sijang dan malam saja harapkan. […] // Anak Hindia marilah bergerak / Pemimpin kita biar bertegak / Akan melawan toekang pengroesak / Reactie jang amat banjak”, demikian tulisnya (ibid.)

Sejarah telah mencatat bahwa peneraju kedua surat kabar tersebut berulang kali berurusan dengan polisi. Djago! Djago! sendiri sudah kena periksa  polisi saat baru mencapai terbitan nomor 5 karena beberapa tulisan yang dimuat dalam nomor sebelumnya (No. 4) dianggap membahayakan rust en orde dan mengarahkan anak panah ke Pemerintah, yaitu tulisan Hr yang berjudul “Vlootwet”, tulisan Baharuddin Saleh yang bertajuk “Kapitalisten dan kaoem Proletar”, dan artikel M.S. Djaafar yang berjudul “Oetang wadjib dibajar”, menyebabkan penulisnya dan juga sang Hoofdredacteur Natar Zainoedin diperiksa polisi (Djago! Djago!, No. 6, Tahoen ke I, Djoemahat 30 November 1923).

Karena kekuatan hati mereka untuk membela kaum lemah (‘kaoem melarat’) yang terus ditindas, maka empat sekawan tersebut – H. Dt. Batoeah, Natar Zainoedin, Djamaloedin Tamim dan Arif Fadlilah – akhirnya ‘dikebiri’ oleh penjajah Belanda. Setelah beberapa kali diperiksa dan ditahan, akhirnya empat sekawan itu dibuang ke luar Minangkabau. Berita tentang pembuangan mereka telah dimuat dalam beberapa nomor sebelumnya rubrik ini.

Sepanjang sejarah bumi ini, termasuk kini, ketika kolonialisme sudah lama tertimbun dalam lembaran sejarah, mereka yang bersuara kritis membela kaum lemah selalu mendapat ancaman dari penguasa.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 26 Mei 2019

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: