Posted by: niadilova | 13/05/2019

PPM #210: Duta RIS Putra Pariaman, Baginda Dahlan Abdoellah, Wafat di Bagdad (1950)

“Hadji Dachlan Abdullah meninggal

Innalillahi wai inna ilaihi radij’un (sic).

Duta Indonesia di Iraq jang pertama meninggal.

Alangkah terkedjutnja bangsa Indonesia dan umat Islam seluruhnja mendengar warta berita Radio, pada malam minggu j.l. jang memberitakan bahwa hadji Dahlan Abdullah Duta Indonesia di Iraq meninggal dunia pada hari Djum’atnja karena menderita sakit. Siapa kiranja Hadji Dahlan Abdullah, bagai (sic) umat Islam jang mengikuti pergerakan tentu tidak asing lagi namanja, seorang santri-intellek jang jarang tolok bandingnja. Beliau pada bulan April jang lalu diangkat oleh pemerintah RIS, untuk mendjabat duta Indonesia di Iraq, untuk merapatkan hubungan Indonesia dengan tanah Iraq, sebagai negara teman seagama.

   Sekarang beliau sudah meninggal, meninggalkan lowongan jang tidak mudah akan ditjari penggantinja…...”

***

Salinan berita dari Penuntun. Madjallah Kementerian Agama Rep. Indonesia No. 5, Th. ke IV, Mei 1950, hlm. 85 di bawah tajuk “Hadji Dachlan Abdullah meninggal”. Laporan ini mengabarkan wafatnya salah seorang putra Minangkabau terkemuka asal Pariaman, Haji Baginda Dahlan Abdoellah, yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi Duta Republik Indonesia Serikat (RIS) untuk negara-negara Irak, Transjordania, Libanon dan Syria.

Dahlan Abdoellah (sering ditulis juga ‘Dachlan Abdoelah/Abdullah) baru menyerahkan surat kepercayaannya kepada Pemerintah Irak di Bagdad pada tgl. 8 April 1950.  Dahlan wafat di rumah sakit di Bagdad pada tgl. 12 Mei 1950 karena serangan jantung. Dengan demikian, hanya sekitar sebulan saja Dahlan menduduki jabatannya sebagai Duta RIS di Bagdad.

Surat kabar Merdeka edisi 15 Mei 1950 di bawah berita “DUTA RIS DI IRAK, HADJI B. DACHLAN ABDULLAH WAFAT” menulis:

Djakarta, 15 Mei

Oleh Kementerian Luar Negeri telah diterima kawat dari Bagdad, bahwa duta RIS di Irak, Hadji Baginda Dahlan Abdullah, telah wafat dirumah sakit di Bagdad pada hari Djum’at jl. tidak lama setelah menderita penjakit lemah djantung. Ia berusia kira2 55 tahun.

Almarhum Hadji Baginda Dahlan Abdullah berangkat ketempat kedudukannja pada tg. 28 Maret jl. dengan seorang stafnja, Moechtar Mahjuddin, dan menjerahkan surat kapertjajaan kepada regent Irak, jaitu wakil radja selama radja Irak belum dewasa, pada tgl. 8 April jl.

        Hadji Baginda Dahlan Abdullah dilahirkan di Pariaman (Sumatera Barat) pada tahun 1895. Ia memulai [pen]didikannja disekolah rendah di Padang dan kemudian di Sekolah Radja (Normaal School) di Bukit Tinggi, dimana ia duduk sekelas dengan Tan Malaka.

       Lantaran keentjeran otaknja, maka setamatnja dari sekolah, lalu ia beserta Tan Malaka dan seorang temannja jang lain mendapat kesempatan untuk melandjutkan peladjarannja di negeri Belanda dan masuk pada “Kweekschool voor Onderwijzer” di Den Haag sampai tammat ditahun 1915.

       Kemudian ia menjambung pengetahuannja untuk mempeladjari “Maleische Land en Volkenkunde” pada Universiteit Leiden hingga tammat pula. Lalu ia mempeladjari ilmu bahasa2 Timur sambil membantu Prof. Van Ronkel, tetapi peladjarannja ini tak pernah ditammatkannja.

       Sebabnja ialah, sebagaimana kebanjakan mahasiswa Indonesia dimasa itu, lantaran ketularan semangat pergerakan nasional, ia lebih mentjurahkan pikiran dan tenaganja untuk perdjuangan “Perhimpunan Indonesia”(sic) jang diketuainja beberapa waktu lamanja. Teman seperdjuangannja waktu itu diantaranja ialah Ir. Soerachman, presiden Balai Perguruan Tinggi sekarang, Prof. Surjomihardjo dan banjak lagi lain2 jang termasuk golongan radikal.

      Untuk menambah ilmu dan pengalaman perdjuangan itu, Dahlan Abdullah mengembara sampai ke Djerman dan Perantjis. Ia pernah diberi “studie opdracht” ke Mekkah dan Cairo untuk mempeladjari keadaan mukimin setelah perang dunia I dan keadaan maha-siswa Indonesia di Mesir.

Harian Merdeka juga menyebut sifat-sifat Dahlan: “Almarhum Hadji Dahlan Abdullah memang tidak begitu dikenal oleh masjarakat ramai, tapi dikalangan pemimpin2 jang sudah landjut umurnja nama Dahlan Abdullah sudah tidak asing lagi, jang memberinja nama djolokan “Lach en Abdullah” karena sifatnja jang selalu riang gembira. Dia teman sewaktu dari almarhum Dr. Ratulangie, almarhum Thamrin dan Monotutu, Tan Malaka dan lain2.

       Jenazah Dahlan Abdoellah dimakamkan di Kompleks Pemakaman Syekh Abdul Kadir Djailani di Bagdad dengan upacara kenegaraan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kerajaan Irak. “Dengan tjara kebesaran jang luar biasa ini serta ditempat jang dianggap paling sutji itulah djenazah [Dahl;an Abdoellah] dimakamkan dan ditempat itulah [ia] beristirahat untuk selama-lamanja seorang duta Indonesia”, demikian ulasan Madjallah Merdeka, No. 23, Th. III, 10 Djuni 1950, hlm.6.

Saya sedang menyusun biografi Baginda Dahlan Abdoellah yang insya Allah akan dapat diterbitkan dalam waktu dekat.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 12 Mei 2019

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: