Posted by: niadilova | 15/04/2019

PPM #206: Redaktur buletin ‘Njala’ Oesman gelar Soetan Keadilan Dibuang ke Digul (1926)

De Groote Opruiming.

[…]

Iste Besluit.

Overwegende, dat de groote onrust, bepaaldelijk in den laatsen tijd in verschillende gewesten en in het bijzonder de zeer onglangs vooral in West-Java plaats gehad hebbende enrnstige troebelen ontwijfelbaar veroorzaak zijn door het drijven der P.K.I. en hare onderorganisaties.

Is goedgevonden en verstaan:

In overeenstemming met den Raad van Nederlandsch-Indië, krachtens artikel 37 der Indische Staatsregeling aan:

[…]

[…] Oesman gelar Soetan Keadilan alias Roer oud ongeveer 25 jaar, gewezen redacteur van het dagblad Njala, propagandist der P.K.I., geboren te Pajakoemboeh, Sumatra’s Westkust en laatstelijk woonachtig te Batavia.”

***

Laporan surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad edisi 21 Desember 1926 yang memberitakan keputusan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membuang Oesman gelar Soetan Keadilan ke Digul. Bersama Oesman diasingkan juga ke Digul 8 orang pantolan dan propagandis P.K.I. lainnya dari Jawa. Merujuk ke Pasal 37 Undang-Undang Negara Hindia Belanda, orang-orang itu dianggap berbahaya dan dapat mengganggu rust en orde.

Mereka yang di-Digul-kan bersama Oesman yaitu: 1) Moehammad Noer (23 thn) asal Fort de Kock, tinggal di Batavia, anggota resortcommissie untuk PKI Batavia dan pernah bekerja sebagai mantri kehutanan; 2) Soekarna Atmadja (35) asal Tasikmalaya, tinggal di Batavia, pengurus PKI wilayah Weltevreden Barat dan pernah bekerja di Dinas Perkeretaapian; 3) Tjempono (22) asal Banyu Urip, Kedu, tinggal di Batavia, redaktur buletin Njala dan pengurus S.P.P.L. dan propagandis dan sekretaris PKI ondersectie Batavia; 4) Radjenal alias Sastrosoewirjo (37) asal Yogyakarta, tinggal di Cirebon, pengurus PKI Cirebon dan bekas guru sekolah pemerintah; 5) Gendon Soeleman asal Brebes, tinggal di Cirebon, propagandis PKI di Cirebon dan pernah bekerja di Dinas Perkeretaapian di Sumatera Selatan; 6) Moehammad Saboer (20) asal Kuningan, propagandis PKI di Kuningan, pernah bekerja sebagai mantri kesehatan di C.B.Z. dan redaktur buletin Api yang terbit di Semarang; 7) Achmad bin Hoesin (25) asal Benawa, Komering Hilir, Residensi Palembang, tanpa pekerjaan, tanpa tempat tinggal pasti; 8) Achmad Chatib alias Boejoeng (Buyung) (21 th) asal Padang Panjang, Sumatera Barat, propagandis PKI, tanpa tempat tinggal pasti (De Sumatra Post, 27-12-1926).

Sebagaimana dicatat dalam laporan di atas, Oesman gelar Soetan Keadilan (25 thn) berasal dari Payumbuh, Sumatera Barat. Seperti halnya Tjempono, Oesman yang tinggal di Batavia adalah redacteur buletin Njala, media (orgaan) PKI yang terbit di ibukota Hindia Belanda itu, sekaligus propagandis untuk partainya.

Oesman ditangkap oleh dua orang polisi Eropa di kantornya pada akhir Desember 1925 dengan tuduhan menyebarkan Njala yang sebelumnya dikelola oleh Darsono yang sudah lebih dulu ditangkap dan diasingkan. Kedua polisi Eropa tersebut juga menyita dokumen-dokumen lainnya yang mereka temukan di kantor Njala (De Indische Courant, 30-12-1925).

Ketika berada di Digul yang terpencil itu, Oesman (di Digul ia sering dipanggil dengan nama ‘Oeska’) pernah  melarikan diri. Kisah pelariannya dicatat oleh mantan Asisten Resident Daniel van der Meulen dalam bukunya Ik Stond Er Bij (Baarn: Bosch en Keuning, 1965) yang dirujuk oleh I.F.M. Chalid Salim (adik Haji Agus Salim) dalam bukunya (versi terjemahan) Limabelas Tahun Digul: Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea (Jakarta: Bulan Bintang, 1977:378-382).

Menurut Salim, merujuk Daniel (1965), pelarian Oesman dan beberapa orang kawannya terjadi pada tahun 1929.  Mereka berhasil mencapai hulu Sungaii Fly yang sudah masuk wilayah Papua yang dikontrol Australia. Setelah tinggal beberapa saat di sebuah perkampungan ‘beradab’ yang sudah disentuh oleh misi penginjilan, Oesman dkk. ditangkap oleh otoritas Australia, dibawa ke penjara yang ‘nyaman’, sebelum dijemput kembali oleh polisi Hindia Belanda dan dikembalikan ke Digul (Australia dan Hindia Belanda memiliki perjanjian ekstradisi).

“Setelah ia diangkut kembali ke Digul dan menyelesaikan masa hukumannya di penjara, Oeska [Oesman gelar Soetan Keadilan] diperkenankan untuk pulang ke kampung halaman[nya di Payakumbuh]. Di sana ia berada di bawah pengawasan bekas Asisten Residen Daniel van der Meulen, yang telah menerbitkan buku yang berjudul “Ik stond er bij”, yang di dalamnya juga termuat kisah petualangan Oeska” (Salim, 1977:378).

Dapat dikesan pula bahwa para aktivis PKI yang dibuang ke Digul itu kebanyakannya berusia masih muda (antara 20-40 tahun). Di tahun 1920-an, penguasa kolonial Hindia Belanda mulai panik melihat gerakan rakyat yang makin keras menentang Pemerintah, khususnya dari kalangan pengikut komunis. Karena panik, mereka main tangkap dan main buang. Gubernur Jendral menggunakan “exorbitante rechten”-nya yang seolah tanpa batas itu. Kebanyakan mereka yang ditangkap itu dibuang ke Digul. Hendaknya budaya panikan seperti itu jangan ditiru oleh rezim yang berkuasa di Indonesia sekarang.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 14 April 2019


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: