Posted by: niadilova | 09/04/2019

Renung #76: Bohong

Bohong duniaAda seuntai pantun Melayu yang memberi peringatan kepada kita tentang efek buruk dari kebiasaan suka berbohong.

Ikan kakap sinohong / Gulama Ikan duri / Bercakap-cakap suka bohong / Lama-lama jadi pencuri.

Bohong adalah wajah bopeng manusia di dunia. Sifat pembohonglah yang menjadi dasar perbedaan manusia dengan malaikat. Manusia berbohong kepada sesamanya, berbohong kepada dirinya sendiri, malah juga tak segan-segan berbohong kepada Tuhannya.

Apa jadinya jika ramai penduduk dalam sebuah negeri (menikmati) hidup dalam kebohongan yang makin mendarah daging?Apa jadinya jika bohong makin dianggap hal yang biasa dalam sebuah negeri? Dari segala arah bohong diproduksi, makin bertambah-tambah, lebih-lebih lagi di hari-hari belakangan ini. Pemimpin membohongi rakyatnya. Bos membohong anak buahnya. Suami membohongi istrinya. Istri membohongi suaminya. Penghulu membohongi anak kemenakannya. Wakil rakyat membohongi para konstituennya. Pemimpin agama membohongi umatnya. Semua saling berbohong, dan itu terasa makin nikmat, nikmat yang membawa mudarat, seperti candu nikotin. Ini negeri tampaknya makin kelam diliputi oleh awan gelap kebohongan.

Menulislah Buya Hamka, ulama besar teguh pendirian yang pernah dimiliki negeri ini dalam bukunya Bohong di Dunia (Jakarta: Tekad, 1961, Cet. ke-2: 5):

Tidaklah ragu lagi, bahwasanja kemerdekaan suatu bangsa adalah hasil dari kemerdekaan djiwa. Salah satu bukti suatu djiwa jang masih budak, djiwa hamba, adalah kebiasaan berbohong, kebiasaan memungkiri djanji dan kebiasaan tidak bertanggung djawab atas suatu kesalahan jang dilakukan dan tidak mau mengaku diatas suatu perbuatan dari hasil tangan sendiri.

Hamka menyebut pula (hlm.24) bahwa satu kelemahan seorang pembohong ialah bahwa ia pelupa. Pembohong cenderung cepat lupa dengan janji-janji yang telah diucapkannya kepada orang lain. “Orang benar tidak pelupa, karena chajal kebenaran itu senantiasa terbajang…dalam otaknja” (ibid.).

Jadi, jika kebohongan sudah begitu membudaya di kalangan penduduk sebuah bangsa, boleh jadi bangsa itu masih belum merdeka jiwanya, masih bermental hamba sahaya. Lebih-lebih lagi jika pemimpinnya suka berbohong, suka menipu rakyatnya sendiri, maka sangat mungkin ia masih memiliki mental budak.

Teringat pula kita pada untai pantun lain yang merefleksikan akibat buruk dari sifat bohong:

Setali pembeli kemenyan,

Sekupang pembeli ketaya,

Sekali lancung ke ujian,

Seumur hidup orang tak percaya.

Pantun di atas memberi peringatan kepada sesiapa saja: jika sekali Anda ketahuan berbohong, maka seumur hidup orang akan meragukan diri Anda. Sekali Anda kedapatan berbohong, harga diri Anda bisa jatuh selama-lamanya di mata orang banyak. Wibawa atau mantagi dalam diri Anda akan menggerut seperti karet terbakar, dan sulit dikembalikan ke posisi normal. Ibarat kata pepatah: ulah nila setitik rusak susu sebelanga. Kalaupun ingin memperbaiki citra diri, diperlukan waktu yang panjang, melakukan beratus kali kebenaran, baru kemudian orang dapat mempercayai dirinya lagi.

Beberapa ahli filsafat dan peneliti – Aristoteles, J.J. Rosseau, Stanly Hall, Ferrani, untuk sekedar menyebut beberapa nama – mengatakan bahwa kebiasaan berbohong adalah gejala kejiwaan yang diwariskan dari masa kanak-kanak. Jika seseorang, karena kondisi keluarga dan lingkungan, sudah dibiasakan berbohong ketika dia masih kecil, maka kebiasaan itu akan mengendap dalam jiwanya dan akan dibawanya sampai dia besar, bahkan sampai tua dan mati. Maka dapat dibayangkan jika si anak itu kelak menjadi seorang pemimpin, dalam kategori apapun: kepala rumah tangga, kepala desa, kepada polisi,……, kepada negara. Tentu secara sadar atau tidak ia akan memviralkan dan menularkan sifat bohong itu kepada bawahanannya, menjadikannya sebagai kebiasaan yang lama-kelamaan akan dianggap sebagai sesuatu yang normal saja.

Seorang pembohong miskin djiwanja, walau hartanja bertumpuk”, kata Hamka lagi dalam karyanya yang sudah dirujuk di atas (hlm.39). “Kekajaan harta jang ada pada tangannja tidak akan dapat menolong memperbaiki kemiskinan djiwa itu. Bahkan boleh dipastikan bahwa harta benda jang diperdapatnja itu, sebagian besar tidak dari djalan jang halal.”

Mungkin tidak ada diri manusia, dalam masa hidupnya di dunia ini, yang tidak berbohong. Hanya Tuhanlah yang benar-benar tahu berapa kali seseorang berbohong selama hidupnya. Akan tetap Dia adalah Yang Maha Pengampun.

Manusia cenderung menyembunyikan kebohongannya ketimbang menceritakannya kepada orang lain. Oleh sebab itulah orang menciptakan instrumen untuk mengetahui apakah seseorang berbohong atau tidak. Akan tetapi kini tampaknya bohong sudah diumbar secara terbuka. Orang tidak malu lagi berbohong di muka orang ramai. Pemimpin tidak canggung lagi membohongi rakyatnya secara terang-terangan. Bohong sudah tidak lagi dianggap sebagai aib, tapi sudah merupakan suatu kebutuhan, malah mungkin dipandang sebagai sebuah prestise.

Bila di sebuah negeri kebohongan sudah bersimaharajalela, bila orang merasa bangga bisa berbohong dan menipu orang lain secara terang-terangan, bila pembohong sudah dipuja-puja, maka itu mungkin merupakan suatu pertanda bahwa bangsa yang mendiami negeri itu sedang menuju ke arah kebangkrutan moral yang parah, yang bisa melenyapkan eksistensi mereka dari muka bumi ini.

Leiden, 9 April 2019

Advertisements

Responses

  1. Benar.Kebohongan kebanyakan untuk memperbudak seseorang dalam pikirannya,dan pula,dengan jiwa yang suka berbohong untuk menjaga nama baik reputasinya dari orang-orang sekitarnya.

  2. Reblogged this on Bukit Tinggi Salingka Agam Heritage.

  3. Tarimo kasih banyak, Sutankurai.

  4. Sama-sama Engku Suryadi..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: