Posted by: niadilova | 08/04/2019

PPM #205: Kanido Rachman Masjhoer: Putra Minang Pertama yang Masuk Koninklijke Militaire Academie, Breda (1939)

DE EERSTE MINANGKABAUER.

    De “Sum.[atra] Bode” verneemt uit betraubare bron, dat de heer Kanido Masjhoer, zoon van den heer Kahar Masjhoer, Hoofdonerwijzer te Fort de Kock, aan het einde dezer maand met het s.s. Dempo naar Hollad zan vertrekken.

   De heer Kanido Masjohoer is namelijk als eerste Minangkabauer toegelaten tot de Koninklijke Militaire Academie te Breda.

     Voor hem is Holland niet meer vreemd, omdat hij dit land reeds eerder leerde kennen, toen hij als afgevaardigde van de N.I.P.V. de Wereld Jambore, welke in 1937 in Nederland werd gehouden bijwoonde.”

***

Laporan surat kabar De Sumatra Post (Medan), edisi 24 Juli 1939 yang memberitakan seorang putra Koto Gadang yang masuk pendidikan militer di Belanda. Sebagaimana dapat disimak dalam laporan di atas, Kanido tercatat sebagai orang Minangkabau pertama yang diterima (diizinkan belajar) di Koninklijke Militaire Academie (Akademi Militer Kerajaan Belanda) di Breda (de eerste Minangkabauer toegelaten tot de Koninklijke Militaire Academie te Breda).

Kanido Rachman Masjhoer adalah anak lelaki Kahar Masjhoer, Guru Kepala (Hoofdonderwijzer) di Fort de Kock. Sebagaimana sudah diberitakan dalam rubrik ini minggu lalu (31 Maret 2019), Rachman Masjhoer, sang ayah, juga sudah pernah ke Belanda (1910) bersama teman sekampungnya, Roestam, untuk melanjutkan pelajarannya atas biaya dari Studiefonds Kota Gedang (lihat juga: Algemeen Handelsblad, 31-07-1910).

Laporan di atas juga menyebutkan bahwa, sebagaimana halnya sang ayah, bagi Kanido negeri Belanda sudah tidak asing lagi. Rupanya anak muda ini adalah mantan anggota Pramuka Hindia Belanda (Nederlands-Indische Padvinders, disingkat N.I.P.V.) yang pernah mengikuti Jambore Pramuka Internasional di Belanda pada tahun 1937.

Kanido Rachman Masjhoer, yang baru lulus Openbare AMSB (lihat: Bataviaasch Nieuwsblad, 02-06-1939) berhasil lulus di bagian infanteri di Koninklijke Militaire Academie di Breda pada bulan Juli 1939. Bulan Januari 1940, ia mendapat promosi dari cadet ke cadetkorporaal titulair (lihat: Adrianus Kojongian dalam blognya: http://adrianuskojongian.blogspot.com/2014/09/tentang-lulusan-kma-breda.html; dikunjungi 04-04-2019).

Dalam catatan sejarah, sebenarnya ada seorang anak Sumatera lainnya yang lebih dulu diterima di Akademi Militer Belanda di Breda bagian kavaleri. Namanya Achmad Salim (lihat: Bredasche Courant, 03-08-1921, rubrik ‘Stadsnieuws: Kininklijke Militaire Academie’; Maasbode, 04-08-1921, rubrik ‘LAND- EN ZEEMACHT: KOL.MIL. ACADEMIE’). Tapi tak ada informasi lebih lanjut daerah asal dan latar belakang etnis anak muda ini. Juga tidak ditemukan indikasi bahwa ia adalah bagian dari keluarga Sutan Salim (ayah Haji Agus Salim).

Achmad Salim sudah tercatat sebagai cadet di Akademi Militer Breda sejak 1919. Ia tinggal di Alkmaar dan bersama Soetan Goenoeng Moelia, Zainuddin Rasad (asal Pariaman), Mohammad Iljas, dan Ibrahim Datoek Tan Malaka juga aktif dalam kepengurusan organisasi ‘Soematra Sepakat’ yang dibentuk oleh para pelajar Indonesia asal Sumatera yang bersekolah di Belanda pada tahun 1919 karena timbulnya pertentangan dalam Perhimpunan Hindia/De Indische Vereeniging (lihat: De Sumatra Post, 31-07-1919; lihat juga Harry A. Poeze, Di Negeri Penjajah, 2008: 132).

Menurut Adrianus Kojongian dalam blognya yang sudah disebutkan di atas, dengan merujuk koran Het Vaderland, 03-08-1921, Achmad Salim tidak dapat berpartisipasi dalam ujian kenaikan dari tahun pertama ke tahun kedua karena sakit dan oleh sebab itu diberikan status ‘bersyarat’ (Voorwaardelijk). Demikian juga halnya dengan Raden Mas Soedjono, tapi bukan karena sakit (lihat: De Preangerbode, 25-08-1921, rubrik ‘Nederland: OVERGANGEXAMENS KON. MILITAIRE ACADEMIE’). Meskipun demikian, keduanya berhasil mendapatkan promosi sebagai cadetsergeanttitulair terhitung sejak 1 Juli 1921 (lihat: De Telegraaf, 05-07-1921).

Tentang riwayat hidup Kanido Rachman Masjhoer Dt. Maharadjo, demikian nama lengkapnya, ditemukan catatan: lahir tgl. 13 Oktober 1919 (berkemungkinan di Koto Gadang) dari pasangan Kahar Masjhoer (ayah; lihat: https://niadilova.wordpress.com/2019/04/08/ppm-204-studiefonds-koto-gadang-mengirim-2-pelajar-ke-belanda-1910/; dikunjungi 15-04-2019) dan Lamina (ibu). Tahun 1936 sampai 1939 Kanido bersekolah di AMS Batavia, 1939 masuk Koninklijke Militaire Academie, Breda. Prof. Zulhasril Nasir, seorang intelektual Minangkabau di Jakarta, menginformasikan kepada saya bahwa Kanido bergabung dengan pasukan Cakrabirawa di Zaman Sukarno. Kanido menikah dengan Zoeleka dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Kharry. Kanido meninggal di Jakarta pada 23 Agustus 1985 dalam usia 65 tahun (lihat: https://www.geni.com/people/Kanido-Rachman-Masjhoer-Dt-Maharajo/6000000005022851738; dikunjungi 15-04-2019).

Mudah-mudahan para pembaca yang mengetahui dapat menukuk-tambah catatan pendek ini. Akan tetapi dapat diduga bahwa pada masa itu, orang seperti Kanido, setelah selesai dengan pelajarannya di Belanda, akan kembali ke Indonesia sebagai tentara KNIL (Koninklijk Nederland-Indisch Leger). Apakah ia masih hidup sampai zaman Indonesia merdeka atau terbunuh dalam perang? Wallahualam!

Namun, yang penting dicatat di sini adalah: bahwa ternyata ada juga orang Minangkabau yang masuk KNIL, satu profesi yang, walaupun bergengsi, amat sangat jarang diminati oleh orang Minangkabau di Zaman Kolonial.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 7 April 2019


Responses

  1. Tambahan informasi mengenai alm. Brigjen (purn) Kanido Rachman Masjhoer Dt. Maharajo.

    Lahir : 13 Oktober 1919
    Meninggal : 23 Agustus 1985

    Beliau pulang ke Indonesia bersama tentara Belanda yg membonceng tentara sekutu yang datang untuk menduduki Indonesia sesudah Jepang kalah pada waktu PD 2.
    Sebelumnya beliau sempat bersama tentara Belanda ditawan oleh balatentara Jerman yang menduduki Belanda pada waktu PD 2.

    Saya tidak punya informasi kapan dan dimana beliau menyeberang dan bergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia.

    Beliau pernah menjadi atase militer di Kedutaan besar Indonesia di Rusia dengan pangkat letkol. Pulang kembali ke tanah air menjelang atau segera sesudah peristiwa Gestapu.
    Jabatan terakhir adalah Direktur Peralatan Angkatan Darat.

    Sesudah pensiun beliau diangkat oleh kaumnya suku Piliang di Koto Gadang menjadi penghulu dengan gelar Datuk Maharajo.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: