Posted by: niadilova | 01/04/2019

PPM #204: Studiefonds Koto Gadang Mengirim 2 Pelajar ke Belanda (1910)

Sumatranen naar Nederland.

    Naar Nederland vertrokken, naar de “Sumatra Bode” vernaam, twee Maleische candidaat-onderwijzers, Roestam en Kahar Masjhoer, die kort geleden de opledingschool te Fort de Kock verlaten hebben. Zij stellen zich voor, in Nederlands de hoofdakte te halen, om daarna op te treden als onderwijzers aan een Europesche school te Kota Gedang, Hun studie wordt bekostigd door de Maleische Vereeniging  “Studiefonds”, te Kota Gadang.

    Zij maken de reis onder leiding van den wd. Adsistent-resident Westenenk, die zes maanden verlof naar uropa heeft bekomen.”

***

Laporan surat kabar Algemeen Handelsblad (Amsterdam) edisi 31 Juli 1910 tentang pengiriman dua pelajar, kandidat guru, yang baru tamat opleidingschool Fort de Kock (Bukittinggi) ke Belanda. Kedua pelajar itu bernama Roestam dan Kahar Masjhoer. Keduanya adalah putra Koto Gadang.

Laporan di atas menjelaskan bahwa keberangkatan mereka ke Belanda dan biaya hidup mereka selama berada di sana didanai oleh Studiefonds (Yayasan Beasiswa) Koto Gadang. Menarik sekali bahwa Studiefonds Koto Gadang ini, walau baru berdiri secara resmi pada awal 1910 (lihat: Bataviaasch Nieuwsblad, 29-01-1910), ternyata langsung sudah dapat mengirimkan kedua pelajar ini ke Belanda. Kelak studiefonds ini bertahan lebih dari 20 tahun dan memiliki cabang di beberapa kota tempat perantauan orang Koto Gadang, seperti Betawi (Batavia), Bandung, dan Medan. Studiefonds Koto Gadang telah memberikan banyak bantuan keuangan  kepada para pemuda Koto Gadang yang belajar di beberapa sekolah sekuler di Jawa dan  di Sumatera sendiri, bahkan  sampai ke Belanda, seperti pengiriman Roestam dan Kahar Masjhoer ini.

Tujuan utama Sudiefonds Koto Gadang adalah untuk meningkatkan pengetahuan anak-anak Koto Gadang sehingga dapat memperoleh “pegetahoean [dengan] menempoeh djalan jang halal dan menghindarkan [diri] dari pada segala kedjahatan jang biasanja terbit pada mereka jang tiada berilmoe, karena sebenarnjalah kekoerangan ilmoe itoe djoea jang kerap kali membawa manoesia ini kepada berbagai bagai  kebentjanaan seperti tiap2 ilmoe [juga] membawa manoesia kepada bermatjam matjam poela kebaikan dan kesentosaan” (dikutip dari artikel “STUDIEFONDS KOTA GEDANG”, dalam SOEARAKOTA GEDANG, No. 12, Taoen ke-X, December 1925).

Laporan di atas juga menyebutkan bahwa Roestam dan Kahar Masjhoer berangkat ke Belanda ditemani oleh L.C. Westenenk (Tuan Siteneng), Asistent Residents Agam Tua, yang kebetulan akan bercuti (verlof)  ke Eropa (Belanda).

Di Belanda, Kahar Masjhoer ditempatkan di Deventer dan pada 21 Mei 1912 berhasil lulus dalam Acte-examens L.O. (Lager Onderwijs) di kota itu (Algemeen Handelsblad, 22-05-1912). Sementara Roestam (tidak disebutkan kota tempat tinggalnya di Belanda, tapi kemungkinan di Leiden) lulus dalam  ujian “kleinambtenaarexamen” dengan  nilai ruim voldoende (De Preangerbode, 21-05-1912). ). Kahar kembali ke Hindia Belanda (Indonesia) selepas menerima ijazahnya (lihat: “Inlandsche Onderwijzers met Ned. Aktes”, Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 09-10-1912). Demikian juga tampaknya dengan Roestam.

Tak banyak berita lanjutan tentang Roestam yang diperoleh. Sementara Kahar Masjhoer tampaknya meniti karirnya sebagai guru setelah kembali ke tanah airnya. Kahar lahir di Koto Gadang pada 14 November 1886 dari pasangan Kani St. Pangeran (ayah) dan Radjoe (ibu), menikah dengan Lamina dan beroleh 3 orang anak: Radjani Marjam (perempuan), Kanido Rachman (laki-laki; https://niadilova.wordpress.com/2019/04/08/ppm-205-kanido-rachman-masjhoer-putra-minang-pertama-yang-masuk-koninklijke-militaire-academie-breda-1939/; dikunjungi 14-04-2019), dan Risjad Mizalfi (lihat:https://www.geni.com/people/Kahar-Masjhoer/6000000005789120159; dikunjungi 13-04-2019). Kahar pernah ditugaskan antara lain di Lamongan, Magelang (Bataviaasch Nieuwsblad, 22-06-1921), Muara Enim, Pariaman (Nieuwe Rotterdamsche Courant, 06-09-1926), Fort de Kock (Bukittinggi) dan Padang (Soerabaijasch Handelsblad, 02-07-1935). Dalam karirnya, Kahar mencapai pangkat tertinggi sebagai Hoofdonderwijzer (kepala sekolah) untuk H.I.S. (Holland-Inlandse School). Kelak, pada 1939, salah seorang anak lelaki Kahar, Kanido Rachman Masjhoer, disebut-sebut sebagai anak Minangkabau pertama yang berhasil masuk ke Koninklijk Militaire Academie di Breda, Belanda (De Sumatra Post, 24-07-1939). Kahar Masjhoer meninggal tanggal 10 November 1965 dalam usia 78 tahun (tidak disebutkan tempat meninggalnya, berkemungkinan di kampungnya di Koto Gadang atau mungkin di Jakarta, tempat perantauan anaknya, Kahar Masjhoer) (lihat:https://www.geni.com/people/Kahar-Masjhoer/6000000005789120159; dikunjungi 13-04-2019).

Demikian cuplikan kisah dua orang putra Koto Gadang yang disekolahkan oleh Yayasan Beasiswa (Studiefonds) Koto Gadang ke Belanda pada tahun 1910.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu, 31 Maret 2019

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: