Posted by: niadilova | 25/03/2019

PPM #203: Chalid Salim Minta Segera Dikirim Saja ke Digul (1928)

“Minta dikirim ka Digoel?

    Bagi kaoem pergerakan communist Digoel itoe boekan asing lagi, jalah tempat marika itoe berdiam boeat selamanja, dengan tidak mempoenjai harepan lagi boeat koembali ke tanah airnja. Setengah dari communisten jang dapet bagian boeat di Digoelken telah djadi soesah pikirannja, tapi setengahnja jang belon di Digoelken dengen segala kesenangan ia minta soepaja ia dapet dikirim kesana.

     Toean Chalid Salim jang boekan asing lagi dalem doenia pergerakan communist, kendatipoen ia ada bertoekar haloean dengen soedaranja toean August Salim, masih teroes hatinja merah dengan tida loentoer loentoernja seperti kebanjakan communisten jang telah berbalik djadi spion boeat masoeken kawan kawannja jang doeloe masoek dalem pendjara. Menoeroet kabar jang didapet oleh “P[elita] Andalas” bahoea toean terseboet soeda madjoeken permintaan sendiri soepaja ia bisa dikirim ka Digoel dimana ia bisa hidoep bersama sama dengan kawannja temen separtij.

     Djika benar begitoe njatalah toean Chalid Salim tida maoe moendoer moendoernja dalem pergerakan jang doeloe itoe. Apakah itoe permintaan aken terkaboel atawa tida, itoelah kita toenggoe sadja.”

***

Laporan surat kabar Sinar Sumatra, No. 16, Taon ka 24, HARI KEMIS 19 JANUARI 1928 – 27 TJAP-DJI-GWEE 2478 – 26 RADJAB 1346 tentang tantangan propagandis komunis Abdul Chalid Salim kepada otoritas kolonial Hindia Belanda yang minta untuk segera dikirim ke Digul di Papua New Guinea.

Sebagaimana sudah sama diketahui, Chalid Salim akhirnya memang dibuang ke Digul dan mendekam selama 15 tahun di “Kamp Konsentrasi di Nieuw-Guinea” yang penuh malaria dan menjadi momok bagi kaum pergerakan itu. Semuanya itu diceritakannya dalam memoarnya Vijftien jaar Boven Digoel: concentratiekamp in Nieuw-Guinea (Amsterdam: Contact, 1973) yang amat menarik itu, yang telah diindonesiakan oleh Hazil Tanzil dan J. Taufik Salim menjadi Lima Belas Tahun Digul: Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea (Jakarta: Bulan Bintang, 1977).

Abdul Chalid Salim bercerita (dirujuk dari versi terjemahan yang disebutkan di atas): pada bulan Juli 1928 (jadi sekitar 6 bulan setelah laporan Sinar Sumatra ini), akhirnya ia diberangkatkan dari Pelabuhan Belawan, Medan, menuju Digul (h.135). Kebesaran nama ayahnya, Jaksa Soetan Mohamad Salim, dan kakaknya, H. Agoes Salim, republiken yang terkenal itu, tidak dapat mengubah keputusan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang memberikan “hak Exorbitant” yang seolah tanpa batas kepada sang Gubernur Jenderal untuk mengirimnya ke Digul, walau sempat membuatnya tertunda beberapa lama (ibid.)

Setelah kapal K.P.M. yang membawa Chalid Salim yang nomor tahanan 925 sampai di Tanjung Priok, Batavia, ia dan teman-temannya yang senasib diinapkan sehari di penjara Glodok. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke arah timur dengan kapal K.P.M. yang lain yang sampai di Surabaya pada pagi harinya.

Di Surabaya Chalid Salim dan kawan-kawannya berganti kapal. Mereka ganti dibawa dengan kapal Albatros yang akan melayarkan mereka lebih jauh lagi ke timur. Albatros singgah di Makassar dan Chalid Salim dkk. “diinapkan” di penjara kota terbesar di Indonesia Timur itu selama tiga hari. Kemudian, kapal yang bercat putih itu (oleh sebab itu Albatros sering juga disebut “Kapal Putih”) melanjutkan pelayarannya dan sampai di Digul tiga hari kemudian, setelah singgah di beberapa pelabuhan lagi, seperti Ambon, Banda, Kisar, Tual, dan Dobo (tapi para tahanan tidak diturunkan dari kapal), lalu melintasi Laut Arafura, kemudian barulah memasuki mulut Sungai Digul, masih berlayar memudiki sungai yang besar, panjang dan penuh buaya itu lagi, barulah sampai di kamp isolasi Tanah Merah.

Buku Lima Belas Tahun Digul mengisahkan hari-hari yang dilalui Chalid Salim di Tanah Merah, sampai akhirnya ia dan teman-temannya diungsikan ke Australia menyusul pendudukan tentara fasis Jepang atas Indonesia pada Maret 1942 yang membuat orang Belanda yang sudah lama hidup begitu enak di tanah jajahannya itu lari lintang pukang.

Sejarah telah mencatat bahwa akhirnya Chalid Salim memilih menjadi orang Nasrani dan tinggal di Belanda, negeri penjajah yang penguasaan oleh sebagian penduduknya terhadap tanah airnya dulu amat dibenci dan ditentangnya. Chalid  secara resmi masuk Kristen sejak masih berada di Digul lewat perkenalan dengan penginjil pater C. Meuwese yang bekerja menasranikan suku-suku Papua di sekitar Digul (lihat bukunya, versi terjemahan, 1977, hlm. 155, 309) dan mendapat nama baptis Ignatius Franciscus Michael Salim (sering disingkat I.F.M. Salim). Ia dibaprtis oleh pater C. Meuwese di Digul pada 25 Desember 1942 (hlm.155). Mungkin karena alasan agama inilah Chalid akhirnya memilih pergi ke Belanda daripada kembali ke kampung halamannya atau tinggal di Indonesia.

I.F.M. Salim tinggal di Belanda sampai akhir hayatnya. Ia antara lain pernah bekerja di Kedutaan Republik Indonesia di Den Haag. Pada 10 Maret 1985, anak Koto Gadang kelahiran Tanjung Pinang 24 November1902 itu berpulang dan dimakamkan di Pemakaman Rijswijk Eikelenburg, Zuid-Holland.

Koto Gadang memang nagari Minangkabau yang paling fenomenal. Sejarah telah mencatat bahwa dari sana lahir manusia yang tak gamang “menyedot” berbagai macam paham dan ideologi dunia, sejak yang paling kiri sampai yang ultra kanan.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 24 Maret 2019


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: