Posted by: niadilova | 22/03/2019

PPM #200: Gadis-gadis Koto Gadang Membentuk Organisasi (1925)

Meisjedvereeniging Kota Gedang

           Pada hari Ahad tanggal 1 Februari [1925] ini telah dilansoengkan di roemah Sekolah Renda Keradjinan Amai Setia atas permoefakatan beberapa intellectuele meisjes dinegeri kita dengan pimpinan Gadis2 itoe sendiri permoesjawaratan akan mentjari kata jang semoefakat dan roendingan jang seoekoer oentoek mendirikan seboeah Meisjes Vereeniging. Setelah doedoek beroending meadoe moefakat, tetaplah kemaoean jang hadir, kira2 doea poeloeh orang gadis intellectuals, meatjoe2 mendirikan seboeah Meisjes Vereeniging K. Gedang. Dan pada keesokan harinja dioelang rapat itoe jang dihadiri oleh 60 gadis-gadis. Waktoe itoe ditoeliskanlah nama nama leden jang banjaknja 33 orang. Pada waktoe menoelis ini Vereeniging itoe telah mempoenjai 55 orang lid, jang paling dibawah tamat sekola H.I.S.

Haloean Vereeniging ini ialah menoeroet keterangan Presidentenja setelah ia diintervieuw Soera [Kota Gedang] semata mata hendak menjadarkan kaem iboe tentangan memperhaloes boedi pekerti gadis gadis negeri kita dengan berdasar Minangkabau menoeroet djalan bertolong tolongan dan memperhoeboengkan selatoerrahim pada tiap tiap waktoe dan tempat, sambil memperloeas pemandangan dan memperdalam pengetahoean jang lajak bagi gadis jang terpeladjar.

Hal ini, menoeroet keterangan Presidente terseboet ialah akan ditjapai dengan meadakan boekoe boekoe seperti: Gracieuse, De Vrouw en har Huis, Practische wenken voor de huishouding dan sebagainja.

Boeat sementara diambil 1½ djam waktoe pada tiap2 hari Isnajan petang hari datang berkoempoel dengan membawa pendjahitan masing-masingnja lid keroemah sekolah K.A.S. akan tambah menambah kepandaian sesama lid.

Diangkat mendjadi Bestuur jang pertama kali, dengan soeara jang terlebih banjak, gadis gadis:

           Emma Jahja         Presidente

            Zaimal                 Secretares

            Zakiah                 Penningmeesteres

Soeara Kota Gedang mendo’akan dengan djalan ini moedah moedahan landjoetlah oesianja Meisjes Vereeniging ini akan mendjadi semarak bagi negeri dan demikianlah atas permintaan Bestuur Vereeniging ini Soeara [Kota Gedang] menjampaikan harapan Vereenging ini kepada padoeka angkoe angkoe pembatja, moga moga berkat rahim hati angkoe angkoe menjokong Meisjesvereeniging ini, dengan do’a dan djoega demi sekiranja ada diantara pembatja ini terlebih2 dari pihak kaoem iboe jang soeka mendermakan kitab-kitab atau boekoe-boekoe jang akan boleh dipegoenakan Vereeniging ini, Vereeniging terseboet akan soeka menerimanja dengan beriboe terima kasih.

Demikianlah pengharapan Bestuur Meisjes Vereeniging K.Ged.”

***

Laporan koran nagari Soeara Kota-Gedang, No. 2, Tahoen ke X, Februari 1925 tentang pembentukan sebuah organisasi keputrian di Koto Gadang. Disebutkan bahwa pada tanggal 1 Februari 1925 sekitar 20 orang gadis Koto Gadang yang terpelajar berkumpul di rumah Kerajinan Amai Setia (KAS). Diprakarsai oleh Rakena Puti, KAS didirikan pada 11 Ferbruari 1911, kemudian menjadi berkembang di bawah pimpinan Rohana Kudus. Tujuan utama KAS ialah untuk meningkatkan derajat kaum wanita Koto Gadang, dan Minangkabau pada umumnya, dengan memberi pelajaran menulis, membaca, berhitung, urusan rumah tangga, etiket, dan kerajinan tangan untuk meningkatkan keterampilan dan ekonomi rumah tangga mereka.

Laporan di atas menyebutkan bahwa dalam pertemuan selanjutnya, terbentuklah kepengurusan Meisjes Vereeniging Kota Gedang tersebut, yaitu: Emma Jahja sebagai Presidente-nya, Zaimal sebagai Secretares, dan Zakiah sebagai Penningmeesteres (Bendahari). Tujuan organisasi ini sejalan dengan KAS, yaitu “semata mata hendak menjadarkan kaem iboe tentangan memperhaloes boedi pekerti gadis gadis negeri [Koto Gadang] dengan berdasar Minangkabau menoeroet djalan bertolong tolongan dan memperhoeboengkan selatoerrahim pada tiap tiap waktoe dan tempat, sambil memperloeas pemandangan dan memperdalam pengetahoean jang lajak bagi gadis jang terpeladjar.

Laporan Soeara KotaGedang di atas merekam antusiasme gadis-gadis Koto Gadang untuk bangkit mengejar ketertinggalan mereka dari kaum laki-lakinya. Pada masa itu (1920an), ketika kebanyakan kaum perempuan di nagarinagari lain di Minangkabau, bahkan di Indonesia, masih terkungkung dalam kekolotan dan buta huruf, gadis-gadis Koto Gadang sudah mengecap pendidikan modern ala Eropa/Belanda, pintar berbahasa Melayu tinggi dan Belanda dan ada yang bekerja di instansi Binnenlands Bestuur Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Seperti dapat dikesan dalam laporan di atas, mereka membaca buku-buku dalam bahasa Melayu dan Belanda.

Namun, gadis-gadis Koto Gadang di zaman itu terkungkung dalam peraturan adat yang keras di mana mereka hanya diperbolehkan menikah dengan laki-laki asal Koto Gadang saja. Sebaliknya, laki-laki Koto Gadang boleh menikah dengan wanita dari nagari atau bahkan etnis lain. Pada masa itu sudah mulai terdengar suara-suara dari pihak kaum wanita Koto Gadang yang memprotes aturan adat yang kaku itu (lihat: Pandji Poestaka, No.37, Tahoen 1, 13 September 1923, hlm. 12-13).

Demikianlah sedikit tambahan informasi seputar gerakan kaum wanita Koto Gadang dalam meraih kemajuan pada paroh pertama abad ke-20.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 3 Maret 2019

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: