Posted by: niadilova | 22/03/2019

PPM #199: Landjoemin Dt. Toemanggoeng kembali ke Batavia (Januari 1928)

Berangkatnja toean L. Datoek Toemanggoeng

      Berangkatnja Patih pada pamerenta.

      Bertitel penghoeloe dalem adat.

      Berdarah Minangkabau, berhati nationalist.

      Berkata banar, berdjalan loeroes.

            Berhoeboeng dengan amannja negri pada waktoe jang achir ini, maka oleh pamerenta telah dikabarkan pada toean L. Datoek Toemanggoeng jang mendjadi Patih dan ter beschikking pada Resident di Sumatra Barat ini, soepaja toean terseboet koembali lagi ke Batavia ka tempat bermoela.

            Begitoelah kemaren dengan menoempang kapal Van Lansberge toean terseboet serta familienja berangkat koembali ka Betawi dengan meninggalkan tempat toempah darah toean terseboet.

[…]

***

Kudungan dari laporan Sinar Sumatra, No. 13, Taon ka 24, HARI SENIN  16 JANUARI 1928 – 24 TJAP-DJI-GWEE 2478– 23 RADJAB 1346) tentang kembalinya Landjoemin Datoek Toemanggoeng ke Batavia bulan Januari 1928.

Landjoemin adalah salah seorang intelektual Minangkabau pertama yang mendapat pangkat Patih dalam administrasi Pemerintahan Dalam Negeri (Binnenlands Bestuur/BB) Kolonial Hindia Belanda. Beliau berasal dari Sungai Puar. Istri beliau, Rangkayo Chailan Sjamsoe, adalah seorang penggerak emansipasi wanita di zamannya dan juga propagandis bahasa Esperanto di Asia Tenggara.

Laporan di atas menjelaskan kepulangan Landjoemin kembali ke Batavia setelah beberapa saat lamanya berada di Sumatera Barat untuk menyelidiki sekaligus memberi nasehat kepada para pemuka pemerintah dan adat di kampung halamannya itu yang baru saja dilanda huru-hara pemberontakan kaum komunis di Silungkang dan beberapa daerah lainnya di Minangkabau.

Batavia (Gubernur Jendral Andries Cornelis Dirk de Graeff) membentuk satu Komisi yang diketuai oleh Prof. B.J.O. Schiereke untuk menyelidiki penyebab timbulnya kerusuhan tersebut dan mencari solusi yang terbaik untuk mengembalikan rust en orde di Minangkabau. Salah satu anggota Komisi itu adalah Demang Maninjau Darwis Dt. Madjolelo.

Landjoemin bukan anggota Komisi itu. “Saja datang kemari, sengaja saja minta sendiri pada pamerenta, dengan harapan soepaja saja dapat menerangkan pada bangsa saja pendoedoek Minangkabau akan keboeroekkan dan keboesoekkannja communist”, katanya, sebagaimana dikutip oleh Sinar Sumatra dalam keratan lain laporan di atas.

Ketika berpidato di atas kapal Van Lansberge di hadapan ninik mamak dan orang-orang patut menjelang keberangkatannya kembali ke Batavia, Landjoemin antara lain berkata:

Orang Minangkabau sebelomnja berada dibawah pamerentah Belanda telah djoega mempoenjai adat dan agama jang semporna, jang dapat membawak rajat ke djalan jang selamat. Dan sekarang setelah kita berada dibawah pamerenta Belanda jang ada poela memboeat oendang oendang, oleh sebab mana wadjiblah kita ketahoei dan pahami dengan sedjelas djelasnja akan ketiga peratoeran itoe.

            Djikalau sekiranja timboel perselisihan jang bersangkoet dengan adat, djanganlah orang lari pada wakil pamerenta atau lain badan, tapi larilah pada penghoeloe ninik mamak kita. Di bebrapa tempat saja meadakan lezing, dengan mentjeritakan bagaimana keboeroekan dan keboesoekan Tarekat Merah [komunis] itoe, hingga kelihatan dengan njata orang orang kampoeng jang bodo itoe, baroe taoe akan kesesatannja. Pekerdjaan saja itoe ada sangat berbehaja dan mendapat serangan dan tikeman dari kiri dan kanan, tapi kerna saja berdjalan diatas rail kebenaran dan loeroes, Insja Allah sampei di sa’at saja akan berangkat ini adalah dalam selamat sadja, tida koerang soeatoe apa.

Kalau saja tida lekas datang ka Soengei Pear, jaitoe negri saja [sendiri], barangkali tidak mempoenjai tempo lama lagi, itoe negri akan hantjoer leboer poela seperti keadaan di Siloengkang. Beroentoeng anak negri di itoe tempat sesoeda mendengar nasihat saja dengan segera meoendoerkan diri dari itoe Tarekat Merah.

            Toean toean, ninik mamak, djaoehkanlah itoe Tarekat Merah. Boekannja saja tida setoedjoe pada perkoempoelan, atau mehalang halangi akan adanja pergerakan – tida – tapi adakanlah jang tida melanggar pada adat, agama dan wet pamerentah, dan saja nanti akan soeka poela memasoeki itoe perkoempoelan dengan menoendjang dengan bebrapa kekoeatan tenaga saja.

            Kalau oendang-oendang jang tida lamak dihati toean-oean dan ninik-mamak, djanganlah lekas lari pada pemimpin pemimpin jang kebanjakan kepandeiannja hanja berkata-kata bohong sadja, tapi larilah pada pamerenta, poelangkanlah pada wakilnja dengan setjara djalan berdjanjang naik, bertanggah (sic) turun.”

Laporan di atas memberi kesan: Landjoemin disambut hangat di kampung halamannya. Banyak orang melepasnya dengan “meadakan perdjamoean perpisahan antara marika dengan toean Datoek Toemanggoeng, begitoepoen di kota Padang, djoega diadaken itoe matjem perdjamoean” yang “boekan sadja diadaken oleh bangsa Boemipoetra, tetapi bangsa Eropa dan Tionghoa poen tiada poela ketinggalan[…].

Namun, banyak juga orang Minangkabau yang tidak menyukai Landjoemin karena dia dianggap sebagai kolaborator Belanda, satu faktor yang mungkin telah menjadi penyebab kematiannya yang tragis setelah diculik oleh para pelaku Pemberontakan Baso, Maret 1947.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 24 Februari 2019

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: