Posted by: niadilova | 22/03/2019

PPM #188: Pasca Pemberontakan ‘Komunis’ 1926/27: Silungkang Jadi ‘Jinak’

Siloengkang

            Siloengkang adalah negeri ketjil antara Solok dan Sawah Loento. Meskipoen negeri ini begitoe ketjil dan pendoedoeknja tidak seberapa, toch tjoekoep terkenal [di] seloeroeh Indonesia, bahkan sampai ke Eropapoen dikenal orang.

            Sebagaimana orang mengetahoei bahwa disinilah poesat pemberontakan th ,27 berachir, semoea poetranja mendiami kelamboe tembok alias pendjara, malah tiga orang diantaranja, naik tiang gantoengan bahkan seorang Poetri[nya] pernah djadi Digoelisten. Termasjhoernja negeri ini ialah karena keradjinan jang bernama kain tenoen Siloengkang. Sajang, keradjinan jang berharga itoe semakin moendoer, kita koeatir kalau2 kepandaian jang dipoesakai dari nenek mojang semendjak dahoeloe kala itoe akan hilang lenjap sadja.

            Sebeloem pemberontakan terdjadi penghoeloe2 digadji, dus sama djoega sebagai penghoeloe2 dinegeri lain di Minangkabau.

            Tetapi semendjak pemberontakan terdjadi penghoeloe2 digadji tien pop seboelan, kabarnja diambil dari oeang belasting negeri (doeloe oeang seraja). Boeat mentjerdaskan ra’ jat dalam onderwijs oleh Gouvermement diadakannja Gouv. Inl. school dan Meisjes Volkschool. Atas oesahanja anak negeri diadakan Dinijah school. Boeat mendjaga kesehatan ra’jat diadakan Polikliniek, segala ongkosnja ditanggoeng oleh kas negeri. Sesoedah pemberontakan Siloengkang soenji senjap dalam pergerakan, djangankan partij Politiek, perkoempoelan Sociaal jg berdasar agamapoen nihil. Seolah olah anak negerinja tak maoe tahoe segala tindakan ra’jat diseloeroeh Indonesia pada zaman Renaissance ini. Agaknja soedah kematian semangat dan boleh djadi soedah bosan.”

***

Laporan surat kabar Tjamboet (terbit di Padang) No. 49, Tahoen ke I, hari SAPTOE 11 November 1933 tentang keadaan masyarakat di nagari Silungkang di tahun-tahun awal dekade 1930an.

Nagari kecil di dataran tinggi Minangkabau yang identik dengan industri tenunan tradisional itu digambarkan sudah ‘jinak’ selepas “Pemberontakan Komunis” yang tampaknya prematur dan kurang teroganisir. Hanya kurang dari satu bulan, pemberontakan itu berhasil dipadamkan oleh Batavia yang mengirimkan 11 brigade marechausse dengan kapal perang Riemsdijk ke Minangkabau di bawah pimpinan Mayor Rhemrev dan ‘tangan kanan’nya Sersan Lindong asal Menado.

Begitu pasukan marsose itu sampai di Padang pada bulan Januari 1927, Silungkang, salah satu pusat pemberontakan, segera jadi target penyerbuan dan dalam waktu singkat dapat mereka taklukkan. Para pemimpin nagari Silungkang, termasuk seorang perempuan ditangkapi kemudian diseleksi untuk dihukum mati atau didigulkan.

Laporan Tjamboet ini (1933) di atas menggambarkan keadaan nagari Silungkang sekitar 6 tahun selepas pemberontakan itu. Sebagaimana halnya di zaman sekarang, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada waktu itu maumbuak (membujuk) masyarakat Silungkang dengan berbagai program, seperti pemberian honor kepada para penghulu (supaya tidak berlaku kritis lagi kepada Pemerintah), pendirian sekolah-sekolah dan fasilitas kesehatan. Sangat mungkin kebijakan ini adalah rekomendasi dari tim peneliti di bawah pimpinan Prof. B.J.O. Schrieke (yang juga melibatkan Demang Maninjau Darwis Dt. Madjolelo) yang menyelidiki faktor-faktor penyebab terjadinya pemberontakan itu (lihat: Pandji Poestaka, No. 66, Tahoen VI, 17 Agustus 1928, hlm. 114 [Kroniek]). 

Hasilnya, seperti dituliskan oleh wartawan Tjmboet di atas, adalah Silungkang yang sudah “soenji senjap dalam pergerakan, djangankan partij Politiek, perkoempoelan Sociaal j[an]g berdasar agamapoen nihil.” Nagari yang dulu penduduknya sangat kritis itu “seolah olah…tak maoe tahoe [lagi dengan] segala tindakan ra’jat diseloeroeh Indonesia pada zaman Renaissance ini.

 Silungkang yang dulu bergelora dan dinamis itu, kini (1933) digambarkan sudah adem ayem. Industri  “keradjinan [mereka] jang bernama kain tenoen Siloengkang” pun “semakin moendoer”, yang dikuatirkan akan lenyap jika tidak segera direvitalisasi.

Agaknja [rakyat Silungkang] soedah kematian semangat dan boleh djadi soedah bosan”, komentar wartawan Tjamboet itu mengakhiri laporannya.

Sejarah penaklukan selalu akan berakhir dengan kehancuran moral. Dulu Silungkang dan banyak daerah lain di Nusantara mengalaminya di bawah laras bedil dan meriam tomong Belanda. Kini…Indonesia tampaknya mengalaminya lagi di bawah invisible hands yang entah milik siapa.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 9 Desember 2018

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: