Posted by: niadilova | 22/03/2019

PPM #185: Dr. H. Abdoellah Ahmad Wafat (24 November 1933)

Dr. H. Abdoellah Ahmad

Meninggal dalam tjita tjita jang baik.

Pengantarnja sangat ramai.

                Pada petang Djoemat jl [24-11-1933] Dr. H. Abdoellah Ahmad telah menoetoep mata jang penghabisan diroemah beliau sendiri di Kamp. Djati dalam beroemoer kira2 lima poeloeh tahoen.

                Toean ini memang soedah lama dalam keadaan sakit, hingga badannja kelihatan djaoeh koeroesnja dari biasa. Sebab itoe selaloe ia tinggal di roemah dan tidak dapat melakoekan oeroesan beliau sebagaimana moestinja.

                Siapa Dr. Abdoellah Ahmadi ini, ialah boleh dikatakan seorang diantara pembangoen bangsa dalam semangat Islamisme. Dengan toean Dr. H. [Abdoel] Karim Amaroellah jang pada waktoe sekarang melawat ke Soematra Timoer beliau sangat bersobat kental seperti koekoe dengan daging.

                Kedoeanja pernah mempropagandakan Islam pada beberapa tempat di Sumatra Timoer dan Atjeh jang mendapat samboetan dari pendoedoek Islam disana. Begitoepoen kedoeanja telah mengoendjoengi Mesir (Cairo) sebagai oetoesan dari satoe golongan partij oelama Sumatra Barat, dimana kedoea [orang] ini mendapat titel Dr. disebabkan keahliannja dalam agama Islam.

                Begitoepoen atas oesaha beliau terdiri Persatoean Goeroe2 Agama Islam (P.G.A.I.) dan djoega roemah pergoeroean Adabiah I dan II serta Frobelnja.

                Djoega Sekolah Normaal Islam jang sekarang Mr Mahmoed Joenoes djadi Directeurnja.

                Kira2 doea boelan berselang [September 1933] Dr terseboet telah dianoegerahi satoe bintang perak oleh pemerentah dan seketika itoe diadakan sedikit perdjamoean dan pertemoean oleh moerid Adabiah tanda sama2 bergembira.

Poedjian terhadap marhoem ini boekan sedikit. Tetapi tjelaan poen demikian djoega. Kita tjoema dapat mengatakan, itoe soedah tabiatnja doenia.

                Demikianlah hari Saptoe jl majat beliau ini dikoeboerkan di Djirek Seberang Padang. Ketika hendak diantarkan kekoeboer diroemah beliau di Djati (Normaal Islam) ratoesan orang berhadir; diantaranja beberapa autoriteiten, kepala2 bangsa, orang2 jang ternama dalam berbagäi2 golongan dan perkoempoelan serta moerid2 sekolah beserta goeroe2nja. Dari bilangan Bovenlanden banjak oelama jang terkenal jang datang diantaranja toean Sech Djamil Djambek, rombongan moerid2 Dinijahschool jang dikepalai oleh Rangkajo Rahmah El Yunusy di Padang Pandjang. Ramainja orang jang datang adalah loear biasa.

                Begitoepoen banjak telegram jang diterima oleh pihak famili almarhoem ini menandakan berdoeka tjita. Sebeloem majat beliau diangkat, beberapa pidato telah dioetjapkan atas djasa beliau selagi hidoep dan tanda toeroet berdoeka tjita. Kita harapkan arwah almarhoem ini dilapangkan Allah djoea dalam koeboer hendaknja.

***

Laporan harian Tjamboet (terbit di Padang), No. 54, Tahoen ke I, hari Arba’a 29 November 1933 tentang wafatnya seorang intelektual dan pemimpin agama Minangkabau yang sangat dihormati: Dr. H. Abdoellah Ahmad.

Sebagaimana sudah sama kita ketahui, Dr. H. Abdoellah Ahmad yang lahir di Padang pada 1878 adalah pendiri sekolah pribumi yang berbasis Islam: Perguruan Adabiyah, yang beliau dirikan pada tahun 1909.

Pada tahun 1925 H. Abdoellah Ahmad, bersama sahabat karibnya, H. Abdoel Karim Amaroellah, menerima gelar Doktor kehormatan dari Universitas Al Azhar, Kairo.

Disebutkan juga dalam laporan di atas bahwa Dr. H. Abdoellah Ahmad bersama sejumlah sahabatnya juga telah berjasa mendirikan organisasi Persatoean Goeroe-Goeroe Agama Islam (P.G.A.I.) di Padang pada 1919.

Laporan Tjamboet di atas juga mencatat bahwa Dr. H. Abdoellah Ahmad telah menerima bintang kehormatan dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada bulan September 1933. Dikatakan pula bahwa “poedjian terhadap marhoem ini boekan sedikit” dan “tjelaan poen demikian djoega”.

Memang di kalangan tertentu di Minangkabau, ada yang menuduh bahwa Dr. H. Abdoellah Ahmad adalah “mata-mata” Belanda. Ia sering menulis laporan tentang keadaan kaum Islam di Minangkabau kepada Pusat Otoritas Kolonial di Batavia. Di Leiden University Library saya telah membaca laporannya tentang meningkatnya ketegangan antara kaum reformis dan konservatif di Ulakan yang ditulisnya untuk Directeur van Onderwijs en Eeredienst di Batavia. Kalangan tertentu di Minangkabau juga pernah marah kepadanya karena beliau bersedia menerima dana dari National Loterij untuk Perguruan Adabiyah.

Namun, seperti dikatakan dalam laporan di atas, upek dan puji kepada seseorang, apalagi orang besar sekaliber Dr. H. Abdoellah Ahmad, adalah sesuatu yang “soedah [menjadi] tabiatnja doenia.”

Dari laporan di atas jelas bagi kita bahwa Dr. H. Abdoellah Ahmad wafat pada petang Jumat 24 November 1933 di rumahnya di Jati setelah menderita sakit cukup lama. Jenazah beliau dimakamkan di Jirek Seberang Padang, dilepas beramai-ramai oleh masyarakat banyak dan para pemimpin negeri. Dan mereka yang tak sempat datang mengirim telegram tanda ikut berbelasungkawa. Begitulah adat melepas kepergian orang besar ke pusaranya…dari dulu hingga kini.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 18 November 2018

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: