Posted by: niadilova | 22/03/2019

PPM #183: Perusahaan Bus Antarkota ‘Coupee Nikae’ (1933)

Auto dienst Coupee NIKAE

            Sedjak hari Senin dalam kota [Padang] ini sampai ke Fort de Kock bertebaran programma jang menerangkan bahasa moelai dari hari Senin terseboet telah dilakoekan perdjalanan auto coupee dari Padang-Fort de Kock Vice verca dan moelai berangkatdari tempat Autoverhuurdery Haroen di Kampoeng Djawa.

            Dienst coupee ini berangkat ditetapkan poekoel delapan betoel dari tempat berangkatnja di Kampoeng Djawa dengan tidak merajap mengambil moeatan kesana sini, ja’ni bila soedah tijd poekoel delapan pagi, penoeh tidak penoeh auto itoe teroes berangkat. Sedang dari Boekit Tinggi dienst poela berangkat poekoel 2 dengan tidak poela merajap disana, hanja siapa jang hendak berangkat dari sana moesti datang ke Hotel Nasir di Boekit Tinggi.

            Demikianlah pada hari Selasa kita poenja Administrateur telah memboeat perdjalanan dengan auto terseboet, dari Padang ke Boekit Tinggi dan hari Arbaa dari Boekit Tinggi ke Padang.

            Menoeroet keterangan administrateur kita, memang auto jang sematjam ini dengan tidak merajap lebih dahoeloe jang mana ketika djamnja berangkat teroes berangkat, ada satoe kebaikan bagi seseorang jang perloe beroeroesan dari Padang ke Fort de Kock dan sebaliknja. Sedang kepada kaoem soedagar poen demikian djoega.

            Auto terseboet didjalankan oleh soepir jang berani dan pintar dan pandai mendjaga kemaoean penoempangnja.

            Dalam perdjalanan terseboet, administrateur kita menerangkan tidak pernah mendapat halangan biar poen perkara band botjor atau keroesakan mesin.

            Selainnja dari tempat doedoek loeas, kasoernja poen menjenangkan bagi penoempangnja, karena memakai kasoer angin.”

***

Laporan yang disalin dari surat kabar Tjamboet, No. 32, TAHOEN KE I, Hari Arba’a 13 September 1933 tentang hadirnya satu perusahaan bus antarkota yang melayani trayek Padang – Fort de Kock (Bukittinggi) pulang pergi. Perusahaan otobus ini bernama Coupee Nikae.

Seperti dapat disimak dalam laporan di atas, di Padang, pangkalan perusahaan autobus ini adalah di Kampung Jawa, di tempat penyewaan oto Harun.

Berbeda dengan keadaan sebelumnya, perusahaan oto ini mencoba menerapkan keberangkatan dan perjalanan yang tepat waktu. Penuh tak penuh, oto diberangkatkan tepat pada waktunya. Dari pangkalannya di Padang, armada otobus ini berangkat pada pukul 8 pagi dan yang dari Bukittinggi berangkat pada pukul 2 siang dari Hotel Nasir. Jika diandaikan waktu berangkat armadanya yang di Bukittinggi adalah waktu tibanya admada oto tersebut yang berangkat dari Padang, maka diperkirakan waktu tempuh di perjalanan adalah 6 jam.

Tampaknya sistem pemberangkatan yang tepat waktu itu sangat menguntungkan para penumpang yang melakukan perjalanan bisnis atau tujuan lainnya yang sangat memerlukan ketepatan waktu. Hal ini merupakan “satoe kebaikan bagi seseorang jang perloe beroeroesan dari Padang ke Fort de Kock dan sebaliknja. Sedang kepada kaoem soedagar poen demikian djoega.”

Jadi, Coupee NIKAE adalah salah satu perusahaan otobus yang mencoba memberikan pelayanan yang baik kepada para penumpangnya.

Jika kita boleh berefleksi, dapat dikesan betapa beratnya menerapkan disiplin kepada bangsa kita ini. Di tahun 1930an sudah ada usaha untuk memberikan pelayanan transportasi terbaik dan menyenangkan. Akan tetapi sampai hari ini (85 tahun kemudian) disiplin tepat waktu itu belum juga membudaya dalam masyarakat kita. Malah terkesan makin parah. Lihatlah pelayanan bus-bus antarkota kita hari ini. Dari depan kampus UNP Air Tawar saja, jika naik bus umum ke Pariaman, jalan busnya harus beringsut dulu: sampai satu jam atau malah lebih baru sampai di Simpang Tabing. Hal yang kurang lebih sama ditemukan pada bus-bus antarkota yang melayani trayek ke kota-kota lain. Tampak bahwa di abad ke-21 ini, pelayanan bus antarkota kita tetap masih jauh dari tepat waktu, jauh dari nyaman, dan jauh ketinggalan dari negara-negara jiran. Warisan pelayanan bus yang berdisiplin tinggi seperti yang pernah diterapkan oleh Coupee NIKAE di tahun 1930an sama sekali tak tampak kini.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 4 November 2018

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: