Posted by: niadilova | 22/03/2019

PPM #182: Waterleiding di Koto Gadang (1933)

Air Kota Gedang.

                Sangatlah berbesar hati orang2 Kota Gedang, karena jang ditjita2kannja selama ini soedah diperolehnja.  Air jang bersih dari Goenoeng Singgalang soedah mengalir kedalam Kota dengan ongkos beriboe2 roepiah. Air itoe soedah mendjalar pada tiap2 roemah, dengan pertolongan pemboeloeh besi, seperti terdapat pada tiap2 roemah dikota jang besar.

                Di Matoer, orang masih menanti air, dari Soerga djoega. Dalam boelan jang memboenjikan [r] ja’ ni dari boelan September, October, November, December, Januari, Gebruari, Maart dan April, selaloe penoeh goedang air dibelakang roemah.

                Soenggoehpoen begitoe, maka orang Matoer masih djoega tjita2nja hendak menjoerihkan air dari Oelakan, Padang Gelanggang dimoeka roemah goeroe Atoen kira2 4 2/2 kilo meter dari Pasar Matoer. Moedah2an bangatlah langsoeng tjita2 itoe.

                Negeri Bajoer ditepi danau Manindjau jang permai sangat dimandjakan Alam; tanah loeas dan soeboer, airnja moerah.

                Tiap2 soerau denga tebatnja serta pentjoerannja; tiap2 roemah dengan pipa besinja. Begitoe djoega kampoeng Gasang jang berdekatan dengan Bajoer, malah tiap2 roemah sedia air masoek dapoer.

                Berlainan dengan kampoeng Koekoeban; disini orang minoem air danau; akan tetapi air jang dipandang bersih itoe waktoe matahari mengajoen beroebahlah warnanja karena oesikan ombak, soedah bertjampoer dengan bangkai beras. Oleh karena memikirkan itoe, diperboeatlah seboeah soemoer dari cement ditepi danau itoe oleh an[g]koe Datoek Palindih goeroe Gedang Pensioen akan menjaring air jang kotor itoe.

                Sekarang kami orang Koekoeban semoeanja mengambil air dari soemoer itoelah. Sangatlah kami memoedji akan pekerdjaan beliau itoe.

                Kami orang Koekoeban, menjatakan terima kasih banjak pada beliau, jang telah menjelenggarakan kami (KOEKOEBANIER).”

***

Laporan surat kabar Tjamboet (Padang) No. 32, TAHOEN KE I, Hari Arba’a 13 September 1933 tentang wkemajuan yang telah dicapai dalam penyediaan air minum yang bersih dan sehat untuk masyarakt di beberapa nagari di Luhak Agam.

Dalam laporan di atas disebutkan tentang keadaan penyediaan air minum di Koto Gadang, Matua, Bayua di tepian Danau Maninjau, dan Kukuban, semuanya terletak di Luhak Agam.

Dapat dikesan bahwa nagari Koto Gadang adalah yang paling ‘modern’ sistem penyediaan air minum untuk warganya. Nagari yang dikenal sebagai desa yang termaju di Minangkabau, bahkan mungkin di Pulau Sumatera pada paroh pertama abad 20 lantaran mengadopsi dengan antusias sistem pendidikan sekuler ala Belanda itu sudahmemilik sistem pendistribusian air lewat pipa besi ke rumah-rumah penduduk. Itulah sistem waterleiding yang teknologinya diadopsi dari Belanda. Dengan kata lain, apa yang dikenal sebagai sistem pendistribusian air minum yang dikelola oleh Perusahaan Air Minum (PAM) sekarang sudah diterapkan di Koto Gadang pada tahun 1930an. Tentu saja pembuatan waterleiding ini memakan “ongkos beriboe2 roepiah”. Namun, ongkos yang banyak itu dapat disediakan oleh masyarakat Koto Gadang berkat kekompakan warganya yang sudah memperoleh pendidikan dan pencerahan pikiran, baik yang tinggal di kampung maupun yang berada di rantau. Tentang masa lampau nagari ini, lihatlah kembali buku Elizabeth E. Graves, TheMinangkabau Response to Dutch ColonialRule in the Nineteenth Century. Ithaca: Cornell Modern Indonesian Project, 1981 (Terjemahan Indonesianya, Asal-usul EliteMinangkabau Modern: Respons terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX, diterbitkan oleh Yayasan Obor, 2007).

Apa yang dibuat oleh masyarakat Koto Gadang juga ditiru oleh Nagari Matua. Di nagari itu masyarakat juga membangun sistem waterleiding untuk menyediakan air minum yang bersih dan sehat bagi warganya. Sementara nagari-nagari lain, seperti Bayur dan Kukuban, masih belum memiliki fasilitas penyediaan air minum yang ‘modern’ seperti yang dimiliki oleh Koto Gadang dan Matua.

Laporan di atas memberi kesan kepada kita tentang hebatnya pengaruh kemajuan Barat terhadap desa-desa Minangkabau di awal abad 20.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 28 Oktober 2018

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: