Posted by: niadilova | 18/03/2019

PPM #202: Tarikh Berdirinya “Minangkabau-Instituut” di Amsterdam (1917)

Minangkabau-Instituut

   Pada penghabisan tahoen jang terlampau [1917] di Amsterdam soedah didirikan Minangkabau Instituut. Maksoednja Minangkabau-Instituut ini jalah akan bekerdja sama-sama dengan Koloniaal Instituut mengoempoelkan pengetahoean tentang negeri Minangkabau di Sumatra. Dan lagi akan memberi tempat kepada anak negeri Minangkabau mempeladjari pengetahoean terseboet dan dengan djalan begini soepaja bisa menambah kesedjahteraaan dan kemadjoean rajat Minangkabau dan memperkoeat pertalian pemerintah dengan negeri.

     Soepaja moedah mentjapai maksoed ini, maka pada Instituut Minangkabau terseboet akan bekerdja beberapa orang ambtenaar (archivarissen). Dan djoega akan memberi bantuan, kalau perloe kepada pemeriksaan-pemeriksaan ke Tanah Minangkabau, dan mengirim orang-orang pandai ke Sumatra boeat memeriksa keadaan disana.

     Bestuur dari Instituut terseboet adalah seperti berikoet:

     Th. F. A. Delprat, president, prof. J. C. van Eerde, secretaris, A. H. Kleiweg de Zwaan, penningmeester; J. Ballot; K.H. H. van Bennekom; Dr. C. W. Jansen, Dr. J. P. Kleiweg de Zwaan; prof. Dr.  Ph. S. van Ronkel, W. H. M. Schaade, dan dr. C. G.Veth.”

***

Laporan- surat kabar Neratja (Batavia), No. 91, Tahoen II, hari Rebo 15 Mei 1918 tentang berdirinya Minangkabau Instituut di Amsterdam. Tepatnya, institusi ini resmi berdiri pada akhir November 1917 (lihat De Tijd [’s-Hertogenbosch], 24-11-1917). Laporan Neratja di atas memberitahu kita tentang tujuan pendirian institut ini dan para akademsi dan staf pendukung yang menjalankan dan mengelolanya.

Berdirinya Minangkabau Istituut tidak lepas dari gairah mempelajari daerah-daerah koloni yang sedang marak di Eropa pada masa itu, khususnya di Belanda. Kepulauan Nusantara yang begitu luas dan sangat heterogen dari segi etnik dan budaya amat menarik perhatian Pemerintah dan pada akademisi Belanda. Mereka mempelajari apa saja yang terkait dengan koloni mereka yang luas dan kaya itu. Tentu saja hal itu dilakukan dalam rangka memahami masyarakat dan budaya daerah koloni untuk kelanjutan hegemoni kolonialisme Belanda di tanah jajahan yang kaya itu.

Minangkabau Instituut didirikan menyusul rekan-rekannya yang lain yang sudah lebih dahulu berdiri, seperti Bataksch Instituut (30 September 1908; lihat M. Joustra, Van Medan Naar Padang ent Terug, Leiden: S.C. van Doesburgh, 1915: [i]), Oostkust van Sumatra Instituut dan Zuid Sumatra Instituut (1916), yang merupakan bagian dari upaya-upaya ilmiah untuk mengeksplorasi Pulau Sumatra. Selain yang menyangkut etnis dan budaya lokal di Pulau Sumatera, didirikan pula institut-institut yang mengkaji beberapa etnik dan budaya di pulau-pulau lainnya, seperti Java Instituut, Bali Instituut, dan Celebes Instituut.

Disebutkan dalam laporan di atas bahwa tujuan didirikannya Minangkabau Instituut ialah: bekerjasama dengan Koloniaal Instituut (didirikan tahun 1912) untuk mengumpulkan pengetahuan ilmiah tentang masyarakat, bahasa, budaya, dan geografi Minangkabau yang memberi peluang kepada “anak negeri Minangkabau [sendiri] untuk mempeladjari pengetahoean terseboet dan dengan djalan begini soepaja bisa menambah kesedjahteraaan dan kemadjoean rajat Minangkabau dan memperkoeat pertalian” antara Pemerintah Belanda (Negara Induk) dengan koloninya, dalam hal ini masyarakat Minangkabau.

Nama-nama bestuur (pengurus) Minangkabau Instituut, sebagaimana tertera di atas, adalah akademisi yang sudah lama terlibat dalam penelitian sosial budaya tentang Minangkabau dan Sumatra pada umumnya. Prof. J. C. van Eerde, misalnya, banyak menerbitkan publikasi tentang bahasa dan budaya Minangkabau. Demikian juga dengan, Dr. J. P. Kleiweg de Zwaan, seorang antropolog fisik yang sangat tertarik dengan dunia pedukunan dan penyakit gila (krankzinnig) yang banyak diderita oleh orang Minangkabau. Beliau adalah salah seorang anggota tim peneliti senior dalam Centraal Sumatra Expeditie yang dipimpin Alfred Maass, 1907-1908. Sedangkan Prof. Dr. Ph. S. van Ronkel adalah akademikus Leiden yang banyak meneliti tradisi lisan dan pernaskahan Minangkabau.

Para anggota Minangkabau Instituut membayar kontribusi tahunan sebesar f 25 (De Sumatra Post, 02-03-1918) dan mereka berhak mendapatkan jurnal Minangkabau Instituut yang diterbitkan oleh lembaga ini.

Untuk menata kearsipan institut yang baru didirikan ini, didatangkanlah archivaris A. Joustra yang sudah bekerja pada Bataksch Instituut. Ia dibantu oleh ajunct-archivaris Amaroellah Galar Soetan Mangkoeto, seorang putra Minangkabau generasi peneroka yang bersekolah ke Belanda (De Tijd, ibid.; Het Sumatra Post, 02-03-1918). Berangkat ke Belanda pada September 1906 (sebelumnya menjadi hulponderwijzer di Idi, Aceh), Amaroellah ga[e]lar Soetan Mangkoeto bin Mangkoeto Caijo, demikian nama lengkapnya,  sangat aktif dalam pengajaran bahasa Melayu di beberapa lembaga pendidikan di Belanda, seperti di De Vereeniging voor Voortgezet Handelonderwijs (Openbare Handelsschool)  di Amsterdam dan di Koninklijk Instituut voor de Marine di Willemsoord. Ia juga aktif dalam keredaksian koran Kaoem Moeda, Bandera Wolanda dan berkala Bintang Hindia yang dikelola oleh pensiunan tentara Clockener Brousson.  Amaroellah juga seorang aktivis Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) generasi pertama (didirikan di Leiden oleh Soetan Casajangan Soripada dkk. pada 1908). Bahkan pada 1921 Amaroellah juga diangkat menjadi anggota Amsterdamschen Raad, satu-satunya anggota Dewan Kota Amsterdam yang berdarah pribumi Indonesia (De Telegraaf, 08-09-1921).

Tarikh berdirinya Minangkabau Instituut menandai meningkatnya ketertarikan dunia internasional secara akademis pada masyarakat dan budaya Minangkabau dan hal itu berkelanjutan sampai sekarang. Ratusan disertasi sudah ditulis orang (dalam dan luar negeri) tentang etnis bernasab ibu terbesar di dunia sekaligus penganut Islam itu. Di tahun 1943 (zaman pendudukan Jepang), berdiri pula Institute for Research on Minangkabau Society di Padang yang digagas oleh Abdoel Madjid Usman dkk. dan disokong oleh Gubernur Yano. Di tahun 1969, Dr. Mochtar Naim dkk. mendirikan pula Center for Minangkabau Studies di Padang. Kemudian pada tahun 1999 berdiri pula di Padang Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau yang diterajui oleh Buya Masoed Abidin dkk.

Dapat dikesan bahwa terjadi penularan ke dalam: para intelektual Minangkabau sendiri tergugah untuk mendirikan pusat kajian akademik guna meneliti masyarakat dan kebudayaan sendiri. Namun, tampaknya gairah akademik yang diimplemetasikan dalam bentuk lembaga penelitian itu semakin menurun sehingga sekarang yang tinggal hanyalah sebuah Minangkabau Corner, sebuah ‘Sudut Minangkabau’) saja lagi, di sebuah universitas di Sumatera Barat, sebagaimana dikeluhkan Tan Sri Dato’ Seri Utama Dr. Rais Yatim, mamak gadang orang Minangkabau di Malaysia, dalam beberapa kali perbincangan dengan penulis. Dari ‘Center…(Pusat) menciut menjadi ‘…Corner’ (Sudut) tentu menyiratkan terjadinya pengecilan peran, kalaulah bukan kemunduran.

Oleh karena itu, mungkin sudah saatnya untuk mendirikan kembali sebuah pusat kajian Minangkabau yang berwibawa. Idealnya institusi seperti itu muncul di Sumatera Barat sendiri, tapi jika tidak, di negeri manapun ia berdiri (di Malaysia, misalnya), niscaya ia akan bermanfaat untuk dunia ilmu pengetahuan dan untuk masyarakat Minangkabau sendiri.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 17 Maret 2019

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: