Posted by: niadilova | 16/03/2019

PPM #168: Belanda Membubarkan Rapat Serikat Ra’jat di Payakumbuh (1925)

Padang Ekspres, Minggu, 22 Juli 2018

DARI SOEMATERA BARAT

Vergadering Serikat Ra’jat diboebarkan

     (Padang Pandjang corr:) Serikat Ra’jat Pajakoemboeh bertoeroet-toeroet telah mengadakan doea kali openbare vergadering, bertempat dalam kantoor Serikat Ra’jat di Boenian (dekat pasar).

     Pertama pada tanggal 2 Maart [1925], bersetoedjoe dengan hari mengoekoer koeda jang hendak diadoe berlomba digelanggang Koeboe Gedang. Vergadering berachir dengan selamat, meskipoen ketika itoe ada terdjadi debat keras dari engkoe-engkoe Soeatan Salim (zaakwarnemer) dan Zainoel Abidin (doeloe Voorzitter J. S. B. [Jong Sumatranen Bond] afd. Padang, tapi sekarang soedah keloear dari sekolah). Soedah tentoe toean Assistant Resident Pajakomboeh jang digelanggang mendjadi voorzitter, dengan semoea ini. Ambtenarnja tak dapat hadir dalam pengoekoeran koeda itoe, karena mesti ada dalam tempat bergadering.

     Vergadering jang kedoea dilangsoengkan pada hari Senen tanggal 9 Maart [1925], pada waktoe mana perloembaan koeada (hari kedoea) jang dinamakan hari mengambil “bokoh” sedang berlakoe.

     Poekoel 9 vergadering dimoelai. Akan tetapi tak dapat berlakoe teroes, sebab terdjadi perbantahan pikiran antara wakil-wakil pemerintah dengan voorzitter (Roestam), tentang adanja orang-orang jang beratoes-ratoes banjaknja berdiri dimoeka (diloear) kantor Serikat Ra’jat itoe.

     Wakil Pemerintah menitahkan soepaja orang-orang itoe dioesir dari tempat terseboet oleh bestuur Serikat Ra’jat, tetapi voorzitter membantah dengan mengatakan bahwa pengoesiran itu haroes diakoekan oleh politie sendiri.

     Sebab pertoekaran pikiran tentang openbare-vergadering dan openlucht meeting itoe tidak berachir dengan persesoeaian, sedang orang-orang diloear roemah makin bertambah banjak dan makin mendesak kepintoe, maka medja diketok oleh Assistant Resident sambil memerintahkan soepaja poeblik boebar dari tempat vergadering.

     Mendengar soeara jang demikian, poeblik berhamboeran keloear, tapi beroentoenglah tidak ada sesoeatoe ketjilakaan jang terdjadi ketika itoe, demikian djoega tidak ada keonaran jang hebat, sebagai kedjadian-kedjadian pada beberapa tempat di Djawa baroe ini.

     Sesoedah memberi tahoe bahwa  voorzitter vergadering akan diproces verbaal lantaran mengadakan openlucht vergadering dengan tidak meminta izin, maka wakil pemerintah semoeanja boeabarlah poela dari tempat itoe.”

***

Laporan surat kabar Miambar Ra’jat, No. 7, Tahoen I, Rebo 18 Maart 1925 tentang dua pertemuan (vergadering) yang dilakukan oleh para pengurus dan angora Serikat Ra’jat di Payakumbuh.

Laporan di atas menggambarkan kepada kita gairah politik yang makin meluas di kalangan kaum pribumi, khsususnya di Minangakabau, di tahun 1920an yang mengakibatkan meningkatnya tensi hubungan politik dengan Rezim Penguasa Kolonial Belanda.

Sejak didirikan sekitar dua tahun sebelumnya di Padang Panjang, Serikat Ra’jat terus mendapat sambutan dalam masyarakat Minangkabau. Organisasi berhaluan komunis ini mempropagandakan hak-hak kaum pribumi yang pada ujungnya adalah untuk menuntut kemerdekaan dari penjajah. Oleh sebab itu, tidak heran jika setiap pertemuan para anggota dan simpatisan organisasi ini selalu diawasi oleh polisi PID (Politiek Inlichtingen Dienst) Kolonial Belanda, seperti dua pertemuan di Payakumbuh yang diadakan pada tanggal 2 dan 9 Maret 1925 itu.

Sebenarnya banyak orang Minang mengikuti gerakan ini karena mereka tidak puas dengan kebijakan pajak Belanda yang sangat memberatkan hidup mereka. Dalam satu laporan lain koran ini disebutkan sekitar 50 penghulu di Lubuk Basung masuk komunis karena “[m]ereka mengakoe, sebabnja mendjadi Communist ialah teroetama berhoeboeng dengan lakoe penaksiran belasting, jaitoe penaksiran oleh mantri belasting dengan tidak membawa moefakat mereka jang mendjati tertoea (taksiran sesoeka-soeka sahadja.” (Daulat Ra’jat, No. 6, Tahoen I, Senen 16 Maart 1925).

Yang menarik dalam laporan di atas adalah bahwa ternyata rapat-rapat Sarekat Ra’jat diadakan bersempena dengan acara-acara keramaian, seperti acara pacu kudo. Mungkin ini dimaksudkan agar menarik perhatian lebih banyak orang.

Demikianlah sedikit gambaran pengaruh Serikat Ra’jat di daerah Payakumbuh dan sekitarnya pada pertengahan 1920an.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 22 Juli 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: