Posted by: niadilova | 23/02/2019

Puisi Nusantara 15: Agoes Sjamsoedin: “Pelarian”

Kita dulu satu djalan

sama-sama bimbing tangan

setjita dan serasa

 

Kau tegak dimuka

pegang lentera terangi malam

tak gentar kelam

penuh daja, penuh tjita

 

Satu masa djalan bertjabang

Kau lepas tanganku

tidak mau tau

aku tunggang-langgang

 

Kau lari bawa pelita

kejar bahagia tanpa beta.

 

Aku djalan sendirian

raba-raba tjari pidjakan

tengah belantara

sebatang kara

 

Dan bila siang mendjelma

kaki luka bergerak perlahan

diantar kitjau burung didahan

 

Ini masa djumpakan kita kembali

didjalan tak punya udjung

kau penuh duri

penuh luka dan pekung

 

Segra aku kasih tangan

lupa itu kenangan

 

Tapi ini tangan kau terpis

djidjik dan bentji djelas terlukis

dibibirmu

dimatamu

 

Kaki pintjang kaubawa berlari

kedjar itu menda-benda mati

dan kita tidak lagi bimbing tangan

tidak satu djalan

 

Terus sadja itu lari

tanpa maaf dan sesal diri

tiak perduli kaki pintjang

sampai daging dan tulang kaku-kedjang

                                                               Djakarta, 18-7-‘53

——-

Sumber: Mingguan Sinar Indonesia, No. 3, 21 Djuli 1953: 30


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: