Posted by: niadilova | 16/02/2019

Kilas balik: Berangkatnja toean L. Datoek Toemanggoeng [kembali ke Batavia] (1928)

Foto Landjoemin Dt. Toemanggoeng

Berangkatnja Patih pada pamerenta.

Bertitel penghoeloe dalem adat.

Berdarah Minangkabau, berhati nationalist.

Berkata banar, berdjalan loeroes.

Berhoeboeng dengan amannja negri pada waktoe jang achir ini, maka oleh pamerenta telah dikabarkan pada toean L. Datoek Toemanggoeng jang mendjadi Patih dan ter beschikking pada Resident di Sumatra Barat ini, soepaja toean terseboet koembali lagi ke Batavia ka tempat bermoela.

Begitoelah kemaren dengan menoempang kapal Van Lasnberge toean terseboet serta familienja berangkat koembali ka Betawi dengan meninggalkan tempat toempah darah toean terseboet.

Diwaktoe jang achir akan berangkat ini, di beberapa tempat di Minangkabau orang meadakan perdjamoean perpisahan antara marika dengan toean Datoek Toemanggoeng, begitoepoen di kota Padang, djoega diadaken itoe matjem perdjamoean. Itoe perdjamoean boekan sadja diadaken oleh bangsa Boemipoetra, tetapi bangsa Eropa dan Tionghoa poen tiada poela ketinggalan, dengan mana kita dapat mengambil conclussie bahwa pendoedoek Minangkabau, ada mehargai pekerdjaan toean Dt. Toemanggoeng, selama bekerdja di Sumatra Barat ini.

Di beberapa daerah toean Dt. Toemanggoeng telah benerima bebrapa jang dioendjoekkan sebagai tanda mata, jang akan djadi kenang-kenangan oleh toean Dt. Toemanggoeng, apabila berada djaoeh di rantau orang, sekalipoen beliau tida menghendaki itoe pemberian atawa terima kasih atas djasa djasa jang telah beliau perboeat, malah beliau harapkan doa moedah-moedahan pendoedoek Minangkabau tersingkir dari kesoesahan jang akan menimpah. Dan sebagai seorang Minangkabau jang bertitel Datoek, jaitoe penghoeloe di sepandjang adat, beliau mendjalankan kewadjiban dengan tida berpihak pada satoe atau lain badan, malah berpihak pada kebenaran.

Ratoesan pendoedoek dari berbagai bagai bangsa, jang kemaren sama dateng ka Emmahaven boeat memberi selamat djalan pada toean Dt. Toemanggoeng, antaranja didapati ankoe-ankoe dan toean-toean jang ternama dalam djabatan pamarenta dan dagang.

Di atas kapal toean Dt. Toemanggoeng telah menerima lagi satoe bingkisan, dalam mana ada seboeah tanda mata jang roepanja tida keboeroe diberikan.

Bebrapa ankoe-ankoe meadakan pidato diatas kapal, begitoepoen oleh toean Datoek Toemanggoeng, walaupoen air mata beliau mengoetjoer sebagai oedjan lebat, ada dibalas sekira-kira berikoet:

Toean-toean, ninik mamak jang berhadlir.

Saja bergirang hati benar atas kedatangan toean toean serta ninik mamak jang telah memerloekan datang kemari, dari mana djelas oleh saja bagaimana toean toean dan ninik mamak ada mentjintai saja.

Saja seorang penggawei (sic) pamerenta jang digadji oleh pamerenta dan atas diri saja diwadjibkan soepaja bekerdja akan mentjari keselamatan dan mendjaga keamanan rajat, koesoet akan memperselesaikan, keroeh akan memperdjenihkan, dan haroeslah bekerdja benar dan berhari loeroes, dengan tida berpihak pada siapapoen, selainnja kebenaran.

Saja datang kemari, sengaja saja minta sendiri pada pamerenta, dengan harapan soepaja saja dapat menerangkan pada bangsa saja pendoedoek Minangkabau akan keboeroekkan dan keboesoekkannja communist.

Orang Minangkabau sebelomnja berada dibawah pamerentah Belanda telah djoega mempoenjai adat dan agama jang semporna, jang dapat membawak rajat ke djalan jang selamat. Dan sekarang setelah kita berada dibawah pamerenta Belanda jang ada poela memboeat oendang oendang, oleh sebab mana wadjiblah kita ketahoei dan pahami dengan sedjelas djelasnja akan ketiga peratoeran itoe.

Djikalau sekiranja timboel perselisihan jang bersangkoet dengan adat, djanganlah orang lari pada wakil pamerenta atau lain badan, tapi larilah pada penghoeloe ninik mamak kita. Di bebrapa tempat saja meadakan lezing, dengan mentjeritakan bagaimana keboeroekan dan keboesoekan Tarekat Merah itoe, hingga kelihatan dengan njata orang orang kampoeng jang bodo itoe, baroe taoe akan kesesatannja. Pekerdjaan saja itoe ada sangat berbehaja dan mendapat serangan dan tikeman dari kiri dan kanan, tapi kerna saja berdjalan diatas rail kebenaran dan loeroes, Insja Allah sampei di sa’at saja akan berangkat ini adalah dalam selamat sadja, tida koerang soeatoe apa.

Kalau saja tida lekas datang ka Soengei Pear, jaitoe negri saja, barangkali tidak mempoenjai tempo lama lagi, itoe negri akan hantjoer leboer poela seperti keadaan di Siloengkang. Beroentoeng anak negri di itoe tempat sesoeda mendengar nasihat saja dengan segera meoendoerkan diri dari itoe Tarekat Merah.

Toean toean, ninik mamak, djaoehkanlah itoe Tarekat Merah. Boekannja saja tida setoedjoe pada perkoempoelan, atau mehalang halangi akan adanja pergerakan – tida – tapi adakanlah jang tida melanggar pada adat, agama dan wet pamerentah, dan saja nanti akan soeka poela memasoeki itoe perkoempoelan dengan menoendjang dengan bebrapa kekoeatan tenaga saja.

Kalau oendang-oendang jang tida lamak dihati toean-oean dan ninik-mamak, djanganlah lekas lari pada pemimpin pemimpin jang kebanjakan kepandeiannja hanja berkata-kata bohong sadja, tapi larilah pada pamerenta, poelangkanlah pada wakilnja dengan setjara djalan berdjanjang naik, bertanggah (sic) turun.

Pamerenta itoe goenanja oentoek rajahat (sic) jng aken mendjaga keselamatan dan kesedjahteraan rahajat (sic).

Tentangan perkara agama dinegeri kita ini, rasanja sampai tjoekoep, hingga saja jang telah mendjalani antero djadjahan Belanda seperti Celebes, Bornoe dan lain lainnja, dan saja dapat mempertandingkan oelama-oelama dinegeri kita jang nanti tida kalah kepandeiannja. Toeroetlah agama jang telah riboe tahoennja didjoendjoeng tinggi oleh nenek-mojang kita.

Tentangan perkara adat kebanjakan djoega saja dengar, perkataan dari toean toean jang intellectueel, menjatakan adat itoe adalah menghalang-halangi kemadjoean sadja, tapi menoeroet pendapatan saja, itoelah salah benar jang berpikiran sedemikian. Kerja jang sebenarnja adat itoe “jaitoe nan baik dipakai, nan boetoek diboeang” tida nanti akan menghalang-halangi perdjalanan kemadjoean, malah akan menambahkan kekentjangannya kemadjoean itoe, dan lebih sempoerna lagi.

Sehingga inilah saja poetoeskan pembitjaraan saja. Selandjoetnja saja minta maaf kepada toean toean dan ninik mamak, kalau ada perkataan saja jang terdorong, berharaplah saja dimaafkan oleh toean toean serta ninik mamak, soepaja djangan mendjadi keberatan atas diri saja.

Hingga itoelah kira kira pidato toean Dt. Toemanggoeng, sedeng dari perkataan beliau jang keloear itoe dapat orang menjatakan bagaimana pendirian toean terseboet tentangan perkara adat, agama dan oendang-oendang pamerenta, jang beliau pegang dengan tegoeh. Disinilah njata tjinta beliau pada Minangkabau dan pendoedoeknja jang beliau soeda belakan dengan kedjoedjoeran serta kepentingan oemoem.

Meingat hal jang seperti ini, teringat poela kita pada toean Darwis gelar Datoek Madjo Lelo jang sekarang berada dalem perdjalanan ka Negeri Dingin [Belanda; Suryadi], jaitoe satoe ambtenaar jang tjoekoep ontwikkelingnja serta tjinta pada tanah airnja, dengan selaloe berdjalan atas kebenaran tida memandang siapa djoega, jang bersalah itoelah jang dihoekoem.

Sekiranja kebanjakan ambtenaar jang seperti ini, dapat kita mempastikan bahwa keadaan Minangkabau, dalem tempo jang sangat lekas akan lebih madjoe dari sekarang.

                                                                                                                                               VERSLAGGEVER

***

Keterangan: Tulisan ini memberitakan keberangkatan kembali Landjoemin Datoek Toemanggoeng ke tempat kerjanya di Batavia. Landjoemin adalah salah seorang intelektual Minangkabau pertama yang mendapat pangkat Patih dalam administrasi Pemerintahan Dalam Negeri (Binnenlands Bestuur/BB) Kolonial Hindia Belanda.  Beliau berasal dari Sungai Puar (lihat keterangannya sendiri dalam tulisan di atas; lihat juga: https://niadilova.wordpress.com/2014/04/07/minang-saisuak-170-lanjumin-gelar-datuak-tumangguang/) . Istri beliau, Rangkayo Chailan Sjamsoe, adalah seorang penggerak emansipasi wanita di zamannya dan juga propagandis bahasa Esperanto di Asia Tenggara (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2017/05/08/minang-saisuak301-rangkayo-chailan-sjamsoe-datoek-toemanggoeng-1905-1962/).

Artikel di atas menjelaskan kepulangan Landjoemin kembali ke Batavia (Januari 1928) setelah beberapa bulan berada di Sumatera Barat untuk menyelidiki sekaligus memberi nasehat kepada para pemuka pemerintah dan adat di daerah itu yang baru saja dilanda oleh kerusuhan akibat pemberontakan kaum komunis di Silungkang. Sebagaimana diberitakan oleh banyak media cetak pada waktu itu, Batavia (Gubernur Jendral) membentuk satu komisi yang diketuai oleh Prof. B.J.O. Schiereke untuk menyelidiki penyebab timbulnya kerusuhan berdarah itu dan mencari solusi-solusi yang terbaik untuk mengembalikan rust en orde di Minangkabau (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2016/09/26/paco-paco-minangkabau-78-prof-b-j-o-schrieke-melakukan-penelitian-di-sumatera-barat-1927/; https://niadilova.wordpress.com/2016/02/29/ppm-52-komisi-penyelidik-pemberontakan-komunis-di-sumatera-barat-1926/). Namun, Landjoemin tampaknya bukan anggota  Komisi itu, melainkan sebagai salah seorang intelektual Minangkabau yang atas kemauannya sendiri ingin ikut menjadi penasehat pemerintah dan penengah dalam menyelesaikan konflik berdarah yang terjadi di kampung halamannya sendiri, seperti dapat dikesan dari salinan teks di atas. Tulisan di atas juga memberi kesan tentang sambutan masyarakat Minangkabau kepada Landjoemin. Namun, dalam laporan-laporan lain di media, diperoleh kesan bahwa banyak juga orang Minangkabau yang tidak menyukai Landjoemin karena dianggap dekat dengan penjajah (Belanda), satu faktor yang mungkin menyebabkan ia matih dibunuh oleh orang-orang yang anti Belanda dalam suatu kerusuhan di Agam (Pemberontakan Baso) tahun 1947 (lihat: http://sriyanti0520.blogspot.com/2014/06/sejarah-sumatera-barat.html).

Sumber: Sinar Sumatra, No. 13, Taon ka 24, HARI SENIN  16 JANUARI 1928 – 24 TJAP-DJI-GWEE 2478 – 23 RADJAB 1346). Teks disalin sesuai dengan aslinya. Ilustrasi (foto) ditambahkan oleh penyalin. Sumber foto: majalah Pandji Poestaka 39, Thn II, 25 September 1924:785. Penyalin: Dr. Suryadi, Leiden University, Belanda.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: