Posted by: niadilova | 07/01/2019

PPM #192: Usaha Mengaktifkan Kembali ‘Studiefonds’ Koto Gadang (1951)

Beasiswa Kota Gedang

B. Tingg Haluan

            Kepada kita dikabarkan, bahwa untuk meaktifkan kembali beasiswa (studiefonds) negeri Kota Gedang, Bukit Tinggi, maka pada hari Minggu j.l. pagi atas andjuran dan pimpinan Adel Jahja, anggota D. P. wilajah IV Koto telah dilangsungkan suatu rapat, bertempat di Balairungsari Kota Gedang jang terdiri dari Alim Ulama, ninik mamak, tjerdik pandai serta golongan terkemuka lainnja di negeri intellektuil tsb.

            Kemudian setelah melalui beberapa pembitjaraan jang pandjang, rapat memutuskan membentuk badan pengurusan sementara untuk menindjau kembali djalannja studiefonds jl., terdiri dari Paizar (guru SMP II B. Tinggi), Saiful Yazan (Guru “PEMUDA” Bukit Tinggi), dan Abd. Muthallib, pegawai kantor Gubernur B. Tinggi.”

***

Salinan dari laporan surat kabar Haluan (Padang), No. 24 Tahun ke III, Senin 5 Februari 1951 yang memberitakan usaha untuk menghidupkan  kembali (“menindjau kembali djalannya”) Studiefonds Kota Gedang (Koto Gadang).

Sejarah telah mencatat bahwa Studiefonds Kota Gedang merupakan salah satu model beasiswa yang dibentuk oleh masyarakat Minangkabau di Koto Gadang yang bertujuan untuk membiayai anak-kemenakan dari nagari ini yang akan bersekolah ke Jawa ataupun ke Negeri Belanda. Vereenging Studiefonds Kota Gedang, demikian nama aslinya, didirikan oleh masyarakat Koto Gadang pada 1910 dan bulan Januari tahun itu juga mendapat pengakuan resmi dari Otoritas Kolonial Hindia Belanda (lihat: Bataviaasch Nieuwsblad, 29-01-1910).

Studiefonds Kota Gedang menghimpun dana masyarakat Nagari Koto Gadang, baik di kampung maupun di rantau, untuk mengirim putra-putri Koto Gadang yang berbakat ke sekolah-sekolah sekuler di Jawa dan Negeri Belanda. Laporan-laporan tentang murid-murid yang menerima beasiswa ini sering dimuat dalam surat kabar Berito Koto Gadang yang, sebagaimana dapat dilihat pada anak judulnya, merupakan “soerat chabar” yang “dikeloearkan bagi keperloean anak negeri Koto Gadang.” Berkat bantuan beasiswa ini, makin banyak penduduk Koto Gadang yang berhasil dalam pendidikan mereka, yang membuat nagari itu sangat terkenal lantaran sukses mengadopsi sistem pendidikan sekuler ala Barat/Belanda. Mereka mengisi berbagai jabatan dalam jajaran Binnenlads Bestuur (BB) Pemerintah Kolonial Hindia Belanda di berbagai tempat, seperti guru dan penilik sekolah (school opziener), mantri kopi, hoofddjaksa, dan lain sebagainya.

Model pembiayaan sekolah anak nagari yang dibuat oleh masyarakat “negeri intellektuil” Koto Gadang ini kemudian ditiru oleh beberapa nagari lain di Minangkabau, bahkan juga untuk tingkat supra-nagari. Demikianlah umpamanya, pada tahun 1920 berdiri Vereenging Studiefonds Minangkabau (S.V.M.) (lihat: Pandji Poestaka, No. 9, TAHOEN IV, 2 Februari  1926: 188-189). Salah satu cara untuk mengumpulkan dana untuk studiefonds ini adalah dengan mengadakan pasar derma (lihat: Sinar Sumatra, No. 153, Tahoen ka 17, Hari Senen 11 Juli 1921 / 7 Lak Gwee 2472 = 5 Zjoe’lkaeda 1339 (rubrik ‘Minang-kabau’)).

Pada tahun 1928 giliran masyarakat kenagarian Batipuah pula membentuk sebuah yayasan beasiswa guna membiayai sekolah anak nagarinya yang diberi nama Studiefonds Batipuah X Koto, yang diketuai oleh A. Mochtar (lihat: Pandji Poestaka, No.99, Tahoen VI, 11 December 1928:1664).

Beberapa studiefonds serupa juga berdiri di kota-kota atau nagari lain, seperti di Pariaman, Solok, dll. Ada juga yang fokus pada agama Islam, seperti Vereeniging Djandjang Pengetahoewan yang berdiri di Padang tahun 1921 (lihat: Sinar Sumatra, no. 162, Tahoen ka 17, hari Kemis 21 Juli 1921 / 17 Lak Gwee 2472 / 15 Zjoe’lkaeda 1339).

Dalam perjalanan waktu, rupanya Studiefonds Kota Gedang juga mengalami pasang surut. Ini adalah hal yang biasa terjadi dalam perjalanan suatu organisasi atau institusi. Laporan di atas memberitahukan kepada kita bahwa hampir 50 tahun setelah didirikan, beasiswa Koto Gadang itu mengalami fluktuasi tapi coba direvitalisasi oleh para ninik-mamak dan cerdik pandai “nagari intellektuil” di tepi Ngarai Sianok itu.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 6 Januari 2019

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: