Posted by: niadilova | 31/12/2018

PPM #191: Zaman Malaise dan sorotan terhadap ‘Indang’ Pariaman (1934)

Tidak perdoeli malaise

Meskipoen ini waktoe zaman malaise, tetapi oleh pendoedoek Soengai Sarik tidak mengingatinja, terboekti dengan disana seringkali diadakan oeroesan oentoek mengadakan tontonan seperti indang dan lain2nja, sedang rakjat sekarang peri mengeloeh. Apakah sekiranja tidak lebih baik, seoempama itoe oeang dikoempoelkan oentoek lain keperloean jang berfaedah?

Moedah-moedahan toelisan kita ini mendapat perhatian dari pendoedoek disana.” (1)

“Permainan indang masih digemari

       Menoeroet kabar jang kita peroleh bahwa, dibilangan pasir sebelah Ommelanden Kota Tengah, oleh anak negeri disana telah diadakan keramaian oentoek meramaikan kampoeng namanja.

       Satoe diantara keramaian jg sangat digemari roepanja jaitoe permainan INDANG. Dalam moesim jang begini matjam dikampoeng2 meskipoen penjakit malaise tidak oeroengnja mengamoek kian kemari, namoen pelesiran tidak maoe moendoer2nja. Apalagi sebagai permainan indang ini menoeroet doegaan kita dalam keramaian terseboet banjak bisa terdjadi maksiat2 jang berbentoeran dengan pergaoelan oemoem. Kalu sekiranja kabar ini betoel dan keramaian ini beloem habis2nja diharap sadja kepada beliau2 ahli agama disana memperhatikannya.” (2)

***

Laporan surat kabar Persamaan (Padang), Tahoen ke I, No. 25, Sabtoe 28 April 1934 – 14 Moeharram 1353 (1) dan koran Tjmboet (Padang), No. 36, Tahoen ke II, Hari Djoem’at 6 Juli 1934 (2) tentang kebiasaan masyarakat berhura-hura di Zaman Malaise (Zaman Meleset) di tahun 1930an di wilayah Pariaman dan Padang Ommmelanden, yaitu dengan mengadakan pesta keramaian nagari yang diramaikan oleh pertunjukan kesenian tradisi anak nagari.

Salah satu kesenian anak nagari Piaman Laweh yang biasa dipertunjukkan dalam keramaian alek nagari di pantai barat Sumatera ini adalah Indang. Seni bersilat lidah ini sangat populer di kalangan masyarakat rantau Pariaman pada masa lampau dan masih bertahan sampai kini, walau makin terpinggirkan oleh kesenian-kesenian modern (lihat: Suryadi, “Indang: seni bersilat lidah di Minangkabau”, Seni, IV/03, 1994: 226-39; Suryadi, “Indang Pariaman: Masa Depan ‘Tongue Fu’ Terakhir dari Minangkabau”, Padang Ekspres, 18-12-2016 [https://niadilova.wordpress.com/2016/12/21/indang-pariaman-masa-depan-tongue-fu-terakhir-dari-minangkabau/; dikunjungi 24-12-2018).

Konon, secara historis Indang adalah kesenian yang muncul karena pengembangan agama Islam di Rantau Pariaman (lihat: Margaret Kartomi, “Muslim Music in West Sumatran Culture”, World of Music, 28(3), 1986:13-30; Ediwar, Indang Pariaman: Dari Tradisi Surau ke Seni Pertunjukan Rakyat Minangkabau. Bandung: P4ST Universitas Pendidikan Indonesia, 2007). Namun, dalam perjalanan sejarah, kesenian ini dinilai makin berorientasi profan oleh kalangan tertentu dalam masyaraakat muslim Minangkabau. Ini dapat dikesan dalam laporan (2) di atas yang menyebut istilah “beliau2 ahli agama”. Barangkali pandangan itu muncul karena Indang dipertunjukkan sepanjang malam dalam suasana alek nagari yang beraura duniawi ketimbang religius. Tambahan lagi, Indang adalah ajang bersilat lidah dan medan rivalitas antar nagari yang pada masa lampau tidak jarang dibarengi dengan pengerahan kekuatan magis.

Dua laporan yang dikutip dari surat kabar Tjamboet dan Persamaan di atas merefleksikan pandangan umum (yang mungkin saja mewakili kalangan surau/kaum agama) terhadap kesenian Indang Pariaman. Pandangan seperti itu masih terus bertahan sampai sekarang. Oleh sebab itulah, Indang, dan kebanyakan seni pertunjukan malam Minangkabau lainnya (lihat misalnya penelitian Nigel Philip tentang Sijobang di Luhak 50 Kota, 1981), secara sosiologis dan estetis berada dalam tegangan antara hal-hal yang dianggap profan (duniawi) di satu pihak dan yang sakral (ukhrawi) di pihak lain. Realitas sosial seni pertunjukan Minangkabau yang demikian itu menarik untuk diteliti lebih lanjut, apalagi jika dihubungkan dengan sejarah pengislaman dan ‘pertemuan’ antara Islam yang patriarkal dan adat Minangkabau yang matriarkal yang oleh beberapa sejarawan, etnolog dan antropolog dianggap dua hal yang paradoks.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 30 Desember 2018

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: