Posted by: niadilova | 30/12/2018

Ranah Minang: Gudang Insan Pers

Hasril Chaniago dkk (2018)Judul: 121 Wartawan Hebat dari Ranah Minang & Sejumlah Jubir Rumah Bagonjong

Penulis: Hasril Chaniago dkk.

Penerbit: Panitia Pelaksana Daerah Hari Pers Nasional 2018, Biro Humas Setda Provinsi   Sumatera Barat, Padang

Tahun terbit: Februari 2018 (Cet. 1)

Tebal: xvi + 511 halaman

ISBN: 978-602-51382-0-1

Peresensi: Suryadi*

 

Agaknya tidaklah terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa Ranah Minang adalah gudangnya insan persuratkabaran. Sejak koran berbahasa Melayu pertama, Bintang Timor, terbit di Padang pada tahun 1864, yang diterajui Arnold Snackey (seorang peranakan Indo), ratusan insan pers (wartawan atau journalist, meminjam istilah Zaman Kolonial, dan pemilik/pemodal surat kabar) telah lahir. Ada ratusan media cetak yang terbit pada masa sesudahnya, bahkan sampai hari ini, baik di Padang maupun di kota-kota lainnya di Sumatera Barat.

Buku ini adalah salah satu sumber informasi tentang insan pers berdarah Minangkabau. Sebagaimana dapat dikesan melalui judulnya, buku ini mendeskripsikan riwayat hidup 121 orang tokoh pers, wartawan, dan 10 orang juru bicara (jubir) atau humas Pemerintah Provinsi/ Kantor Gubernur Sumatera Barat. Jubir ‘Rumah Bagonjong’ itu adalah: Zainal Bakar, Nazif Lubuak, Akmal Firdaus, Gamawan Fauzi, Yohannes Dahlan, Yuen Karnova, Devi Kurnia, Suhermanto Roza, Surya Budhi dan Jasman [Rizal] yang sedang menjabat sekarang.

Isi buku ini mencakup rentang waktu tiga periode perjalanan politik bangsa Indonesia: “Periode Perintisan dan Perjuangan Kemerdekaan”, “Periode Proklamasi hingga Orde Lama”, dan Periode “Orde Baru hingga Reformasi” (hlm.2-6). Buku ini mencatat sejumlah nama yang melegenda di fora pers internasional, nasional dan lokal, seperti Mahjoeddin Datoek Soetan Maharadja, Abdul Rivai, Landjoemin Datoek Toemanggoeng, Djamaluddin Adinegoro, Mara Karma, Hamka, Rivai Marlaut, Bachtiar Djamily, Kasoema, Rosihan Anwar, Zainuddin Tamir Koto (Zatako), Muhammad Radjab, dan banyak lagi. Dari generasi yang lebih belakangan antara lain tersebutlah sosok Abrar Yusra, Mathias Dusky Pandoe, Basril Jabar, Fachrul Rasyid HF, Karni Ilyas, dan Khairul Jasmi – untuk sekedar menyebut beberapa nama. Tampak dalam buku ini bahwa nama-nama insan pers asal Minangkabau mencakup hampir semua abjad, dari A sampai Z.

Dilihat dari segi gender, dunia pers yang terkait dengan orang Minangkabau ini rupanya masih didominasi oleh kaum laki-laki. Dari 121 orang insan pers Minangkabau yang dicatat dalam buku ini, hanya 14 orang (kurang dari 17%) saja yang berjenis kelamin perempuan, yaitu Ani Idrus, Desi Anwar, Fenty Effendy, Gadis Rasid, Linda Jalil, Luzi Diamanda, Nita Indrawati, Rasuna Said, Rohana Kudus, Saadah Alim, Sariamin Ismail, Siti Danilah Salim, Vinna Melwanti, dan Zeynita Gibbons. Walau bagaimanapun, jumlah itu mungkin cukup berarti jika diukur secara lokal maupun nasional.

Buku ini disiapkan dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di Padang. Dikatakan bahwa buku ini disiapkan untuk “dipersembahkan untuk [para] tamu terhormat yang akan menghadiri kegiatan nasional [itu]…sebagai kenangan yang bisa dibawa [pulang] dari Ranang Minang […].” (Sambutan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Drs. H. Nasrul Abit Dt. Malintang Panai, hlm.v). Dengan begitu, tentunya tim penyusun buku ini, yang terdiri dari 10 orang – Hasril Chaniago (ketua), wartawan senior dan Pemred Singgalang Khairul Jasmi, Eko Yanche Edrie, Syafruddin Al, Firdaus, Nas[r]ul Azwar, Indra Sakti Nauli, Aci Indrawadi, Dodi Nurja, dan Muhammad Bayu Tullah Vesky – telah bekerja keras walau mungkin tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyusun buku ini dengan lebih sempurna. Deskripsi riwayat hidup setiap sosok tokoh pers dan wartawan bersifat umum, dengan panjang minimum 3 halaman dan maksimum 6 halaman. Kepustakaan yang dirujuk semuanya berasal dari sumber-sumber kedua (hlm.8). Dengan demikian, tentunya buku ini hanya dapat mendeskripsikan sosok-sosok insan pers asal Minangkabau yang semula sudah dicatat dalam sumber-sumber kedua tersebut.

Dengan kata lain, “wartawan hebat dari Ranah Minang” , meminjam petikan judul buku ini, jelas jauh lebih banyak lagi, sebab setiap wartawan sesungguhnya memiliki ‘kehebatan’ masing-masing. Jumlah mereka bisa tiga kali lebih banyak dari yang dicatat dalam buku ini. Sebutlah, misalnya, nama-nama lain yang belum tercatat dalam buku ini, seperti Soetan Radja Nan Gadang, Sidi Maharadja, Sampono Radjo, Datoek Mangkoeto Alam Nan Poetih, Soetan Iskandar, Dt. Mangkoeto Maharadjo Lelo, Marah Baginda, Soetan Lembak Toeah, Djamain Abdoel Moerad, Datoek Radja Intan, H.S. Pamenan, Haji Mohamad Amin gelar Maharadja Soetan, Mohamad Elias gelar Marah Srimahadewa, S.M. Rasat, S.E. Kasoemaratoe, Boerhanoeddin, Yunus Ibrahimsjah, Alaoeddin, Roestam Soetan Palindih, Marah Alief, Aziz Thaib, H. Aminoellah, Marah Noerdin, dan banyak lagi, dari generasi masa lampau. Dalam periode ini (paroh pertama abad ke-20) tercatat juga nama sejumlah jurnalis perempuan lain selain yang dicatat dalam buku ini, seperti Zoebeidah Ratna Djoewita, Siti Rohana binti Maharadja Soetan, Siti Djatiah, Siti Noerma binti S.M. Kajo, Siti Noersiah, Sjamsidar Jahja, dan Roehana Koedoes. (Daftar ini dapat diperpanjang). Dapat dikesan, pada periode ini keterlibatan perempuan Minangkabau dalam dunia pers melebihi masa sekarang.

Dari generasi masa kini tentu tak kurang pula banyaknya yang belum dicatat oleh buku ini, sebutlah umpamanya Yurnaldi, Yusrizal Kawe, Syofiardi Bachyul, Sawir Pribadi, Abdullah Khusairi, Hendra Makmur, dan masih banyak lagi.

Jika bukan label etnisitas yang dipakai, tapi label wilayah geografi, maka konfigurasi insan pers Sumatera Barat akan lebih beragam lagi. Di masa lalu (paroh pertama abad ke-20), jurnalis pribumi bekerjasama dengan rekan-rekan mereka dari etnis Tionghoa dan juga dari etnis-etnis lain. Fenomena ini cukup khas Sumatera Barat karena di daerah-daerah lain jurnalis-jurnalis Tionghoa cenderung ekslusif. Di Padang yang terjadi justru sebaliknya: beberapa koran dieditori atau memiliki wartawan yang berdarah Minangkabau dan yang berdarah Tionghoa. Demikianlah umpamanya, kita mengenal nama-nama pemred/wartawan seperti Liem Soe Hin, Tan Soey Beng, Oeij Siauw Tjong, Tjhoen Hoay Phoa, Giok Lan Nio, Jap Gin Sek, Jap Gin Seng, Tan Goan Tjoen, Tjoa Eng Tek, Tjoa Seng Toa, Lie Lian Siang, Lie Seng Hoat, Kwe Kheng Liong, dan banyak lagi.

Dalam konteks ini, patut pula dicatat dua bersaudara Dja Endar Moeda Dja Endar Boengsoe, juga Dja Parlagoetan yang berdarah Tapanuli tapi lama berkarir di Padang. Dja Endar Moeda sangat menonjol: ia mengusahakan penerbitan beberapa koran di Padang, bahkan melakukan ekspansi bisnis surat kabar sampai ke Medan dan Aceh, dan banyak menulis artikel dan buku.

Apa yang hendak saya katakan adalah bahwa sudah saatnya untuk menyusun buku yang kengkap (bisa terdiri dari beberapa jilid) tentang apa dan siapa insan pers Minangkabau atau Sumatera Barat. Penelusuran riwayat hidup setiap individu sangat dimungkinkan melalu sumber-sumber pertama (bronnen) untuk melengkapi sumber-sumber kedua. Dua karya Ahmat Adam, The Vernacular Press and The Emergence of Modern Indonesian Consciousness (1855-1913) (Ithaca,N.Y.: Southeast Asia Program, Cornell University, 1995) dan Suara Minangkabau: Sejarah dan Bibliografi Akhbar dan Majalah di Sumatera Barat, 1900-1941 (Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Malaya, 2012) adalah sumber kedua yang penting untuk menelusuri lebih jauh dunia pers Sumatera Barat di masa lampau.

Kiranya, penyusunan buku itu hendaklah disegerakan. Jika tidak, sejarah pers Sumatera Barat, sebagai bagian dari sejarah perkembangan dan pengembangan budaya keberaksaraan di Minangkabau, akan tetap samar-samar dan tentu akan makin menghilang dari ingatan generasi masa depan yang, mungkin berbeda dengan generasi milenial Zaman Now kini, entah akan bagaimana kulikat, mentalitas, dan cara mereka memandang masa lampau.

*Dr. Suryadi, pengajar di Leiden University, Belanda

# Resensi ini diterbitkan di harian Padang Ekspres, Minggu, 30 Desember 2018.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: