Posted by: niadilova | 19/12/2018

Puisi Nusantara 13: Walujati Supangkat: “NEGARA BANGUN” (1950)

NEGARA BANGUN

I

Bagai kesuma putih, tersebar wangi atas lautan daun hijau,

Djauh tertjium harumnja, dibawa pergi angin jang lalu,

terserak terletak ditengah-tengah samudra biru –

padam sebuah rangkaian pulau-pulau –

 

Tenang-sabar tampaklah ia dalam buih-gelombang tiap zaman,

jang datang dan pergi, tiap kali membawa

perubahan hawa-suasana; tetap tenang

dibiarkannja masa menekan djiwanja:

Ibarat gunung membiru tampak di tjakrawala,

Selalu diam tenang, membiarkan hujan

dan angin menjiksa lerengnja, suatu kala

’kan petjah-meletus, memuntahkan

 

api dan batu panas membakar Alam;

Demikian pula pulau-pulau berangkai ini

Suatu ketika pasti membual-memuntahkan

api sial dan batu2 tekanan jiwa……..

 

II

Kawan, dalam asap hitam-mengepul dan

kepanasan hawa kemana-mana disekelilingnya,

amat bingung dan bimbang orang mencari pegangan

teguh dan kokoh ’kan penguat djalan hidupnja.

 

Bagaimana orang dapat kiranja arahkan

langkahnja menudju tudjuan jang hendak ditajapai,

pabila dasar-pangkalnja telah luput-hilang

ditelan gelombang perubahan berderai ramai?

 

Ach,

 

Seperti kelana tersesat dihutan raja

berdjalan putus-asa

tiba-tiba sampai kedjurang menghitam dalam dan tak dapat kembali,

karena malam gelap sudah datang,

 

berdjalan orang dibawa arus manusia lainnja,

sebingung-sebimbang, kearah jang tidak dikenalnja,

sampai tiba didjurang perbedaan faham-fikiran,

dan tak dapat kembali kepangkal permulaan

 

   III

Djangan, djangan kau sesali hilangnja adat lama,

berabad-abad dipakai masjarakat bangsa kita,

hingga berakar hitam-keras, mendjalar lebar

dibawah muka bumi, hingga sebagai sangkar

 

mengurung tanah subur disekeliling batang

pohonnja, kuat berdiri menahan siksaan –

deritaan zaman berpuluh tahun, menghiasi

taman peradaban timur ditanah kita diami

 

Kau tangisi pohon-pohon indah ini,

direbahkan taufan pergerakan

djiwa-djiwa rakjat berdjuta, jang kini

hendak mendirikan taman peradaban

 

jang baru dan muda. – Lihatlah,

batang-batang pohon jang rebah:

kuat tampaknja, tapi t’lah kosong dalamnja,

tau-kaku-mati- tak ada harkatnja.

 

Djangan, djangan kau sesali hilangnja adat lama

Taman, jang kita dirikan, kan lebih berharga

 

                                   IV

Tiap pagi, dikala naik sinar merah disebelah Barat

Langit Fadjar, kulihat tanaman bunga melur

berdaun hidjau padam, kehilangan banjak

bunga terserak wangi, putih membudjur

 

Kiranja angin kuat menjiksa tangkai

halus tiada berdaja dan gugur-lepaslah

bunga-bungan dan kuntum, mendjadi bangkai

putih-harum tersebar diatas tanah…….

 

Dan ingatlah aku ’kan djiwa-djiwa

muda-belia, belum sampai umur dewasa,

gugur melepaskan nafas penghabisan.–

Djatuhlah air mataku, tak dapat kutahan

 

                V

Kitapun insaf, hai Ibu, jang duduk meratap diatas makam

anakmu tunggal, djatuh ditengah-tengah asap mesiu

dan suara peluru, tak berhenti-henti berdesing lalu,

djatuh keatas bumi, merah diwarnai badan berdarah;

 

Kitapun insaf, pengorbananmu djauh lebih

berat; siksaan djiwamu lebih dahsjat daripada

korban anakmu kepada Negara, sebab ia pergi rela;

Dibawa El Maut, tampak ia tersenjum masih

 

Ibarat orang jang pergi dengan kapal kearah negri

Djauh dan asing, penuh harapan dan

muka berseri. Sedang jang tiggal dipangkalan

sedih-menangis, merasa tempat kosong didalam hati…..

 

VI

Djangan rakjatku, djanganlah kausalahkan tindak laku

orang-orang diatasmu, arif-bidjaksana

memimpin engkau dan negerimu menudju

idaman hati, berabad-abad tersimpan didada

 

Turunkan seg’ra lengan teratjung menantang

Lepaskan djarimu kuat terkepal

Lambatkan suara, parau keluar mulut lantjang

Redakan taufan amarah dihati mengkal.–

 

Arus merdeka, baru-baru kita rasakan,

Sekuat apapun, tak’kan membawa

Manfaat suatu, pabila ta’ada

Pimpinan jang pandai mengalirkan

 

arus kuat menurut saluran-saluran,

digali orang dengan tjakap-saksama,

melalui sawah kering menantikan

datangnja air membawa hidup padanja

 

Dan tak lama lagi, dengarlah Rakjatku

gamelan datang, ditabuh orang bersama

Lihatlah lautan padi kuning dihadapanmu

Itu, rakjatku, pesta panen negara…….

 

VII

Demikianlah pohon tua kaku, setengah mati,

bertahun-tahun terdjerat dihutan tanaman

asing, tumbuh rapat meng’lilingi batang,

telah hidup berdaun muda kembali

 

Alangkah megah tampak ia berdiri;

Lebar tebal mahkota daun atas batangnja

Berdiri aku berchidmat dibawahnja

dan doa melintas didalam hati.–

 

”Lindungilah Tuhan, hasil perdjuangan rakjatku

Lindungilah hasil, direbut darah badan beribu-ribu”

 

Ditjakrawala tampak langit pelahan menghitam

Ketjut hatiku melihat Surja tertutup awan

Akan datangkah hudjan menjegarkan Pohonku ini

Ataukah halilintar turun membawa mati?

 

Berdiri aku berchidmat

dan doa melintas didalam hati…….

***

Sumber: Mimbar Indonesia, No. 15, TAHUN IV, 15 APRIL 1950: 21-23

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: