Posted by: niadilova | 01/12/2018

PPM #161: Kesewenang-wenangan Tentara Inggris dan NICA/Belanda di Padang (1946)

Padang Genting

Djakarta, 8 Agoest (Antara)

      TADI malam B.B.C. (Londen) menjiarkan, bahwa seorang opsir Inggeris ditembak mati di Padang. Kini sedang dikirim kesana 2.000 serdadoe.” (A)

==============

Padang genting

Boekittinggi, 8 Agoest (Antara)

   BERHOEBOENG dengan penangkapan sewenang2 atas diri pembesar2 Indonesia oleh Inggeris/Nica di Padang maka Goebernoer Moeda Soematera Tengah Dr. Moh. Djamil telah mengirimkan kawat kepada pihak Serikat menoentoet soepaja mereka dibebaskan dengan segera, karena hal itoe moengkin akan mengganggoe keamanan jg. akibatnja tidak bisa ditanggoeng.

   Dari pihak jang boleh dipertjaja “Antara” mendapat kabar bahwa Kepala Polisi Padang bagian siasat tn. St. Boerhanoedin dan 14 polisi agen jang ditangkap oleh Serikat telah dimerdekakan kembali pada tg. 5/8 [1946].

     Tentang keadaan di Padang jang sebagai diketahui kini dalam keadaan katjau-balau karena perboeatan Inggeris/Nica dapat dikabarkan lebih djaoeh bahwa telah terjadi kebakaran di Alanglawas, jaitoe bagian kamp dikota Padang, hingga 4 roemah terbakar. Setengah djam kemoedian terdjadi poela kebakaran di Padangpasir dan di Kampoeng Perak. Djoega terdengar letoesan2 dari djoeroesan lapangan terbang di Tabing kira 15 km. dari Padang.” (B)

***

Salinan dari laporan surat kabar Ra’jat, No.236 TAHOEN KE I, KEMIS 8 AGOESTOES 1946 (A) dan No. 237, THOEN KE I, DJOEM’AT, 9 AGOESTOES 1946 (B) tentang tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh pasukan Inggris dan Belanda (NICA) di Padang pada awal Agustus 1946 kenyusul kedatangan mereka kembali ke Indonesia dengan alasan untuk memulihkan keamaanan negeri yang sudah ditinggalkan oleh Jepang itu. Namun, sebagaimana sudah sama kita ketahui, kedatangan tentara Belanda yang dibantu oleh pasukan Inggris itu dianggap oleh bangsa Indonesia sebagai upaya untuk menjajah Indonesia kembali.

Pasukan Inggris dan Belanda melakukan penangkapan-penangkapan dimana-mana. Mereka juga melakukan perusakan dan pembakaran rumah-rumah penduduk, serta menyita senjata dan fasilitas publik. Tindakan sewenang-wenang ini telah menimbulkan rasa antipati yang makin meluas di kalangan rakyat Indonesia.

Sejarah telah mencatat bahwa akhirnya Belanda secara resmi melakukan Agresi Militer Pertama (‘Aksi Polisionil’ menurut istilah mereka) pada 27 Juli 1947, yang kemudian dilanjutkan dengan Agresi Militer Kedua sejak 19 Desember 1948. Kedua agresi militer itu gagal. Rakyat Indonesia sudah bertekad untuk tidak mau dijajah lagi oleh Belanda.

Kiranya para sejarawan dapat melakukan investitasi historis lebih menyeluruh tentang apa yang telah dilakukan oleh gabungan pasukan Inggris (dengan tentara Gurkha-nya) dan Belanda dengan tentara  NICA-nya) dalam rentang waktu Agustus 1945 sampai Juli 1947. Pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan yang mereka lakukan setelah mendarat di Indonesia harus dipertanggungjawabkan. Penelitan KITLV dan mitra-mitranya tentang Indonesia pada periode 1945-1950 harus mengungkapkan pula dosa-dosa yang telah dilakukan oleh tentang Inggris di Indonesia, tidak hanya fokus kepada aksi-aksi brutal tentara Belanda saja.

Dr. Suryadi – Leiden University / Padang Ekspres, Minggu 27 Mei 2018

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: