Posted by: niadilova | 06/11/2018

Kilas balik: Mr. Mohammad Djamin jadi Datuk di Sulit Air (1932)

PERAJAAN DAN PERALATAN DI SOELIT-AIR

Ketika Mr. M. Djamin diberi bergelar Datoek Soetan Maharadja Besar

Pada bolean Februari j.l. [1932] ini t. Mohammad Djamin soedah sampai kembali ketanah air beliau (Soelit-Air) dengan membawa daradja

Mr. M. Djamin foto 1

t Meester in de rechten dari Nederland [Sekolah Tinggu Hukum di Leiden; sekarang Universiteit Leiden]. Baroe-baroe ini beliau diangkat mendjadi advocaat dan procureur pada Raad van Justitie di Padang, jaïtoe diiboe negeri tanah air beliau.

Pada hari Kamis 4 Augustus 1932 ini sekalian penghoeloe dan orang tjerdik pandai dalam negeri Soleit-Air telah mengadakan kerapatan diatas balai-balérong ‘adat negeri Soelit-Air, memoetoeskan bahasa Mr. M. Djamin diangkat oléh negeri mendjadi “Orang gedang seorang senegeri”, jaïtoe menoeroet ‘adat jang soedah biasa terpakai di Soelit-Air dengan memakai gelar “Datoek Soetan Maharadja Besar”, sebagai oelasan marhoem datoek Soetan Maharadja Redacteur Oetoesan Melajoe di Padang.

Kepoetoesan moefakat kerapatan negeri itoe di’oemoemkan pada hari Ahad 18 September 1932 ini dengan mengadakan perdjamoean besar memotong tiga ékor kerbau, dan memenoehi ‘adat jang lazin jaïtoe: ‘adat diisi lembaga ditoeang, darah dikalikan dalam, tandoek digantoengkan tinggi, koean dikatjau daging dilapah (‘adat mendirikan penghoeloe). Perdjamoean ini diadakan diatas balai2 ‘adat negeri dengan mendapat mendapat perhatian jang loear biasa dari anak negeri, demikian lagi dari tamoe-tamoe jang dioendang dari negeri-negeri jang berkeliling.

Kira-kira poekoel 12 teengah hari waktoe jang terseboet, Mr. M. Djamin soedah memakai pakaian ‘adat penghoeloe tjara Minangkabau dengan setjoekoepnja. Dari roemah ‘adat poesaka beliau, beliau diarak oléh kira-kira 80 orang penghoeloe dengan memakai kebesaran; dibelakang arakan itoe kelihatan lagi kira-kira 100 orang perempoean jang mendjoedjoeng boenga sirih jang terhias, sebagai kebesaran dan menambah semarak perarakan terseboet. Oepatjara itoe berdjalana keliling kota, achirnja menoedjoe kebalai-balai ‘adat jaïtoe ditempat djamoean diadakan. Sesampainja dipintoe gerbang jang soedah terhias lagi dengan oekiran hoeroef “selamat datang”, perarakan itoe disamboet dengan dentoem bedil bertoeroet-toeroet toedjoeh kali, ‘alamat kebesaran. Ketika djamoean sedang hadir, doea tiga orang penghoeloe berpidato dengan pandjang lébar menoeroet ‘adat; oedjoednja meng’oemoemkan kepada jang hadir moelaï waktoe itoe Mr. M. Djamin telah bergelar Datoek Soetan Maharadja Besar.

Poekoel 3 léwat sedikit setelah segala djamoe selesai makan minoem dan wang ‘adat soedah dibagi-bagi, perdjamoean itoepon disoedahlah dengan do’a selamat.

Sebagai penoetoep, rasanja ada djoega berfaédah djika penoelis bentangkan dengan ringkas sedjarah Mr. M. Djamin gl. Dt. Soetan Maharadja Besar itoe, ahar pembatja ketahoei.

Mr. M. Djamin foto 2

Mr. M. Djamin gl. Dt. Soetan Maharadja Besar dilahirkan di Soelit-Air (Solok) pada tahoen 1903. Beliau anak dari mendiang Dt. Malin Maharadja gep.[ensioneerd] Penghoeloe Kepala Soelit-Air; tjoetjoe kandoeng dari marhoem Dt. Radjo Mansoer Larashoofd Soelit-Air jang penghabisan; kemenakan dari Dt. Radjo Mansoer Menteri politie 1e kl. Medan jang sekarang. Djadi sebeloemnja beliau memakai gelar ‘adat poesaka beliau sendiri, telah diangkat oléh negeri memakai gelar “Dt. Soetan Maharadja Besar”.

Pada tahoen 1909 beliau moelaï mengoendjoengi bangkoe sekolah partikoelir (Volkschool) di Soelit-Air; tahoen 1912 masoek sekolah Gouv.[ernement] kl. II Singkarak dan tahoen 1913 masoek sekolah H.I.S. di Solok.

Setelah tammat pada H.I.S. Solok th. 1917, beliau toeroet dalam oedjian bakal djadi moerid Kweekschool di Fort de Kock. Dalam oedjian ini beliau dapat pontén jang paling baik, tetapi sajang tidak dapat diterima karena menoeroet keterangan dokter ada berpenjakit {1402} dada. Tahoen itoe djoega beliau diterima di kl. I pada sekolah M.u.l.o. di Padang; setelah tammat teroes masoek Rechtschool di betawi.

Sesoedah beliau loeloes dalam oedjian penghabisan disekolah hakim [di Betawi] pada tahoen 1922, diangkatlah mendjadi Griffier dibantoekan pada Landraad Padang. Tidak lama kemoedian ketika Sekolah Hakim Tinggi (Rechthoogeschool) diboeka di Betawi, beliau diterima lagi mendjadi stoedén disana. Sebeloemnja beliau menamatkan sekolah itoe, atas permintaan beliau sendiri pada pertengahan tahoen 1927 bertolaklah beliau menoedjoe tanah dingin [Belanda], akan melandjoetkan ‘ilmoe kehakiman itoe.

Dengan selamat sekaran gbeliau telah berada kembali disisi ahli pamili beliau dengan memangkoe daradjat jang moelja.

Selama beliau dalam peladjaran dari awal sampai achirnja teroes-meneroes mendapan pontén jang tertinggi. Dalam perloembaan djarang sekali no. 2, malahan selaloe dimoeka.

Achiroe’lkalam kita berseroe, moga2 pandjanglah ‘oemoer beliau, selamat sedjahteralah sekalian ahli pamili beliau dan bertambah lapanglah djalan jang beliau toeroet itoe bagi pemoeda Minangkabau, amin!

S.M. {1403}

***

Sumber: Majalah Pandji Poestaka, No. 89, TAHOEN X, 4 November 1932, hlm.1402-1403. Artikel ini disalin sebagaimana versi aslinya, dengan sedikit tambahan dalam tanda “[ ]”. Ilustrasi berasal dari artikel aslinya (hlm. 1402).

Penyalin: Dr. Suryadi, Leiden University, Belanda

Catatan: Tentang Mr. Mohammad Djamin Dt.Maharadja Besar, meninggal pada hari Sabtu, 10 Mei 1957 di Cipanas dan dimakamkan di TPU Karet Jakarta, lihat juga: https://niadilova.wordpress.com/2015/01/05/minang-saisuak-204-mr-mohammad-djamin/. Menarik juga dicatat bahwa beliau adalah seorang anggota terkemuka organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) yang secara historis berakar di Jawa. Mungkin oleh sebab itulah dia melarang disebarkannya paham Muhammadiyah di Sulit Air, yang sampai menimbulkan protes dalam masyarakat di kampungnya (lihat artikel “Biar saja tak beradat asal saja beragama: Pledooi Dt. Madjo Bongsoe menjamboet vonnis kerapatan adat negeri Soelit Air jang dikepalai oleh Mr. [Mohammad Djamin] Dt. St. Maharadja Besar.” yang dimuat dalam surat kabar Tjamboet [Padang], No. 34 TAHOEN KE I, HARI ARBA’A 20 SEPT 1933).


Responses

  1. kok sekarang nama beliau di tulis Mr.M.Yamin bukan Djamin ya? apakah orangnya sama atau lain ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: