Posted by: niadilova | 03/11/2018

PPM 160: Pemimpin PERMI dan P.S.I.I. dikirim ke Digul (1934)

Nieuwe Digoelbewoners.

Permi en P.S.I. leider Verbannen.

   In overeenstemming met den Raad van Nederlandsch-Indië s krachtens artikel 37 de Indische Staatsregeling aan:

     Iljas Jakoeb, onder-voorzitter van het Hoofdbestuur van de “Persatoean Moeslimin Indonesia” (Permi) te Asahan (sic) Koembang, Residentie Sumatra’s Westkust;

     Hadji Djalaloedin Thaib, gelar Datoek Panghoeloe Besar, voorzitter van het Hoofdbestuur van de “Persatoean Moeslimin Indonesia” (Permi) te Balingka, Residentie Sumatra’s Westkust;

      Sabillal Rasad alias Rasad Jacub gelar Datoek Bandaharo, lid en commissaris van het Hoofdbestuur te Manindjau van de “Partai Sarekat Islam Indonesia”, te Manindjau, Residentie Sumatra’s Westkust en[;]

     Hadji Oedin Rahmany, van beroep Godsdienst-onderwijzer, lid en voorzitter van het afdeelings-bestuur te Manindjau van de “Partai Sarekat Islam Indonesia”, te Loeboek Basoeng, Residentie Sumatra’s Westkust, in het belang van de openbare rust en orde de hoofdplaats der tijdelijke onderafdeeling Boven-Digoel, afdeeling Amboina, Gouvernement der Molukken, tot verblijf aangewezen.”

***

Salinan berita dari koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 21 Juli 1934 tentang pendigulan empat orang intelektual Minangkabau (pemimpin Permi dan PSI). Rezim Kolonial Belanda mendakwa mereka telah melanggar pasal 37 Indische Staatsregeling (Undang-undang Negara Hindia Belanda). Mereka yang menjadi penghuni baru Digul (nieuwe Digoelbewoners) itu adalah: Iljas Jakoeb, Hadji Djalaloedin Thaib gelar Datoek Pangholoe Besar, Sabillal Rasad alias Rasad Jacub gelar Datoek Bandaharo dan Hadji Oedin Rahmany (lihat juga: Eindhoven Dagblad, 07-08-1934).

Seperti dapat disimak dalam laporan di atas, Iljas Jakoeb adalah Wakil Ketua Permi (Persatoean Moeslimin Indonesia) yang berasal dari Asam [bukan Asahan] Kumbang, Onderafdeeling Painan. Usianya baru 32 tahun saat dikirim ke Digul pada 1934. (Berarti dia lahir tahun 1902) (lihat: De Indische Courant, 24-07-1943 [artikel: “Naar Boven-Digoel”]).

Hadji Djalaloedin Thaib berusia 37 tahun waktu ditangkap (1934). Ketua pengurus pusat Permi ini adalah putra Minangkabau kelahiran Balingka pada 1897.

Sabillal Rasad lahir di Maninjau pada tahun 1907. Waktu ditangkap pada 1934, dia baru berusia 27 tahun. Pria yang ketika ditangkap ini disebut “zonder beroep” (tanpa pekerjaan) ini adalah pengurus pusat Partai Sarekat Islam Indonesia (P.S.I.).

Sedangkan Hadji Oedin Rahmany berusia 35 tahun saat ditangkap pada 1943. Pria kelahiran Lubuak Sikapiang pada tahun 1899 ini bekerja sebagai guru agama (godsdienstonderwijzer) dan menjadi anggota pengurus P.S.I. di Maninjau.

Sebelum dikirim ke Digul, Hadji Oedin Rahmany dipenjara di Payakumbuh, sedangkan tiga orang lainnya  (Iljas Jakoeb, Hadji Djaloedin Thaib dan Sabillal Rasad) dipenjara di Padang (Soerabaijasch Handelsblad, 23-07-1934).

Mungkin akan memberi banyak manfaat secara akademik apabila ada sejarawan Sumatera Barat yang menulis buku yang berisi biografi singkat orang-orang Minangkabau yang pernah didigulkan oleh Rezim Kolonial Hindia Belanda yang represif itu.

**

Dr. Suryadi – Leiden University / Padang Ekspres, Minggu 20 Mei 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: