Posted by: niadilova | 27/10/2018

Minang saisuak #327: Musikus Sjaiful Bahri (1922-1976): Putra Payakumbuh yang anti ‘Ganyang Malaysia’

Foto Sjaiful Bahri-cropBila mendengar nama ‘Orkes Sjaiful Bahri’ (didirikan di Jakarta, 1951), tentulah hal itu mengingatkan kita kepada nama seorang Minangkabau yang pernah malang melintang di blantika musik Indonesia dan Malaysia pada tahun 1950-an sampai 1970an. Ia tiada lain adalah Sjaiful Bahri, tokoh rubrik ‘Minang saisuak’ kali ini.

Riwayat hidup Sjaiful Bahri (di Malaysia namanya antara lain ditulis: ‘Saiful Bahri’) belum banyak diungkap dan diteliti orang, berbeda dengan Zubir Said, putra Minangkabau lain yang juga menjadi legenda musik Nusantara, yang menciptakan lagu kebangsaan Singapura, “Majulah Singapura” (lihat: Hasril Chaniago, 101 Orang Minang di Pentas Sejarah, Padang: Citra Budaya, 2010: 550-552).

Sjaiful lahir di Payakumbuh pada 19 September 1922 dari keluarga biasa. Ia 11 orang bersaudara. Pendidikannya dimulai dari INS Kayu Tanam tempat ia memulai bakat musiknya. Tahun 1941, ia sudah hijrah ke Jakarta dan menjadi pemain biola di Orkes Studio Jakarta. Setelah itu namanya makin berkibar di dunia musik. Setelah Indonesia merdeka, Sjaiful sering bernyanyi di Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Ia berkenalan dengan Ismail Marzuki yang mengetuai RRI Jakarta. Tahun 1954 Ismail Marzuki wafat dan Sjaiful menggantikan posisinya di RRI Jakarta. Sebelumnya, pada 1951 Sjaiful membentuk ‘Orkes Sjaiful Bahri’ yang menjadi salah satu legenda dalam blantika musik Indonesia pada tahun 1950-an dan 60-an. Aransemen musik dan lagu-lagu ciptaan Sjaiful juga banyak dipakai film-film Indonesia pada masa itu. Ia bersahabat baik dengan tokoh film Indonesia Usmar Ismail. Musik pengiring film ‘Tiga Dara’ yang terkenal yang disutradarai Usmar Ismail adalah gubahan Sjaiful.

Di akhir 1950an, Sjaiful tinggal beberapa lama di Malaysia. Ketika itulah ia terlibat dalam mempersiapkan lagu kebangsaan Malaysia, ‘Negaraku’. Lebih dari itu, ia juga terlibat dalam mempersiapkan anthem state Malaka, ‘Malaka Mamu Jaya’. Tampaknya Tunku Abdul Rahman, pemimpin Malaya yang kemudian menjadi Perdana Menteri Malaysia pertama, sengaja mengundang Sjaful untuk urusan persiapan lagu kebangsaan Malaysia ini. Turut juga diundang Zubir Said yang waktu itu bermukim di Singapura. Tanggal 31 Agustus 1957, untuk pertama kalinya ‘Negaraku’ dinyanyikan di Kuala Lumpur, menandai merdekanya Malaysia dari Inggris. Lebih jauh tentang peran Sjaiful dalam penciptaan lagu ‘Negaraku’ , silakan baca buku Saidah Rastam, Rosalie and Other Love Songs (Petaling Jaya: Strategic Information and Research Development Centre, 2017, 2nd ed.: 225-235) dan disertasi Shazlin Amir Hamzah, ‘Penjenamaan Bangsa: Lagu-lagu Patriotik Popular dan Pembentukan Jenama Malaysia’ (Universiti Kebangsaan Malaysia, 2016).

Dari kedua rujukan di atas dapat disimpulkan: Sjaiful hijarah ke Kuala Lumpur menyusul keputusan Soekarno melancarkan politik konfrontasi terhadap Malaysia pada Juli 1963. Ia meninggalkan karir prestisiusnya sebagai pemusik terkenal di Jakarta karena tidak setuju dengan keputusan Rezim Soekarno yang melancarkan politik konfrontasi melawan Malaysia.

Sjaful ‘menyembunyikan diri’ di Malaysia. Ia memakai nama samaran ‘Surya Buana’, karena takut diuntit oleh mata-mata Indonesia. Maklum, situasi konfrontasi antara kedua negara jiran yang baru merdeka itu cenderung memanas. Sjaiful rupanya menyukai Malaysia, yang juga sudah dikunjunginya sebelumnya, karena menurutnya lebih cantik dan lebih tenang, berbeda dengan Jakarta yang selalu penuh dengan hiruk-pikuk politik. Seorang seniman seperti Sjaful tentu tidak suka kekerasan. “I was impressed by the racial harmony of this country…I am artist. I don’t like confrontation anymore than many other Indonesians…Even music in Indonesia is not free from politics”, ungkapnya dalam koran Straits Times (17-11-1963) sebagaimana dikutip oleh Saidah Rastam (op.cit.: 229).

Belum ditemukan data pasti berapa banyak agu yang sudah diciptakan Sjaiful. Yang jelas, banyak lagunya menjadi hit dan melegenda sampai kini, antara lain ‘Semalam di Malaya’ [kata ‘Malaya’ kemudian berganti menjadi ‘Malaysia’] yang tetap dinyanyikan orang sampai sekarang. Agak aneh, di negeri asal sendiri [Indonesia], nama Sjaful seolah tenggelam, sementara di Malaysia, ‘tanah air keduanya’, namanya abadi lewat lagu-lagu ciptaannya, seperti ‘Berjaya’, ‘Muhibbah’, ‘Prajurit Tanah Ayer’, ’Kenangan Masa’, ‘Fajar Harapan’, ‘Surat Tak Bernama’, dan ‘Serunai di Waktu Malam’. yang tetap dinyanyikan di negara jiran itu sampai sekarang. Lirik beberapa lagu Sjaiful merefleksikan perasaan cinta dan kagum kepada masyarakat dan tanah Semenanjung Malaya (sekarang: Malaysia). Di Malaysia Sjaiful aktif di lapangan kebudayaan dan seni, antara lain dalam Orkes Radio Malaya dan institusi Filem Negara Malaysia. Ia menjadi guru dan panutan banuak seniman muda Malaysia pada waktu itu, termasuk P. Ramlee, artis Malaysia yang terkenal di zamannya.Nasib seorang musikus mungkin begitu: lagu-lagunya abadi, tapi namanya cendung dilupakan orang.

Selama hidupnya, Sjaiful menikah tiga kali: Istri pertama di Indonesia (yang diceraikan sebelum hijrah ke Malaysia) dan istri lainnya di Malaysia. Sjaful Bahri wafat pada 5 Desember 1976 di Tokyo ketika ia sedang menggarap soundrack untuk film ‘Wulan di Sarang Penculik’. Jenazahnya dibawa ke Jakarta, kota yang telah membesarkannya di dunia musik, dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Innalillahi wainailaihi rajiun! Harta Allah akhirnya akan kembali kepadaNya.

Sumber foto: koran Malaysia [Berita Harian?] kiriman Dr. Shazlin Amir Hamzah yang tarikhnya belum diketahui [tapi tak lewat dari 1968].

Suryadi – Leiden University, Belanda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: