Posted by: niadilova | 10/09/2018

PPM #175: Ramai-ramai Masuk Komunis karena Angku Damang Memper-‘waang’ Penghulu (1925)

P. K. I meloeas

   Boekan sadja disebelah Padang Pandjang dan Solok, tapi djoega dibilangan Pajakoemboeh istimewa di Soeliki, koempoelan-kompoelan P.K.I. dan Serikat Ra’jat makin meloeas. Beratoes-ratoes anak negeri laki-laki perempoean kabarnja ada masoek mendjadi leden[nja].

    Kejakinan anak negeri, bahwa dengan memasoeki perkoempoelan itoelah kelakoean sewenang-wenang, tindis-tindisan kepihak ra’jat, kekasaran Demang jang berwaäng kepada penghoeloe, pendeknja perindahan kepada ADAT dan AGAMA, akan mendapat perobahan.

     Propagandisten mendapat kesempatan jang sebaik-baiknja boeat meloeaskan oesaha partijnja dengan mendjandjikan bahwa ia akan mempertegoeh ADAT dan AGAMA.

     Tidak heran kalau dalam bahagian ini banjak penghoeloe-penghoeloe dan goeroe-goeroe (hadji-hadji) toeroet tjampoer dalam gerakan koeminis itoe.

     Memang orang Minangkabau fanatiek kepada Adat dan Agama, sebab itoe ia lekas benar tertarik kepada gerakan jang mendjadjikan akan membela kedoeanja itoe, meskipoen ia tidak tahoe apakah djandji itoe akan dipenoehi atau tidak.

     Perboeatan seorang Demang jang kabarnja soeka benar memaki dan ber-WAANG kepada penghoeloe-penghoeloe dibawah ressortnja, kira-kira akan mendjadi poepoek jang amat baik bagi orang-orang Communist oentoek mentjampoerkan dirinja kedalam pergaoelan adat jang dinamakan benteng Minangkabau itoe.

     Didalam segala waktoe kalau pehak atas hendak tahoe siapa adanja [bagian ini tidak dapat dibaca] mengindjak-ngindjak [bagian ini tidak dapat dibaca] itoe, tentoe [bagian ini tidak dapat dibaca] tidak banjak Demang jang sekoerang adjar itoe!

***

Laporan surat kabar Miambar Ra’jat, No. 7, Tahoen I, Rebo 18 Maart 1925 tentang makin meluasnya pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) di Luhak 50 Kota. Seperti ditulis dalam laporan di atas, beratus-ratus orang di daerah Payakumbuh, teristimewa di Suliki (dalam laporan lain juga disebutkan penerimaan yang luas terhadap paham komunis ini di Danguang-Danguang) mendaftar menjadi anggota Sarekat Ra’jat.

Laporan di atas menginformasikan kepada kita bahwa salah satu faktor yang menyebabkan banyak orang berbondong-bondong menerima paham komunis melalui organiasi Sarekat Ra’jat adalah karena sikap beberapa orang Tuanku Demang, jabatan elit pribumi bikinan Belanda, yang sombong, pongah dan sok kuasa. Dalam laporan lain juga disebutkan: banyak penghulu menjadi komunis karena persoalan pajak yang takarannya dibuat sesuka hati saja oleh penguasa (yang tentunya dijalankan oleh Tuanku Demang dan Tuanku Laras) tanpa mengajak kaum penghulu berunding terlebih dahulu (Daulat Ra’jat, No. 6, Tahoen I, Senen 16 Maart 1925).

Rupanya Tuanku-tuanku Damang itu (jelas tidak semuanya) bersikap kasar kepada kaum penghulu. Dalam laporan di atas disebutkan Tuanku Demang yang “ber-WAANG” kepada para penghulu dan suka memaki-maki mereka. Kata ganti orang kedua waang dalam bahasa Minangkabau jelas dipakai dalam langgam kata menurun, yaitu dari orang tua kepada orang muda atau anak kecil. Jelas bahwa sikap Tuanku Demang itu sangat tidak respek kepada para penghulu yang seharusnya dihormati, ditinggikan seranting, didahulukan selangkah.

Dengan menghembuskan isu untuk melindungi adat dan agama, merujuk laporan di atas, para propagandis komunis mendapat kesempatan untuk mempengaruhi masyarakat dan para penghulu. Memang bagi orang Minangkabau, kalau adat dan agama mereka (Islam) sudah dicederai, mereka mau melakukan apa saja untuk membela keduanya. Ini mengingatkan kita pada ungkapan “Ulando babenteang basi, Minangkabau babenteang adaik”.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 9 September 2018

 

Advertisements

Responses

  1. Kemungkinan nama Demang Soeliki tersebut adalah “Haroem”. Sebagaimana tersebut dalam Majalah Pandji Poestaka tertanggal 31 Desember 1925. Atau Soetan Tahar Baharoeddin, nama ini muncul dalam Tjaja Soematra 21 Juli 1929. Data diperoleh dari Delpher

  2. Terima kasih atas tambahan infonya ‘parintangrintang’. Menarik untuk menelusurinya lebih lanjut. Saya akan catat kedua nama itu. Rupanya pada masa itu memang ada demang (tentunya bukan semua demang) yang bersikap arrogant, merasa berkuasa dan dilindungi oleh patron Belandanya (Asisten Resident atau Resident).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: