Posted by: niadilova | 27/08/2018

PPM #173: Komunis perempuan Minang Upik Hitam dibebaskan (1934)

Kroniek

Komoenis poetri Oepik Hitam dari [nagari] Boenga Tandjoeng (Padang Pandjang) tgl. 30 October 1933 telah keloear dari pendjara Semarang, habis mendjalankan hoekoemannja 7 tahoen pendjara. Ia beloem diizinkan poelang ke kampoengnja, masih ditahan dalam pendjara Poelau Karam, Padang. Kaoem keloearganja telah menghadap pada Resident Sumatra Barat membitjarakan soepaja Oepik Hitam diperkenankan poelang kekampoengnja. Tetapi maksoed ini beloem dibenarkan. Penghoeloe dari pesoekoeannja poen telah [meng]ichtiarkan djoega minta pada jang berwadjib, poen beloem dimakboelkan.

     Januari 1934 penghoeloe-penghoeloe di Boenga Tandjoeng madjoekan rekes pada G. G. [Gouverneur Generaal] dengan maksoed soepaja Oepik Hitam diizinkan tinggal dinegerinja. Atas hal ini mereka beloem mendapat balasan.”

***

Laporan surat kabar Daulat Ra’jat, No. 96, Tahoen ke-IV, 20 Mei 1934 tentang pembebasan seorang propagadis komunis perempuan Minangkabau yang bernama Upik Hitam (atau ‘Upiak Itam’ dalam pelafalan bahasa Minangkabau). Laporan ini makin melengkapi informasi-informasi terdahulu tentang Upik Hitam yang sudah diperoleh (lihat: rubrik “Paco-Paco Minangkabau”, Padang Ekspres, 06-12-2015, 13-12-2015).

Upik Hitam adalah seorang propagandis komunis Perempuan yang terkemuka di Minangkabau. Ia beradal dari kenagarian Bungo Tanjuang (Boenga Tandjoeng), Padang Panjang. Ia aktif dalam berbagai rapat yang diadakan oleh Sarekat Ra’jat. Pada tahun 1926, menyusul pecahnya pemberontakan Komunis Silungkang, Upik Hitam ditangkap oleh Belanda. Pada bulan Februari 1927 “Pengadilan Landrad di Sawahloento mendjatoehkan hoekoeman pendjara 5 tahoen” kepadanya (Pandji Poestaka, No. 16, Tahoen V, 25 Februari 1927: 260 ( Kroniek)), yang kemudian, berdasarkan laporan yang dikutip di atas, disebutkan bahwa hukuman yang dijatuhkan kepadanya 7 tahun lamanya (ditahan di penjara perempuan di Semarang), tapi sumber lain menyebutkan 8 tahun (lihat: De Tribune: sociaal democrat weekblad, 29-01-1936).

Koran Sinar Sumatra edisi Senin 15 Juli 1935 melaporkan:

Kabarnja doeloe soedah pernah datang pertanjaan kepada Kerapatan Nagari Boenga Tandjoeng tentang Oepik Hitam terseboet. Djawaban menjatakan bahwa Kerapatan berikoet Kepala Nagari Boenga Tandjoeng tidak keberatan kalau Oepik Hitam dipoelangkan ke kampoengnja dan berdjandji djoega apa bila ia sampai melakoekan poela actienja seperti doeloe akan menjerahkan ia pada jang berwadjib.” Ini bersesuaian dengan laporan Daulat Ra’jat di atas.

Selanjutnya Sinar Sumatra (ibid.) menulis: “Akan tetapi menoeroet kabar ada doea orang Datoek jang menaroeh keberatan.

 Entah karena keberatannja doea orang Datoek itoe atau bagaimana, sampai kini Oepik Hitam menoeroet pendengaran masih berada dalam boei [di penjara Pulau Karam, Padang].

Orang koeatir kalau kalau keadaan Oepik Hitam telah loepa sadja jang berwadjib mengoeroesnja, jaitoe loepa dengan tidak disengadja. Kalau tidak demikian tentoe—menoroet biasanja—nasib Oepik Hitam soedah ada ketentoeannja, misalnja diasingkan kalau memang ia dipandang berbahaja, atau dimerdikakan apabila ia tidak dianggap berbahaja lagi, tetapi tidak diperam sebagai sekarang.

 Engkoe [Jahja] Datoek Kajo Volksraadlid kabarnja telah diberi tahoekan hal ini, siapa ketika mendengar ini sidah ikoet gojang kepala djoega.

Ada lagi kabar bahwa doea orang Datoek jang tegen pada poelangnja Oepik Hitam ke Boenga Tandjoeng itoe, ada berhoeboeng dengan banjak sangkoetan dengan ia. Kabarnja ada beberapa bagian harta benda Oepik Hitam jang telah tergadai atau didjoeal zonder dapat perkenannja. Maka boekannja tidak boleh djadi bahwa kalau Oepik Hitam poelang ke kampoeng (Boenga Tandjoeng), perkara itoe akan dimintakannja keadilan pengadilan. Apakah itoe jang ditakoetkan Datoek datoek jang berdoea itoe? Wallahoe a’lam.

Kisah hidup dan perjuangan para komunis perempuan Minang seperti Upiak Hitam dan Umi binti Abdul Sukur (istri Sutan Said Ali) belum banyak diungkap oleh para sejarawan. Kita tunggu kajian lebih mendalam mengenai “wanita-wanita merah” Minangkabau tersebut.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 26 Agustus 2018


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: