Posted by: niadilova | 06/08/2018

PPM#170: Sjarifah Nawawi menikah dengan Menak Sunda R.A.A. Wiranatakoesoemah (1916)

1). “Lange dezen weg betuigen wij onzen vriendelijke dank aan allen dia belangstelling

     betoonden bij onzen verloving.

SJARIFAH NAWAWI

Toemenggoeng WIRANATAKOESOEMAH.

Fort-de-Kock

_____________, 20 Mei 1916.         2186

Tjiandjoer

—————

  • Getrouwd: en Receptie in de Kaboepaten te Tjiandjoer op den 28ten Juni 1916 ’s avonds 7 uur.   2563
  1.  SJARIFAH NAWAWI
  2. Toemenggoeng WIRANATAKOESOEMAH

***

Dua iklan yang muncul dalam surat kabar berbahasa Belanda yang memberitakan pertunangan dan perkawinan pasangan terkemuka asal Minangkabau dan Sunda. Pasangan yang akan menikah itu adalah Sjarifah Nawawi asal Fort de Kock (Bukittinggi) dan Raden A.A. Wiranatakoesoemah (sering juga ditulis: Wiranatakoesoema], Bupati Cianjur yang kemudian menjadi Regent Bandung.

Iklan pertama (nomor 2186) muncul pada bulan Mei 1916 (sebulan sebelum hari pesta perkawinan pasangan tersebut) di koran De Preanger-bode edisi 22 Mei 1916. Sedangkan iklan kedua (nomor 2563), yang memberitakan tanggal pesta pernikahan pasangan itu (tanggal 28 Juni 1916) juga dimuat di koran yang sama edisi 22 Juni 1916.

Sjarifah Nawawi adalah anak perempuan Nawawi Soetan Makmoer (1859-1928), guru pribumi yang terkenal di Kweekschool (Sekolah Raja) Fort de Kock. Sjarifah tercatat sebagai anak perempuan Minangkabau pertama yang menjadi murid Kweekschool Fort de Kock dan juga merupakan anak perempuan Minangkabau pertama yang mengecap pendidikan sekuler ala Eropa (Belanda). Di Kweekschool Fort de Kock Sjarifah seangkatan dengan Tan Malaka dan Baginda Dahlan Abdoellah (keduanya kemudian sama-sama melanjutkan sekolah ke Belanda). Konon, Tan Malaka dan Dahlan Abdoellah pernah naksir kepada Sjarifah. Sejarawan Harry A. Poeze yang mewawancarai Sjarifah untuk penulisan bukunya tentang Tan Malaka bercerita kepada saya bahwa Sjarifah pernah menerima surat dari Tan Malaka yang mengungkapkan isi hatinya. Tapi surat itu dirobek oleh Sjarifah, karena ia menganggap Tan Malaka kurang gentle dan sudah terlambat datang kepada dirinya.

Ketika menikah dengan Wiranatakoesoemah sebagai istri ketiga (tapi dua istri pertama diceraikannya), Sjarifah berusia belum genap 20 tahun. Pasangan itu dikaruniai 4 orang anak: Am, M. Sjarif (meninggal waktu masih bayi), Nelly, dan Mien. Namun pasangan itu akhirnya bercerai pada bulan April 1924. Kala itu Sjarifah baru berusia 27 tahun. “Tindakan bapak [yang menceraikan ibu saya itu] menimbulkan reaksi keras di kalangan masyarakat Belanda dan Indonesia, dan banyak kecaman bermunculan baik di pers Belanda maupun di pers Indonesia”, termasuk dari Haji Agoes Salim, demikian tulis Mien Soedarpo, anak bungsu Sjarifah dalam memoarnya, Kenangan Masa Lampau, Jilid I (Jakarta: Yayasan Sejati, 1994:11). Kisah hidup Sjarifah, sampai meninggalnya di Jakarta pada 17 April 1988, dapat dibaca lebih lanjut dalam memoar anak bungsunya yang dinikahi oleh politikus dan pengusaha perkapalan Soedarpo Sastrosatomo itu.

Dr. Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 5 Agustus 2018

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: