Posted by: niadilova | 20/07/2018

Renung #75: Cebong – Kampret

Cebong Vs Kampret-crop
Sumber: https://plus.google.Dco

Di Indonesia, mungkin juga di setiap negara pasca-kolonial di dunia, heboh politik menyeret pikiran dan bisa mengubah prilaku warga negara, mulai dari pebisnis berdasi sampai kepada tukang sampah. Setiap rezim yang berkuasa meninggalkan bekas tapak  gonjang-ganjing politik yang terjadi selama masa kekuasaannya dalam sejumlah kosa kata – lama atau bikinan baru – yang menjadi semacam “trade mark” budaya kekuasaan yang dijalankan oleh rezim bersangkutan. Demikianlah umpamanya, di Zaman Orde Lama, kata marhaen(is), nasakom dan nekolim – untuk sekedar menyebut contoh – menjadi begitu populer dan dengan riang dan kenes meloncat-loncat dari satu ke lain mulut dan singgah di halaman-halaman media hampir setiap hari. Di Zaman Orde Baru pula, kata-kata seperti kamtibmas, repelita dan stabilitas terdengar hampir setiap hari dan pelan-pelan menujam ke otak belakang setiap warga.

Kini, di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dua kata yang paling populer dan hampir setiap hari kita dengar dan baca di media sosial (medsos) adalah cebong dan kampret, di samping beberapa kata lain, seperti mangkrak, anu, pembohong dan plangaplongo. Kata cebong dan kampret, yang semula hampir tersembunyi sunyi dalam halaman kamus-kamus, tiba-tiba menjadi populer dimana-mana dan singgah di sel otak setiap orang dari lintas kelas sosial.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke-2 (1989) halaman 154 mencatat arti kata cebong (dilafalkan ‘cébong’) atau kecebong, yaitu “anak kodok yg masih kecil berwujud spt ikan dan hidup di air; berudu”. Orang Minangkabau menyebutnya “garundang”. Tentu saja keterangan ini dapat dilengkapi: “memiliki ekor yang menyusut dan akhirnya hilang ketika ia sudah berubah menjadi kodok”. Sedangkan arti  kata kampret (dilafalkan ‘kamprét’) dalam kamus yang sama (halaman 383) adalah “kelelawar kecil pemakan serangga, hidungnya berlibat-lipat, tergolong dl warga Pegaderma, Nycteris, Hipposideros.” Tapi ada pula yang mengatakan cebong adalah singkatan dari “cerita bohong”. Dan baru-baru ini muncul pula kepanjangan baru dari kata kecebong, yaitu: “keterangan cepat tapi bohong-bohongan”.

Di era Rezim Jokowi yang tahun depan akan dievaluasi oleh rakyat melalui Pemilihan Umum 2019, cebong dan kampret tak ayal adalah dua kata paling populer. Mula-mula yang (di)muncul(kan) adalah kata cebong, lalu agak lama kemudian muncul pula kata kampret. Sebagaimana sudah sama kita ketahui, kata pertama merujuk kepada penghinaan oleh para simpatisan oposisi yang suka mengkritisi Rezim Jokowi. Konon istilah cebong ini muncul setalah ada postingan di medsos yang memperlihatkan Presiden Jokowi memelihata katak dan cebong di Istana Bogor. Sedangkan kata kedua merujuk kepada olok-olok oleh para pendukung fanatik rezim yang berkuasa kepada penyokong pihak oposisi.

Akan tetapi dalam konteks politik Indonesia kontemporer, kata cebong sudah identik dengan semua pendukung fanatik Presiden Jokowi dan kata kampret asosiatif dengan siapa saja yang dianggap bersikap kritis kepada Rezim yang sedang berkuasa di Indonesia sekarang. Oleh karena batas antara penguasa (pemegang status quo) dan oposisi dalam sistem politik Indonesia yang konon ‘demokratis’ itu cukup cair (terbukti dengan banyaknya politisi ‘kutu loncat’ ), maka kita boleh menduga bahwa pada suatu saat seorang ‘cebong’ bisa saja berubah jadi ‘kampret’ atau sebaliknya.

Menariknya, dalam konteks pemakaiannya di ranah politik Indonesia sekarang yang tampaknya makin gonjang-ganjing saja, kata cebong dan kampret menjadi bermakna (sangat) negatif. Sebutan cebong kepada pendukung Presiden Jokowi bermakna bodoh, dungu, goblok, bongak dan kata-kata lain yang bersinonim dengannya, disertai sikap mutung dan merasa benar sendiri, sebagaimana terefleksi dalam ungkapan yang beredar luas di medsos: “Cebong sejati, kalau lapar jadi tolol, kalau kenyang jadi bego” (kursif oleh Suryadi).

Barangkali dalam konteks sosial, kata cebong memang mengandung makna negatif,  dalam hal ini lebih pada makna ‘lekas percaya’ atau ‘lurus’ ketimbang ‘bodoh’, sebagaimana terefleksi dari cerita bangau yang memakan seluruh berudu yang terkurung di sebuah kubangan. Dalam cerita anak-anak ini dikisahkan seekor bangau datang ke kubangan yang hampir kering karena kemarau panjang. Di kubangan itu terkurung ratusan berudu atau cebong yang makin kehabisan air. Si bangau berkata kepada cebong-cebong itu: “Masuklah kalian bersama-sama ke dalam paruhku, dengan senang hati akan kupindahkan kalian ke sungai atau rawa yang banyak airnya supaya kalian tidak mati di kubangan kecil yang makin mengering ini.”

Maka dengan gembira berlompatanlah cebong-cebong itu ke dalam paruh sang bangau yang panjang dan berkantong itu. Setelah semua cebong itu masuk ke dalam paruh sang bangau, ia membawa mereka terbang, tapi bukan ke sungai atau rawa, melainkan ke sarangnya, kemudian dengan mudah ia menelan cebong-cebong itu dan sebagian diberikannya kepada anak-anaknya.

Selain dari itu, tampaknya tak ada makna kultural cebong yang negatif. Memang ada yang mengaitkannya dengan volume otak dan hatinya yang kecil: “Antomi cebong: otak dikit, hati kecil. Jadi, harap maklum!” kata sebuah sindiran di internet.

Di Minangkabau anak kodok ini justru mendapat gayutan makna positif, sebagaimana terefleksi dalam ungkapan “Gadang buayo di muaro, gadang garundang [cebong] di kubangan”, arti tersiratnya: setiap orang memiliki kelebihan masing-masing pada bidang tertentu dan ahli di bidangnya, jadi tak ada yang lebih baik daripada yang lainnya.

Memang lingkungan tempat cebong biasa tinggal, yaitu kubangan, juga asosiatif dengan suatu tempat yang tertutup dari dunia luar. Namun, soal kemampuan bermetamorfosis cebong menjadi kodok ketika sudah besar, itu justru adalah ‘kelebihan’ yang dimiliki oleh jenis makhluk ini.

Kampret, yang biasa ditemukan di banyak tempat di negeri-negeri tropis, kini juga disarati makna negatif. Kelelawar kecil pemakan buah yang masak di pohonnya dan serangga tertentu ini suka tidur pada siang hari dan bangun pada malam hari. Mereka tinggal di gua-gua yang gelap atau di daun pisang kering yang menggelantung di pohonnya. Posisi tidurnya: bergayut di dinding gua dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah.

Apakah gerangan yang membuat kampret memiliki makna negatif, sehingga muncul umpatan “Dasar kampret!” Kebiasaanya kampret yang tidur ketika siang dan bangun saat malam hari itu mungkin dianggap negatif jika diasosiasikan dengan sifat seseorang. Ini akan memberi makna sikap malas bekerja dan suka begadang di malam hari yang berpotensi merusak kesehatan. Posisi tidur kampret yang unik itu juga diasosiasikan dengan sifat negatif, karena dengan sikap tisur seperti itu segala sesuatu yang dilihat tampak terbalik (misalnya, yang benar dianggap salah atau sebaliknya).

Barangkali kesukaan kampret makan buah (di kebun orang) yang matang di pohonnya dianggap sifat negatif juga. Atau mungkin juga kesan (image) negatif itu muncul karena kebiasaan binatang ini yang terbang berseliweran secara bergerombol pada senja hari untuk memangsa serangga malam yang mulai keluar. Akan tetapi gerombolan kampret terbang berseliweran tanpa suara. Dalam segi lain, kampret justru dianggap binatang yang pintar karena memiliki sensor pendengaran yang sangat halus dan tajam sehingga mereka tak pernah menabrak sesuatu bila terbang cepat di malam hari.

Kini, politik Indonesia yang sedang berada dalam genggaman Rezim Jokowi telah menjadikan cebong dan kampret sebagai tumbal. Nama kedua jenis binatang ini, dengan penonjolan sifat negatifnya yang kelewat batas,  tiba-tiba meruyak dimana-mana, lebih-lebih lagi di medsos. Para ‘cebong’ dan ‘kampret’ yang mengalami eforia politik saling memekik, mencela, mengejikan, meledek, melumangkan, mendaifkan, mengecilkan, mem-bully, menghina, menceracau, melecehkan, merendahkan, mencemooh, menertawakan, mengata-ngatai, mencibir, mengecimus, mengolok-olok, mengejek, meremehkan, merendahkan, bahkan ada yang sampai saling melanyak secara fisik.

Sejak beberapa tahun terakhir perilaku berbahasa masyarakat kita berubah signifikan, seiring dengan berubahnya pula kultur dan komunikasi politik di negeri ini. Kurang pasti sejak kapan mulainya fenomena ini, tapi mungkin ada kaitannya dengan gaya berbahasa suksesor pendahlulu (predecessor) Gubernur DKI Jakrta sekarang. Kini kita kian merasakan semakin ausnya kesantunan berbahasa dalam masyarakat kita. Penggunaan medsos yang makin meluas dan intens, secara langsung atau tidak, telah mempengaruhi pula tindak tutur manusia (Indonesia) dalam berkomunikasi. Perlu penelitian lebih mendalam tentang peran medsos dalam mentransformasi bahasa Indoensia.

Namun, makin lama orang menganggap perubahan bahasa Indonesia yang kekeringan sifat figuratif dan metaforisnya itu sebagai sesuatu yang wajar saja. Benarlah kata perbilangan lama: “Alah bisa karena biasa”.

Kampret! Kok bisa begini ya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: