Posted by: niadilova | 16/07/2018

PPM #167: Cerita Bohong Rivai tentang Bung Hatta (1931)

PENANGKIS TJERITA BOHONG DARI Dr. RIVAI.

Seorang sahabat menulis soerat kepada saja, bahwa dr. Rivai menoelis dalam “Bintang Timoer” jang dia mendengar sendiri dari saja, bahwa saja berharap akan dapat pekerdjaan pada kantor goepernemen.

Saja terangkan dengan pasti disini, bahwa tjerita ini bohong semata-mata!

Siapa jang mengetahoei benar sifat dr. Rivai, mengerti apa sebab ia menjiiarkan tjerita bohong ini. Soedah dari tahoen 1928 ia berkehendak, soepaja saja oendoer dari kalangan politik, sebab saja ini anak Soematera, sedangkan poesat pertjatoeran politik terletak di Tanah Djawa.

Roepanja dia tidak senang hati, jang nasehatnja masih djoega tidak saja perdoelikan. Sekarang disiarkannja bohong, soepaja saja djangan dipertjajai oleh orang-orang Indonesia dari Tanah Djawa. Dan oleh karena itoe nanti saja terpaksa djoega oendoer dari padang politik. Menoeroet kabar poela tjerita dt. Rivai itoe soedah dipergoenakan oleh soeatoe pehak boeat menghina saja.

Kalau memang itoe jang dimaksoed oleh dr. Rivai, moga-moga senanglah sekarang hatinja. Dan mereka jang asjik mentjari “alasan” oentoek menghina diri saja, moga-moga selamatlah mereka dengan “boekti-boekti jang begitoe tegas”!

Malang mereka satoe: bahwa di Indonesia masih tjoekoep djoemlah orang jang berotak sehat, jang tahoe membedakan bohong dan benar, dan tahoe poela memakai oekoeran zakelijk! Sebab itoe poela tjoekoeplah, kalau saja peringatkan disini, bahwa saja seorang non-cooperator dan dalam kata kamoes saja tidak ada tertoelis perkataan “pergi makan gadji sama goepernemen”. Siapa jang maoe tahoe betoel akan pendapatan saja dalam hal ini, batjalah kitab ketjil saja tentang “Toedjoean dan Politik Pergerakan Nasional di Indonesia” hampir pada penghabisannja.

                                                                       MOHAMMAD HATTA

Rotterdam, 1 Dec. 1931

***

Surat terbuka yang ditulis olejh Mohammad Hatta yang dimuat di koran Daulat Ra’jat, Tahoen ke I, No. 10, 20 Desember 1931. Isinya: pembelaan diri Hatta terhadap berita negatif yang dihembuskan oleh seorang seniornya yang juga berasal dari Minangkabau: dr. Abdul Rivai.

Seperti dapat disimak dalam salinan surat Hatta di atas, Rivai mengarang-ngarang cerita bahwa Hatta punya niat untuk bekerja (makan gaji) dengan “goepernemen” (Pemerintah Kolonial Belanda). Hal itu dibantah Hatta dengan tegas seraya mengatakan bahwa dalam kamus hidupnya tidak “tertoelis perkataan ‘pergi makan gadji sama goepernemen’.”  Dia tegaskan bahwa tak ada yang dapat menawar politik “non-cooperator”-nya.

Laporan ini menginformasikan kepada kita sifat dasar intelektual Minangkabau yang mungkin masih dapat dikesan sampai kini: suka saling manggurajai-kan. Abdul Rivai yang lebih senior dari Hatta terkenal sebagai seorang intelektual pribumi yang amat percaya diri. Ini tentu positif jika dia berhadapan dengan Belanda, tapi sayangnya sifat sombongnya itu kadang-kadang juga ditunjukkannya kepada rekan-rekan sebangsanya sendiri.

Hilda Rivai (istri A. Rivai sendiri) dan S.M. Latif (cucu saudagar besar Pariaman, Muhammad Saleh Dt. Urang Kayo Basa) dalam buku mereka, Dr. A. Rivai Sepintas Laloe (S.l.: s.n., 1938) menulis bahwa “[t]ingkah pekerti Dr. Rivai itu adalah gandjil.” (hlm. 24). Hidup Rivai di hari-hari terakhirnya yang menderita akibat penyakit gula di Bandung diliputi kesepian. Hampir tak ada kenalan yang mengunjunginya, lantaran semasa sehatnya dia tidak banyak punya kawan, malah mungkin lebih banyak lawan karena sifatnya yang terus terang, tegas, dan sering tanpa kompromi.

  1. Amir dalam artikelnya “DR. Abdul Rivai” yang termuat dalam buku kumpulan tulisannya Boenga Rampai: Himpoenan Karangan jang Terbit Diantara 1923 dan 1939, Dipilih dengan Persetoedjoean Penoelis yang diedit oleh M. Amir, Adi Negoro dan M. Sarqawi (S.l.: M. Sarqawi, 1940:179-185)) menulis pula bahwa Abdul Rivai merasa “lebih barat dari barat”, dan “[s]eloeroeh hidoepnja beliau berdjoang, kadang-kadang tak tentoe lagi kawan atau lawan.” (hlm.184-5).

Begitulah! Kami ungkapkan di sini cerita tentang hubungan Mohammad Hatta dan Abdul Rivai, dua orang intelektual Minangkabau, yang mungkin sebelum ini jarang diketahui orang. Kasus ini adalah satu di antara beberapa kasus percobaan awal untuk menjatuhkan kredibilitas Bung Hatta dengan menghembuskan beberapa isu negatif tentang dirinya menjelang dan selepas beliau kembali ke Tanah Air dari studinya di Belanda dan bergabung dengan Soekarno dalam wadah P.N.I. (Partai Nasional Indonesia). (*)

Dr.Suryadi – Leiden University, Belanda / Padang Ekspres, Minggu 15 Juli 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: