Posted by: niadilova | 16/07/2018

Kilas balik: “SCHORSING” MOHAMMAD HATTA (1931)

1.Daulat Ra'jat, Tahoen ke I, No. 9, 10 December 1931-cropDoea berita tilgram Aneta Holland tentang schorsing Mohammad Hatta, tentoe ta’ loepoet menggoentjangkan doenia politiek di Indonesia. Soepaja berita tilgram itoe djangan sampai menimboelkan keliroe didalam kalangan ra’jat kita, saja merasa perloe, mentjoba menerangkan hal ini sebagai “insider” (orang jang mengetahoei doedoeknja perkara).

Bagi Ra’jat Indonesia nama Perhimpoenan Indonesia telah tak asing lagi. Perhompoenan Indonesia itoe oemoem dianggap soeatoe factor politiek. Orang ingat process Perhimpoenan Indonesia didalam mana terseboet nama Mr. Ali Sastroamidjojo, Abdul Madjid Djojodiningrat, Nazir Pamoentjak dan Mohammad Hatta. Proces inilah jang amat menaikkan “tjolok” Perhimpoenan Indonesia di dalam mata ra’jat Indonesia dan djoega di negeri Belanda.

Di Indonesia, karena ia jang terkemoeka didalam process ini sebagai pimpinan dari Perhimpoenan Indonesia, dan djoega oleh pidato pembelaӓnnja “Indonesia Vrij”, jang menerangkan arti pergerakan nasional kita. Ia mendjadi terkenal sebagai pendekar pergerakan nasional jang berhaloean “radikal”dan namanja diseboet sama-sama dengan nama Soekarno. Didalam kalangan Partai Nasional Indonesia ia terkenal karena karangan-karangannja didalam Persatoean Indinesia tjap P. N. I. Lebih lagi dari pada Perhimpoenan Indonesia. Ra’jat Indonesia mengenal Mohammad Hatta karenanja. Hatta mendjadi mempoenjai kontrakt tidak sadja dengan pemimpin-pemimpin pergerakan radikal, akan tetapi djoega dengan Ra’jat  Indonesian sendiri, jang sehati dengan haloean radikalnja itoe.

Karena ini semoea beberapa lamanja Ra’jat Indonesia memandang Perhimpoenan Indonesia bersatoe haloean, bersatoe politik seroepa (identiek) dengan….Mohammad Hatta. Karena itoe poela Perhimpoenan Indonesia tersimpan didalam hati ra’jat sebagai sesoeatoe bahagian dari pergerakan ra’jat radikal, dan perasaan tadi begitoe menjadapkan hati, sehingga orang ta’menganggap perloe, ta’mempoenjai keinginan lagi oentoek menetapkan arti Perhimpoenan Indonesia sebagai organisasi politiek, lepas dari Mohammad Hatta, lepas dari proces, lepas dari perasaan ketjintaan kepada soeara radikal jang terkenal itoe, dan menimbang mengoekoer pekerdjaan politieknja, kedoedoekannja sebagai organisasi nasionalis Indonesia (terlebih kaoem peladjar) di negeri Belanda.

Didalam proces Soekarno poen dinjatakan poela perhoeboengan Perhimpoenan Indonesia dengan Partai Nasional Indonesia, dan didalam hal ini Soekarno moengkir bahwa ada perhoeboengan jang tersoesoen antara P.I. dan P.N.I. Banjak antara kawan-kawan kita jang heran mendengar kemoengkiran ini, akan tetapi sepandjang fikiran dingin, kita haroes menetapkan bahwa memang tidak ada perhoeboengan jang tersoesoen antara P.N.I. dan Perhimpenan Indonesia, selain dari perhoeboengan jang ada, karena P.P.P.K.I. [Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia]  memberi Perhimpoenan Indonesia mandaat sebagai oetoesan pergerakan nasional Indonesia di Eropa didalam beberapa hal.

Bagaimanakah Perhimpoenan Indonesia terseboet dapat bersangkoetan didalam hal-hal politiek di Indonesia, djika perhoeboengannja dengan pergerakan di Indonesia tidak memakai ikatan soesoenan, jang mengikat ia poela akan sekalian kedjadian politiek di Indonesia itoe?

Bagaimana letaknja perkara [ini]? Sebagai organisasi dari kaoem terpeladjar, Perhimpoenan Indonesia mempeladjari dan menoelis tentang pergerakan Indonesia didalam madjalahnja Indonesia Merdeka. Maka boeah peladjarannja itoe jang dioemoemkannja didalam I.M. itoe, mendjadi penjoeloeh poela bagi pergerakan nasional kita. Anggota-anggota lama dari Perhimpoenan Indonesia, jang merasa semangatnja satoe dengan perhimpoenannja jang lama jaitoe Perhimpoenan Indonesia, mereka dirinja terikat dengan Perhimpoenan Indonesia, toelis menoelis dengan Perhimpoenan Indonesia, dan sebaliknja Perhimpoenan Indonesia memang poela menganggap ia masih sanggoep menegor anggota-anggota lamanja, jang sekarang boleh djadi telah mendjadi soeatoe pengoeroes dari salah satoe partai.

Begitoelah perhoeboengan tersoesoen tidak ada, akan tetapi perhoeboengan semangat ada rapi. Dan karena itoe naik toeroen ombak pergerakan di Indonesia, tertjermin poela didalam Perhimpoenan Indonesia.

Didjaman P.K.I., pergerakan ra’jat jang paling berpengaroeh, soeara P.K.I. terdengar keras didalam perhimpoenan Indonesia. Djaman Partai Nasioanal Indonesia, pergerakan jang memberi tempo pada pergerakan nasional kita, Perhimpoenan Indonesia berwarna keras P.N.I., sehingga ada soeatoe oesoel diambil oleh rapat Perhimpoenan Indonesia, jalah poetoesan oentoek mewadjibkan anggota P.I. jang  poelang oentoek mendjadi anggota P.N.I. djika ia hendak beraksi politiek.

Waktoe P.P.P.K.I. mendjadi troef, fikiran P.P.P.K.I. dan semangat  P.P.P.K.I. itoepoen tertjermin poela didalam Perhimpoenan Indonesia. Oesoel oentoek mendjandjikan anggota P.I. masoek P.N.I. ditarik kembali, dan kelembekkan di P.P.P.K.I. poen tertjermin didalam P.I., begitoe djoega perpisahan didalam pergerakan jang timboel, timboel poela didalam Perhimpoenan Indonesia.

Diwaktoe saja [menjadi] anggota pengoeroes P.I., kami mengadakan enquétte (penjelidikan) diantara anggota-anggota dengan bermaksoed menetapkan dan mengoekoer roepa-roepa fikiran diantara anggota. Enquétte itoe menerima serangan dari beberapa pehak anggota, sehingga tidak membawa hasil.

Saja mengemoekakan hal ini sebagai tjonto bagaimana di waktoe itoe (1929-1930) telah terasa banjak matjam-matjam fikiran dan aliran didalam Perhimpoenan Indonesia parallèl dengan keadaan didalam P.P.P.K.I.

Diwaktoe P.K.I. dalam dada Perhimpoenan Indonesia pertengkaran keras, tetapi pertengkaran jang mempoenjai pangkal principieel. Didalam djaman permoelaan P.N.I. persatoean oppervlakkig, sederhana, ada. Didjaman P.P.P.K.I. (eind periode, pada penghabisan djaman P.N.I.) pertengkaran kedjam, tetapi azas pertengkaran tidak terang, dan karena itoe mempoenjai roepa sangat persoonlyk. Begitoelah didalam P.P.P.K.I. dimana mabok persatoean, adalah mengadakan beginselverdoezeling atau kekatjauan azas.

Beberapa anggota P.I. mendjadi anggota B.O. [Boedi Oetomo] atau mengikoet toedjoean dr. Soetomo d.l.l., asal sadja bergerak nasional, asal sadja maksoed kemerdekaan.

Krisis didalam P.P.P.K.I. menimboelkan krisis poela didalam perhimpoenan Indonesia. Dan sebab dinegeri dingin ini, orang ingin panas, maka pertengkaran poen panas poela. Itoe sebenarnja baik, asal sadja pertengkaran itoe djangan tergelap (verdaaterd) karena berbagai bagai hal jang tidak djernih, jaitoe pertentangan seorang-orang (persoonlijk) oleh karena sakit hati d.l.l. Tetapi sebaliknja karena azas tidak tadjam dan terang tentoe pertjektjokan itoe mendjadi beroepa demikian. Sebab sebenarnja perpisahan, pertentangan itoe mempoenjai basis didalam berbagai-bagai aliran jang ada didalam pergaoelan hidoep kita.  Tetapi disini jang mendjadi isi aliran itoe (dragers van die strooming), tidak tahoe (zich niet bewist) akan kodrat-kodrat jang mendorongnja.

Ia semoea menghendaki persatoean, tetapi apakah persatoean jang dimaksoednja betoel seroepa bagi mereka semoea? Apakah isi dari persatoean kemerdekaan itoe? Ini doea hal jang terpangkal dalam persatoean itoe.

Djika mereka semoea memberi djawaban jang djelas, maka tampaklah bahwa tida[k] seroepa maksoednja semoea, akan tetapi bahwa kemerdekaan itoe bagi tiap-tiap golongan dan aliran bererti lain. Bagaimana bisa bersatoe djika maksoed tidak memang djernih, djelas satoe? Demikianlah perkataan persatoean tadi, amat soelit.

Dan tentang djalan mentjapai maksoed. Djika maksoed tidak satoe, tentoe toedjoean dan djalan poen tidak seroepa. Mendjadi kita haroes awas pada kata-kata jang…………enak didengar didalam koeping itoe, jalah bahwa maksoed seroepa, hanja djalan berlainan. Karena dapat berbahaja, bahwa ada doea moesoeh dengan perkataan demikian, menamakan satoe sama lain kawan dan mengetok satoe sama lain, tetapi tidak mengerti bahwa mereka mengetok satoe sama lain. Keadaan demikian adalah soeatoe barang jang loetjoe. Djalan revoloesioner dan evoloesioener itoe, boekan perbedaan djalan sadja, tetapi didalam bathin perbedaan maksoed.

Dan demikianlah poela segala revoloesioner politik berbeda didalam bathin dengan politik jang tidak revoloesioner. Siapa jang ingin mendorong madjoe perdjoangannja haroes insjaf akan kebenaran ini.

Begitoe poelalah didalam Perhimpoenan Indonesia soal kekatjauan ini mendjadi amat hebat.

Pemboebaran P.N.I. jang menimboelkan perpisahan poen terasa didalam Perhimpoenan Indonesia.  Politik “onmacht” P.N.I. disini mempoenjai pendant, bandingan didalam “onmachts” politiek, ja’ni P.I. menoedjoekan politiknja ke Liga, jang meroyeer Jawalhar Nehru, Roy (bapa pikiran Liga ini), Fimmen,Maxton dan Hatta, jang bererti mendjalankan politik Kommintern didalam Liga, karenanja bererti mendicteer, memberi edjaan politik jang dianggap baik bagi anggota-anggotanja jang boekan anggota Kommintern. Onmachtspolitiek Perhimpoenan Indonesia itoe jalah demikian, bahwa ia merasa dirinja baroe tegap djika dengan djoeroesan Liga, sedangkan ia sebagai anggota autonoom didalam Liga haroes beroppositie (melawan) tentang perboeatan Liga jang mendjalankan politiek kommintern. Sebabnja (sepandjang Imprekorr 8 Augustus 1931, soerat kabar kommintern opisiel), Hatta diroyeer dari Liga dengan algemene stemmen atau soeara oemoem sesoeadah didengar pembitjaraan oetoesan P.I.

Bagaimana bisanja doedoek Hatta dalam seboeah perhimpoenan dengan pengoeroes demikian itoe? Sebaliknja pengoeroes mendjalankan politik jang sesoeai dengan kemaoean Liga, mendjadi tidak sesoeai dengan fikiran dan penglihatan kita tentang tjara perdjoeangan kemerdekaan.

Saja teroes beroppositie, melawan toedjoean dan gerak jang tidak berketentoean ini, mengadakan oppsitie jang terdiri atas azas (principieel), akan tetapi tidak berhatsil. Ini mempoenjai sebab demikian:

Onmachtspolitiek Perhimpoenan Indonesia tadi “mengekor” Liga seperti kambing, tetapi sebaliknja di Indonesia menghadapi toedjoean revoloesioner, menghadapi ichtiar memperbaiki concentratie kodrat (krachten concentratie) jang benar (reëel) , seperti dimaksoed oleh Daulat Ra’jat dan kawan-kawan kita. Sedangkan kodrat-kodrat politik di Indonesia memintak, memaksa  Hatta toeroet beraksi. Perhimpoenan Indonesia pada tanggal 8 Juli melarang bertjampoer, menghoekoem Hatta soepaja diam, inactiviteit, dan dengan demikian dalam bathin (praktisch) adalah mengambil pehak, mengambil partij. Ia pertjaja dan dengan banjak perkataan bagoes-bagoes menjatakan bahwa ia mengoendoerkan sikapnja tentang keadaan politik di Indonesia, dan ia didalam bathin dengan sikap itoe telah toeroet tjampoer didalam gerak politiek di Indonesia diwaktoe P.I. memoekoel Daulat Ra’jat dan kawan-kawan kita.

Hatta selama ini, seperti kita dapat mengerti amat tersesat, karena ia soedah hendak keloear dari Perhimpoenan Indonesia jang ia toeroet mendirikan, dan jang begitoe bersangkoet paoet dengan diri dan namanja.

Saja tetap memintak keterangan kepada pengoeroes P.I. akan kebodohan politiknja, tetapi tidak pernah mendapat djawab. Maka teranglah bahwa perpetjahan tidak akan dapat dihindarkan.

Hatta mengerti bahwa ta’ada djalan lain dari pada menarik diri. Saja menganggap masih ada kesanggoepan oentoek mengkontroleer perboeatan pengoeroes atau memboeka topengnja, jang revoloesioner, sebab dalam bathin sepandjang semangat (klasse dan ideologie) seperti njata didalam maksoed beberapa anggotanja jang lama didalam golongan jang tidak principieel revoloesioner, mereka reaksioner karena kelemahannja dan karena onmachtspolitieknja ia bersaudara dengan Partai Indonesia, biarpoen barangkali Partai Indonesia akan sedikit terkedjoet mendengar ini, djika ia melihat bahwa saudaranja itoe berseloet paoet dengan Liga (kommintern jang meroyeer Darsono, meng-interneer Semaoen, mengawas-awasi Tan Malaka dalam mendjalankan Aziatisch politiknja).

Hatta minta berhenti mendjadi anggota (2 November) setjara Indonesia (ia menjerahkan berhentinja sebagai anggota dengan memberi alasan). Rapat P.I. 9 November tiba-tiba meng-schors dia sebagai anggota. Schorsing dimasoekkan dalam pers. Jawalhar Nehru diroyeer oleh Liga sesoedah ia setahoen lebih dahoeloe menarik dirinja dari Liga. Inilah peladjaran P.I. dari Liga.

Boeat Daulat Ra’jat dan kawan Hatta! Siapa jang tidak setoedjoe dengan azas-azas Hatta, dengan toedjoean kita, boekan kawan kita!

SJAHRIR

ex secretaries Perhimpoenan Indonesia. 

*** 

Sumber: Surat kabar Daulat Ra’jat, Tahoen ke I, No. 9, 10 December 1931

Penyalin: Dr. Suryadi, Leiden University, Belanda

Advertisements

Responses

  1. Mohon izin unutk menyalin engku..

  2. Silakan Sutan. Mohon disebutkan sumbernya (blog ini).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: